Pada suatu hari di pertengahan tahun 2016, saya, yang seorang dog person, tidak menyangka kalau ternyata bisa juga menjadi cat person. Saya nggak benci kucing. Saya suka melihat gambar-gambar kucing yang lucu dan menggemaskan, tapi nggak pernah terpikir sama sekali untuk memelihara hewan yang konon kabarnya punya pemikiran sendiri dan asik sendiri tanpa melibatkan pemiliknya.

Ternyata saya salah!

Karakter kucing memang berbeda dengan anjing, dan sensasi memelihara kucing juga sangat berbeda. Lebih menantang dan banyak kejutan lucu. Mungkin seperti itu. Tapi soal karakter kucing ini mungkin akan saya ceritakan di tulisan yang berbeda saja, karena di sini saya ingin menceritakan pengalaman menjadi induk dari bayi-bayi kucing yang baru lahir (baru dua hari lahir!) selama beberapa hari karena induk kucingnya sakit.

IMG_20171219_094153.jpg

Miu, si kucing tuxedo

Jadi, sejak sekitar tahun 2016 saya dan suami memelihara seekor kucing tuxedo, tapi dia nggak tinggal di dalam rumah. Namanya Miu. Hampir setiap hari Miu datang ke rumah untuk minta makan dan tidur siang sejenak, terkadang malah suka menginap di kamar sampai keesokan harinya. Namun, sebagian besar harinya dihabiskan dengan jalan-jalan di luar. Pernah saya taruh di dalam rumah, tapi hanya kuat beberapa jam dia pasti sudah mengorek-ngorek pintu rumah dan berisik banget minta keluar. Sebagai kucing betina yang tinggal di luar, Miu nggak luput dari sasaran kucing-kucing jantan di musim kawin. Seingat saya, dari pertama ketemu dia sampai awal tahun 2018 ini, Miu sudah hamil lima kali. Itu juga yang saya ingat, nggak tau deh kalau ada yang kelupaan.

Saya nggak ingat kapan kehamilan pertama Miu, pokoknya suatu hari dia sudah membawa satu anaknya keluar main. Karena waktu itu Miu belum jinak-jinak amat, anaknya juga nggak jinak dan mereka nggak dekat dengan saya sama sekali. Suatu saat, anaknya hilang dari pandangan dan nggak kembali. Mungkin tertabrak, mungkin diadopsi orang, atau mati entah kenapa. Proses melahirkan kehamilan kedua juga nggak saya ketahui. Saya cuma tahu perutnya sudah kempis, tapi anaknya nggak pernah terlihat. Yang ketiga, dia melahirkan di langit-langit di atas kamar saya, jadi saya dengar kalau anaknya bunyi-bunyi. Satu hari, Miu membawa anaknya yang mungkin masih berusia 2-3 mingguan ke saya. Hanya itu satu anak yang tersisa, tapi sayang keesokan harinya anaknya mendadak mati (baru di kemudian hari saya mengetahui ada istilah fading kitten syndrome, kematian bayi kucing secara mendadak). Kehamilan keempat, Miu memperlihatkan dua anaknya ketika mereka mencapai usia sekitar 1-2 bulanan. Saya dan suami sepakat menamakan mereka Zorro dan Tori (Zorro, karena wajahnya seperti pakai topeng tokoh Zorro, dan Tori, karena kuda yang sering bersama Zorro itu Tornado, biar imut disingkat jadi Tori). Akhirnya, Tori lebih sering mengikuti Miu ke rumah dan dipelihara hingga kini sudah berusia mungkin sekitar 5 bulan, sementara Zorro hilang entah ke mana. Huhu…

IMG-20180203-WA0007.jpg

Tori, anak Miu yang sampai sekarang tinggal di rumah

Nah, kehamilan kelima ini yang cukup spektakuler, karena dia sudah berani untuk melahirkan di ruang kerja (studio) saya dan suami! Pada malam mau melahirkan, dia masuk ke studio dan “bersarang” di dalam kotak kardus besar yang isinya penuh dan lumayan tertutup, mungkin sekitar 2-3 jam, sampai saya akhirnya menyadari kalau dia akan segera melahirkan. Seperti yang banyak ditemukan di internet, ciri-ciri utama kucing yang mau melahirkan adalah:

  • “Bersarang” sudah menjadi tanda kalau kucing akan segera melahirkan (dia benar-benar nggak keluar dari dalam sarangnya)
  • Nafas tersengal-sengal, iramanya cepat sekali. Lidahnya keluar sedikit dan seperti ngos-ngosan
  • Dari putingnya juga bisa mulai keluar cairan susu (yang ini saya nggak lihat di Miu)

(Lama setelahnya, saya dan suami membongkar kardus besar tersebut dan menemukan bercak-bercak darah. Yah, ini juga tanda-tanda yang saya nggak lihat waktu itu)

Melihat tanda-tanda aneh itu, saya kemudian menyiapkan kardus lebih kecil dan lebih bersih yang dialasi dengan baju-baju bekas, supaya dia bisa melahirkan di tempat yang lebih proper. Tapi, karena nggak ada perkembangan apapun selama beberapa waktu, akhirnya saya dan suami memutuskan untuk masak saja di dapur. Begitu kami kembali, Miu sudah keluar dari kardus besar dan berada di kardus kecil. Saat saya mengintip, dia sudah melahirkan anak pertama! Cukup shock, karena ini pertama kali saya melihat kucing melahirkan secara langsung dan ternyata bersimbah darah! Sudah gitu, saya melihat seperti ada gumpalan darah besar di lantai, yang kemudian langsung dilahap dan dikunyah oleh Miu. Eww… Ternyata itu plasenta bayi kucing.

DSC00801_1.JPG

Lima bayi kucing yang dilahirkan Miu, 2 tuxedo, 3 calico

Jadi, bayi kucing yang baru keluar itu terbungkus oleh plasenta dan nggak bisa bernafas. Induk kucing harus menjilati bayi itu sampai plasentanya lepas sepenuhnya dan kemudian dimakan untuk menghilangkan jejak (ini sepertinya kebiasaan alami dari kucing-kucing di alam liar yang banyak diincar predator). Long story short, Miu melahirkan lima anak dengan interval anak pertama ke anak kedua itu sekitar 12 jam, kemudian setelah anak kedua lahir, hanya dalam beberapa menit beruntun lahir sampai anak kelima (kebetulan kelahiran anak ketiga sampai kelima saya nggak lihat karena harus ngantor, jadi suami yang laporan).

Cerita belum berakhir dengan bahagia sampai di situ ya.

Satu hari setelah melahirkan, Miu menunjukkan tanda-tanda aneh. Dia hanya duduk diam saja, terlihat lusuh, badannya benar-benar kaku, kalau jalan terpatah-patah (mungkin karena pendarahan belum selesai, jadi masih sakit), nggak mau makan dan minum, dan yang paling bikin cemas adalah dia nggak mau menyusui anaknya. Pernah coba didekatin ke anaknya, tapi dia menggeram dan pergi menjauh. Saya coba mencari-cari dari berbagai sumber apakah ada yang pernah mengalami hal serupa, baik di luar maupun di dalam negeri, tapi tanda-tandanya nggak ada yang benar-benar mirip.

IMG_20180111_185652.jpg

Miu pascamelahirkan, mukanya berantakan

Ada beberapa permasalahan yang umum diderita induk kucing pascamelahirkan, seperti air susu nggak keluar, infeksi kelenjar susu, masih ada janin tertinggal di rahim, pendarahan berlebihan, dan lain sebagainya. Karena trauma dengan kematian kucing yang pernah saya pelihara sebelumnya dan takut terjadi apa-apa dengan Miu (dan jadinya apa-apa dengan anak-anaknya juga), saya dan suami membawa dia ke Dokter Osye di Myvets, Kemang. Kesimpulannya, Miu baik-baik saja, tapi ada sedikit infeksi karena pendarahan di vaginanya agak berbau dan menurut si dokter, Miu juga mengalami baby blues. Si dokter cukup shock ketika tahu Miu melahirkan lima anak.

“Yakin mau dirawat semua? Membesarkannya repot itu,” kata dokter. Yah, mau gimana lagi? Ngelahirinnya di rumah, Dok!

Karena baby blues, nggak mau makan, dan agak demam, terpaksa Miu harus dirawat di klinik untuk beberapa hari supaya bisa mendapatkan vitamin dan dicekokin makan oleh tim MyVets (believe me, I’ve tried but no luck! Susah banget dan Miu menggeram pas dipaksa. Kan takut digigit atau dicakar…). Lalu, mengikuti titah Dokter, terpaksalah saya dan suami harus menjadi “ibu angkat” kelima bayi kucing untuk sementara waktu karena Miu absen. Kata si Dokter (dan dari berbagai sumber yang saya baca), bayi kucing yang baru lahir itu sangat rentan mati karena:

  • Belum bisa mengatur suhu tubuh, jadi gampang kedinginan. Makanya mereka selalu di pelukan ibunya atau kalau tidur selalu berpelukan dengan saudara-saudaranya supaya saling menghangatkan.
  • Buta dan tuli karena matanya dan telinganya masih tertutup, jadi mereka sangat tergantung pada induknya, belum bisa makan dan buang air dengan alami.

Karena itulah, saya harus melakukan hal-hal yang pada umumnya dilakukan oleh induk kucing. Yang pertama adalah memberikan susu setiap 2-3 jam (termasuk di malam hari). Susu yang diberikan juga susu formula khusus untuk anak kucing, karena nggak boleh pakai susu sapi atau susu yang biasa diminum manusia soalnya kandungannya berbeda dan hasilnya mereka malah bisa mencret. Seriusan, memberi susunya benar-benar setiap 2-3 jam karena mereka butuh nutrisi. Macam bayi manusia pokoknya. Saya memberikan susu menggunakan suntikan tanpa jarum yang berukuran 1 ml. Susunya juga harus hangat, karena kalau nggak mereka bisa kedinginan. Yang kedua (dan yang nggak mau dilakukan suami saya, hehe) adalah mengelap bagian dubur bayi kucing dengan kapas/tisu yang sudah dibasuh air hangat untuk memicu dia pipis dan pup. Sebegitu nggak berdayanya mereka, sampai untuk buang air saja harus dibantu.

Membiasakan bayi kucing untuk menyusu dari suntikan juga jadi tantangan, karena mereka benar-benar nggak paham itu apa dan hanya tahu puting induknya. Jadi, awalnya susah banget. Bikin mereka minum 0.2 ml saja sudah perjuangan banget karena mereka meronta-ronta. Sudah gitu, karena badannya kan kecil dan ringkih banget, saya awalnya takut kalau terlalu keras memegang bisa remuk (tapi ternyata nggak sih, badannya cukup kuat kok). Cara menyusuinya pun nggak boleh diangkat terlentang tapi harus tetap menelungkup supaya nggak tersedak. Setelah 2-3 hari barulah mereka paham kalau yang saya lakukan itu adalah memberi susu kepada mereka. Ada jumlah tertentu yang harus diminum oleh bayi kucing tergantung dari usia mereka. Kalau mau tahu lengkapnya, silakan cek di sini: kittenlady.org/bottlefeeding.

Yang paling menyedihkan, ternyata memang fading kitten syndrome itu merupakan hal yang umum terjadi di antara bayi-bayi kucing. Dari lima bayi kucing, satu meninggal saat masih dalam perawatan saya dan suami. Entah kenapa, tiba-tiba saja si bayi kucing yang satu ini terlihat lusuh. Tadinya padahal dia yang paling bawel banget dan paling aktif, tapi kemudian berangsur-angsur kalem, sampai akhirnya menolak diberikan susu, tidur terus, menjadi tenang…lemas…lemah…dan hilang kesadaran.

Setelah tiga hari dirawat, akhirnya dokter menyimpulkan kalau Miu sudah boleh kembali ke rumah. Hari pertama kembali ke rumah, Miu tetap nggak mau berada di dekat anaknya. Dia terus berada di dekat pintu dan menggaruk-garuk pintu. Miu ingin pergi keluar, mungkin ingin mencari udara segar atau meninggalkan anak untuk selamanya. Karena sudah putus asa melihat tingkah Miu, saya dan suami memutuskan untuk mengizinkan Miu keluar dari rumah. Kami berpikir, ya sudah, toh dia sudah mendapatkan amunisi gizi dari klinik. Kalau memang mau pergi silakan, anakmu biar kami yang urus.

IMG_20180128_132750.jpg

Kari, satu-satunya bayi kucing yang tersisa

Untungnya, kepergian Miu hanya berlangsung sebentar saja, karena setelah itu dia kembali lagi ke rumah dan langsung memainkan perannya sebagai ibu! Aneh, tapi senang! The old Miu was here. Kami nggak lagi harus memberikan susu dan membersihkan kotoran anak-anaknya, karena semua peran itu sudah diambil alih kembali oleh Miu. Hingga tulisan ini selesai dibuat, anak Miu yang tersisa tinggal satu (saya dan suami beri dia nama Kari, karena dia kucing calico yang ketiga warnanya bercampur aduk seperti kuah kari). Tiga anak yang lain mati satu per satu saat dalam perawatan Miu. Saya nggak bisa mengawasi Miu dengan saksama karena dia memindahkan anak-anaknya ke kotak kardus besar berisi barang-barang yang sangat tertutup. Sesekali memang saya mencoba mengintip, tapi anak-anaknya berada terlalu jauh di dalam kardus jadi nggak kelihatan. Waktu itu saya dan suami mulai curiga karena suara-suara anaknya berkurang, mulai tercium bau nggak sedap dari dalam kardus, dan Miu lebih sering berada di luar kardus (mungkin karena nggak tahan dengan bau dari anaknya yang mati?). Setelah dibongkar dan anak-anak yang mati kami kubur, Miu kembali sering berada di samping Kari.

Kari saat ini sudah berumur sebulan lebih dan terlihat sehat. Sering berlarian ke sana ke mari dan bermain dengan Tori. Sekarang rumah saya semakin ramai dengan kehadiran tiga kucing! 🙂

Advertisements

Cirebon railway station

I’ve heard people said that Cirebon was one of the must visit destinations in Java Island, especially if you were searching for great local dishes. This small port city is only three hours from Jakarta by train and located in the middle of Jakarta and Yogyakarta. I’ve been to Yogyakarta so many times yet I hadn’t had a chance to visit this city until I and my husband decided to go to Cirebon on our way home to Jakarta from Yogyakarta last June.

I went to Cirebon by train from Yogyakarta for about four and a half hours. I bought two executive seats via KAI Access application with the price around USD 18 each. I’ve read somewhere that so many taxi drivers would offer you a ride once you stepped out of the Cirebon station and that was true. They offered me a ride with a fixed and expensive cost (no meter!) even though the distance from the station to my hotel was actually quite close. So I walked out a little bit out of the Cirebon station, found Bhinneka Taxi, and used them because they charged us based on the meter.

I spent three days in Cirebon and, in my opinion, that was enough because this city still needs a lot of improvement if they want to keep tourists stay longer. The first thing my husband and I searched for when we arrived in Cirebon was no other than its local cuisine. Here’s the summary of our culinary trip:

Food was great, but not that great. I was more exciting to find new local dishes in Yogyakarta rather than in Cirebon. As a first timer, of course I tried some dishes that have been recommended by my friends and most blogs/media.

Nasi Jamblang Ibu Nur

The stingray was delish!

Most blogs I read suggested their readers to try this place, so I tried. Nasi jamblang is actually white rice served on a teakwood leaf that you can combine with various side dishes. It is like a all-you-can-eat buffet, but in here is you-pay-what-you-eat buffet. The restaurant is very big and you have plenty of dishes to choose. I ate stingray fish, sautéed soybean, fritter, and sambal while my husband ate stingray fish, sautéed small squid, and fritter. Frankly speaking, the stingray fish was delicious but the rest was just okay. Unfortunately, my husband didn’t really like it because most of the dishes were spicy (he was sweating a lot!).

Address: Jl. Cangkring 2 No.34, Kejaksan

Nasi Jamblang Mang Dul

Another nasi jamblang

Since nasi jamblang is one of Cirebon’s specialties, I didn’t want to try just one place. As far as I know, Nasi Jamblang Mang Dul is known to be the second famous nasi jamblang in Cirebon, so I went to this place too! The place was smaller compared to Nasi Jamblang Ibu Nur, but to me it felt more local (not too touristy). The price was half cheaper than that of Nasi Jamblang Ibu Nur, unfortunately the side dishes were just so-so.

Address: Jl. DR. Cipto Mangunkusumo No.8, Pekiringan, Kesambi

Empal Gentong & Empal Asem H Apud

The highlight of my culinary trip

Empal gentong is one of Cirebon’s typical foods and I very recommend you to try this one. This dish is a coconut milk meat soup boiled in a huge pot we called gentong. I tried one of the most famous empal gentong restaurants in Cirebon named Empal Gentong & Empal Asem H Apud. Just like its name, I ordered empal gentong and empal asem (sour empal). The meat chunks were so soft like it melted in my mouth. The soups were very tasty and rich in flavor. I could eat a lot in here!

Address: Jl. Raya Ir. H. Djuanda No. 24, Battembat, Tengah Tani, Battembat, Tengah Tani

Panggang Babi Apun

Yummy durian, happy face!

Honestly, I couldn’t find other restaurants in Cirebon that served pork than Panggang Babi Apun. The restaurant was located just outside of Kanoman traditional market. I visited Panggang Babi Apun on the first day I arrived in Cirebon and the food was already sold out (it was around 3 or 4 pm). Luckily, there was a roadside durian stall right in front of Panggang Babi Apun to ease our disappointment. It was actually my husband’s idea since I’m not really fond of this fruit but apparently I quite liked it because the fruit chosen by the seller was quite sweet and very creamy.

The one and only pork dish in town

And wait, I didn’t give up just yet. On the next day I visited Panggang Babi Apun (at around 12.30 pm) and they were still open, yeay! I ordered their roasted pork and crispy skin pork with rice. It tasted delicious and the sauce was quite different than the ones I’ve tried in Jakarta. The owner also mentioned that she delivered the roasted pork to Jakarta and Bandung regularly. Wow, I wonder where…

Address: Jalan Kanoman No. 1, Kanoman, Pekalipan

Petik Merah Coffee Roaster

I never forget to try local coffee shops whenever I visited a place. It is a great way to spend an afternoon or evening after hopping tirelessly from one tourism spot to another. I went to Petik Merah Coffee Roaster and had a short chitchat with one of the baristas there. The coffee was good and the place was quite nice. It was quite difficult to find at the beginning because the place was located inside a cafe named Adipati. However, the barista told me that they were planning to move somewhere not too far in a few months.

Address: Jl. Wahidin No.81, Sukapura, Kejaksan

Baraja Coffee

I found this 24-hour coffee shop after chitchat with the Petik Merah’s barista. He said this coffee shop was one of the pioneers in Cirebon and very popular amongst young people. I was there at around 10 pm (I went there after paying a visit to Petik Merah Coffee Roaster because the location was near) and the space was still quite pack. My husband ordered black coffee with coffee beans from Garut and the barista made the coffee using V60 on our table. It was quite interesting to watch while waiting for him to brew the coffee.

Address: Jl. Tentara Pelajar No.107, Pekiringan, Kejaksan

There were actually two more coffee shops that I wanted to try but too bad they were closed during my visit to Cirebon. Just in case you’re interested, here they are:

  • Coffeelieur (located next to Cirebon railway station)
  • Blind Bottle Coffee Store (Ruko Harjamulia Indah Lt.2 Blok AU 6, Jalan Brigjen Haji Darsono, Tuk, Kedawung, Tuk, Kedawung)

Price wise most foods in Cirebon were quite affordable so you won’t spend so much. However, the variation was less compared to dishes you’ll find in Bali or even Yogyakarta. If you happen to be in Cirebon, just don’t forget to try its empal gentong. I’d like to taste this dish in any other restaurants in Cirebon, just to compare.

Oh, someday!

Sebagian orang memperlakukan kegiatan menulis sebagai pekerjaan sehari-hari yang menghasilkan uang, sementara sebagian orang lainnya menganggap menulis adalah kegiatan yang dilakukan di waktu luang. Bagi seorang jurnalis yang juga penulis cerita pendek, novelis, dan penulis esai Melissa Pritchard, menulis adalah sebuah cara untuk berdoa dan berkomunikasi dengan sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri. Di bab “Spirit and Vision” dari buku A Solemn Pleasure, ia menulis:

But for many years, I’ve been moving inexorably toward the concept of literature as a sacred vocation, toward Yeats’ concept of artists as priests, as shamans, as soul transformers. And perhaps if you are, as I am, aspiring to be this kind of writer (and by this I do not eliminate humor, the power of wit and lightheartedness), you might consider yourselves, however briefly, in the category of holy persons, language saints, saints of storytelling.

Ia juga menambahkan:

Consider for a moment your work as analogous to intimate prayer in which you address God, and thereby divineness, in all matter.

What you have chosen is a profound vocation of healing, and your stories and poems are as sacraments, as visible blessings. Be at the heart and soul of your time, not resigned to what is safe or peripheral. Try to free yourself from attachment to results, to awards, publications, praise, to indifference, rejection, and misunderstanding. Immerse yourself in the common ground of the universe so that your true voice – not the egoistic voice that clamors vainly for power (for it will ruin you if you listen to it) – your authentic voice, supported by sacred reality, may be heard.

Membaca bab ini rasanya seperti diingatkan kalau menulis adalah sesuatu yang sakral. Terkadang, kita terlalu terbenam dalam rutinitas, apalagi mereka yang bekerja di bidang editorial atau tulis-menulis, sehingga kegiatan ini seringkali terasa hanya seperti pekerjaan, bukan hal yang dilakukan dengan penuh kesadaran dan hati.

Buku A Solemn Pleasure adalah buku yang menyenangkan untuk dibaca berulang kali. Esai yang ditulis Pritchard sangat beragam, seperti cerita tentang kesehariannya bersama seekor anjing teckel/dachshund di bab “Doxology” (salah satu esai favorit saya karena sebagai pencinta anjing yang tumbuh dengan dachshund, saya sangat bisa memahami apa yang ia tuliskan).

The Dachshund’s affectionate,
He wants to wed with you:
Lie down to sleep,
And he’s in bed with you.
Sit in a chair,
He’s there.
Depart,
You break his heart. (halaman 94, “Doxology”)

Ia juga bercerita panjang tentang caranya berduka ketika ibunya meninggal dunia di bab “A Solemn Pleasure”: dengan mengikuti retret penulis internasional di Edinburgh, meskipun awalnya ia mengikuti retret tersebut untuk menulis, tentu saja. Saya sangat kagum dengan kemampuan Pritchard melakukan observasi terhadap sekitarnya dan menuangkannya ke dalam tulisan. Ceritanya tentang kematian adalah kesedihan yang indah dan menenangkan.

According to Tibetan Buddhist teachings, the spirit has enough energy during the first hours and days after death to give signs to the living, but after that, the spirit moves on, signs fade, then are gone. Gan.

Satu esai lagi yang paling berkesan buat saya di buku ini adalah “Still, God Helps You: Memories of a Sundanese Child Slave” yang mengangkat tentang pengalaman Pritchard bertemu dan membantu William Mawwin, seorang pelajar di Phoenix yang berhasil selamat dari perbudakan di Sudan saat ia diculik ketika masih kecil dulu. Kalau ada hal yang bisa dipelajari dari cerita ini, adalah untuk nggak pernah menyerah dalam hidup.

Mawwin diculik saat ia masih kecil, mengalami penyiksaan mental dan fisik semasa ia menjadi budak dan berpindah-pindah majikan, berupaya melarikan diri berkali-kali hingga akhirnya berhasil mendaratkan kaki di Amerika Serikat dengan selamat meskipun satu lengan dan beberapa jari tangan adalah bayarannya. Tubuhnya adalah saksi betapa keras kehidupan Mawwin sebelum ia sampai di negeri Paman Sam. Dan Pritchard menyampaikan kisahnya dengan sangat luar biasa.

My life, it teaches me to watch, to not get upset or excited too much. When I’m upset, I’m only making it worse. I have to breathe every day, I have to think of the next day. If I get too excited, there is no one to rescue me, I am on my own. I have to think what is good and bad. I have to watch. Take my time. Imitate people when they aren’t watching. I learned that good people can turn to bad people. When someone wants something from you, they treat you nice until they get what they want. That is the reality, but I don’t want to treat people like that. I appreciate all the people who did good things to me. I even appreciate the ones who did bad things to me. I really wish I could sit down with every one of those people, show them my appreciation, show forgiveness. I wish I could do that.

Pritchard menyampaikan apa yang memang seharusnya disampaikan oleh buku ini: A Solemn Pleasure to Imagine, Witness, and Write.

Sewaktu mau menulis pengalaman saya ditangani oleh dokter saat jari terpotong pisau, saya sempat berpikir pengalaman saya ini nggak baru karena sepertinya sebagian besar orang sudah banyak mengetahui soal komersialisasi dunia medis. Tapi ketika mengalami di diri sendiri, saya baru menyadari kalau second opinion itu sangat penting, dan kehadiran dokter keluarga yang terpercaya juga sangat dibutuhkan untuk menjadi support system. So I decided to share this…

Saya dan suami memang suka masak ketika berada di rumah. Selain untuk menghindari keborosan karena makan di luar atau pesan Go-Food terus, kegiatan memasak juga menjadi salah satu rutinitas yang kami nikmati berdua.

Suatu malam, karena merasa sudah cukup jago mencacah bahan makanan, saya memainkan pisau (yang baru dibeli kurang dari tiga bulan) dengan lincah. Pisau baru ini memang luar biasa tajam, dan kuku saya sudah pernah patah dibuatnya. Agak kurang belajar dari pengalaman, malam itu ujung jempol saya terpotong pisau. Bukan cuma coak, ujung jempol saya benar-benar terpotong sampai copot!

Panik? Iya banget. Potongannya sih kecil tapi melihat darah segar mengalir tuh rasanya nyessss…

Hal pertama yang saya lakukan adalah mencuci jempol di air mengalir sambil lukanya ditekan, soalnya kalau dilepas sakitnya luar biasa banget. Suami yang ikutan panik karena saya panik melakukan pertolongan pertama dengan membungkus jempol menggunakan pembalut (hahaha!), sambil kita barengan pergi ke klinik K24 di Bangka Raya untuk konsultasi dengan dokter langganan, Dokter Budi A Witjaksono.

Sampai di klinik K24, saya nggak turun dari mobil. Suami yang turun dan bertanya sebentar ke dokter, apa yang harus dilakukan kalau ada ujung jari kepotong pisau. Dokter menyarankan untuk dibalut kencang di bagian luka sampai tertekan. Akhirnya suami membeli peralatan dari K24 dan membalut tangan saya di mobil. Setelahnya, saya terus menekan ujung jempol yang sudah diperban sambil menaruh tangan yang luka dengan posisi di atas jantung.

Lima jam kemudian waktu menunjukkan pukul tengah malam. Saya ingin mengganti perban sebelum tidur, supaya fresh. Cukup perjuangan juga membuka perbannya. Karena jempol saya masih sakit banget, jadi perban yang melekat ketat harus digunting pelan-pelan supaya jempol nggak ketarik sama sekali. Ketika sampai harus membuka perban di ujung jempol, saya pun merasakan kesakitan yang luar biasa karena sepertinya luka yang agak mengering menempel ke perban, jadi perban susah dilepas.

Untuk mengurangi rasa sakit, suami menuang air panas ke jempol sambil saya pelan-pelan menarik perban dari ujung jempol yang luka. Air panas di sini sebenarnya untuk mengalihkan rasa sakit saya. Dengan penuh perjuangan akhirnya perban berhasil dilepas! Tapi, kepanikan nggak berhenti sampai situ karena ternyata pas dicek darah masih menetes dari luka tersebut. Karena takut saya kehabisan darah (nggak tau sih sebenernya bisa sampai kehabisan darah apa gimana, tapi ya panik aja gitu ngeliat darahnya menetes terus kalau lukanya nggak ditekan), akhirnya kami memutuskan ke UGD RS Medistra.

Di UGD RS Medistra, dokter yang melihat luka saya bilang pembuluh darah vena saya ikut kepotong, makanya darahnya menetes terus dan susah berhenti karena lukanya cukup dalam, jadi nggak ada waktu untuk darah membeku. Beliau bilang saya nggak perlu panik, karena yang kepotong bukan pembuluh darah arteri yang alirannya ke jantung (kalau pembuluh ini yang kepotong darahnya akan muncrat seperti di flim-film gitu). Karena saya nggak membawa kulit yang terpotong (ternyata bisa ditempel lagi! Tapi telat sih, udah lima jam berlalu juga dari kulitnya copot), dokternya memberi saran tiga hal:

  1. Dikasih sesuatu obat (saya lupa namanya) untuk mengecilkan pembuluh darah, dengan harapan darahnya bisa membeku
  2. Disimpul, jadi ujung luka sebelah kiri dengan ujung luka sebelah kanan dijahit
  3. Dibebet tekan, ini sebenarnya teknik pembalutan luka tapi super ketat supaya luka menutup sendiri nantinya

Karena belum mau disimpul, akhirnya dokter mencoba opsi pertama dulu, yaitu dikasih obat untuk mengecilkan pembuluh darah. Ditunggu selama lima menit ternyata darahnya masih menetes. Akhirnya dokter kembali memberikan pernyataan dan saran berikut:

  1. Kalau disimpul, nanti lukanya bisa menjadi hitam karena nggak ada peredaran udara (kurang lebih seperti ini ya, saya lupa pernyataan tepatnya).
  2. Kalau dibebet tekan sebenarnya bisa. Tapi penyembuhannya lama, dan kalau kesenggol dikit gampang berdarah lagi. Waktu itu saya sempat menanyakan kira-kira memang butuh berapa hari darah untuk menutup dan beliau nggak memberikan jawaban jelas.
  3. Saran terakhir dia bilang untuk melakukan skin graft, sebuah teknik operasi bedah plastik yang mengambil kulit dari bagian badan yang lain untuk ditempel ke yang luka. Dia bilang dengan skin graft maka luka akan menutup sempurna. Udah gitu dia bilang beberapa waktu sebelum saya sampai di UGD ada satu pasien juga yang baru melakukan skin graft karena jarinya juga kepotong pisau.

Perlakuan skin graft nggak bisa dilakukan oleh dokter UGD, jadi harus memanggil dokter bedah plastik. Anehnya, saat saya bertanya berapa biaya yang diperlukan untuk melakukan skin graft, si dokter UGD nggak bisa memberikan jawaban. Dia bilang saya harus konfirmasi pasti dulu kalau bersedia untuk skin graft baru dia bisa tanyakan ke dokter bedah plastiknya. Lah, bukannya harusnya segala jenis biaya operasi harganya sudah ada di bagian administrasi?

penampakan jempol yang diberikan perlakuan bebet tekan

Karena merasa ada yang aneh dengan pernyataan itu dan saya ingin cek asuransi dulu apakah bisa di-cover atau nggak, akhirnya saya menerima perlakuan dibebet tekan dulu. Keesokan paginya, saat mengecek asuransi ternyata asuransi saya dinyatakan nonaktif (pas dikroscek lagi beberapa hari kemudian sebenarnya aktif, tapi waktu itu sistemnya lagi error makanya terlihat nonaktif; it was actually a blessing in disguise). Akhirnya saya memutuskan untuk berkonsultasi lagi ke dokter langganan saya, Dokter Budi.

Setelah diobservasi oleh Dokter Budi dan beliau mendengarkan cerita saya, terungkaplah hal-hal berikut:

  1. Luka saya sebenarnya nggak perlu sampai skin graft. Perlakuan ini lebih cocok untuk orang yang kena luka bakar. Dan skin graft bukanlah cara untuk menghentikan pendarahan. Jadi dibebet tekan saja sudah cukup, diamkan selama 3-4 hari dan jangan kena air.
  2. Ada praktik bisnis kesehatan di berbagai rumah sakit, di mana dokter UGD yang berhasil menginapkan pasien atau membuat pasien melakukan treatment tertentu akan mendapatkan persenan dari rumah sakit ataupun dari dokter spesialis yang bersangkutan.

the ‘zombie’ thumbnail!

Empat hari kemudian saya kembali ke Dokter Budi untuk membuka perban. Meskipun jempol saya terlihat seperti habis digerogotin tikus, tapi pendarahannya sudah berhenti. Tinggal menunggu waktu untuk regenerasi lagi dengan sempurna. Sekarang sudah hampir tiga minggu berlalu dan luka saya sudah menutup sempurna. No surgery needed!

Kalau waktu itu saya gegabah untuk melakukan skin graft, duit jutaan rupiah sudah melayang di hal yang sebenarnya nggak terlalu diperlukan. Jadi, berhati-hati ya kalau melakukan pengobatan. Ada baiknya memang selalu mencari second opinion ketika sedang membutuhkan perawatan apapun.

sumber: amazon.com

Buat saya, Neil Gaiman adalah salah satu penulis yang karya-karyanya bisa membawa saya melarikan diri sejenak ke dunia lain tanpa benar-benar beranjak dari bumi yang saya pijak, dan American Gods (Dewa-dewa Amerika) adalah buku yang layak dibaca baik oleh penggemar Gaiman maupun pembaca yang baru mengenal namanya.

Buku American Gods tebal banget, dan (lagi-lagi) saya tidak menyadari betapa tebalnya buku ini karena saya membaca e-book-nya tanpa mencari tahu terlebih dahulu tentang buku ini. Tapi, tidak seperti waktu membaca 1Q84, membaca American Gods tidak membuat saya kelelahan dan saya bisa melahapnya dengan cukup cepat (for a slow reader!).

American Gods berkisah tentang Shadow Moon, seorang tahanan yang, setelah menjalani hukumannya di penjara dengan sabar selama tiga tahun, akhirnya bisa bebas dan kembali ke kehidupan normalnya bersama istri tercinta, Laura Moon. Sayangnya, beberapa hari sebelum Shadow bebas ia mendapatkan kabar kalau Laura dan sahabat Shadow meninggal dalam kecelakaan mobil. Merasa kehilangan arah karena awalnya ia berencana untuk bekerja di tempat sahabatnya yang juga meninggal dan kini ia tidak mempunyai uang sepeser pun, Shadow dengan berat hati menerima pekerjaan sebagai supir dan bodyguard seorang pria misterius bernama Mr Wednesday yang ia temui di pesawat saat perjalanan pulang untuk datang ke pemakaman istrinya.

Perjalanannya bersama Mr Wednesday membawa Shadow pada perjumpaan-perjumpaan dengan tokoh-tokoh yang ternyata berkaitan dengan takdir Shadow sendiri. Ia menemukan misteri masa lalu yang sebelumnya tidak ia ketahui, dan mendapati dirinya berada di tengah peperangan antara dewa-dewa lama dan dewa-dewa baru. Dewa-dewa lama adalah mereka yang dipuja-puja oleh para pendatang yang kini menduduki tanah Amerika, mereka yang dulu berkuasa karena disembah sedemikian rupa melalui beragam persembahan dalam bentuk doa-doa, kurban, darah, seks, dan lain sebagainya, namun kini popularitasnya menurun dan kemampuannya melemah karena persembahan itu tidak lagi diberikan untuk dewa-dewa lama, melainkan dewa-dewa baru dalam bentuk teknologi modern seperti televisi, smartphone, komputer, dan masih banyak lagi.

Ada banyak twist di dalam American Gods dan ending-nya juga buat saya tidak terduga. Gaiman menceritakan kisah di buku ini dengan plot maju, dan menyelipkan flashback tentang pemujaan dewa-dewa lampau di bab-bab tertentu, yang tentu saja mengungkapkan seberapa besar kuasa para dewa ini sebelum akhirnya diambil alih oleh dewa-dewa baru.

Tapi, apakah benar dewa-dewa lama memang bisa tergantikan oleh dewa-dewa baru? Lalu apa kaitannya Shadow sebagai tokoh sentral di antara peperangan para dewa ini? Saya sangat terkagum-kagum dengan referensi Gaiman dalam membuat cerita ini dan kepiawaiannya memaparkan cerita yang begitu rumit dan penokohan yang sangat banyak namun tetap bisa dinikmati dan mengalir hingga ke akhir cerita yang sempurna. Rasanya tidak ada tokoh yang sia-sia dalam cerita ini, semua mempunyai peranannya masing-masing.

Saya juga senang saat mengetahui buku ini diadaptasi ke dalam serial TV. Mudah-mudahan bisa divisualisasikan seindah bukunya!

 Kesimpulan: wajib dibaca dan dikoleksi!

stay-sane-in-the-midst-of-city-chaos

People say that life is all about balance, but hey Jakartans, how do you manage to stay sane living in the midst of city’s traffic chaos?

Throughout 2016 I didn’t experience the Jakarta’s crazy traffic during rush hours. I found peace in waking up and going to my working table next to my bedroom. This year, I’ve been trying something different by working part time for a digital agency located around Kuningan area, the area that I usually avoid most of the time. That means I have to go to Kuningan three times a week during rush hours and make peace with traffic.

It wasn’t easy at the beginning. Driving a car was out of the options because I didn’t want to get stuck in the traffic and release my anger to other people. I would be one of those people who kept angry but didn’t give a solution to make the city a better place for living. So I decided to commute to work by using on-demand transportation providers. I used car in the morning and motorbike in the evening, because the night traffic congestion was worse.

Then again, I found a problem.

Being a passenger didn’t mean stress couldn’t hit you and spending 1-2 hours or more on the street sitting while doing nothing was quite stressful, especially those in motorbike, because you had to deal with pollution and fluctuating weather too. Not to mention the long-suffering commuters who had to face late running train services. No wonder people do unpleasant things and become more ignorant of other people.

I know that we can’t change the traffic and our behavior in a blink on an eye but I believe we can feel better if we surround ourselves with good things during bad times, and that, my friends, will keep us sane.

Instead of opening our social media accounts and grumbling about the traffic, why don’t we fill our smartphone with great audio files? Podcast or audiobook, you decide. I am sure there are times when we feel bored of listening those same songs over and over again on the radio.

These are some of my favorite podcasts to listen to:

Art for your ear – The Jealous Curator

This podcast consists of conversations between The Jealous Curator and her artist/creative friends. She asks a lot of great questions and it feels like listening to two great friends talking about their passions. How awesome is that?

The Penguin Podcast

Notable Penguin authors appeared on this podcast: Malcolm Gladwell, Jennifer Saunders, and more. Listen to these authors talking about given themes. It’s wonderful.

Ted Radio Hour 

Just like its videos, Ted Radio Hour provides us very educational stories about interesting Ted speakers.

On Being

This podcast takes up the big questions of meaning through interviews with creatives, scientists, theologians, and teachers. You may already know some of them: Paulo Coelho, Sarah Kay, and more.

 

Otherwise, if you are a reader like me, you may want to start collecting audiobooks. It is a lovely treat to listen to an author read his or her own work, you know?

Do you have any other suggestions to cope with the busy traffic? I would love to hear one!

I still can remember vividly the astonishing view of Mount Bromo during my first visit back in 2009: the beautiful sunrise and that apocalyptic feeling when you saw the sun appeared on the top of the mountain. It was crowded, obviously, because I was there on high season. After enjoying the sunrise, people walked towards the mountain to climb the 450 steep stairs that lead to the crater and stayed there for awhile to be once again mesmerised by the view.

It was beyond beautiful, and I thought I could take a trip down memory lane once more in 2016 (It’s 2017 now, I know. How late!)

I visited Mount Bromo for the second time during my road trip from Bali to Jakarta earlier last September. It was a sudden plan and neither I nor my husband brought a coat to cope with the cold temperature. But we went anyway.

Relying on Google Map, we arrived at the entrance of the Mount Bromo National Park. A man asked us to park the car at the given parking space and continued the journey using a jeep provided by them (not for free, of course). It was low season, so I saw only a few tourists, both locals and foreigners. I paid IDR450,000 for a jeep and a drive to take us to three places (Whispering Sands, Savannah, and Mount Bromo). I didn’t know if the price was okay or too expensive, but we didn’t have a choice anyway. We weren’t prepared to take a walk to Mount Bromo.

the-whispering-sands-mount-bromo

The Whispering Sands, my favourite spot!

the-whispering-sands-mount-bromo-3

In the middle of the Whispering Sands

the-whispering-sands-mount-bromo-2

I could stay here for hours

The Whispering Sands of Bromo was amazing. It was a huge sea of sand and extremely quiet. Being a city girl, I couldn’t remember the last time I stood up in the middle of nowhere and my ears heard absolutely nothing. I thought maybe this was how it felt to be Matt Damon in The Martian. Alone in a huge desert. I could sit there for a few hours just to embrace the silence.

My next journey was Savannah. I came on the dry season, so it wasn’t as green as it usually does during the peak season. Still, the place was great to take photos!

savannah-mount-bromo

Pardon my face, it was a little bit raining.

savannah-mount-bromo-3

It was dry season so the scenery was not as flowery as usual, the guide said

savannah-mount-bromo-2

We were allowed to climb the hill if we wanted to

After the Whispering Sands and Savannah, my last journey was to climb the Mount Bromo itself. I thought it was going to be more or less the same as the Mount Bromo that I visited years ago but I was wrong. The eruptions changed its look. To reach the top of the mountain, I had to walk through the sea of sand (not the Whispering Sands), bypassed the Hindu temple, and climbed up a set of stairs to reach the crater.

mount-bromo-1

In front of the gate to the Mount Bromo

mount-bromo-2

The Hindu Temple on the way to Mount Bromo

mount-bromo-3

Near the climbing route

mount-bromo-4

Sculptures!

mount-bromo-5

Here it is, the chilling stairs

mount-bromo-7

The crater. My hubby took this photo while he was sitting too

mount-bromo-6

There I was, at the top of Mount Bromo and all I could do was sit

The scenery was more or less the same as my previous experience until I had to climb the stairs. The stairs were chilling, ladies and gentlemen. And on top of it, I didn’t dare to stand up when I reached the crater opening because the ground was too rough and I was too afraid to fall to the crater. Yep, I have a fear of heights if I don’t use any safety tools. The stairs’ structure used to be neat, and the area around the crater opening used to be flat and clean.

I remembered my dad once said that back when he was a child (flashback to around 50 years ago), he was always mesmerised by the magical view of Mount Bromo. It used to had a pure-white sea of sand and was surrounded by stone walls that soared up above the sky. Imagine the Rocky Mountain but waaaay more beautiful.

The eruption gradually changed Mount Bromo since then, but I still think that it never loses its charm.