Archive

Monthly Archives: December 2011

Banyak dari orang-orang yang saya kenal belum familiar dengan istilah ‘transkripsi’. Saya pun lupa asal muasalnya saya bisa kenal dengan istilah ini yang jelas baru akhir tahun ini saya dengar. 😀

Gampangnya, transkripsi ini adalah mengolah audio menjadi bentuk tulisan. Anggap saja nguping pembicaraan orang terus disalin ke buku biar ngga lupa orang itu abis ngomong apa. As simple as that!

Teorinya sih gampaaaannngggg….. Praktiknya? Mabok saudara-saudara.

Pekerjaan transkripsi pertama yang saya terima cukup (atau sangat) menyenangkan. Durasi audionya kurang lebih satu jam. Pembicaranya satu orang dengan logat Amerika yang teramat sangat jelas. Topiknya pun cukup menarik, tentang Research In Motion (RIM) yang tenar berat di Indonesia.

Waktu itu saya ditanya sama agency saya, “Durasi audionya satu jam, kira-kira kamu bisa selesai kapan?”

Saya pikir, oh, cuma nyalin pembicaraan doang nih. Paling 2-3 jam juga beres. Easy job, easy money. “Tiga jam, mas!”

Tapi si agency memberi kelonggaran, “santai aja, 30 menit pertama kamu kirim sore ini. 30 menit sisanya besok pagi.”

Dan ketika audio tersebut mendarat di laptop saya dan saya mulai duduk manis bekerja… Eng ing enggg… Ternyata untuk menyelesaikan 30 menit audio file itu saya membutuhkan kira-kira 4-5 jam. Tidak semudah yang saya kira.

Itu pekerjaan transkripsi pertama. Bagaimana dengan pekerjaan transkripsi kedua? Lebih mabok lagi ternyata. 😀

Transkripsi kedua ini berisi percakapan via telepon antara seorang pelanggan bank dan para karyawan bank. Topiknya seputar istilah keuangan, saham, hukum yang semuanya saya tidak familiar. Logatnya? Logat india singapura saja. Durasinya? Kali ini lima jam! Kuping saya sampai panas karena tiap malam mendengarkan percakapan para india ini. Correct, correct, correct. Tika, tika, tika. Aduuuh yaowooohh! Mau pengsaaan. Tapi di transkripsi kedua ini ada kemajuan. Dalam satu jam saya bisa mengerjakan 10 menit audio file. Kemajuan sedikit. Dan jujur mengerjakan lima jam transkripsi membutuhkan kesabaran yang teramat sangat, dan ternyata saya tidak sesabar itu. Untungnya ada dua teman yang bersedia membantu saya mengerjakan transkripsi ini. *kecupsatusatu*

Intinya sih saya ngga kapok mengerjakan transkripsi. Dibandingkan pekerjaan terjemahan memang transkripsi lebih mudah karena kita hanya cukup korek kuping dan mendengarkan dengan seksama. Tapi kalau setiap minggu harus mengerjakan transkripsi terus, sepertinya saya mikir-mikir. Demi kesehatan hati (kurang panjang sabar). 😀

Advertisements

Dan ketika para kupu-kupu mulai mengepakkan sayapnya,

saat itu juga kurasakan bisikan itu menghilang perlahan.

 

 

Untung sempat dipalak dulu sebelum benar-benar menghilang.

Gambar diambil tanpa izin dari sini

 

Perempuan itu berdiri di hadapan sebuah piano tua yang berwarna hitam legam. Perlahan namun pasti, jari jemarinya mulai menari di atas tuts hitam putih itu.

Ia memainkan sebuah sonata sambil memejamkan mata. Sedih dan begitu indah.

Kendatipun begitu indah, piano tua adalah piano tua. Ia merindukan tangan yang menyelaraskan nada-nadanya. Dari do ke re ke mi ke fa ke so ke la ke si ke do dan seterusnya.

Tapi entah di mana sekarang si penyelaras, karena saat itu ia hanya kebetulan saja singgah.

Yang tersisa hanyalah seorang perempuan yang dapat menyenandungkan nada-nada piano yang sedikit cacat.

Perempuan dan piano tua itu kini hanya berdua. Memainkan sonata tanpa akhir. Mengabadikan tangan terakhir yang menyelaraskan nada-nada penuh cinta.

Tak lagi mereka mencari, yang ada hanya penantian.