Seorang Perempuan dan Sebuah Piano Tua

Gambar diambil tanpa izin dari sini

 

Perempuan itu berdiri di hadapan sebuah piano tua yang berwarna hitam legam. Perlahan namun pasti, jari jemarinya mulai menari di atas tuts hitam putih itu.

Ia memainkan sebuah sonata sambil memejamkan mata. Sedih dan begitu indah.

Kendatipun begitu indah, piano tua adalah piano tua. Ia merindukan tangan yang menyelaraskan nada-nadanya. Dari do ke re ke mi ke fa ke so ke la ke si ke do dan seterusnya.

Tapi entah di mana sekarang si penyelaras, karena saat itu ia hanya kebetulan saja singgah.

Yang tersisa hanyalah seorang perempuan yang dapat menyenandungkan nada-nada piano yang sedikit cacat.

Perempuan dan piano tua itu kini hanya berdua. Memainkan sonata tanpa akhir. Mengabadikan tangan terakhir yang menyelaraskan nada-nada penuh cinta.

Tak lagi mereka mencari, yang ada hanya penantian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: