Transkripsi? Nguping orang ngomong?

Banyak dari orang-orang yang saya kenal belum familiar dengan istilah ‘transkripsi’. Saya pun lupa asal muasalnya saya bisa kenal dengan istilah ini yang jelas baru akhir tahun ini saya dengar. 😀

Gampangnya, transkripsi ini adalah mengolah audio menjadi bentuk tulisan. Anggap saja nguping pembicaraan orang terus disalin ke buku biar ngga lupa orang itu abis ngomong apa. As simple as that!

Teorinya sih gampaaaannngggg….. Praktiknya? Mabok saudara-saudara.

Pekerjaan transkripsi pertama yang saya terima cukup (atau sangat) menyenangkan. Durasi audionya kurang lebih satu jam. Pembicaranya satu orang dengan logat Amerika yang teramat sangat jelas. Topiknya pun cukup menarik, tentang Research In Motion (RIM) yang tenar berat di Indonesia.

Waktu itu saya ditanya sama agency saya, “Durasi audionya satu jam, kira-kira kamu bisa selesai kapan?”

Saya pikir, oh, cuma nyalin pembicaraan doang nih. Paling 2-3 jam juga beres. Easy job, easy money. “Tiga jam, mas!”

Tapi si agency memberi kelonggaran, “santai aja, 30 menit pertama kamu kirim sore ini. 30 menit sisanya besok pagi.”

Dan ketika audio tersebut mendarat di laptop saya dan saya mulai duduk manis bekerja… Eng ing enggg… Ternyata untuk menyelesaikan 30 menit audio file itu saya membutuhkan kira-kira 4-5 jam. Tidak semudah yang saya kira.

Itu pekerjaan transkripsi pertama. Bagaimana dengan pekerjaan transkripsi kedua? Lebih mabok lagi ternyata. 😀

Transkripsi kedua ini berisi percakapan via telepon antara seorang pelanggan bank dan para karyawan bank. Topiknya seputar istilah keuangan, saham, hukum yang semuanya saya tidak familiar. Logatnya? Logat india singapura saja. Durasinya? Kali ini lima jam! Kuping saya sampai panas karena tiap malam mendengarkan percakapan para india ini. Correct, correct, correct. Tika, tika, tika. Aduuuh yaowooohh! Mau pengsaaan. Tapi di transkripsi kedua ini ada kemajuan. Dalam satu jam saya bisa mengerjakan 10 menit audio file. Kemajuan sedikit. Dan jujur mengerjakan lima jam transkripsi membutuhkan kesabaran yang teramat sangat, dan ternyata saya tidak sesabar itu. Untungnya ada dua teman yang bersedia membantu saya mengerjakan transkripsi ini. *kecupsatusatu*

Intinya sih saya ngga kapok mengerjakan transkripsi. Dibandingkan pekerjaan terjemahan memang transkripsi lebih mudah karena kita hanya cukup korek kuping dan mendengarkan dengan seksama. Tapi kalau setiap minggu harus mengerjakan transkripsi terus, sepertinya saya mikir-mikir. Demi kesehatan hati (kurang panjang sabar). 😀

Advertisements
5 comments
  1. Hai Pat! Tulisan ini jadi ngingetin jaman dulu. Jadi transkriptor itu dulu pekerjaan pertama saya. Yang ditranskrip, interview2 para wartawan senior dengan tokoh-tokoh. Satu kaset durasi sejam dihargai Rp 25.000 Lumayan… uangnya kekumpul untuk beli sepatu dan pager Motorola empat baris. Ketauan jadul kan… tapi tahun itu, pager itu setara sama punya BB Bold kali ya.

    In short, pekerjaan jadi transkriptor ini menarik tapi hati-hati sama pendengaran yah. Jangan diforsir, nanti bisa kena gangguan pendengaran yang ujungnya fatal.

    Semangat semangat… dan bersabar yaaaaaa…

    [dam/AS]

  2. Ya ampun ternyata nama aslimu Damar, toh mas? Hehe… Thanks ya komennya, tetep semangaat kok! *sambil mikir itu RP 25.000 kira2 tahun berapa yaa?” 😛
    Dan sebenernya ngerjain transkripsi itu seru kalo topiknya juga seru. Tapi memang ngga bisa ngambil sering-sering karena bikin kuping pengang. 😀

    • Iyaaaaa… 25ribu pokoknya jaman dolar cuma 2rban. Wakakkak…

    • Saya waktu itu tergabung sebagai freelance di Probahasa namanya. Ada di Google kok. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: