Archive

Monthly Archives: March 2012

Gambar dicolong dari sini

Dua minggu lalu kebetulan saya berkesempatan untuk datang ke acara pemutaran perdana film Postcards from the Zoo (Kebun Binatang) di Kineforum. Film ini merupakan film karya sutradara muda Indonesia, Edwin, yang berhasil dibawa ke Festival Film Berlin pada bulan Februari kemarin dan akan dibawa ke Festival Film Cannes bulan Mei mendatang.

Postcards from the Zoo menceritakan seorang perempuan muda bernama Lana (Ladya Cheryl) yang tinggal dan bekerja di Kebun Binatang Ragunan karena sewaktu kecil ia ditinggal oleh orang tuanya di kebun binatang tersebut. Entah ia memang sengaja ditinggal, atau hilang hingga tak bisa ditemukan, itu hanya sutradaranya yang tahu. ๐Ÿ™‚

Sejak itu, Lana hidup bersama dengan para penjaga kebun binatang dan saling berdampingan dengan hewan-hewan di kebun binatang Ragunan. Di film ini, kita bisa melihat bagaimana para penjaga kebun binatang (termasuk Lana) berinteraksi dengan binatang-binatang yang ada. Gambar-gambar yang diambil pun sangat indah dan cukup detail, seperti judulnya, kita seperti mendapatkan kiriman banyak gambar mengenai kehidupan di dalam kebun binatang mulai dari jerapah, macan, kuda nil, gajah, dan lainnya. Untuk Lana, jerapah merupakan binatang yang sangat ia sukai. Di Ragunan sendiri hanya ada satu jerapah, padahal, seperti yang juga dibicarakan di film ini, di Afrika binatang ini hidup berkelompok. Dari kecil, seorang Lana mempunyai cita-cita untuk dapat memegang perut jerapah ini. Cita-cita yang sederhana, tapi sulit, soalnya kan badan jerapah tinggi. Nah, kira-kira kesampean ngga ya?

Suatu hari, Lana bertemu dengan seorang cowboy jago sulap (Nicholas Saputra) yang sering datang ke Ragunan hanya untuk keliling naik kuda. Perjumpaannya dengan si cowboy inilah yang membawa Lana mengetahuiย  kehidupan lain di luar kebun binatang. Lana kemudian sering pergi bersama si cowboy sebagai asisten sulap mulai dari atraksi pinggir jalan hingga di dalam tempat pijat plus plus. ย Tapi kebersamaan mereka tidak berlangsung lama. Ada saat di mana si cowboy melakukan sulap membakar diri di dalam sebuah kotak kayu dan ia pun menghilang dari hadapan Lana. Sejak itu Lana seperti merasa ada yang hilang dan ia pun mulai bekerja sebagai tukang pijat di tempat pijat di mana mereka pernah melakukan atraksi sulap. Di sini kita bisa melihat banyak adegan di mana Lana berkali-kali kembali ke Ragunan, namun di keramaian tersebut yang ia rasakan hanyalah sepi.

Di film ini, kita dapat merasakan dengan jelas rasa kesepian Lana karena ditinggalkan oleh orang yang berarti baginya begitu ia terlepas dari tempat yang membesarkannya. Ceritanya memang agak lambat dan dialog yang ada pun tidak banyak, namun bagi penyuka visual dan pecinta binatang pasti akan terhibur dengan gambar-gambar indah seputar kebun binatang. Menurut saya, gambar-gambar yang ada cukup menggambarkan dialognya tanpa perlu diungkapkan. Oh, dan satu lagi, tentu saja kehadiran aktor Nicholas Saputra juga membuat saya betah nonton film ini. *okay, ini sangat personal* ๐Ÿ˜›

3.9/5

Two weeks ago Iโ€™ve got a chance to watch the premiere of Postcards from the Zoo (Kebun Binatang) movie at Kineforum. This movie is created by a young Indonesian director, Edwin, who managed to bring this movie to Berlinale last February and Festival de Cannes next May.

Postcards from the Zoo tells a story about a young woman, Lana (Ladya Cheryl) who lived and worked at Ragunan Zoo, Jakarta, as she was left there by her parents when she was a child. Whether her parents left her, or she was lost in the zoo, only the director knows. ๐Ÿ™‚

Ever since, Lana lived together with the zookeepers and she lived side by side with the animals there. In this movie, we can see how the zookeepers (including Lana) interacted with the animals. The scenes are also very beautiful and quite details, just like its title, it is like weโ€™ve received many pictures of the life in the zoo like giraffe, tigers, hippos, elephants, and others. To Lana, Giraffe was special. There is only one giraffe at Ragunan Zoo, whereas, just like the movie told us, in Africa this animal lives in groups. Ever since Lana was a little child, she wished to touch the giraffeโ€™s belly. A simple yet difficult wish, as giraffe is very tall. Can she finally touch the belly?

One day, Lana met a magician-cowboy (Nicholas Saputra) whom came often to Ragunan just to ride a horse. This rendezvous has opened Lana to a life outside the zoo. Lana then started to work as a magician assistant from street attractions to attractions inside an adult massage place. However, it didnโ€™t last for long. One time, when the cowboy did a fire attraction then all of the sudden he disappeared and never came back. Lana then felt like something is missing and she started working as a masseuse at the adult massage place where she and the cowboy ever performed. We can see that there were lots of scenes in which Lana kept coming back to Ragunan Zoo, however she felt an emptiness amongst the crowd.

In this movie, we can feel Lanaโ€™s loneliness of being left out by her closest person once she got out from the place that raised her. The pace was a little bit slow and there were not much of dialogues, however, the beautiful scenes around the zoo will entertain animal and visual lovers. In my opinion, the pictures itself drew the untold dialogues. And one more thing, of course Nicholas Saputra is one of the reasons why I like this movie. *okay, this is very personal* ๐Ÿ˜›

3.9/5

Advertisements

Gambar dicuri dari sini

 

Kamu pernah bertanya kepadaku,
apa rahasia terbesar dalam hidupku
sedetik setelahnya,
aku melamun
dan sepuluh detik setelahnya,
kamu memecahkan keheningan

*

Kamu lalu mulai bercerita rahasiamu
baik dan buruk
menyenangkan dan menyebalkan
meningkatkan birahi dan menghilangkan hawa nafsu
satu detik setelahnya,
kita tertawa
dua detik kemudian,
kita terdiam

*

Kamu menatap mataku dalam-dalam
aku melihat ke kejauhan
tiga detik setelahnya,
aku menatapmu
tak lupa kusunggingkan senyum tipis
dan alis yang berbentuk senyum terbalik

*

Lalu aku memeragakan sulap di depanmu
sederhana saja
hanya bermodalkan tangan, saputangan,
dan sejumlah permen yang kebetulan ada di saku
kamu tertegun dan heran
kemudian bertanya bagaimana caranya
dua detik setelahnya,
aku tersenyum kepadamu.

***

Setelah hampir sebulan saya berganti ponsel dari Blackberry ke Android, saya bisa menyimpulkan kalau ANDROID IS WAY MUCH BETTER!! Kenapa saya ngga bilang the best? Soalnya menurut saya yang terbaik masih Iphone, tapi ya mahal masih ngga mampu deh, kecuali ada yang mau beliin. Eh…

Android apa yang saya beli? Samsung Galaxy Fit saja. Pertama kali ngeliat samsung galaxy fit ini sebenarnya sudah dari tahun lalu, soalnya temen ada yang punya. Mulai naksir, soalnya bentuknya lucu, udah gitu harganya cukup terjangkau tapi kameranya 5 MP bok! Iya, saya adalah perempuan yang kalo ngeliat ponsel masih milih kamera bagus daripada prosesor super canggih. Ngga bakalan ngerti juga cara makainya gimana. ๐Ÿ˜›

(My baby :-*)

Di awal 2012, harga Samsung Galaxy Fit ini udah turun drastis, di bawah 2 juta aja sodara-sodara. TAPI… Saya waktu itu cukup agak perjuangan nyarinya. Mungkin karena model lama, jadi udah ngga banyak yang naruh stoknya, bahkan di gerai Samsungnya sendiri!! Tapi untungnya saya pantang menyerah, setelah berkunjung ke 3-4 gerai toko ponsel, akhirnya nemu juga! Begitu orangnya bilang ada, ngga pake ba-bi-bu saya langsung ambil! ๐Ÿ˜€

Terus, apa keuntungan dari Android? Uaaakeeeh.:D

– Aplikasinya banyak mulai dari yang serius sampai yang ngga penting
– Ngga ada BBM ngga masalah, toh ada Whatsapp. Plusnya malah ada Viber, Skype, Youtube gratis, WordPress, dll, dll, dll
– Kameranya 5 MP!!! Iya, iya, banyak kok yang kameranya sama bagus, tapi fitur laennya ngga dong ah. :p
– Saya kira mengetik dengan touchscreen akan sangat repot, etapi setelah terbiasa ngga juga kok. ๐Ÿ˜€
– Browsing internet jauuuuuh lebih cepet!
– Gamenya banyak :p
– Dll, dll, dll, dan dll!!!
– Eh ketinggalan, kalo lagi kere, selama ada wi-fi kita tetep bisa internetan loh. Jadi ga perlu langganan paket data.

Catatan: ini adalah sudut pandang seorang pengguna Android amatir yang kayaknya masih belum banyak mengeksplorasi kegunaan Android lainnya.

Cyukup syekian dan tewima kaciiiiih!