[Review] Postcards from the Zoo (Kebun Binatang)

Gambar dicolong dari sini

Dua minggu lalu kebetulan saya berkesempatan untuk datang ke acara pemutaran perdana film Postcards from the Zoo (Kebun Binatang) di Kineforum. Film ini merupakan film karya sutradara muda Indonesia, Edwin, yang berhasil dibawa ke Festival Film Berlin pada bulan Februari kemarin dan akan dibawa ke Festival Film Cannes bulan Mei mendatang.

Postcards from the Zoo menceritakan seorang perempuan muda bernama Lana (Ladya Cheryl) yang tinggal dan bekerja di Kebun Binatang Ragunan karena sewaktu kecil ia ditinggal oleh orang tuanya di kebun binatang tersebut. Entah ia memang sengaja ditinggal, atau hilang hingga tak bisa ditemukan, itu hanya sutradaranya yang tahu. 🙂

Sejak itu, Lana hidup bersama dengan para penjaga kebun binatang dan saling berdampingan dengan hewan-hewan di kebun binatang Ragunan. Di film ini, kita bisa melihat bagaimana para penjaga kebun binatang (termasuk Lana) berinteraksi dengan binatang-binatang yang ada. Gambar-gambar yang diambil pun sangat indah dan cukup detail, seperti judulnya, kita seperti mendapatkan kiriman banyak gambar mengenai kehidupan di dalam kebun binatang mulai dari jerapah, macan, kuda nil, gajah, dan lainnya. Untuk Lana, jerapah merupakan binatang yang sangat ia sukai. Di Ragunan sendiri hanya ada satu jerapah, padahal, seperti yang juga dibicarakan di film ini, di Afrika binatang ini hidup berkelompok. Dari kecil, seorang Lana mempunyai cita-cita untuk dapat memegang perut jerapah ini. Cita-cita yang sederhana, tapi sulit, soalnya kan badan jerapah tinggi. Nah, kira-kira kesampean ngga ya?

Suatu hari, Lana bertemu dengan seorang cowboy jago sulap (Nicholas Saputra) yang sering datang ke Ragunan hanya untuk keliling naik kuda. Perjumpaannya dengan si cowboy inilah yang membawa Lana mengetahui  kehidupan lain di luar kebun binatang. Lana kemudian sering pergi bersama si cowboy sebagai asisten sulap mulai dari atraksi pinggir jalan hingga di dalam tempat pijat plus plus.  Tapi kebersamaan mereka tidak berlangsung lama. Ada saat di mana si cowboy melakukan sulap membakar diri di dalam sebuah kotak kayu dan ia pun menghilang dari hadapan Lana. Sejak itu Lana seperti merasa ada yang hilang dan ia pun mulai bekerja sebagai tukang pijat di tempat pijat di mana mereka pernah melakukan atraksi sulap. Di sini kita bisa melihat banyak adegan di mana Lana berkali-kali kembali ke Ragunan, namun di keramaian tersebut yang ia rasakan hanyalah sepi.

Di film ini, kita dapat merasakan dengan jelas rasa kesepian Lana karena ditinggalkan oleh orang yang berarti baginya begitu ia terlepas dari tempat yang membesarkannya. Ceritanya memang agak lambat dan dialog yang ada pun tidak banyak, namun bagi penyuka visual dan pecinta binatang pasti akan terhibur dengan gambar-gambar indah seputar kebun binatang. Menurut saya, gambar-gambar yang ada cukup menggambarkan dialognya tanpa perlu diungkapkan. Oh, dan satu lagi, tentu saja kehadiran aktor Nicholas Saputra juga membuat saya betah nonton film ini. *okay, ini sangat personal* 😛

3.9/5

Two weeks ago I’ve got a chance to watch the premiere of Postcards from the Zoo (Kebun Binatang) movie at Kineforum. This movie is created by a young Indonesian director, Edwin, who managed to bring this movie to Berlinale last February and Festival de Cannes next May.

Postcards from the Zoo tells a story about a young woman, Lana (Ladya Cheryl) who lived and worked at Ragunan Zoo, Jakarta, as she was left there by her parents when she was a child. Whether her parents left her, or she was lost in the zoo, only the director knows. 🙂

Ever since, Lana lived together with the zookeepers and she lived side by side with the animals there. In this movie, we can see how the zookeepers (including Lana) interacted with the animals. The scenes are also very beautiful and quite details, just like its title, it is like we’ve received many pictures of the life in the zoo like giraffe, tigers, hippos, elephants, and others. To Lana, Giraffe was special. There is only one giraffe at Ragunan Zoo, whereas, just like the movie told us, in Africa this animal lives in groups. Ever since Lana was a little child, she wished to touch the giraffe’s belly. A simple yet difficult wish, as giraffe is very tall. Can she finally touch the belly?

One day, Lana met a magician-cowboy (Nicholas Saputra) whom came often to Ragunan just to ride a horse. This rendezvous has opened Lana to a life outside the zoo. Lana then started to work as a magician assistant from street attractions to attractions inside an adult massage place. However, it didn’t last for long. One time, when the cowboy did a fire attraction then all of the sudden he disappeared and never came back. Lana then felt like something is missing and she started working as a masseuse at the adult massage place where she and the cowboy ever performed. We can see that there were lots of scenes in which Lana kept coming back to Ragunan Zoo, however she felt an emptiness amongst the crowd.

In this movie, we can feel Lana’s loneliness of being left out by her closest person once she got out from the place that raised her. The pace was a little bit slow and there were not much of dialogues, however, the beautiful scenes around the zoo will entertain animal and visual lovers. In my opinion, the pictures itself drew the untold dialogues. And one more thing, of course Nicholas Saputra is one of the reasons why I like this movie. *okay, this is very personal* 😛

3.9/5

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: