Archive

Monthly Archives: May 2012

Photo by Adriano Castelli

I’ve been waiting for you at the corner of the restaurant for about two hours. Time and a glass of red wine, sufficient for my mind to wander around our memories, or… my memories about you, who stole my heart since the first moment we met. You, who could create hundreds of colorful balloons… Enough to make me fly up above the sky. And maybe you want to smash it one by one… Now?

Maybe I’m the only person who remembers why today is so special. And I am the only person who is really excited to go to this restaurant, the place where you got down on your knees and said those magic words just like those guys in chick-flick and cheesy romance movies.

Sunset has greeted me but I still don’t know where you are. Do I have to slice open my veins to make you look back at me?

But you know I’m too weak to do that.

Good bye.

I don’t need this wine anymore. You may lick it, suck it, or do anything with it when you’re arrived, and that too if you remember to come to this restaurant in the first place.

Hari itu hari sabtu,

kira-kira waktunya tengah malam menuju minggu pagi-pagi buta.

Saya baru pulang ke rumah di cinere dan seperti yang biasanya saya lakukan ketika baru menapakkan kaki ke dalam rumah, saya pasti menuju garasi dan menaruh sepatu pergi saya kemudian menggantinya dengan sendal rumah. Lalu seperti biasanya juga, kedua anjing sosis saya pasti mengikuti saya masuk ke garasi dan mereka mulai menelusuri setiap pojokan sambil mengendus membaui tikus, kecoa, atau makhluk hidup apapun yang mungkin ada di ruangan itu.

Malam itu tidak ada tikus maupun kecoa, tapi ada kodok. Ya, seekor kodok sedang berdiam di suatu sudut garasi. Seperti layaknya anjing sosis yang usil dan penasaran, kedua anjing saya mulai membaui kodok tersebut. Kodok tersebut hanya diam. Saya tahu, adegan selanjutnya yang pasti akan terjadi adalah anjing saya akan menyenggol kodok tersebut dengan kaki, dan ketika kodok itu bergerak, mereka pasti akan menggigitnya.

Awalnya sih, saya merasa kasihan pada kodok itu jika dia mati sia-sia di gigitan anjing. Saya, yang saat itu menggendong tas seberat koper orang yang sehabis berjalan-jalan ke luar kota selama seminggu, agak kewalahan kalau harus memegang anjing dan mengusir kodok, jadi saya minta bantuan salah satu orang rumah untuk mengusir kodoknya sementara saya memegang anjing saya yang nakal luar biasa. Mungkin seperti layaknya manusia, semakin dilarang malah semakin ingin tahu, ketika saya pegang, anjing saya malah semakin berontak dan ingin mencaplok si kodok.

Karena tas yang saya gendong merosot ke lengan, jadilah pegangan saya terlepas dan HAP! Anjing saya mencaplok si kodok. Untungnya belum sempat dikunyah lebih lanjut, caplokan itu berhasil dilepas oleh orang rumah. Ketika satu anjing sudah berhasil dipegang, anjing saya yang satunya (yang lebih penakut dan sebenarnya tidak akan bertindak kalau tidak dipanas-panasi) mengikuti jejak temannya dengan turut serta mencaplok si kodok. Untung caplokannya (sepertinya) tidak kuat, dapat juga langsung berhasil dilepas.

Saya pikir ceritanya berhenti sampai di situ. Kodok berhasil pergi, anjing saya diam, saya bisa segera masuk ke dalam kamar dan tidur. tapi ternyata tidak begitu. tidak lama setelah itu, saya memerhatikan kedua anjing saya seperti mengunyah sesuatu. Saya kira mereka berhasil mendapatkan sebagian organ si kodok, tapi kata orang rumah saya, kodoknya berhasil pergi dengan badan utuh. Setelah saya perhatikan lebih lanjut, dari kedua mulut anjing saya keluar busa.

Dengan cukup panik saya membawa kedua anjing saya ke wastafel dan segera mencuci mulutnya dengan air mengalir sekitar 2-3 kali karena kalau cuma sekali busanya kembali muncul. Setelah itu saya berikan mereka minum susu (berhubung yang ada di rumah cuma susu bear brand, jadi saya kasih susu itu). Untung susu itu rasanya enak ya (pantesan para pria doyan. *loh*), mereka langsung minum sampai habis.

Besoknya anjing-anjing ini sudah beraktivitas seperti biasa (baca : berlarian dan loncat sana sini).

Karena penasaran, saya barusan mencari di internet mengenai fenomena mulut berbusa setelah menggigit kodok, hasilnya ternyata ada!! Seperti yang dikutip dari situs web http://www.anjingkita.com, ternyata kulit kodok itu memiliki racun yang akan keluar begitu ada sesuatu yang menggigit mereka. Untungnya, anjing memiliki pertahanan tubuh yang bagus yang akan mendeteksi racun pada syaraf di mulutnya. Otak anjing langsung memerintahkan kelenjar ludah untuk menghasilkan ludah lebih banyak yang gunanya membilas racun yang masuk ke mulut agar tidak masuk ke pencernaan atau agar daya rusak racun berkurang. Setelah kena racun kodok, biasanya anjing akan memakan rumput supaya muntah. Atau bisa juga dibantu dengan memberikan susu dicampur norit. Untungnya lagi, kodok di sekitar kita adalah kodok biasa yang racunnya tidak mematikan. (double fiuh!!)

Si duo nakal

Thanks to my heart, for it is still beating normally just the way it should be on my daily life.

Thanks to my heart, for always giving me signs of every thing that I have to be careful about. You beat faster than I thought when I’m on my nerve.

Thanks to my heart, for you never get tired of guiding me to love someone.

Thanks to my heart, for giving me signs to my brain whenever I have to cry, or smile, or laugh.

Thanks to my heart, for never letting bad memories settle inside.

Thanks to my heart, for you still giving me time to enjoy the life with its bitter sweet experiences.

 

Thank you, thank you, thank you.

 

Semuanya berawal dari pembicaraan beberapa teman mengenai angkutan umum berbentuk persegi panjang besar yang sangat (tidak) kita cintai itu…

Macan (tentu bukan nama sebenarnya) : Gila ya! Kemarin gue naek bus Patas AC, bayar 6ribu tapi di dalem penuhnya naujubilah, ngga bisa duduk. Udah gitu ada ibu hamil berdiri orang-orang pada diem aja. Keneknya juga berisik banget nyuru orang ngasih tempat duduk ke itu ibu, tapi yang masukkin penumpang ke dalem bus kan ya dia!!! Kampret.

Was wes wos berlanjut, dan memang saya yang notabene sehari-hari membawa mobil cuma bisa nimbrung sepatah dua patah kata.

Musang (lagi-lagi nama palsu) : Eh, ada yang ngga ngerti nih. Si Pat kan ngga pernah naik bus.

Pat (Yep, that’s me) : Enak aja… Pernah kali naik bus… tapi seringan emg naek busway (iya, iya, yang bener transjakarta, tapi saya nyebutnya busway aja ya. Keberatan?!)

Musang : Oh iya ya, pernah ngga mesti beberapa kali, sekali juga pernah kan.

Was wes wos kembali berlanjut…


Hellooooooooh, sodara-sodara sekalian. Bukannya saya ngga mau ya naik bus di Jakarta, dikira enak apa tiap hari nyetir sendiri di Jakarta dengan jarak perjalanan yang ngga deket. Udah gitu Jakarta macetnya kayak apa tau apalagi waktu hujan. Kalo ada supir sih enak tinggal buka pintu, tempelin pantat ke tempat duduk, tutup pintu dan tutup mata sekalian terus tau-tau sampe.

Lalu, dengan situasi, kondisi, dan tolerasi bus umum di Jakarta yang notabene amat sangat tidak aman ituh dengan berbagai cerita dan pengalaman teman-teman saya sendiri yang saya dengar di lapangan, ya parnolah saya. Udah gitu (belum selesai ini), ditambah dengan muka saya yang minoritas (putih sipit alias cinak) ini kayaknya semakin membuat saya tidak nyaman untuk berjalan sendirian di tempat-tempat umum yang konon kabarnya rawan bahaya, apalagi kalo orang-orang jablay di pinggir jalan mulai manggil-manggil. Pengen nampar tapi yah gimana ya pasti kalah dong.

Jadi alternatif lainnya apa? Motor? Astaga… Coba mari kita hitung dulu jumlah pengendara motor di Jakarta. Buat para pemula, mendingan kalian latihan nyetir motor dulu di daerah pinggiran baru deh terjun ke kota kalau ngga mau mati sia-sia. Kalo di Bali/kota kecil sih saya berani deh naik motor (yang matic aja ya tapi, ngga bisa nyetir motor manual), tapi di Jakarta? Pikir sejuta kali dulu ah…

Yah jadi karena itulah saya memilih untuk (tetap) menyetir mobil. Sebenernya kunci dari kemacetan di Jakarta ini cuma satu, transportasi umum yang proper. Kalo itu udah beres, pasti banyak orang yang rela naro mobilnya di garasi rumah dan jalan-jalan naik kendaraan umum (termasuk saya). Naik kendaraan umum yang bagus itu enak, menguruskan lagi. Bikin orang gerak. Makanya, saya mau diet nih, didukung dong sama pemerintah. Cuma pemerintahnya aja hobi janji-janji manis terus makan janjinya sendiri (saking manisnya) sekalian makan duit orang juga.

Ini intinya apa? Ngga ada inti apa-apa cuma mau curhat doang sebenernya. Abis sebel.

Kalo yang tersebut di atas kebetulan baca tulisan ini, saya cuma mau bilang, saya bukannya sebel sama kamu kok, cuma sebel sama situasi Jakarta yang membuat naik angkutan umum menjadi opsi terakhir yang saya pilih untuk berjalan-jalan sendirian di Jakarta.

Sekian dan terima kasih.

Kebaikan diutarakan seluas-luasnya

Kejahatan dikubur sedalam-dalamnya

Bau busuk tetaplah bau busuk

Aromanya menusuk hidung meski ke ujung duniapun

Begitu juga dengan wangi bunga.

Sama seperti hari-hari sebelumnya, menuliskan 9 hal yang paling disyukuri dari hari kemarin dan 1 hubungan tersulit yang pernah dialami.

  • Pagi-pagi dapat kiriman sebuah DVD yang isinya kerjaan. ^.^
  • Aman lancar damai tentram sentosa di jalanan, dalam arti ngga terkena kecelakaan apapun.
  • Makan siang enak diakhiri dengan rujak!!
  • Batal makan malam dengan teman, tapi jadinya bisa ngelarin lebih cepat.
  • Batal ngerjain kerjaan di Sabang16 karena macet, tapi bisa nyelesain di Starbucks. Seenggaknya masih sama-sama kopi 😀
  • Wi-finya Starbucks kencengggg 🙂
  • Kerjaannya menyenangkan, bikin subtitle program masak. Love it.
  • Waktu lagi bingung sama terjemahan suatu kata, ada yang bantuin memberi ide. 🙂
  • Masih ada kamu!!! *tetep*
  • Hubungan tersulit sepertinya di tahun 2010. Mulai dari ngga disetujuin orang tua sampai teman-teman sekitar karena satu dan lain hal yang cukup fatal sebenarnya. :))) Ini juga yang membuat hubungan saya dengan orang tua dan beberapa orang sempat renggang. Yooloooohhh…. Gak lagi-lagi deh. Sebenarnya kalau memang alam semesta memberi jalan, pasti semuanya akan dilancarkan, meskipun kerikil-kerikil kecil pasti tetap ada. #lessonlearned

Tadinya saya sudah berpikir ngga akan keburu mengerjakannya tema hari ini, karena pagi – sore ada kerjaan, dan ada satu kerjaan yang tenggat waktunya besok, tapi sorenya ada janji makan malam dengan teman, jadi saya pikir harus begadang malam ini untuk mengerjakannya. Ternyata oh ternyata, janjiannya diundur karena salah satunya ngga bisa. Alhasil, saya bisa mengerjakan kerjaan yang untuk besok dan sekarang jadi bisa nulis ini deh! 🙂

Tema #MagicalMay2012 hari ke-2 adalah menulis 9 hal yang kita syukuri tentang hari kemarin dan 1 pengalaman buruk yang kamu ketahui sekarang hikmahnya dan syukuri kejadiannya sekarang.

  • Tidur yang super nyenyak di kasur yang lebar ditemani dua bantal, dua guling, satu selimut hangat, dan dua boneka kesayangan. ^.^
  • Bisa bangun (cukup) siang dibandingkan orang-orang produktif pada umumnya. Karena saya orangnya suka tidur agak larut, jadi bangun pagi itu sebenarnya cukup sulit buat saya (walaupun nanti akan ada saatnya untuk beradaptasi bangun pagi, ouch!).
  • Jalanan lengang! Sepertinya karena efek dari demo para buruh, banyak orang-orang yang cuti kerja. Maaf, bukan bermaksud mensyukuri demo, tapi merasakan jalanan lengang di jam-jam sibuk Jakarta itu sangat langka.
  • Bisa makan malam menu favorit saya : oseng-oseng tempe dan balado terung. Perut kenyang hati senang. :)))
  • Dicium pipi kiri kanan sama mamih. Udah (agak) lama ngga merasakan ciumannya.
  • Dapet kerjaan tambahan (yang tadi sore saya kerjaan). Lumayan buat nambah pemasukan. Kerjaannya menyenangkan pula. 😀
  • Nemu batu yang bentuknya cukup lucu di tempat yang gampang banget. Tepatnya di rumah. Karena seharian saya lupa buat nyari batunya. Waktu di dalam ruangan ingat, tapi begitu di luar ruangan lupa lagi. Terus tiba-tiba ingat di rumah ada batu-batuan, langsung pilih dan cuci deh.
  • Sebagai orang yang cukup pelupa, tema hari ini bagus buat melatih otak saya mengingat sesuatu. Saya cukup berpikir keras untuk mengingat kemarin saya ngapain aja ya? Hahaha…
  • Senang masih ada kamu.
  • Euh… Kalau pengalaman buruk apa ya. Singkatnya, waktu di Bali mau pindah ke Padang ngga dikasih izin karena satu dan lain hal, malah harus pulang kampung ke Jakarta. Tapi kalau ngga gitu, ngga akan sampai di saya yang sekarang dan mungkin masih menjadi orang yang (sangat) ngga memikirkan rencana terlalu jauh. Walaupun sekarang juga masih cukup begitu, tapi agak mendinganlah. Ada yang bantuin dan memaksa saya untuk berpikir. 😀