Bukannya saya (seneng) ngga naik bus…

Semuanya berawal dari pembicaraan beberapa teman mengenai angkutan umum berbentuk persegi panjang besar yang sangat (tidak) kita cintai itu…

Macan (tentu bukan nama sebenarnya) : Gila ya! Kemarin gue naek bus Patas AC, bayar 6ribu tapi di dalem penuhnya naujubilah, ngga bisa duduk. Udah gitu ada ibu hamil berdiri orang-orang pada diem aja. Keneknya juga berisik banget nyuru orang ngasih tempat duduk ke itu ibu, tapi yang masukkin penumpang ke dalem bus kan ya dia!!! Kampret.

Was wes wos berlanjut, dan memang saya yang notabene sehari-hari membawa mobil cuma bisa nimbrung sepatah dua patah kata.

Musang (lagi-lagi nama palsu) : Eh, ada yang ngga ngerti nih. Si Pat kan ngga pernah naik bus.

Pat (Yep, that’s me) : Enak aja… Pernah kali naik bus… tapi seringan emg naek busway (iya, iya, yang bener transjakarta, tapi saya nyebutnya busway aja ya. Keberatan?!)

Musang : Oh iya ya, pernah ngga mesti beberapa kali, sekali juga pernah kan.

Was wes wos kembali berlanjut…


Hellooooooooh, sodara-sodara sekalian. Bukannya saya ngga mau ya naik bus di Jakarta, dikira enak apa tiap hari nyetir sendiri di Jakarta dengan jarak perjalanan yang ngga deket. Udah gitu Jakarta macetnya kayak apa tau apalagi waktu hujan. Kalo ada supir sih enak tinggal buka pintu, tempelin pantat ke tempat duduk, tutup pintu dan tutup mata sekalian terus tau-tau sampe.

Lalu, dengan situasi, kondisi, dan tolerasi bus umum di Jakarta yang notabene amat sangat tidak aman ituh dengan berbagai cerita dan pengalaman teman-teman saya sendiri yang saya dengar di lapangan, ya parnolah saya. Udah gitu (belum selesai ini), ditambah dengan muka saya yang minoritas (putih sipit alias cinak) ini kayaknya semakin membuat saya tidak nyaman untuk berjalan sendirian di tempat-tempat umum yang konon kabarnya rawan bahaya, apalagi kalo orang-orang jablay di pinggir jalan mulai manggil-manggil. Pengen nampar tapi yah gimana ya pasti kalah dong.

Jadi alternatif lainnya apa? Motor? Astaga… Coba mari kita hitung dulu jumlah pengendara motor di Jakarta. Buat para pemula, mendingan kalian latihan nyetir motor dulu di daerah pinggiran baru deh terjun ke kota kalau ngga mau mati sia-sia. Kalo di Bali/kota kecil sih saya berani deh naik motor (yang matic aja ya tapi, ngga bisa nyetir motor manual), tapi di Jakarta? Pikir sejuta kali dulu ah…

Yah jadi karena itulah saya memilih untuk (tetap) menyetir mobil. Sebenernya kunci dari kemacetan di Jakarta ini cuma satu, transportasi umum yang proper. Kalo itu udah beres, pasti banyak orang yang rela naro mobilnya di garasi rumah dan jalan-jalan naik kendaraan umum (termasuk saya). Naik kendaraan umum yang bagus itu enak, menguruskan lagi. Bikin orang gerak. Makanya, saya mau diet nih, didukung dong sama pemerintah. Cuma pemerintahnya aja hobi janji-janji manis terus makan janjinya sendiri (saking manisnya) sekalian makan duit orang juga.

Ini intinya apa? Ngga ada inti apa-apa cuma mau curhat doang sebenernya. Abis sebel.

Kalo yang tersebut di atas kebetulan baca tulisan ini, saya cuma mau bilang, saya bukannya sebel sama kamu kok, cuma sebel sama situasi Jakarta yang membuat naik angkutan umum menjadi opsi terakhir yang saya pilih untuk berjalan-jalan sendirian di Jakarta.

Sekian dan terima kasih.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: