Archive

Monthly Archives: July 2012

 

Cinta itu seperti sepasang kaki yang berjalan menuju sebuah tempat peristirahatan sambil memakai sepatu dengan ukuran yang tepat.
Kalau kamu mengenakan sepatu yang kebesaran, sepatu itu dapat terlepas dari kakimu.
Sebaliknya, kalau kamu mengenakan sepatu yang kesempitan, kakimu akan sesak dan (pada akhirnya) ingin melepaskan diri juga.
Carilah sepatu yang sesuai dengan ukuranmu.
Jangan mengenakan sepatu yang kesempitan atau kebesaran hanya semata-mata karena sepatu itu terlihat cantik dan keren di mata orang lain. Karena pada akhirnya, kaki kitalah yang menderita.

Dulu saya pernah mengenakan sepatu yang kebesaran bisa dibilang cukup lama. Sekitar seribu empat ratus enam puluh hari.
Bukan karena sepatu itu terlihat cantik, tapi karena orang-orang sekitar saya menyarankan saya mengenakan sepatu itu.
“Coba dulu aja, sepertinya kakimu cocok memakai sepatu itu,” kata mereka.
Tapi pada akhirnya, sayalah yang ingin melepaskan diri dari sepatu itu.
Sepatu yang kebesaran tetap saja akan kebesaran. Di usia yang bukan lagi masa pertumbuhan, tubuh kita tidak mungkin bertambah besar kecuali pada bagian penumpuk lemak.

Terlepas dari sepatu yang kebesaran, saya pun pernah menemukan sepatu yang kesempitan. Dan lebih lagi, sepatu bekas.
Menurut saya, sepatu ini cantik. Tapi tidak menurut orang-orang sekitar saya.
“Itu sepatu bekas. Banyak cacat di sana sini. Mendingan jangan ah. Ngga cocok,” kata mereka.
Dasar saya orang yang keras kepala, semakin ditolak malah semakin ingin memiliki, saya tetap pakai sepatu itu.
Terlepas dari banyak orang yang tidak menyukai sepatu itu, saya merasa bahagia karena bisa mengenakan sepatu pilihan saya sendiri.
Tapi seiring dengan banyaknya langkah yang kaki ini tempuh, luka-luka mulai menghampiri kaki saya.
Kaki saya seolah tidak bisa bernafas dan langkahnya pun semakin lambat.

Mungkin saya termasuk beruntung, karena ketika di pertengahan jalan, saya (kebetulan) menemukan sepatu lain yang pas di kaki.
Segera saya tanggalkan sepatu saya yang kesempitan dan memakai sepatu yang (kali ini) ukurannya sesuai.
Tidak hanya itu, orang-orang sekitar yang tadinya menolak selera sepatu saya, kali ini tidak berkomentar negatif.
Sebagian dari mereka sepatu baru saya cantik, sebagian dari mereka bilang bukan seleranya, tapi tidak jelek.

Saya hanya berharap dengan memakai sepatu ini, kaki saya dapat sampai ke tempat peristirahatan dengan segera. Karena saya sudah lelah berjalan dan ingin mengistirahatkan kaki terlebih dahulu, sebelum kembali lagi berjalan menuju tempat tujuan lain, dengan sepatu yang sama tentunya.
🙂

 

Tuhan itu cuma satu tapi bentuknya macam-macam, nggak hanya 5 bentuk seperti yang diajarkan di sekolah.

“Sumpah demi apa?”

Dulu kalau ditanya sama orang mengenai kebenaran suatu cerita (oke ini lebay, sebagian besar hanya kebenaran suatu gosip karena saya nggak punya profesi penting yang mengharuskan saya bersumpah sedemikian seriusnya), saya pasti akan bingung menjawabnya.

“Errr…. Demi ikan-ikan di laut dan burung-burung di langit.”

Itu salah satu jawaban saya. Nah, jangan tanya sumpah demi apa itu jawaban serius saya ya. :3

Dulu saya bingung soalnya, kalo bilang “Sumpah demi Tuhan”, ya kok rasanya saya masih butuh diyakinkan soal tuhan agama saya ya? Lalu saya juga nggak terlalu percaya dengan kitab agama (manapun) karena menurut saya semua yang buatan manusia (apalagi udah berabad-abad terjadinya) pasti ada campur tangan kepentingan seseorang, entah itu untuk sesuatu yang baik maupun buruk.

Jadi, saya pernah mengklasifikasikan diri saya sebagai seorang Atheis, yaitu orang yang nggak percaya dengan adanya tuhan. Pokoknya semua yang terjadi itu kebetulan adanya deh.

 

Tapi…

 

Semakin ke sini (baca: bertambah umur), saya semakin merasa kalau nggak semuanya yang terjadi itu kebetulan semata. Melihat dari kejadian-kejadian di masa lalu dan hubungannya dengan masa sekarang, saya merasa itu terjadi memang dengan suatu maksud. Nggak semua kejadian saya di masa lalu saling berkaitan satu sama lain, malah saya merasa langkah saya cukup acak. Tapi satu per satu saya mulai menemukan titik temu yang membuat saya berpikir, “Ooooooh kalo dulu nggak gini, sekarang nggak bakalan gini nih!” Sehingga sejak itu saya terus menanti-nanti, kapan kira-kira saya akan berpikir begitu lagi untuk langkah saya yang lain yang dulu saya ambil juga.

Karena itulah saya nggak lagi mengklasifikasikan diri saya sebagai seorang atheis, tapi seorang yang percaya tuhan, bukan agama. Saya yakin, tuhan itu ada dan dia yang membimbing jalan kita dan membantu kita sewaktu mengambil keputusan, sadar maupun nggak sadar. Dia bisa dalam bentuk orang tua kita, pacar kita, teman-teman, bahkan alam semesta.

😉

 

 

PS: I don’t judge people based on their religions, so don’t judge me.