“Sumpah demi apa?”

 

Tuhan itu cuma satu tapi bentuknya macam-macam, nggak hanya 5 bentuk seperti yang diajarkan di sekolah.

“Sumpah demi apa?”

Dulu kalau ditanya sama orang mengenai kebenaran suatu cerita (oke ini lebay, sebagian besar hanya kebenaran suatu gosip karena saya nggak punya profesi penting yang mengharuskan saya bersumpah sedemikian seriusnya), saya pasti akan bingung menjawabnya.

“Errr…. Demi ikan-ikan di laut dan burung-burung di langit.”

Itu salah satu jawaban saya. Nah, jangan tanya sumpah demi apa itu jawaban serius saya ya. :3

Dulu saya bingung soalnya, kalo bilang “Sumpah demi Tuhan”, ya kok rasanya saya masih butuh diyakinkan soal tuhan agama saya ya? Lalu saya juga nggak terlalu percaya dengan kitab agama (manapun) karena menurut saya semua yang buatan manusia (apalagi udah berabad-abad terjadinya) pasti ada campur tangan kepentingan seseorang, entah itu untuk sesuatu yang baik maupun buruk.

Jadi, saya pernah mengklasifikasikan diri saya sebagai seorang Atheis, yaitu orang yang nggak percaya dengan adanya tuhan. Pokoknya semua yang terjadi itu kebetulan adanya deh.

 

Tapi…

 

Semakin ke sini (baca: bertambah umur), saya semakin merasa kalau nggak semuanya yang terjadi itu kebetulan semata. Melihat dari kejadian-kejadian di masa lalu dan hubungannya dengan masa sekarang, saya merasa itu terjadi memang dengan suatu maksud. Nggak semua kejadian saya di masa lalu saling berkaitan satu sama lain, malah saya merasa langkah saya cukup acak. Tapi satu per satu saya mulai menemukan titik temu yang membuat saya berpikir, “Ooooooh kalo dulu nggak gini, sekarang nggak bakalan gini nih!” Sehingga sejak itu saya terus menanti-nanti, kapan kira-kira saya akan berpikir begitu lagi untuk langkah saya yang lain yang dulu saya ambil juga.

Karena itulah saya nggak lagi mengklasifikasikan diri saya sebagai seorang atheis, tapi seorang yang percaya tuhan, bukan agama. Saya yakin, tuhan itu ada dan dia yang membimbing jalan kita dan membantu kita sewaktu mengambil keputusan, sadar maupun nggak sadar. Dia bisa dalam bentuk orang tua kita, pacar kita, teman-teman, bahkan alam semesta.

😉

 

 

PS: I don’t judge people based on their religions, so don’t judge me.

Advertisements
3 comments
  1. itssunday0 said:

    agreed 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: