Archive

Monthly Archives: August 2012

Juli kemarin memang bukan kunjungan saya yang pertama ke Jogja, tapi mungkin itu adalah kali pertama saya bisa menyimpulkan sebuah kata yang tepat untuk kota Jogja: SABAR. Kenapa? Soalnya ini nih…

Nama Bapak Supir Taxi yang akan Saya Ingat Selalu

Sabarnya kota Jogja dimulai ketika saya berkenalan dengan supir taxi yang mengantarkan saya ke Hotel. Setelah beberapa lama ngobrol, pertanyaan, “Bapak namanya siapa?” pun keluar. “Medi,” katanya. Sebetulnya waktu itu saya nggak mendengar jelas siapa namanya, jadi saya mencoba mencari tahu melalui tanda pengenal supir taxi yang biasa ada di dashboard itu, dan ternyata inilah namanya:

Bapak Semedi

Keren ya? Hehe…

Sabar dan Rendah Hati ala Candi Borobudur

Setelah Bapak Semedi yang entah hobinya seperti namanya atau nggak, Candi Borobudur yang letaknya (ternyata) di Magelang, bukan Jogja, juga memberikan amanat layaknya ajaran Buddha: rendah hati dan kesabaran. Buat yang pernah ke Candi Borobudur tapi nggak pernah mencari tahu sejarah dan makna di balik setiap candi yang terukir di sana, mendingan kamu ke sana lagi terus minta tour guide lokal di sana buat nganterin dan nyeritain kalian soal itu. Dijamin nggak rugi. Berkali-kali saya mendengar kata kesabaran dan rendah hati keluar dari mulut tour guide ketika dia menjelaskan tentang Candi Borobudur.

Candi Borobudur

Dingin dan Jauh itu Tak Selalu Hambar

Ini bukan tentang hubungan jarak jauh yang lagi digalaukan orang-orang sekarang yah. Di Taman Sari yang kompleksnya sangat sangat sangat sangat sangat besar membuat jarak dari satu tempat ke tempat yang lain itu berjauhan. Ruangan untuk masak dengan ruangan untuk menyajikan makanan juga jaraknya cukup jauh. Tujuannya adalah untuk melatih kesabaran, kata pemandu saya di Taman Sari dengan raut muka yang tenang dan penuh tersenyum. Beliau juga bilang, zaman dulu Sultan nggak langsung makan begitu makanannya disajikan di meja, tapi ditunggu dulu sampai dingin. Dari dingin kembali ke dingin. Juga untuk melatih kesabaran.

Taman Sari

Anda Senang, Kami Puas

Barangkali itu prinsip bapak becak yang saya temui di siang hari kedua yang juga hari terakhir perjalanan saya di Jogja. Dia rela mengantar berjam-jam (kayaknya 4-5 jam deh waktu itu) dengan menawarkan tarif yang kalo di Jakarta sih kayaknya mereka akan memilih untuk mendingan tidur daripada ngantar keliling tapi cuma dapat segitu.

Bapak Becak yang ramah dan bawel di paling kanan

Pertanyaan Klise yang Dijawab dengan Antusias

Sebagai seseorang yang namanya udah membahana di dalam dan luar negeri, pasti sering sekali mendapat pertanyaan yang sama, yah, model-model W5H1 lah. Tapi, Ria pendiri Papermoon Puppet Theatre dan suaminya Iwan Effendi tetap menjawab pertanyaan-pertanyaan klise dari saya dengan tetap antusias dan panjang lebar. Buat yang belum tau tentang Papermoon Puppet Theatre, coba baca di sini dan pokoknya kalau mereka main di kotamu wajib banget ditonton. Dijamin menyentuh hati!

Berkunjung ke markas Papermoon Puppet Theatre

Semoga sabarnya bisa saya simpan terus pas di Jakarta ya.

Advertisements

image

Aku melihatmu setiap malam di dalam mimpi
Aku memikirkanmu saat bangun pagi
Aku mencium wangimu di dalam lemari baju
I mendengarmu berbicara sewaktu makan malam
Aku merasakan keberadaanmu kemanapun aku pergi.

Oh, akal sehat! Hentikan aku dari kegilaan ini!