Teruntuk Aceh

A boy plants paper flowers with messages written by the Indonesian and Japanese society during a ceremony to commemorate the 2004 Indian Ocean tsunami in Lhoknga, Aceh province

Foto diambil dari sini.

2004 – 2012
Delapan tahun tsunami Aceh

Halo Aceh,

Apa kabarmu? Delapan tahun sudah berlalu sejak kau dilanda musibah hebat yang melumpuhkan hampir seluruh urat sarafmu. Namun dengan hebatnya kamu bisa bangkit kembali untuk memulihkan diri.

Delapan tahun yang lalu aku hanya seorang mahasiswa tingkat 2 yang masih belum memberi perhatian sepenuhnya terhadap sekitar. Kehidupanku hanya berkisar seputar aku, keluarga, dan teman-teman. Kala itu aku mendengar tentang kondisimu melalui televisi. Kamu porak poranda dan mengenaskan. Bahkan aku melihat kamu seperti sudah dalam keadaan koma. Tapi seperti halnya berita mengenaskan lain yang kudapat melalui media, kamu terasa begitu jauh dan aku tidak merasa ada benang penghubung antara kau dan aku. Jujur, aku berduka. Tapi hanya sebatas itu. Sebut aku tebal hati, karena memang begitulah dulu adanya.

Beruntung, lima tahun setelahnya aku sempat bergabung di sebuah lembaga yang bergerak di bidang pengurangan risiko bencana. Dari situ juga pemikiranku tentang kelokalan berkembang. Perlahan, gaya hidup hedonisme yang terpupuk subur semasa kuliah semakin melayu. Mungkin memang sudah saatnya gugur. Dari situ aku mengenal tentangmu lebih jauh, karena banyak teman-teman dari lembaga itu yang pernah bertemu langsung denganmu untuk melakukan pemulihan.

Aku jadi menyadari, ternyata Indonesia tidak hanya seluas Jakarta ke Bali. Aku jadi tahu, ternyata keanekaragaman di Indonesia itu sangat luar biasa. Aku juga jadi tahu, ternyata istilah berbeda-beda tetapi tetap satu itu masih samar di tempat kita ini. Tapi kamu juga pasti tahu, kalau bukan karena bantuan dari luar kamu pasti mengalami kesulitan untuk pulih. Terkadang orang memang baru bisa pasrah ketika sedang sekarat, termasuk pasrah menerima bantuan dari siapapun asal ia bisa selamat lagi. Sebagai sebuah wilayah yang keberadaan satu agamanya sangat kuat, kamu sangat hebat dan terbuka. Mungkin banyak dari mereka yang membantu dengan pamrih, tapi juga pasti tidak sedikit dari mereka yang membantu dengan tulus.

Kamu tahu? Baru-baru ini aku sempat mendengar cerita tentang profesor kertas asal Jepang bernama Sakamoto. Awalnya pembicaraanku dan rekanku adalah seputar seni, kemudian ia menggiring pembicaraan ke Sakamoto yang melakukan penelitian tentang kain Fuya dari Sulawesi. Ia, yang bukan sama sekali berasal dari Indonesia, malah ingin membantu melestarikan warisan budaya kita. Tidak lama setelahnya, aku menemukan bahwa ia juga sempat membantumu dulu di tahun 2004. Berbekal profesi dan keahliannya, ia membantu menyelamatkan tulisan-tulisan di dokumen yang terendam banjir. Dengan tekniknya yang aku nggak mengerti, ia bisa mengembalikan tulisan tersebut. Luar biasa banget ya?

Pasti masih banyak orang-orang lain yang membantumu melalui keahlian yang mereka bisa, tapi aku tidak tahu siapa saja mereka. Ah, Aceh. Kamu pasti bahagia. Kamu diperhatikan. Apakah kita harus mendapatkan musibah dulu untuk baru bisa membuka diri terhadap uluran tangan yang ingin membantu? Atau apakah kita harus mendapatkan musibah dulu untuk baru bisa membuka mata dan menyadarkan diri terhadap apa yang akan terjadi? Tapi memang begitulah manusia bukan?

Sepertinya lanturanku sudah semakin tidak karuan. Tetaplah bertahan, Aceh. Semoga kamu bisa tetap meneruskan cerita-ceritamu ke tempat lain, supaya mereka tidak harus terjatuh dulu untuk bisa terbang.

Salam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: