Hidup untuk Makan, atau Makan untuk Hidup?

heidelberg-zoo Apu suka sekali dengan binatang, tapi kedua orang tuanya nggak pernah memperbolehkan Apu untuk memelihara binatang, meskipun hanya anjing, kucing, maupung seekor burung kecil. Tanpa sepengetahuan orang tuanya, Apu sering memberi makan anjing dan kucing liar yang suka berkeliaran di depan sekolahnya. Ia takut kalau memberi makan di dekat rumah, anjing dan kucing tersebut akan mengikuti Apu masuk ke dalam. Di sela-sela waktu sekolah, Apu seringkali menyempatkan diri untuk pergi ke kebun binatang, entah itu sepulang sekolah, atau di saat istirahat yang hanya enam puluh menit lamanya. Ketika memandang gerak-gerik binatang, Apu merasa dirinya sangat bahagia. Ia juga senang mengamati bapak dan ibu petugas kebun binatang yang senantiasa memberi pakan dan merawat hewan-hewan tersebut. Selepas SMA, Apu bertekad untuk kuliah kedokteran hewan karena ingin semua binatang berada dalam kondisi sehat. Pak Rimba, salah satu petugas kebun binatang, memang sudah sering mengamati Apu yang berkeliaran di dekatnya. Suatu hari saat memberi pakan jerapah, dari ekor matanya Pak Rimba melihat Apu sedang mengintip di balik semak-semak. “Hei, nak!” Saking kagetnya, Apu berdiri tegak, mempertunjukkan setengah badan ke atas yang tak sanggup disembunyikan oleh semak-semak. “Sini, mau coba kasih makan?” ajak Pak Rimba sambil mengayun-ayunkan tangan. Seulas senyum lebar terpampang di wajah Apu selama… yah 10 detik, sebelum akhirnya Apu bergegas menuju ke samping Pak Rimba. Itu adalah pertama kalinya ia berinteraksi langsung dengan hewan selain anjing dan kucing. Hari demi hari setelahnya, Apu semakin sering mengunjungi kebun binatang. Pak Rimba dengan baik hati mengajak Apu ke manapun ia berinteraksi dengan hewan-hewan, termasuk ketika ia harus membersihkan kotoran dan mengobati binatang yang sakit. Lama kelamaan, Apu menjadi salah satu orang kepercayaan Pak Rimba untuk membantunya merawat binatang-binatang tersebut. Teman-teman Apu di sekolah yang awalnya kebingungan ke mana ia menghilang mulai memahami hobinya ini. Tidak lama kemudian, Apu pun terkenal sebagai ahli binatang dan menjadi tempat kepercayaan teman-temannya yang ingin berkonsultasi soal hewan peliharaan ataupun binatang liar lainnya. Entah kenapa saya tiba-tiba mengarang cerita Apu ketika beberapa waktu lalu mendengar sebuah pertanyaan menggelitik di sebuah diskusi: “Kapan sih sebenarnya seseorang bisa menyebut dirinya seniman?” Lucunya, satu minggu sebelum pertanyaan tersebut dilontarkan, saya mendengar seseorang menjawab: “Saya belum berani menyebut diri sebagai ‘seniman’, karena mereka adalah orang yang terus-menerus berkarya dan membuat karya seni, apapun bentuknya. Seniman hidup untuk berkarya.” Hidup untuk makan tentunya beda dengan makan untuk hidup. Demikian juga dengan hidup untuk berkarya, tentunya beda dengan berkarya untuk hidup. Hidup akan terasa lebih hidup ketika kita hidup untuk melakukan hal-hal yang kita sukai.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: