Archive

Monthly Archives: December 2015

657ac6ba4dfbabf6059e5e9eb0dd5c80-2

Vol-un-teer: freely offer to do something

Mungkin ini hanya perasaan saya saja, mungkin. Tapi, entah kenapa saya merasa sebagian anak-anak muda yang saat ini mendaftar untuk kegiatan volunteer memiliki semangat yang sedikit berbeda dibandingkan dulu ketika saya dan teman-teman ber-volunteer.

Pertama kalinya saya mendaftar menjadi volunteer itu di tahun 2009 untuk acara Ubud Writers & Readers Festival (UWRF). Saya benar-benar lupa darimana saya tahu kalau saat itu UWRF membuka lowongan untuk para volunteer, tapi yang jelas saat itu saya mendaftar karena tiga hal: saya memiliki ketertarikan terhadap buku, ingin berkenalan dengan orang-orang baru, dan ingin pergi ke Bali (well, who doesn’t?).

Mirip seperti mencari lowongan pekerjaan, proses aplikasi menjadi volunteer tidak sesederhana itu. Saya diminta untuk mengisi formulir aplikasi dan menunggu konfirmasi email dari panitia yang memutuskan apakah saya diterima atau tidak. Seingat saya, di formulir tersebut bahkan atasan saya di kantor harus menuliskan pernyataan kenapa saya layak untuk diterima sebagai volunteer. It seems so much for a volunteer, eh? But I completed all the requirements anyway.

Sebagai volunteer, saya menyadari bahwa acara ini tidak akan membiayai pengeluaran apapun untuk mencapai tempat acara. Yang saya tahu, mereka menyediakan akomodasi, transportasi, dan makan hanya saat para volunteer bekerja.

Yang baru saya sadari saat menjadi volunteer adalah saya tidak bisa menikmati setiap sesi yang diadakan ketika bertugas karena saya sedang bertugas! Di UWRF, ada begitu banyak sesi yang diadakan dalam satu hari dengan nama-nama panelis yang begitu menggugah lidah, eh selera. Karena itulah, saya juga berharap bisa jaga kandang sambil menikmati setiap sesi yang saya suka. Itu harapan… Realitanya sudah pasti lain.

Sebagai volunteer, saya bisa memilih posisi apa yang saya inginkan, tapi saya tidak bisa memilih mau ditempatkan di sesi apa. Ketika sedang bekerja pun saya tidak bisa memperhatikan jalannya acara dengan konsentrasi penuh karena saat bertugas pasti ada saja distraksi-distraksi kecil.

Gagalnya ekspektasi tersebut bukan berarti menyulutkan niat saat bertugas, karena sebenarnya saya mendapatkan hal yang lebih besar dari itu: pengalaman baru dan bertemu dengan orang-orang baru yang sampai hari ini masih berhubungan baik. Lebih tepatnya, saya merasa menemukan rumah baru berisi orang-orang yang nyaman untuk tinggal bersama.

Menjadi volunteer bukanlah hal yang remeh dan bukan berarti hanya mencari kesempatan untuk bisa menikmati sebuah acara yang lagi happening secara gratis. Jangan ambil kesempatan untuk menjadi volunteer jika hanya itu yang ada di dalam pikiran, because there is so much more than that. Sesuai dengan namanya, menjadi volunteer berarti kita secara sukarela membantu keberlangsungan sebuah acara. Dan sebagai timbal baliknya, kita pasti akan menemukan sesuatu yang tidak bisa kita temukan di tempat lain: pengetahuan baru, keluarga baru.

Advertisements