Archive

Monthly Archives: March 2016

Sebagai anak perempuan yang mempunyai bapak berbintang Virgo, dari kecil saya sudah dibiasakan untuk selalu tepat waktu di segala kesempatan (meskipun istilah fashionably late tetap berlaku untuk saat-saat tertentu, karena saya bukan Virgo). Makanya, saya cukup kaget waktu telat ketinggalan kereta saat mau beralih dari Singapura menuju Kuala Lumpur. Pertama kali dalam hidup.

Jadi, gimana caranya untuk pergi dari Singapura ke Kuala Lumpur menggunakan kereta? Pertama-tama yang harus diketahui, rute keberangkatan dari Singapura ke Kuala lumpur adalah sebagai berikut:

Woodlands Train Checkpoint (Singapura) – JB Sentral (Malaysia) – Kuala Lumpur (Malaysia)

Woodlands Train Checkpoint (Singapura) – JB Sentral (Malaysia)

Ada dua cara untuk menuju JB Sentral dari Woodlands Train Checkpoint:

  1. Shuttle Tebrau: kereta transit baru yang hanya butuh waktu 5 menit perjalanan saja
  2. Shuttle Bus: butuh waktu sekitar 15-20 menit
Screen Shot 2016-03-07 at 9.18.54 PM.png

KTMB online ticket website

Karena tanggal keberangkatan menuju Kuala Lumpur sudah pasti, saya membeli tiket Shuttle Tebrau di situs resmi Keretapi Tanah Melayu Berhad (KTMB) yang ada di sini. KTMB ini milik Malaysia, dan beroperasi mulai dari Woodlands Train Checkpoint ke seluruh wilayah di Malaysia. Tinggal daftar, lalu cari jadwal keberangkatan dan bayar tiket menggunakan kartu kredit. Waktu itu saya beli dengan harga MYR16/orang + biaya kartu kredit MYR4 per transaksi.

Dari Singapura sebenarnya ada beberapa stasiun MRT yang bisa dilalui kalau mau pergi ke Woodlands Train Checkpoint, tapi waktu itu saya memilih stasiun MRT Woodlands. Jadi, dari tempat menginap di wilayah downtown saya berangkat menuju Stasiun MRT Woodlands. Sampai di stasiun MRT Woodlands, saya turun satu lantai menuju terminal bus untuk pergi ke Woodlands Train Checkpoint.

Ada cukup banyak bus yang bisa dipilih untuk ke Woodlands Train Checkpoint: 911, 912, 913, 856, 903. Saya lupa tarifnya berapa karena menggunakan kartu Transitlink. Oh iya, jangan lupa perjalanannya cukup memakan waktu. Saya hitung kurang lebih sekitar 15 menit karena bus berhenti di beberapa bus stop.

Sesampainya di Woodlands Train Checkpoint, saya naik ke lantai dua menuju pintu masuk ke Shuttle Tebrau. Tapiiiiiiii, karena telat (akibat nggak memperhitungkan perjalanan naik bus ke Woodlands Train Checkpoint yang cukup lama), akhirnya saya ketinggalan kereta. Untuk mengejar kereta dari JB Sentral ke Kuala Lumpur yang hanya berselang 40 menit dari sejak Shuttle Tebrau berangkat, akhirnya saya naik shuttle bus.

Untuk menuju shuttle bus, masuk ke dalam gedung Woodlands Train Checkpoint lalu naik ke lantai dua. Pertama-tama kita akan diarahkan ke pintu menuju Shuttle Tebrau. Di depan pintu menuju Shuttle Tebrau ada lorong ke kanan, ambil jalan tersebut ikuti saja nanti akan langsung diarahkan menuju shuttle bus. Harga busnya saya lupa karena (lagi-lagi) memakai kartu Transitlink.

Screen Shot 2016-03-09 at 6.34.44 PM.png

Shuttle bus menuju JB Sentral

JB Sentral (Malaysia) – Larkin (Malaysia)

Usaha untuk mengejar kereta menuju Kuala Lumpur ternyata gagal karena saya telat 5 menit untuk sampai di pintu masuk menuju kereta! By the way, sebelumnya saya juga sudah memesan tiket kereta dari JB Sentral ke Kuala Lumpur terlebih dahulu di situs KTMB yang saya sebutkan di atas. Kalau lancar naik kereta, dari JB Sentral kita akan langsung diarahkan menuju KL Sentral.

Karena malas harus menunggu sekitar 8 jam untuk kereta selanjutnya, akhirnya saya memutuskan untuk naik bus dari JB Sentral. Ternyata, nggak ada bus yang berangkat langsung dari JB Sentral menuju Kuala Lumpur. Jadi, saya harus naik bus lagi dulu dari JB Sentral menuju Larkin. Caranya bisa tanya-tanya petugas di sana, mereka memberikan informasi yang cukup jelas. Biaya untuk naik busnya MYR1,7/orang. Perjalanan dari JB Sentral menuju Larkin tidak terlalu lama, kalau nggak salah sekitar 15-20 menit juga.

Larkin (Malaysia) – Terminal Bersepadu Selatan Kuala Lumpur (Malaysia)

Screen Shot 2016-03-09 at 6.35.27 PM.png

Bersiap naik bus di Larkin

Begitu turun bus di Larkin, saya disambut oleh orang-orang yang menawarkan jasa bus. Karena nggak tahu sebaiknya naik bus yang mana, saya memercayakannya kepada salah satu orang di sana dan mendapatkan harga tiket bus MYR40/orang. Durasi perjalanan dari Larkin menuju Kuala Lumpur sekitar 4 jam.

Bus dari Larkin menuju Kuala Lumpur nggak berhenti di KL Sentral seperti halnya kereta, melainkan di Terminal Bersepadu Selatan, yang lokasinya agak ke selatan Kuala Lumpur. Tapi sebenarnya sama saja kok, tinggal lihat map kereta Kuala Lumpur dari terminal mau pergi ke daerah mana.

Screen Shot 2016-03-09 at 6.36.14 PM.png

Terminal Bersepadu Selatan di Kuala Lumpur

Walaupun agak penuh drama akibat ketinggalan kereta, saya dan suami bisa tiba sesuai jadwal di Kuala Lumpur. Yeay!

Advertisements


Berkali-kali ke Singapura, saya selalu menyimpan kekaguman pada negara ini. Negara mungil ini sadar kalau pada dasarnya mereka “miskin”, makanya mereka mencoba untuk memperkaya diri agar terlihat menarik di mata orang luar. And they are good at it, I mean, at attracting people to come and visit their country.

Okelah, mereka nggak sempurna. Sudah bukan rahasia lagi kalau negara mereka memang memberlakukan hukum yang cukup membuat semua penduduknya harus menuruti peraturan. Bikin nggak enak sedikit, kena denda. Melanggar aturan sedikit, ada hukuman. Mata-mata di mana-mana, dan mungkin warganya juga sudah terprogram untuk mengikuti apa yang pemerintah arahkan.

Because we only have the people,” ujar salah seorang warga Singapura yang kebetulan waktu itu saya ajak ngobrol bareng. Topik obrolannya bukan tentang politik, sebenarnya, tapi entah gimana jadi sedikit nyerempet ke situ. Dan waktu sedikit saja ngomongin tentang negara, spontan volume suara langsung mengecil.

Sepertinya Singapura sadar kalau mereka nggak punya sumber daya lainnya selain manusia. Jadi, satu-satunya cara untuk membuat negara ini maju adalah dengan meredam emosi-emosi yang bisa muncul akibat ras, suku, agama, dan lainnya melalui peraturan super ketat. Meskipun, tentu saja, ketegangan antar suku bukan sama sekali bisa menghilang begitu saja. Sebagai gantinya, warga mendapatkan kenyamanan dari berbagai sisi. Mereka yang kurang mampu diberikan bantuan dana agar bisa hidup cukup layak. Sementara itu, pemerintah sering banget memberikan kucuran dana untuk perseorangan maupun kelompok, selama apa yang mereka buat nggak menyinggung SARA, mengusung sejarah lokal, dan seksi di mata wisatawan. Kedengaran cukup kulit, ya? Iya sih. Tapi sepertinya itu memang trik mereka untuk mendatangkan orang banyak dan menyenangkan turis.

Di bidang seni, misalnya. Walaupun rasanya nggak banyak seniman Singapura yang namanya mendunia, mereka bisa mengadakan art fair kelas dunia, seperti Art Stage Singapore (yang ternyata kuratornya ada yang berasal dari Jogja) dan Singapore Contemporary Art Fair bulan Januari lalu. Di bulan April dan September ini mereka bahkan akan mengadakan Affordable Art Fair karena konon penjualannya laris manis.

Karya Yayoi Kusama di Art Stage Singapore

Karya Ee Shaun di Singapore Contemporary Art Fair

Belum lagi National Gallery Singapore yang baru beberapa bulan dibuka. Di galeri yang megah dan mewah ini ada banyak banget karya seniman Indonesia yang menjadi koleksi National Gallery Singapore, salah satunya lukisan terbesar karya maestro Raden Saleh. Senang sih, karena karya lokal mendapatkan apresiasi internasional di tempat yang sangat bagus. Tapi, bukannya harusnya justru bisa kita melihat karya maestro lokal di negeri sendiri ya? Well, that’s just my two cents. Anyway, tiket masuk ke National Gallery Singapore ini SGD20 per orang untuk turis, dan galerinya luas banget. Jadi mendingan datang dari pagi supaya bisa lihat semua karya dan menikmati arsitekturnya dengan santai.

National Gallery Singapore

Interior National Gallery Singapore

Lukisan terbesar Raden Saleh, Kebakaran Hutan

Taman juga menjadi salah satu hal yang saya suka dari negara ini. Di samping menjadi tempat yang enak banget untuk piknik dan berolahraga, taman juga menjadi tempat yang pas buat para pencinta anjing. Beberapa waktu lalu, saya dan suami khusus mampir ke Botanical Garden karena ingin melihat anjing yang dibawa jalan-jalan. Kami mendatangi beberapa pemilik anjing untuk sekadar bermain dengan anjingnya. Kalau saja ada istilah “pedogfil”, rasanya kami salah satunya. 😀

Can you say no to those eyes? I can’t!

Banyaknya turis yang bisa dengan mudah lalu lalang di jalanan kota juga salah satu faktor yang membuat industri pariwisata di Singapura sangat baik. Saya sempat mengunjungi sebuah sinema alternatif bernama The Projector yang menampilkan film-film yang mungkin nggak diputar di sinema pada umumnya. Sebut saja What We Do in the Shadow, The Danish Girl, Taxi Tehran, dan lain sebagainya. Melalui crowdfunding, The Projector berhasil membangkitkan kembali dan mempercantik lokasi sinema lawas di kawasan Beach Road. Kalau di sinema umum harga tiket film sekitar SGD8, The Projector menaruh harga SGD13. Jumlah yang nggak murah, sebenarnya. Tapi, saya melihat ada cukup banyak warga lokal dan turis yang tertarik dengan tempat ini.

Tampak depan lift menuju The Projector

Interior di Dalam The Projector

Sebenarnya, apa yang dimiliki Singapura sangat jauh lebih sedikit dari apa yang kita miliki. Indonesia memiliki keragaman budaya, kekayaan alam, dinamika menarik, dan masih banyak lagi. Tapi, mungkin memang dibutuhkan lebih dari memiliki secara cuma-cuma untuk seseorang bisa menghargai apa yang dipunya.

Mengutip acceptance speech mas Leonardo Dicaprio untuk Oscar 2016, “Let us not take this planet for granted.” 

Yup, we shall not take what we have for granted.