A Rare Conversation: Sapardi Djoko Damono x Joko Pinurbo

A Rare Conversation: Sapardi Djoko Damono x Joko Pinurbo

A Rare Conversation: Sapardi Djoko Damono x Joko Pinurbo

Mengenal seseorang dari karya-karya yang ia hasilkan memang menyenangkan. Tapi, lebih menyenangkan lagi ketika kita bisa mengenal sosok personal di balik karya-karya yang ia buat.

Saya baru tahu, ternyata Sapardi Djoko Damono adalah “eyang mal”. Beliau sering berjalan-jalan di Pondok Indah Mall karena dokter menganjurkannya untuk banyak jalan. Malas terkena cuaca panas dan debu, tentu saja jalan di mal jadi pilihan tepat, mengingat Sapardi selalu tampil necis dengan jas dan topi seniman.

Saya juga baru tahu kalau Joko Pinurbo (Jokpin) sangat, sangat, sangat mengagumi buku puisi pertama Sapardi yang berjudul Dukamu Abadi. Ia bahkan mempunyai dua edisi: satu dalam bentuk yang menyerupai stensilan, satu dalam bentuk buku puisi biasa. Buku puisi itu juga yang membawa Jokpin serius untuk terjun sebagai penyair. Tidak terhitung berapa kali ia mengungkapkan kekagumannya akan buku puisi Dukamu Abadi.

Di atas panggung Asean Literary Festival 2016, Sapardi dengan gaya bicara yang nyeleneh ternyata bisa tampil sangat harmonis di atas panggung ketika dihadapkan dengan Jokpin yang cenderung blak-blakan. Dipandu oleh Najwa Shihab sebagai moderator, keduanya pun saling melemparkan guyonan ala Jawa Tengah saat menanggapi banyak pertanyaan yang diajukan Najwa.

Saya yakin sebagian besar masyarakat pasti sudah pernah membaca karya legendaris Sapardi, Hujan Bulan Juni dan Aku Ingin. Puisi yang sering sekali dijadikan kutipan dalam undangan pernikahan maupun digunakan untuk merayu orang ini ternyata dibuat hanya dalam waktu kurang dari 30 menit saja. Begitupun, penyair yang sangat rendah hati ini menganggap puisi-puisinya dikenal banyak orang karena telah dinyanyikan dengan sangat indah oleh duo vokal AriReda.

Ah, apapun alasannya, publik sangat mencintaimu, Sapardi. Meskipun masih ada juga yang salah mengira Kahlil Gibran sebagai penulis puisi Aku Ingin. Dikiranya orang Indonesia tidak bisa membuat puisi semesra ini.

Sebenarnya saya masih ingin mengetahui bagaimana proses Sapardi dalam merangkai kata-kata, dan mengapa menurutnya puisi yang dibuat dalam waktu singkat tanpa banyak revisi itulah yang ia anggap berhasil. Tapi namanya juga percakapan, topik pembicaraan harus terus bergulir, apalagi ketika sang moderator juga memimpin obrolan seperti ia membawakan talkshow-nya yang disiarkan di Metro TV, terkadang terlalu ingin cepat sampai ke hal yang ia ingin publik dengar.

Jokpin, yang menerbitkan buku puisi pertamanya di umur 30-an, berhasil menciptakan positioning yang sangat baik untuk karya-karyanya. Ia sempat menghabiskan waktu membaca puisi-puisi para penyair lain dan mencari celah, tema apa yang belum pernah mereka garap. Dari situ terciptalah puisi tentang celana, kamar mandi, jemuran, dan seterusnya.

Padahal, menurut saya, kalaupun Jokpin membahas topik yang sudah pernah dibahas oleh para penyair lain ,hasilnya akan tetaplah Jokpin: penataan kalimat dengan gaya bahasa sederhana yang ringan dibaca namun menyimpan makna-makna yang masih dianggap tabu bagi sebagian orang.

Kalau kumpulan puisi Sapardi itu ibarat menonton film-film Eropa yang artistik, cantik, dan penuh makna, puisi-puisi Jokpin bisa diibaratkan sebagai film dengan genre dark comedy. Dari luar terkesan slapstick, tapi sebenarnya ada sindiran-sindiran tertentu yang bisa jadi tidak bisa ditangkap oleh semua orang.

Beberapa dari kita pasti juga sudah pernah mendengar kalau Jokpin yang pencinta kopi ini sedang asyik-asyiknya menggarap puisi bertema Bahasa Indonesia. Salah satu puisinya berjudul Kamus Kecil sudah banyak beredar di media massa dan dunia maya, mengingatkan kita akan betapa menariknya Bahasa Indonesia, terlebih ketika mendengar langsung sang penyair membawakan puisinya.

Karya-karya mereka yang sangat indah mungkin membuat kita bertanya-tanya, bagaimana cara mereka menemukan inspirasi? Tentu saja kamu pasti sudah bisa menebak jawaban Sapardi. “Inspirasi kok dicari,” ujarnya. Bagi Sapardi, inspirasi bisa datang dari mana saja dalam kehidupan sehari-hari. Yang terpenting adalah jangan terhanyut dalam emosi ketika kita sedang berkarya. Baik Sapardi maupun Jokpin setuju, seseorang sebaiknya menulis ketika ia sudah bisa membuat jarak dengan emosi yang ingin ditumpahkan. “Kalau mau marah-marah, demo saja, jangan menulis,” tambah Sapardi yang mengaku ia sebenarnya bukan penyair cinta.

Terlepas dari karya apapun yang dihasilkan, kita tentunya tidak bisa memaksakan orang untuk memiliki interpretasi yang sama dengan apa yang kita pikirkan saat membuat karya tersebut. Buku Dukamu Abadi, contohnya. Jokpin mengatakan ia sangat terenyuh dengan puisi-puisi di dalam buku Dukamu Abadi karena ia melihat Sapardi seolah sedang menceritakan kejadian pasca 1965 dengan sangat halus (buku ini pertama kali diterbitkan tahun 1969). Padahal, Sapardi sendiri mengaku buku tersebut ia buat ketika ia sedang merasa kematian begitu dekat dengan dirinya. Tidak ada hubungannya dengan kejadian 1965.

Tapi, bukankah itu hal yang luar biasa? Bagaimana sebuah buku bisa menggugah banyak orang dengan interpretasi mereka masing-masing. Lagipula, mereka berdua tidak merasa masalah ketika orang lain menginterpretasikan karyanya dengan cara mereka sendiri. “Syair itu soal bunyi. Seperti apa interpretasinya, itu urusan lain,” kata Sapardi.

Berbeda dengan novel atau cerpen, setiap untaian kata yang terangkai di dalam sebuah puisi pasti memiliki bunyi yang indah. Puisi itu bagaimana kita bermain dengan kata-kata. Dan tugas seorang penyair adalah untuk menyelami bahasa.

Terima kasih Sapardi Djoko Damono, Joko Pinurbo dan Najwa Shihab, atas (kurang lebih) 90 menit percakapan yang menyenangkan saat Asean Literary Festival 2016. Meskipun sempat mengira akan melihat percakapan maut Sapardi dan Jokpin yang dibiarkan mengalir bebas tanpa arahan dari moderator yang beberapa kali terlihat ingin menjurus ke ranah politik, saya tidak kecewa. Rasanya seperti sedang duduk di bangku teras, memejamkan mata sembari menghadap ke taman kecil di depan rumah dan mendengarkan kalian bersenda gurau dengan guyonan yang menorehkan senyum hingga gelak tawa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: