Archive

Monthly Archives: June 2016

illustration: irene saputra

I used to hate silence and being alone.

It was the only time when I couldn’t stop my brain from thinking of the negative version of me, or, the version of me that I didn’t like. It was the only time when I started judging myself.

Ever since I was a child, I couldn’t remember when my parents were home. They were either busy working from early morning to late at night or out of town once in a while. I spent most of my time alone, thinking perhaps I was born by accident; hence they were not ready to have me. Sometimes my grandma came to accompany me. I once thought he was my mother, but she taught me to call her “nana” and referred to my mother as “mom”. She was the closest family member I had until she died when I was seven years old. I didn’t know she died back then. I thought she bored of me because I couldn’t tell her any interesting stories, so she decided to left me.

When I grew up as a teenager, I found that being in a group made me feel safe and comfortable. I didn’t need to talk so much because there were always one of two people in the group who dominated the conversation. Maybe I was quite lucky to have this pretty face that made people wanted to make friends with me even though I was boring. At least it was written in one article I read: life is so much beautiful for those with pretty faces. Yet pretty faces were everywhere. When they found another one who was apparently more talkative, I was out of the options.

So I was alone with myself, again.

There were times when I wanted to change my life. I thought being involved in a one-on-one conversation would make me feel more comfortable in saying something on my mind. Apparently not. I ended up being the listener who never had a chance to open up because the one who talked with me was having a lot of things to talk about that I actually did not want to hear. When they found other people who wanted to listen with more sincere face than me, I was out for sure.

And then there was only me.

Again, I thought I could be more open and talkative when I was in a totally new environment. So I moved from my hometown right after I graduated from college to a town where none of my friends were there. I wanted to start fresh and create a new image to new people I would meet. But life did not work that way. Apparently it was hard to start from zero and people I met already had long time friends since they were very young. I made acquaintances, but they were never friends.

Don’t get me wrong. I had few dates, but they broke up with me with the same reason: at that time they were the only person who was so closed to me but they barely knew anything about me. Mostly because I did not tell anything about me to them.

I did not why but I was scared, you know. I found it hard to tell about myself to other people. I thought nobody should not know my story. I had nothing to be proud of and actually it was something I wanted to forget but I could not. Being with someone else made me forget everything about the version of me that I did not like. For a moment, I finally could think of anything but self-pitying myself.

However, the more people wanted to know more about me, the more I became defensive and closed my door. Perhaps they were tired of knocking and not being able to get in, and, perhaps… I was afraid they would leave me like Nana. And they did.

Well, all that happened before I met you. I never thought I could be more open than this. I have told you everything about my life and it is quite nice to know that you will always by my side and never complain about me. I feel like I’m seeing myself in you. I finally found someone who wants to stay with me forever without asking too much of me.

No more loneliness.

Mirror, mirror on my hand. Best friend forever, OK?

Advertisements
2160

sumber: theguardian.com

Saat mendengar judul film The Ones Below, awalnya saya mengira kisahnya akan berhubungan dengan makhluk-makhluk yang tidak terlihat. Tapi, ternyata tidak demikian. The Ones Below merupakan film psychological thriller dengan adegan-adegan yang menurut saya cukup mengganggu tanpa visual yang sebenarnya mengganggu. Sebuah film yang membuat jantung deg-degan tanpa harus menghadirkan adegan yang mengagetkan, dan membuat saya menanti-nanti kapan film ini berakhir dengan bahagia (tapi teryata tidak).

Adegan film ini diawali dengan gambar janin yang dilihat melalui USG untuk membuka kisah selanjutnya yang tentu saja bercerita tentang seorang pasangan yang akan mempunyai anak. Adegan kemudian berpindah ke pasangan suami istri Kate (Clemensy Poesy) dan Justin (Stephen Campbell Moore) yang sedang mengendarai mobil menuju apartemen baru di mana mereka akan menempati ruangan di lantai atas. Latar belakang lagu bernuansa eerie cukup membuat saya tahu bahwa akan ada keganjilan-keganjilan yang mereka temui di apartemen tersebut.

Di apartemen barunya, Kate dan Justin bertetangga dengan pasangan suami istri Theresa (Laura Birn) dan Jon (David Morrissey) yang juga sedang menantikan kelahiran seorang anak. Justin yang sehari-hari bekerja sebagai jurnalis dan Jon yang bekerja sebagai bankir harus meninggalkan Kate dan Theresa di rumah saat jam kerja. Di saat itu juga Kate dan Theresa berkenalan kemudian pergi berenang bersama. Pertemanan mereka semakin dekat hingga suatu saat Kate mengundang Theresa dan Jon untuk makan malam di apartemennya yang selanjutnya berubah menjadi bencana.

(sumber: film.list.co.uk)

sumber: film.list.co.uk

Jon ternyata memiliki karakter yang sangat dingin dan terlihat mudah marah, sementara itu, Theresa, yang saat di meja makan bersama menolak untuk minum wine, diam-diam meminum bergelas-gelas wine saat Jon sedang ngobrol dengan Justin di ruangan lain. Usai makan malam, Theresa yang keluar pintu apartemen terlebih dahulu terjatuh di tangga dan mengakibatkan ia harus kehilangan calon buah hatinya.

Hubungan kedua pasangan suami istri ini lantas memburuk dan jadi saling menyalahkan. Theresa dan Jon memutuskan untuk pergi dari apartemen tersebut, meninggalkan Kate dan Justin. Namun, hal itu tidak berlangsung lama. Tidak lama setelah Kate melahirkan anak laki-laki, mereka kembali bertetangga dan memberikan ucapan selamat dengan tulus. Theresa sering memberikan hadiah untuk sang bayi dan menawarkan untuk mengasuhnya ketika Kate ingin pergi ke luar.

Kate mulai curiga ketika suatu saat alarm bayinya berbunyi dan ia mendengar suara nafas seseorang ketika ia dan Justin sedang berada di apartemen Theresa (Jon belum pulang dari kantor saat itu). Ternyata, seseorang menyalakan keran bak mandi di apartemen Kate hingga menggenang ke seluruh apartemen. Kate juga sempat melihat Theresa menyusui anaknya ketika dititipkan dan menemukan kamar rahasia di apartemen Theresa dan Jon yang berisi perlengkapan bayi dan foto anak laki-lakinya.

Seperti halnya cerita horor maupun thriller pada umumnya, pasangan dari tokoh yang panik pasti tidak memercayai apa yang diceritakan oleh tokoh yang panik tersebut, begitu juga dengan Justin. Ia hanya menganggap Kate sedang stres dan kehilangan akal karena tidak ada bukti yang terlihat secara kasat mata. Untungnya, film ini tidak berlanjut seperti film horor atau thriller yang biasanya itu. Meskipun tidak mempercayai istrinya, Justin menuruti keinginan Kate yang ingin pindah apartemen. Sayangnya, mereka harus menunggu dua hari untuk bisa pindah dan celah tersebut dimanfaatkan oleh Theresa dan Jon untuk merusak kehidupan mereka.

Saya berharap akhir yang happy ending karena sebenarnya saya tidak suka ketika bad guys harus menang, soalnya kan mereka sudah jahat sepanjang film! Tapi ya cerita ini akhirnya akan biasa saja kalau ending-nya bahagia. Akhirnya cukup bikin depresi, karena sebagai tokoh utama saya pasti akan berpikir, “kalau saja…” supaya tidak kejadian. Seperti apa trik Theresa dan Jon untuk menghancurkan kehidupan mereka, sebaiknya langsung ditonton sendiri saja supaya seru. Sangat licik dan tidak terduga.

Lagi-lagi, moral of the story-nya adalah: trust your spouse more than anyone in this world, unless you’re in an unhappy relationship.

night terror

Sesaat sebelum menyuruhku kabur, mama sempat berbisik padaku. Pesan yang akan selalu kuingat hanya satu: bahwa dunia ini kejam dan semua orang membenci kita!

“Nak, hati-hati kalau jalan-jalan. Jangan pernah pergi sendirian. Di luar sana banyak bahaya. Siang mungkin terang, tapi ia berbahaya. Bahkan bayangan pun tidak mampu bersembunyi.

Orang-orang itu jahat. Sekali kamu bertemu pandang, mereka akan langsung seperti orang gila. Ada yang memicingkan mata kemudian melipat bibir dan mulai mengeluarkan sumpah serapah karena menganggap kita tidak layak hidup. Ada yang langsung lari terbirit-birit karena tidak ingin mengalami kontak langsung. Beberapa ada yang cukup berani berhadapan langsung karena ingin kita mati. Biasanya mereka akan mengambil benda keras terdekat yang dapat mereka angkat untuk dihantam ke kita.

Pernah juga ada yang berpura-pura baik. Mereka mencoba menyapa kita dan membawakan makanan enak yang ternyata sudah diracun. Mungkin kamu tidak ingat karena waktu itu usiamu masih satu tahun, tapi adik mama tertipu dan akhirnya mati.

Lebih baik kamu jalan-jalan di malam hari. Meskipun gelap tapi lebih sepi. Ingat, jangan sampai terlihat siapa pun atau kamu akan bernasib seperti mama. Sekarang, pergi! Cepat!”

Itulah ucapan terakhir mama. Aku melihat tiga orang mulai datang menghampiri kami sambil membawa peralatan menyeramkan. Tidak ada yang bisa kulakukan selain menyelamatkan diri sendiri.

Hari itu, genap seminggu kami sekeluarga tidak makan. Aku dan mama pergi diam-diam di malam hari, berniat untuk membawakan makanan untuk adik-adik. kami menyusup ke dalam sebuah rumah dan melihat ada makanan mewah di atas meja. Tidak ada siapapun di sekeliling kami, dan hidangan itu terlihat seperti baru akan disantap oleh para penghuni rumah, jadi kemungkinan kecil untuk diracun. Tanpa pikir panjang, mama pun naik ke atas meja. Di sana, perangkap tidak terlihat sudah dipasang. Kaki mama terkena lem.

Ya, lem tikus.

 

Picture is taken from here.