Jari Terpotong Pisau, Harus Ngapain?

Sewaktu mau menulis pengalaman saya ditangani oleh dokter saat jari terpotong pisau, saya sempat berpikir pengalaman saya ini nggak baru karena sepertinya sebagian besar orang sudah banyak mengetahui soal komersialisasi dunia medis. Tapi ketika mengalami di diri sendiri, saya baru menyadari kalau second opinion itu sangat penting, dan kehadiran dokter keluarga yang terpercaya juga sangat dibutuhkan untuk menjadi support system. So I decided to share this…

Saya dan suami memang suka masak ketika berada di rumah. Selain untuk menghindari keborosan karena makan di luar atau pesan Go-Food terus, kegiatan memasak juga menjadi salah satu rutinitas yang kami nikmati berdua.

Suatu malam, karena merasa sudah cukup jago mencacah bahan makanan, saya memainkan pisau (yang baru dibeli kurang dari tiga bulan) dengan lincah. Pisau baru ini memang luar biasa tajam, dan kuku saya sudah pernah patah dibuatnya. Agak kurang belajar dari pengalaman, malam itu ujung jempol saya terpotong pisau. Bukan cuma coak, ujung jempol saya benar-benar terpotong sampai copot!

Panik? Iya banget. Potongannya sih kecil tapi melihat darah segar mengalir tuh rasanya nyessss…

Hal pertama yang saya lakukan adalah mencuci jempol di air mengalir sambil lukanya ditekan, soalnya kalau dilepas sakitnya luar biasa banget. Suami yang ikutan panik karena saya panik melakukan pertolongan pertama dengan membungkus jempol menggunakan pembalut (hahaha!), sambil kita barengan pergi ke klinik K24 di Bangka Raya untuk konsultasi dengan dokter langganan, Dokter Budi A Witjaksono.

Sampai di klinik K24, saya nggak turun dari mobil. Suami yang turun dan bertanya sebentar ke dokter, apa yang harus dilakukan kalau ada ujung jari kepotong pisau. Dokter menyarankan untuk dibalut kencang di bagian luka sampai tertekan. Akhirnya suami membeli peralatan dari K24 dan membalut tangan saya di mobil. Setelahnya, saya terus menekan ujung jempol yang sudah diperban sambil menaruh tangan yang luka dengan posisi di atas jantung.

Lima jam kemudian waktu menunjukkan pukul tengah malam. Saya ingin mengganti perban sebelum tidur, supaya fresh. Cukup perjuangan juga membuka perbannya. Karena jempol saya masih sakit banget, jadi perban yang melekat ketat harus digunting pelan-pelan supaya jempol nggak ketarik sama sekali. Ketika sampai harus membuka perban di ujung jempol, saya pun merasakan kesakitan yang luar biasa karena sepertinya luka yang agak mengering menempel ke perban, jadi perban susah dilepas.

Untuk mengurangi rasa sakit, suami menuang air panas ke jempol sambil saya pelan-pelan menarik perban dari ujung jempol yang luka. Air panas di sini sebenarnya untuk mengalihkan rasa sakit saya. Dengan penuh perjuangan akhirnya perban berhasil dilepas! Tapi, kepanikan nggak berhenti sampai situ karena ternyata pas dicek darah masih menetes dari luka tersebut. Karena takut saya kehabisan darah (nggak tau sih sebenernya bisa sampai kehabisan darah apa gimana, tapi ya panik aja gitu ngeliat darahnya menetes terus kalau lukanya nggak ditekan), akhirnya kami memutuskan ke UGD RS Medistra.

Di UGD RS Medistra, dokter yang melihat luka saya bilang pembuluh darah vena saya ikut kepotong, makanya darahnya menetes terus dan susah berhenti karena lukanya cukup dalam, jadi nggak ada waktu untuk darah membeku. Beliau bilang saya nggak perlu panik, karena yang kepotong bukan pembuluh darah arteri yang alirannya ke jantung (kalau pembuluh ini yang kepotong darahnya akan muncrat seperti di flim-film gitu). Karena saya nggak membawa kulit yang terpotong (ternyata bisa ditempel lagi! Tapi telat sih, udah lima jam berlalu juga dari kulitnya copot), dokternya memberi saran tiga hal:

  1. Dikasih sesuatu obat (saya lupa namanya) untuk mengecilkan pembuluh darah, dengan harapan darahnya bisa membeku
  2. Disimpul, jadi ujung luka sebelah kiri dengan ujung luka sebelah kanan dijahit
  3. Dibebet tekan, ini sebenarnya teknik pembalutan luka tapi super ketat supaya luka menutup sendiri nantinya

Karena belum mau disimpul, akhirnya dokter mencoba opsi pertama dulu, yaitu dikasih obat untuk mengecilkan pembuluh darah. Ditunggu selama lima menit ternyata darahnya masih menetes. Akhirnya dokter kembali memberikan pernyataan dan saran berikut:

  1. Kalau disimpul, nanti lukanya bisa menjadi hitam karena nggak ada peredaran udara (kurang lebih seperti ini ya, saya lupa pernyataan tepatnya).
  2. Kalau dibebet tekan sebenarnya bisa. Tapi penyembuhannya lama, dan kalau kesenggol dikit gampang berdarah lagi. Waktu itu saya sempat menanyakan kira-kira memang butuh berapa hari darah untuk menutup dan beliau nggak memberikan jawaban jelas.
  3. Saran terakhir dia bilang untuk melakukan skin graft, sebuah teknik operasi bedah plastik yang mengambil kulit dari bagian badan yang lain untuk ditempel ke yang luka. Dia bilang dengan skin graft maka luka akan menutup sempurna. Udah gitu dia bilang beberapa waktu sebelum saya sampai di UGD ada satu pasien juga yang baru melakukan skin graft karena jarinya juga kepotong pisau.

Perlakuan skin graft nggak bisa dilakukan oleh dokter UGD, jadi harus memanggil dokter bedah plastik. Anehnya, saat saya bertanya berapa biaya yang diperlukan untuk melakukan skin graft, si dokter UGD nggak bisa memberikan jawaban. Dia bilang saya harus konfirmasi pasti dulu kalau bersedia untuk skin graft baru dia bisa tanyakan ke dokter bedah plastiknya. Lah, bukannya harusnya segala jenis biaya operasi harganya sudah ada di bagian administrasi?

penampakan jempol yang diberikan perlakuan bebet tekan

Karena merasa ada yang aneh dengan pernyataan itu dan saya ingin cek asuransi dulu apakah bisa di-cover atau nggak, akhirnya saya menerima perlakuan dibebet tekan dulu. Keesokan paginya, saat mengecek asuransi ternyata asuransi saya dinyatakan nonaktif (pas dikroscek lagi beberapa hari kemudian sebenarnya aktif, tapi waktu itu sistemnya lagi error makanya terlihat nonaktif; it was actually a blessing in disguise). Akhirnya saya memutuskan untuk berkonsultasi lagi ke dokter langganan saya, Dokter Budi.

Setelah diobservasi oleh Dokter Budi dan beliau mendengarkan cerita saya, terungkaplah hal-hal berikut:

  1. Luka saya sebenarnya nggak perlu sampai skin graft. Perlakuan ini lebih cocok untuk orang yang kena luka bakar. Dan skin graft bukanlah cara untuk menghentikan pendarahan. Jadi dibebet tekan saja sudah cukup, diamkan selama 3-4 hari dan jangan kena air.
  2. Ada praktik bisnis kesehatan di berbagai rumah sakit, di mana dokter UGD yang berhasil menginapkan pasien atau membuat pasien melakukan treatment tertentu akan mendapatkan persenan dari rumah sakit ataupun dari dokter spesialis yang bersangkutan.
the ‘zombie’ thumbnail!

Empat hari kemudian saya kembali ke Dokter Budi untuk membuka perban. Meskipun jempol saya terlihat seperti habis digerogotin tikus, tapi pendarahannya sudah berhenti. Tinggal menunggu waktu untuk regenerasi lagi dengan sempurna. Sekarang sudah hampir tiga minggu berlalu dan luka saya sudah menutup sempurna. No surgery needed!

Kalau waktu itu saya gegabah untuk melakukan skin graft, duit jutaan rupiah sudah melayang di hal yang sebenarnya nggak terlalu diperlukan. Jadi, berhati-hati ya kalau melakukan pengobatan. Ada baiknya memang selalu mencari second opinion ketika sedang membutuhkan perawatan apapun.

Advertisements

15 thoughts on “Jari Terpotong Pisau, Harus Ngapain?

  1. Ugh, agak seram gambar terakhirnya.. 🙂 Tapi syukurlah sudah baikan.
    BTW, harus menyatakan bersedia di-treatment dulu baru dikasih tahu biayanya? Haha..! Memang sih ya, hari gini, kalau urusan dengan RS kita harus kritis 🍸

  2. Haduuuh sekarang saya mengalami Hal yang sama. Saya cuma tenda kuku yg berharap di Air Hexagonal….. malemnya saya Sinai Kuya dengan Cowan Bioglass…… Alhamdulillah sudah mulai berhenti darah yang mrebes ….. semoga gak kejadian lagi…. thx for sharing

  3. ini lagi panik….. habis potong sosis eh jari ikutan kepotong dan ga berhenti2 darahnya keluar…. bingung 1000 putaran harus ngapain (anak kos) eh ingat dulu waktu kecil pernah kepotong lebih parah lagi (dalem dan lebar) jadi ya aku tenang aja (coba tenang meskipun masih nervous) sambil browsing2….skg aku bebet sama kain. moga2 cepet sembuh (keingat dulu waktu kecil luka ginian butuh waktu berhari2 buat sembuh)

  4. Just happened to me 2 hari lalu, telunjuk kiti terpotong dr kuku ke bag depannya.
    My first action waktu kepotong yah tekan luka supaya ga keluar terus tuh darahnya. Untuk ngurangin rasa nyut2an dan sakitnya kasih apa yah?tq beforw

    • Aduhh maaf telat, waktu itu aku nggak dikasih obat apa2 sama dokternya juga mbak. 😅 Kalau mau mengurangi rasa sakit bisa minum ponstan. Tapi sekarang harusnya sakitnya udah hilang ya?

  5. Malam tadi saya mengalami sperti yg kaka alami, kulit jempol sya terpotong sma ksusnya sperti yg kaka alami,
    Sya prgi ke klinik dan penanganannya ya di bebet
    Saya mau tanya kak untuk d bebet itu proses nya brpa hari ? Dan untuk perbannya shari brpa kali gnti ka? Trimksh

    • Halo Adrian, saya waktu itu diamkan seminggu setelah dibebet, lalu buka perban di dokter langganan. Tapi durasinya tergantung dari seberapa parah terpotongnya sih, jadi ada baiknya cek ke dokter kamu juga ya.

  6. Jumat lalu aku jg ngalamin hal ini. Jari telunjuk keiris pisau diujungnya plus kukunya jg. Skrg sih luka udah kering, trs jd hitam gitu darah yg mengering di atas luka. Ini butuh waktu berapa lama ya buat mengelupas? Sama harus ditutup kasa terus apa dibiarkan terbuka?

  7. Hai saya mau tanya kemarin mengalami hal yang sama.. lukanya besarnya sama hanya saja di jari kelingking.. apa bebet kain beda sama diplester biasa?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s