Menjadi Induk Kucing untuk Beberapa Hari

Pada suatu hari di pertengahan tahun 2016, saya, yang seorang dog person, tidak menyangka kalau ternyata bisa juga menjadi cat person. Saya nggak benci kucing. Saya suka melihat gambar-gambar kucing yang lucu dan menggemaskan, tapi nggak pernah terpikir sama sekali untuk memelihara hewan yang konon kabarnya punya pemikiran sendiri dan asik sendiri tanpa melibatkan pemiliknya.

Ternyata saya salah!

Karakter kucing memang berbeda dengan anjing, dan sensasi memelihara kucing juga sangat berbeda. Lebih menantang dan banyak kejutan lucu. Mungkin seperti itu. Tapi soal karakter kucing ini mungkin akan saya ceritakan di tulisan yang berbeda saja, karena di sini saya ingin menceritakan pengalaman menjadi induk dari bayi-bayi kucing yang baru lahir (baru dua hari lahir!) selama beberapa hari karena induk kucingnya sakit.

IMG_20171219_094153.jpg
Miu, si kucing tuxedo

Jadi, sejak sekitar tahun 2016 saya dan suami memelihara seekor kucing tuxedo, tapi dia nggak tinggal di dalam rumah. Namanya Miu. Hampir setiap hari Miu datang ke rumah untuk minta makan dan tidur siang sejenak, terkadang malah suka menginap di kamar sampai keesokan harinya. Namun, sebagian besar harinya dihabiskan dengan jalan-jalan di luar. Pernah saya taruh di dalam rumah, tapi hanya kuat beberapa jam dia pasti sudah mengorek-ngorek pintu rumah dan berisik banget minta keluar. Sebagai kucing betina yang tinggal di luar, Miu nggak luput dari sasaran kucing-kucing jantan di musim kawin. Seingat saya, dari pertama ketemu dia sampai awal tahun 2018 ini, Miu sudah hamil lima kali. Itu juga yang saya ingat, nggak tau deh kalau ada yang kelupaan.

Saya nggak ingat kapan kehamilan pertama Miu, pokoknya suatu hari dia sudah membawa satu anaknya keluar main. Karena waktu itu Miu belum jinak-jinak amat, anaknya juga nggak jinak dan mereka nggak dekat dengan saya sama sekali. Suatu saat, anaknya hilang dari pandangan dan nggak kembali. Mungkin tertabrak, mungkin diadopsi orang, atau mati entah kenapa. Proses melahirkan kehamilan kedua juga nggak saya ketahui. Saya cuma tahu perutnya sudah kempis, tapi anaknya nggak pernah terlihat. Yang ketiga, dia melahirkan di langit-langit di atas kamar saya, jadi saya dengar kalau anaknya bunyi-bunyi. Satu hari, Miu membawa anaknya yang mungkin masih berusia 2-3 mingguan ke saya. Hanya itu satu anak yang tersisa, tapi sayang keesokan harinya anaknya mendadak mati (baru di kemudian hari saya mengetahui ada istilah fading kitten syndrome, kematian bayi kucing secara mendadak). Kehamilan keempat, Miu memperlihatkan dua anaknya ketika mereka mencapai usia sekitar 1-2 bulanan. Saya dan suami sepakat menamakan mereka Zorro dan Tori (Zorro, karena wajahnya seperti pakai topeng tokoh Zorro, dan Tori, karena kuda yang sering bersama Zorro itu Tornado, biar imut disingkat jadi Tori). Akhirnya, Tori lebih sering mengikuti Miu ke rumah dan dipelihara hingga kini sudah berusia mungkin sekitar 5 bulan, sementara Zorro hilang entah ke mana. Huhu…

IMG-20180203-WA0007.jpg
Tori, anak Miu yang sampai sekarang tinggal di rumah

Nah, kehamilan kelima ini yang cukup spektakuler, karena dia sudah berani untuk melahirkan di ruang kerja (studio) saya dan suami! Pada malam mau melahirkan, dia masuk ke studio dan “bersarang” di dalam kotak kardus besar yang isinya penuh dan lumayan tertutup, mungkin sekitar 2-3 jam, sampai saya akhirnya menyadari kalau dia akan segera melahirkan. Seperti yang banyak ditemukan di internet, ciri-ciri utama kucing yang mau melahirkan adalah:

  • “Bersarang” sudah menjadi tanda kalau kucing akan segera melahirkan (dia benar-benar nggak keluar dari dalam sarangnya)
  • Nafas tersengal-sengal, iramanya cepat sekali. Lidahnya keluar sedikit dan seperti ngos-ngosan
  • Dari putingnya juga bisa mulai keluar cairan susu (yang ini saya nggak lihat di Miu)

(Lama setelahnya, saya dan suami membongkar kardus besar tersebut dan menemukan bercak-bercak darah. Yah, ini juga tanda-tanda yang saya nggak lihat waktu itu)

Melihat tanda-tanda aneh itu, saya kemudian menyiapkan kardus lebih kecil dan lebih bersih yang dialasi dengan baju-baju bekas, supaya dia bisa melahirkan di tempat yang lebih proper. Tapi, karena nggak ada perkembangan apapun selama beberapa waktu, akhirnya saya dan suami memutuskan untuk masak saja di dapur. Begitu kami kembali, Miu sudah keluar dari kardus besar dan berada di kardus kecil. Saat saya mengintip, dia sudah melahirkan anak pertama! Cukup shock, karena ini pertama kali saya melihat kucing melahirkan secara langsung dan ternyata bersimbah darah! Sudah gitu, saya melihat seperti ada gumpalan darah besar di lantai, yang kemudian langsung dilahap dan dikunyah oleh Miu. Eww… Ternyata itu plasenta bayi kucing.

DSC00801_1.JPG
Lima bayi kucing yang dilahirkan Miu, 2 tuxedo, 3 calico

Jadi, bayi kucing yang baru keluar itu terbungkus oleh plasenta dan nggak bisa bernafas. Induk kucing harus menjilati bayi itu sampai plasentanya lepas sepenuhnya dan kemudian dimakan untuk menghilangkan jejak (ini sepertinya kebiasaan alami dari kucing-kucing di alam liar yang banyak diincar predator). Long story short, Miu melahirkan lima anak dengan interval anak pertama ke anak kedua itu sekitar 12 jam, kemudian setelah anak kedua lahir, hanya dalam beberapa menit beruntun lahir sampai anak kelima (kebetulan kelahiran anak ketiga sampai kelima saya nggak lihat karena harus ngantor, jadi suami yang laporan).

Cerita belum berakhir dengan bahagia sampai di situ ya.

Satu hari setelah melahirkan, Miu menunjukkan tanda-tanda aneh. Dia hanya duduk diam saja, terlihat lusuh, badannya benar-benar kaku, kalau jalan terpatah-patah (mungkin karena pendarahan belum selesai, jadi masih sakit), nggak mau makan dan minum, dan yang paling bikin cemas adalah dia nggak mau menyusui anaknya. Pernah coba didekatin ke anaknya, tapi dia menggeram dan pergi menjauh. Saya coba mencari-cari dari berbagai sumber apakah ada yang pernah mengalami hal serupa, baik di luar maupun di dalam negeri, tapi tanda-tandanya nggak ada yang benar-benar mirip.

IMG_20180111_185652.jpg
Miu pascamelahirkan, mukanya berantakan

Ada beberapa permasalahan yang umum diderita induk kucing pascamelahirkan, seperti air susu nggak keluar, infeksi kelenjar susu, masih ada janin tertinggal di rahim, pendarahan berlebihan, dan lain sebagainya. Karena trauma dengan kematian kucing yang pernah saya pelihara sebelumnya dan takut terjadi apa-apa dengan Miu (dan jadinya apa-apa dengan anak-anaknya juga), saya dan suami membawa dia ke Dokter Osye di Myvets, Kemang. Kesimpulannya, Miu baik-baik saja, tapi ada sedikit infeksi karena pendarahan di vaginanya agak berbau dan menurut si dokter, Miu juga mengalami baby blues. Si dokter cukup shock ketika tahu Miu melahirkan lima anak.

“Yakin mau dirawat semua? Membesarkannya repot itu,” kata dokter. Yah, mau gimana lagi? Ngelahirinnya di rumah, Dok!

Karena baby blues, nggak mau makan, dan agak demam, terpaksa Miu harus dirawat di klinik untuk beberapa hari supaya bisa mendapatkan vitamin dan dicekokin makan oleh tim MyVets (believe me, I’ve tried but no luck! Susah banget dan Miu menggeram pas dipaksa. Kan takut digigit atau dicakar…). Lalu, mengikuti titah Dokter, terpaksalah saya dan suami harus menjadi “ibu angkat” kelima bayi kucing untuk sementara waktu karena Miu absen. Kata si Dokter (dan dari berbagai sumber yang saya baca), bayi kucing yang baru lahir itu sangat rentan mati karena:

  • Belum bisa mengatur suhu tubuh, jadi gampang kedinginan. Makanya mereka selalu di pelukan ibunya atau kalau tidur selalu berpelukan dengan saudara-saudaranya supaya saling menghangatkan.
  • Buta dan tuli karena matanya dan telinganya masih tertutup, jadi mereka sangat tergantung pada induknya, belum bisa makan dan buang air dengan alami.

Karena itulah, saya harus melakukan hal-hal yang pada umumnya dilakukan oleh induk kucing. Yang pertama adalah memberikan susu setiap 2-3 jam (termasuk di malam hari). Susu yang diberikan juga susu formula khusus untuk anak kucing, karena nggak boleh pakai susu sapi atau susu yang biasa diminum manusia soalnya kandungannya berbeda dan hasilnya mereka malah bisa mencret. Seriusan, memberi susunya benar-benar setiap 2-3 jam karena mereka butuh nutrisi. Macam bayi manusia pokoknya. Saya memberikan susu menggunakan suntikan tanpa jarum yang berukuran 1 ml. Susunya juga harus hangat, karena kalau nggak mereka bisa kedinginan. Yang kedua (dan yang nggak mau dilakukan suami saya, hehe) adalah mengelap bagian dubur bayi kucing dengan kapas/tisu yang sudah dibasuh air hangat untuk memicu dia pipis dan pup. Sebegitu nggak berdayanya mereka, sampai untuk buang air saja harus dibantu.

Membiasakan bayi kucing untuk menyusu dari suntikan juga jadi tantangan, karena mereka benar-benar nggak paham itu apa dan hanya tahu puting induknya. Jadi, awalnya susah banget. Bikin mereka minum 0.2 ml saja sudah perjuangan banget karena mereka meronta-ronta. Sudah gitu, karena badannya kan kecil dan ringkih banget, saya awalnya takut kalau terlalu keras memegang bisa remuk (tapi ternyata nggak sih, badannya cukup kuat kok). Cara menyusuinya pun nggak boleh diangkat terlentang tapi harus tetap menelungkup supaya nggak tersedak. Setelah 2-3 hari barulah mereka paham kalau yang saya lakukan itu adalah memberi susu kepada mereka. Ada jumlah tertentu yang harus diminum oleh bayi kucing tergantung dari usia mereka. Kalau mau tahu lengkapnya, silakan cek di sini: kittenlady.org/bottlefeeding.

Yang paling menyedihkan, ternyata memang fading kitten syndrome itu merupakan hal yang umum terjadi di antara bayi-bayi kucing. Dari lima bayi kucing, satu meninggal saat masih dalam perawatan saya dan suami. Entah kenapa, tiba-tiba saja si bayi kucing yang satu ini terlihat lusuh. Tadinya padahal dia yang paling bawel banget dan paling aktif, tapi kemudian berangsur-angsur kalem, sampai akhirnya menolak diberikan susu, tidur terus, menjadi tenang…lemas…lemah…dan hilang kesadaran.

Setelah tiga hari dirawat, akhirnya dokter menyimpulkan kalau Miu sudah boleh kembali ke rumah. Hari pertama kembali ke rumah, Miu tetap nggak mau berada di dekat anaknya. Dia terus berada di dekat pintu dan menggaruk-garuk pintu. Miu ingin pergi keluar, mungkin ingin mencari udara segar atau meninggalkan anak untuk selamanya. Karena sudah putus asa melihat tingkah Miu, saya dan suami memutuskan untuk mengizinkan Miu keluar dari rumah. Kami berpikir, ya sudah, toh dia sudah mendapatkan amunisi gizi dari klinik. Kalau memang mau pergi silakan, anakmu biar kami yang urus.

IMG_20180128_132750.jpg
Kari, satu-satunya bayi kucing yang tersisa

Untungnya, kepergian Miu hanya berlangsung sebentar saja, karena setelah itu dia kembali lagi ke rumah dan langsung memainkan perannya sebagai ibu! Aneh, tapi senang! The old Miu was here. Kami nggak lagi harus memberikan susu dan membersihkan kotoran anak-anaknya, karena semua peran itu sudah diambil alih kembali oleh Miu. Hingga tulisan ini selesai dibuat, anak Miu yang tersisa tinggal satu (saya dan suami beri dia nama Kari, karena dia kucing calico yang ketiga warnanya bercampur aduk seperti kuah kari). Tiga anak yang lain mati satu per satu saat dalam perawatan Miu. Saya nggak bisa mengawasi Miu dengan saksama karena dia memindahkan anak-anaknya ke kotak kardus besar berisi barang-barang yang sangat tertutup. Sesekali memang saya mencoba mengintip, tapi anak-anaknya berada terlalu jauh di dalam kardus jadi nggak kelihatan. Waktu itu saya dan suami mulai curiga karena suara-suara anaknya berkurang, mulai tercium bau nggak sedap dari dalam kardus, dan Miu lebih sering berada di luar kardus (mungkin karena nggak tahan dengan bau dari anaknya yang mati?). Setelah dibongkar dan anak-anak yang mati kami kubur, Miu kembali sering berada di samping Kari.

Kari saat ini sudah berumur sebulan lebih dan terlihat sehat. Sering berlarian ke sana ke mari dan bermain dengan Tori. Sekarang rumah saya semakin ramai dengan kehadiran tiga kucing! 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s