[REVIEW] Call Me By Your Name – Andre Aciman/Luca Guadagnino

sumber: blogspot.com

Oke! Ini adalah ulasan yang sangat, sangat telat, tapi saya benar-benar merasa harus menuliskannya karena menurut saya film Call Me By Your Name adalah salah satu film terbaik yang pernah saya tonton. Hanya saja, sebelum menonton film ini ada baiknya kamu tanggalkan semua prasangka buruk. Meskipun Call Me By Your Name akan sangat kontroversial apabila diputar secara resmi di Indonesia, karena film ini bercerita seputar percintaan dua orang lelaki dan seperti yang kita semua tahu masih ada orang yang menganggap LGBT sebagai sebuah penyakit yang harus disembuhkan, kisah di dalam film ini benar-benar menyentuh hati. Semua adegannya terasa nggak ada yang sia-sia. Tiap adegan penting untuk adegan selanjutnya, atau nantinya.

Film Call Me By Your Name menceritakan tentang kisah-kasih seorang anak laki-laki remaja berusia 17 tahun, Elio (Timothee Chalamet), yang jatuh cinta dengan seorang mahasiswa S2 berusia 24 tahun, Oliver (Armie Hammer), yang datang untuk berguru kepada ayah Elio Mr Perlman (Michael Stuhlbarg), seorang profesor arkeologi, untuk keperluan tugas akademis sekaligus membantu pekerjaan ayahnya selama liburan musim panas. Jadi, hanya selama liburan musim panas ini keluarga Perlman tinggal di sebuah vila di sebuah kota kecil Crema di Italia, dan di saat itulah mereka menerima murid untuk belajar. Walaupun awalnya Elio nggak menyukai kehadiran Oliver yang mengambil kamarnya selama menginap sehingga dia harus mengungsi ke kamar sebelah, lambat laun Elio merasa nggak bisa nggak memperhatikan Oliver.

sumber: theatlantic.com

Elio sempat hanya mengamati gerak-gerik Oliver dari jauh, sambil tetap menjalankan aksi pendekatan kepada Marzia (Esther Garrel), karena menurutnya perilaku Oliver sebagai orang Amerika cukup kasar dan nggak sopan. Misalnya, Oliver nggak bisa meretakkan bagian atas cangkang telur setengah matang, pasti dia mengetuk dengan kencang dan akibatnya cangkang telur yang disajikan untuknya selalu hancur. Oliver juga selalu mengucapkan “Later!” ketika dia ingin beranjak pergi sendiri setelah makan atau kumpul bersama. Elio juga pernah ditinggalkan begitu saja oleh Oliver di tengah kota setelah dia menemani Oliver mengisi formulir untuk membuka rekening bank lokal, tentu dengan ucapan khasnya, “Later!”. Oliver juga memperlihatkan kedekatan dengan salah satu perempuan lokal yang dia temui, yang juga dikenal Elio karena mereka tinggal di kota kecil, jadi semua saling mengenal satu sama lain. Hal tersebut pastinya membuat Elio semakin sebal.

Tapi, lama-kelamaan permainan tarik ulur ini membuat Elio semakin penasaran. Elio dan Oliver sering berenang bersama, berjalan-jalan mengelilingi kota, saling menceritakan buku atau tulisan yang mereka baca, sampai Elio juga pernah menemani ayahnya dan Oliver untuk melihat temuan purbakala di pinggir pantai. Kedekatannya dengan Marzia nggak bisa menutupi rasa cinta yang tumbuh terhadap Oliver. Suatu hari saat berjalan-jalan mengelilingi kota bersama, Elio sempat mengungkapkan perasaannya terhadap Oliver. Setelahnya, ketika mereka sedang duduk-duduk di padang rumput, Oliver mencondongkan badannya untuk mencium Elio, yang disambut baik oleh Elio pastinya, tapi kemudian dihentikan secara cepat oleh Oliver karena dia nggak ingin hubungan mereka yang masih sebatas teman menjadi rusak.

sumber: thewrap.com

Kejadian tersebut ternyata menciptakan jarak di antara mereka. Oliver terlihat lebih sering pergi ke luar rumah dan kembali larut tengah malam. Hal ini membuat Elio menjadi tertekan, dia merasa Oliver menghindarinya. Karena nggak tahan dengan perlakuan tersebut, suatu malam Elio menyelipkan sebuah kertas berisi pesan untuk jangan menghindarinya di bawah pintu kamar Oliver, yang kemudian dibalas Oliver keesokan paginya dengan sebuah kertas bertuliskan ajakan bagi Elio untuk menemuinya saat tengah malam, dan hari itu Oliver pergi seharian dari pagi. Surat tersebut membuat Elio seharian seperti orang bingung. Tau kan rasanya waktu jaman remaja, kita baru PDKT atau “jadian” terus janjian kencan esok harinya? Ya gitu. Dia nggak sabar menunggu tengah malam tiba. Elio menghabiskan waktu dengan bercinta dengan Marzia, kemudian menemani ayah ibunya menjamu teman saat makan malam. Menjelang tengah malam, Oliver sudah pulang dan Elio pun pamit undur diri dari ayah ibunya untuk tidur. Saat itulah Elio dan Oliver akhirnya berjumpa di balkon kamar, kemudian keduanya masuk ke dalam kamar Oliver dan benar-benar saling jujur dengan dirinya sendiri, Mereka berdua bercinta dengan sangat mesra dan indah. Tentu saja adegan ini nggak ditunjukkan dengan vulgar, tapi ini menjadi salah satu adegan favorit saya. Chemistry keduanya sangat teras, mulai dari malu-malu ingin bersentuhan hingga akhirnya mereka menghabiskan malam bersama, ditambah lagi dengan secuplik bagian pembuka lagu “Mystery of Love” dari Sufjan Stevens yang diputar ketika Elio dan Oliver menuju kamar. Sangat indah!

Adegan keesokan paginya saat mereka berdua terbangun juga menjadi salah satu adegan favorit saya. Di pagi itu, Elio dan Oliver masih tiduran di ranjang, dan Oliver terbangun lebih dulu. Ia mengusap-usapkan tangannya ke lengan dan perut Elio dengan penuh cinta, sementara Elio yang kemudian terbangun memberikan ekspresi aneh dan langsung bangkit duduk. Ekspresi Oliver ketika melihat reaksi Elio di sini menurut saya sangat priceless. Seorang Amerika yang terlihat sangat percaya diri dari awal bisa terlihat begitu rapuh dan bingung hanya karena seorang anak remaja. Elio pun mengajak Oliver berenang dan terlihat menjaga jarak sesudahnya. Oliver yang bingung dengan perilaku Elio mencoba untuk tetap bersikap biasa. Setelah makan pagi bersama keluarga, Oliver pamit untuk pergi ke kota, yang kemudian disusul oleh Elio yang mengungkapkan perasaannya kalau ternyata dia nggak bisa berpisah darinya. Hubungan keduanya pun menjadi mesra kembali.

sumber: observer.com

Beberapa hari sebelum liburan musim panas berakhir, yang artinya Oliver harus kembali ke Amerika, Oliver mengatakan kepada Mr & Mrs Perlman kalau dia harus ke Bergamot untuk mengurus beberapa hal dan langsung balik ke Amerika selepasnya. Orang tua Elio, yang menyadari hubungan spesial mereka berdua, menawarkan Elio untuk menemani Oliver di Bergamot. Akhirnya, Elio dan Oliver menghabiskan hari-hari terakhir bersama di kota tersebut. Adegan Elio melepas kepergian Oliver di kota ini juga sungguh menyayat hati. Saya membayangkan seorang anak remaja yang baru saja menginjak usia dewasa dan jatuh cinta harus melepas kepergian orang yang dicintainya. Sedih kak! Setelah menatap nanar kereta yang diduduki Oliver hingga menghilang dari pandangan mata, Elio pun menghubungi ibu lewat telepon umum dan memintanya untuk menjemput. Sepanjang perjalanan di mobil, Elio nggak bisa menyembunyikan kesedihannya. Dia menangis. Ibunya memahami hal tersebut dan mengusap-usap rambut Elio. Ah!

Sesampainya di Crema, Marzia, yang mengetahui hubungan Elio dan Oliver, mengatakan kalau dia nggak marah terhadap Elio dan tetap ingin menjadi teman baiknya. Sementara itu, ketika di rumah, Elio mendapatkan sebuah ceramah yang sangat mengagumkan dari ayahnya. Intinya, Mr Perlman mengatakan kepada Elio bahwa sebuah perasaan itu harus benar-benar dirasakan. Sedihlah ketika merasa sedih, senanglah ketika merasa senang. Kalimat lengkapnya sebagai berikut:

When you least expect it, Nature has cunning ways of finding our weakest spot. Just remember: I am here. Right now you may not want to feel anything. Perhaps you never wished to feel anything. And perhaps it’s not to me that you’ll want to speak about these things. But feel something you obviously did.

You had a beautiful friendship. Maybe more than a friendship. And I envy you. In my place, most parents would hope the whole thing goes away, to pray that their sons land on their feet. But I am not such a parent. In your place, if there is pain, nurse it. And if there is a flame, don’t snuff it out. Don’t be brutal with it. We rip out so much of ourselves to be cured of things faster, that we go bankrupt by the age of thirty and have less to offer each time we start with someone new. But to make yourself feel nothing so as not to feel anything ― what a waste!

Nggak hanya Elio yang nangis mendengar ucapan ayahnya, saya juga! Aduh, entah sudah berapa kali film ini membuat saya menangis, tapi klimaksnya adalah bagian penutup yang bikin mbrebes mili. Jadi, setelah adegan monolog dari Mr Perlman, cerita dilanjutkan ke beberapa bulan sesudahnya di musim dingin, di mana keluarga Perlman kembali menghabiskan waktu di Crema untuk merayakan Hanukkah (saya belum bilang ya, mereka itu keluarga Yahudi, dan Oliver juga ada keturunan Yahudi). Suatu hari saat Elio pulang ke rumah, telepon rumah berbunyi. Mr & Mrs Perlman saat itu sedang sibuk di ruang kerja untuk memilih calon murid yang akan tinggal di rumah mereka lagi selama liburan musim panas nanti, jadi Elio-lah yang mengangkat telepon itu. Tentunya sudah diduga, telepon itu dari Oliver. Elio cukup terkejut mendengar suara Oliver, dia merasa merindukan suara itu. Yang nggak disangka-sangka, ternyata Oliver menelepon untuk memberi tahu kepada Elio (dan Mr & Mrs Perlman), kalau dia akan menikah di musim panas tahun depan. Oliver akhirnya membeberkan kepada Elio kalau dia sudah menjalin pacaran putus nyambung dengan calon istrinya sejak beberapa waktu lalu (termasuk saat dia sedang tinggal di Crema) dan orang tua Oliver masih berpikiran kolot, jadi nggak akan mengizinkannya untuk menjalin hubungan dengan sesama jenis.

sumber: nytimes.com

Usai menutup telepon, yang Elio lakukan adalah bergegas pergi ke ruang tengah kemudian terduduk di depan perapian. Diiringi dengan alunan lagu “Visions of Gideon” dari Sufjan Stevens, penonton diajak untuk melihat ekspresi kompleks Elio yang menitikkan air mata. Elio, kamu nggak sendirian. Aku juga ikut menangis bersamamu!

Astaga, ternyata panjang sekali ya. Mohon maaf apabila ceritanya jadi cukup detail. Saya bahkan menuliskan sinopsis di atas dengan tetap masih merasa sedih dan haru. Saya sudah menonton film Call Me By Your Name sebanyak 7 kali atau lebih sepertinya, dan nggak pernah merasa bosan. Saya sangat menyarankan kamu untuk menonton beberapa kali dan memperhatikan ekspresi setiap pemainnya, karena, benar deh, setiap adegan itu memiliki makna untuk menjelaskan adegan berikutnya. Nggak heran kalau film ini mendapatkan banyak nominasi Oscar, Golden Globe, dan acara penghargaan lainnya. Naskah film Call Me By Your Name, yang ditulis oleh James Ivory, bahkan sampai memenangkan penghargaan Oscar untuk kategori adaptasi naskah terbaik!

Film yang disutradarai Luca Guadagnino ini memang nggak menjelaskan secara gamblang tentang kompleksnya karakter masing-masing tokoh. Yang dilakukan justru gerakan atau sedikit gestur untuk menggambarkan apa yang sedang dipikirkan oleh tokoh tersebut. Bahkan, semua properti yang digunakan dalam film ini, termasuk buku-buku yang ditampilkan serta gaya berpakaian setiap tokoh, memiliki maksudnya masing-masing. Ini yang menurut saya nggak ada di sebagian besar film Indonesia. Terkadang film Indonesia terlalu menjelaskan secara naratif sehingga penonton nggak diajak untuk berpikir, hanya dipaparkan secara nyata tentang kejadian yang sedang berlangsung. Bahkan, kadangkala sampai perlu dijelaskan oleh tokoh yang bersangkutan. Bukankah lebih baik kalau kita bisa menginterpretasikan sebuah adegan dengan cara yang berbeda-beda?

Film Call Me By Your Name diangkat dari sebuah buku karya Andre Aciman. Saya juga merekomendasikan kamu untuk membaca bukunya setelah menonton filmnya. Atau, kalau kamu suka mendengarkan audiobook, coba deh unduh audiobook-nya di audible.com, karena yang menarasikan ceritanya itu Armie Hammer sendiri! Kalau sebagian besar film yang diadaptasi dari buku itu biasanya hasilnya nggak sebagus buku aslinya, buat saya hal ini nggak berlaku di sini. Baik film dan bukunya, keduanya sama-sama patut diacungi jempol dan justru saling melengkapi satu sama lain. Karena filmnya nggak menjelaskan secara naratif isi otak masing-masing karakter, maka ketika membaca bukunya kamu (seenggaknya) bisa mengetahui dengan jelas isi otak Elio. Buku Call Me By Your Name diceritakan dari sudut pandang Elio, dan di buku ini kamu bisa merasakan betapa galaunya Elio akan Oliver. Pokoknya benar-benar kegalauan anak remaja yang jatuh cinta deh! Seolah isi otak Elio itu nggak bisa berhenti memikirkan tentang Oliver setiap saat, setiap waktu.

Buat yang mau menonton film ini secara legal, kamu bisa mengunduhnya via HOOQ lho! Sebenarnya saya juga nggak menyangka film ini bisa ada di HOOQ. Two thumbs up!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s