Banyak Baca = Enggak Produktif?

Salah satu karya Farid Stevy Asta, “Hal-hal Ini Terjadi” yang dipamerkan di Art Jog tahun 2016.

“Sepertinya kamu harus kurang-kurangin baca buku atau artikel deh. Malah stop dulu kalo perlu,” kata RM.

“Ih, napa gitu?” sanggah saya. Membaca sudah jadi hobi saya dari dulu, jadi rasanya kok enggak rela kalau disuruh lepasin sementara waktu.

“Iya kamu banyak baca, tapi jadinya nunda-nunda hal lain. Mana hasil tulisannya? Kebanyakan baca sana-sini cari referensi jadinya malah enggak mulai-mulai nulis.”

“Ehe…”

Saya enggak bisa mendebatkan komentar terakhir RM, alias suami saya. Jangan salah, maksudnya dia itu bukannya kebanyakan membaca buku bikin orang enggak produktif. Kalau untuk kasus saya, yang setiap mau melakukan sesuatu itu suka kebanyakan mikir yang aneh-aneh terus ujung-ujungnya suka enggak jadi, membaca kadang memang malah menghambat produktivitas.

Misalnya, saya mau menulis tentang suatu topik, kemudian saya mencari referensi di dunia online atau buku-buku tertentu. Tahu dong pepatah yang mengatakan, “The more you know, the more you don’t know“? Efek samping dari saya kebanyakan cari referensi adalah saya melihat kalau banyak orang di luar sana yang sudah lebih ahli dan maha tahu. Apalah artinya tulisan saya? Bakalan cuma jadi butiran garam di air laut.

Akhirnya, saya malah jadi keterusan membaca dan terus jadi enggak pengin menulis, karena buat apa menulis lagi kalau sudah ada orang lain yang bisa memaparkannya dengan lebih baik. Dalam hati kecil, rasa keingintahuan saya untuk mencari tahu lebih dalam tentang topik tersebut (yang artinya rasa tersebut diiringi dengan perilaku mengonsumsi banyak bacaan) akhirnya menjadi alasan saya untuk menunda membuat tulisan versi saya sendiri.

Nanti deh, kalau materinya sudah terkumpul banyak.

Tanggung, ini bukunya lagi seru banget. Bisa jadi bahan buat posting-an Instagram yang berfaedah.

Selalu ada seribu alasan untuk menunda diri sendiri memulai sesuatu atau keluar dari zona nyaman dan pengalaman saya di atas sebenarnya hanya satu contoh receh. Yang paling benar memang enggak boleh banyak mikir dan lakukan saja. Tapi, enggak boleh cuma sekali. Kan menurut banyak penelitian (seperti yang dibilang oleh Henry Manampiring), kemampuan mental itu ibarat otot. Makin dilatih, dia akan makin kuat. Jadi, harus dilakukan berkali-kali dan konsisten seperti orang berlatih maraton atau olah badan di gym.

Duh, padahal saya seumur-umur paling malas kalau disuruh nge-gym.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s