Pengalaman Bikin SIM A Baru di Satpas Daan Mogot: Kesempurnaan Adalah Koentji

Gara-gara fenomena e-KTP yang sudah berlaku seumur hidup, saya jadi lupa kalau SIM itu enggak berlaku seumur hidup. Beberapa bulan lewat dari tanggal terakhir berlaku, saya baru sadar kalau SIM A saya sudah kedaluarsa. Artinya, saya harus meluangkan waktu ke Satpas Daan Mogot dan mengikuti prosedur pembuatan SIM baru. Aduh, bayanginnya saja sudah malas. Tapi apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur katanya.

Pada 4 Januari 2019 saya (ditemani suami, karena dia yang nyetir dong) akhirnya meluangkan waktu untuk meluncur ke Satpas Daan Mogot. Berhubung enggak kerja kantoran, saya lupa kalau hari itu Jumat, yang artinya waktu istirahat lebih lama karena Salat Jumat. Saya sampai di Satpas Daan Mogot jam 11.15, dan, tentu saja, pintu masuk gedung utama tutup sampai jam 1 siang. Tapi ternyata di depan pintu masuk sudah ada beberapa orang yang menunggu juga.

Jujur nih, saat pertama kali sampai, objektif saya yang penting SIM jadi. Sebenarnya saya malas harus ikut prosedur yang konon kabarnya kemungkinan gagalnya sangat tinggi, tapi juga merasa bersalah kalau harus memakai calo. Jadi, solusi di tengahnya adalah kalau lagi menjalankan prosedur kemudian ada yang menawarkan “jalur khusus”, ya udah coba ambil saja deh. Tapi, ternyata enggak ada yang nawarin. HAHAHA. Jadi ya sudah saya mencoba mengikuti prosedur dan nekad saja ikut ujian tanpa belajar dulu dan baca pengalaman orang sana-sini. Berhasil apa enggak? Yah lihat saja di bagian akhir tulisan ini.

Berdasarkan pengalaman saya baru-baru ini, begini prosedurnya kalau mau membuat SIM baru:

Tes Kesehatan

Kalau ke Satpas Daan Mogot naik mobil, di sebelum area parkiran mobil sebelah kiri itu ada tempat-tempat fotokopi dan warung-warung. Nah, di samping tempat fotokopi ini ada tempat untuk tes kesehatan. Jangan lupa fotokopi KTP dulu (saya difotokopiin oleh mas-nya sebanyak 4 kali) dan daftar di loket pendaftaran uji kesehatan. Biaya pendaftaran sebesar Rp25ribu dan kita akan dikasih formulir untuk dibawa ke ruang uji kesehatan.

Di ruang uji kesehatan, saya diminta duduk dan tes mata. Ini basa-basi banget sih. Kalau tes kacamata kan kita disuruh membaca banyak banget huruf. Ini hanya dua kali ganti ukuran huruf (yang ukuran hurufnya juga enggak kecil-kecil banget), lalu kalau sudah bisa jawab dengan benar sudah lulus. Enggak ada uji tensi atau lain-lainnya lagi.

Uji tes kesehatan selesai, saya diminta untuk ke gedung utama sambil membawa formulir yang sudah disetujui oleh dokter di tempat uji tes kesehatan.

Pendaftaran di Gedung Utama

Memasuki gedung utama, saya diberikan kartu tanda peserta pembuatan SIM. Kemudian, saya menuju ke loket pendaftaran BRI untuk diberikan formulir biodata dan membayar biaya pendaftaran pembuatan SIM baru sebesar Rp120ribu. Setelah mendaftar, saya mengisi biodata yang diperlukan di dalam formulir, seperti nama, alamat, nomor telepon, tempat/tanggal lahir, latar belakang pendidikan, dan lainnya.

Dari sini, saya kemudian menuju ke sebuah ruangan yang bentuknya meja memanjang seperti meja teller di bank atau gerai telekomunikasi. Di bagian atas setiap meja tergantung tulisan “pendaftaran SIM online“, tapi tidak ada petugas yang mengarahkan dengan jelas saya harus mengantre ke mana untuk mendaftarkan formulir yang sudah saya isi.

Akhirnya, saya mengikuti antrean terbanyak yang ada di paling kiri, sambil bertanya ke mereka yang mengantre. Ternyata semuanya sedang mengantre untuk mendaftarkan formulir mereka, jadi ya sudah saya ikutan saja. Di meja antrean ini petugas memberikan beberapa cap pada formulir saya. Kemudian dia mengarahkan saya untuk ke petugas di sebelahnya (enggak di sebelahnya persis ya) untuk dicap lagi. Jadi, saya kembali mengantre untuk menghadap petugas yang dimaksud untuk mendapatkan cap. Kemudian, saya diarahkan untuk menghadap petugas yang berada di tengah-tengah meja panjang.

Lucunya, enggak seperti di bank atau gerai telekomunikasi di mana tamu harus mengambil nomor antrean dan ada layar bertuliskan nomor antrean di loket berapa, di sini kami mengantre berdiri persis di belakang pendaftar yang sedang duduk berhadapan dengan petugas. Jadi terlihat berantakan deh. Di bagian ini, petugas sepertinya memasukkan data yang sudah saya tulis di dalam formulir ke dalam sistem (makanya namanya “pendaftaran SIM online“, mungkin?). Ada beberapa data yang sudah saya tulis di formulir, tapi tetap ditanyakan kembali oleh petugas. Jadi, formulir saya ya tidak dia baca tuh, buat disimpan saja mungkin.

Pas Foto dan Cap Sidik Jari

Setelah itu, saya mendapatkan nomor loket untuk foto dan diminta untuk menuju tempat foto. Di area ini, tempat foto terbagi menjadi cukup banyak booth, mungkin dari A sampai G atau H (mungkin, saya enggak cek soalnya). Anggap saja seperti ruang tunggu saat pesawat mau boarding. Nah, gate menuju pesawat itu ibarat booth fotonya, lalu tempat duduk itu adalah tempat untuk peserta foto duduk menunggu panggilan. Di depan gate booth ada sebuah meja kecil yang di dalamnya ada kotak keranjang berisi kertas-kertas nomor loket foto yang ditaruh pengantre. Tempat foto saya di booth B, jadi saya menaruh kertas tersebut di kotak keranjang depan booth B. Nantinya, petugas foto akan mengambil secara berkala kertas-kertas di dalam keranjang tersebut, kemudian memanggil nama yang tertera berdasarkan urutan kertas tersebut ditaruh.

Lucunya lagi nih, tidak ada pengeras suara ketika petugas memanggil nama. Jadi, kalau lokasi foto kamu di booth A, jangan cari tempat duduk yang jauh di ujung yang berlawanan. Bisa-bisa enggak kedengaran. Soalnya, ada petugas yang suaranya kecil banget, saya rasa dia bahkan enggak berusaha untuk teriak sama sekali. Alhasil, para pengantre ikut-ikutan memanggil nama yang dimaksud supaya kedengaran. Ya gimana tuh coba?

Antrean foto ini cukup menyiksa sih. Saya mulai antre itu di jam 2 siang dan namanya baru dipanggil jam 3.45 sore. Jadi kurang lebih nunggunya 1,5 jam! Selain memang buanyak banget pesertanya, sistemnya juga sempat error, jadi proses foto tersebut sempat sama sekali terhenti mungkin sekitar 15-20 menitan. Such a pain in the ass.

Di booth foto, saya diminta untuk cap lima jari kanan kiri, kemudian pas foto wajah, dan yang terakhir konfirmasi data-data apakah yang tertera di dalam (bakal calon) SIM baru sudah benar. Saat menunggu foto, saya sempat baca kalau dulu proses foto dilakukan terakhir setelah lulus uji teori dan praktik, nah sekarang entah kenapa jadi foto duluan. Saya sempat mengira jangan-jangan karena ini hari Jumat, petugasnya pada pengin pulang cepat jadi ujian ditiadakan (ngarep boleh dong). Tapi, ternyata tidak.

Ujian Teori

Setelah foto, nomor loket foto saya dikembalikan dan saya diminta untuk ke loket 7 untuk mengikuti ujian teori. Enggak usah membawa pensil lagi seperti yang dulu-dulu, karena sekarang ujian teorinya sudah terkomputerisasi. Berikan nomor loket foto ke petugas di Loket 7, kemudian tunggu di luar. Tanpa lama menunggu, saya dipanggil kembali oleh petugas dan diperbolehkan mengambil meja komputer yang mana saja untuk mengisi soal.

Ujian teorinya menurut saya cukup tricky. Jadi, selain membaca instruksi di layar, saya juga harus mendengarkan instruksi melalui headset. Nah, kalau salah tanggap antara instruksi di layar dengan apa yang disuarakan di headset, bisa-bisa jawaban yang diberikan malah jadinya ngawur. Jadi, baca dengan teliti ya. Ada 30 soal dan setiap soal hanya diberi waktu 30 detik untuk berpikir dan mengambil jawaban BENAR atau SALAH.

Untungnya, saya berhasil menjawab 21 soal dengan benar, jadi saya LULUS. Hore!

Ujian Praktik

Setelah lulus ujian teori, saya diminta untuk ke loket ujian praktik (lupa nomornya) yang berlokasi di luar. Ada petunjuknya kok jadi tinggal ikuti saja. Nah, ujian praktik ini yang menurut saya agak tidak masuk akal.

Jadi, ada lima hal yang dinilai dalam ujian praktik (kalau enggak salah ingat ya. Silakan koreksi kalau salah):

  1. Parkir mundur
  2. Parkir paralel
  3. Tanjakan dan turunan
  4. Jalan lurus (?)
  5. Jalan zig zag (?)

Saya diperbolehkan memilih, mau pakai mobil automatic atau manual. Mobil yang tersedia adalah Terios. Yang tidak masuk akal adalah tahapan untuk melakukan lima hal di atas harus sempurna. Jadi, waktu parkir mundur itu hanya boleh sekali jalan dan mobil sudah terparkir sempurna. Kalau tidak, ya sudah berarti gagal dan harus mengulang lagi minggu depannya.

Kemudian di sinilah saya gagal. Seumur-umur kayaknya belum pernah parkir mundur sekali jalan. Lagipula, pada kenyataannya siapa sih yang setiap parkir mundur hanya sekali jalan dan terparkir sempurna? Ditambah lagi saya belum pernah pakai Terios pula. Rasanya ujiannya enggak harus gitu-gitu amat deh. Mudah-mudahan sih ini bukan cara mereka untuk akhirnya membuat peserta membayar, ya. Karena setelah pengorbanan begitu lama tapi ujung-ujungnya harus bayar sih aku sakit hati.

Jadi kesimpulannya, saya harus mencoba lagi minggu depan. Belajar dulu deh kali ini. Wish me luck, and I wish you luck, too!

Oleh-oleh dari gagal ujian praktik. Kudu dibawa lagi pas ujian ulang.
Advertisements

Hidup Perlahan atau Hidup Khusyuk?

ilustrasi karya Lala Bohang

 

Di tengah arus perolehan informasi yang bergulir sangat cepat, saya jadi semakin sering menemukan orang yang menyuarakan pentingnya hidup perlahan, atau, dalam istilah bahasa Inggrisnya, slow living. Apa sih sebenarnya hidup perlahan?

Kalau hanya melihat dari dua kata tersebut, “hidup” dan “perlahan”, mungkin yang tertangkap dalam pikiran adalah kita harus hidup lebih santai, jangan buru-buru amat, waktu enggak ke mana kok. Menurut Wikipedia sendiri, slow living is a lifestyle emphasizing slower approaches to aspects of everyday life. Enggak perlulah membalas surel sambil berjalan kaki menuju ke kereta sampai enggak memedulikan keadaan sekitar. Jangan sampai juga mengerjakan dua tiga pekerjaan sekaligus dalam satu waktu, karena kita sebenarnya enggak bisa multi-tasking. Ambil waktu untuk mengerjakan semuanya satu per satu.

Masih ada banyak contoh-contoh hidup perlahan selain contoh sederhana di atas. Tapi, apa pun itu yang kita kerjakan, baik secara perlahan maupun enggak, sebenarnya yang terpenting adalah kesadaran penuh kita ketika mengerjakan hal tersebut. Makanya saya sendiri lebih suka menyebutnya sebagai hidup khusyuk dibandingkan hidup perlahan, atau mindful living dibandingkan slow living.

Mungkin ini hanya permasalahan istilah, tapi buat saya menjadi penting karena definisinya bisa berbeda. Hidup khusyuk enggak harus selalu perlahan. Kita bisa saja melakukan sebuah hal dengan cepat atau terburu-buru, tapi kita sadar betul kenapa kita melakukannya dengan terburu-buru. Sebaliknya, kita bisa saja melakukan sesuatu dengan perlahan, tapi kita enggak benar-benar berpikir kenapa kita harus melakukannya secara perlahan.

Sebagai contoh, salah satu kegiatan yang umum dilakukan oleh orang yang menjalani hidup perlahan adalah memasak makanannya sendiri. Katanya, jangan terus-terusan makan makanan siap saji atau membeli makanan di luar. Cobalah sekali-sekali memasak dan nikmati prosesnya. Dengan demikian, kita jadi tahu bahan-bahan apa saja yang diperlukan dan proses apa yang terjadi untuk bisa menghasilkan sebuah hidangan lezat. Konsep yang sangat baik.

Saya juga sekarang lebih sering memasak dibandingkan membeli makanan di luar. Alasannya banyak: jauh lebih hemat, bisa mencoba berbagai macam resep, dan ada rasa kepuasan yang menyenangkan karena bisa membuat hidangan yang enggak kalah enak dengan di restoran. Bahkan, saya sekarang bisa dibilang jarang mencicip makanan di restoran yang kelihatannya terlalu fancy smancy, karena biasanya kualitas makanannya berbanding terbalik dengan interior yang ditampilkan (biasanya lho ya, enggak semua kok. Saya tahu ada restoran enak yang interiornya juga cantik).

Tapi, bukan hidup namanya kalau kebiasaan yang menyenangkan pun enggak dikasih tantangan. Waktu di awal, kebiasaan memasak adalah hal yang saya tunggu-tunggu. Pergi ke supermarket, memilih bahan baku, bereksperimen di dapur. Pokoknya waktu berkualitas banget sama suami karena dia pun doyan masak (bahkan lebih dari saya!). Lama-kelamaan, terutama ketika pekerjaan kami lagi padat, memasak menjadi lebih sebagai kewajiban dibandingkan rekreasi. Kami enggak mau pusing menentukan menu, jadi hanya sekadar belanja ke supermarket, membeli bahan yang itu-itu saja, dan memasak menu yang itu-itu saja. Semuanya biar sekadar jadi, asal selesai. Akibatnya, kami kehilangan kesadaran akan manfaat memasak yang sebenarnya. Enggak khusyuk lagi. Enggak mindful. Saya melakukan prinsip hidup slow living tanpa meresapi esensinya.

Padahal, kalau menurut Thich Nhat Hanh dalam bukunya The Miracle of Mindfulness, kegiatan dalam kondisi apa pun bisa dibuat tetap khusyuk. Di buku tersebut, Thich Nhat Hanh menggunakan perumpamaan melalui salah satu kegiatan paling sepele: mencuci piring. Menurutnya, definisi mindfulness adalah ketika seseorang mencuci piring karena dia pengin mencuci piring, bukan karena dia pengin piringnya bersih atau karena ada imbalan setelah dia mencuci piring (misalnya: setelah piringnya bersih maka bisa menggunakan piringnya untuk mengambil makanan). Karena, ketika seseorang mencuci piring karena pengin mencuci piring, berarti dia benar-benar sadar dengan pilihannya dan betul-betul menjalani prosesnya, enggak terdistraksi dengan pikiran lain.

Hal di atas sangat sederhana, tapi susah sekali dilakukan. Ketika kegiatan memasak sudah menjadi hal yang repetitif, tubuh saya akan bergerak secara otomatis melakukan tahap-tahap yang diperlukan, sementara pikiran melanglang buana ke tempat lain: abis ini to-do-list kerjaan apa aja ya? Kucing-kucing udah makan belum ya? Kerjaan yang ini udah di-email belum ya tadi? Dan lain sebagainya. Akibatnya, saya jadi enggak menyadari apa yang sedang saya kerjakan. Padahal, meskipun ada banyak kerjaan setelah memasak, saya harusnya bisa tetap memasak dengan cepat menggunakan resep ala kadarnya, sambil menyadari kalau saya sedang memasak ala kadarnya dengan baik dan saya menikmati hidangan ala kadarnya ini.

Prosesnya sama seperti meditasi, sebenarnya. Kita diajak untuk hening sesaat kemudian mendengarkan apa yang sedang terjadi di dalam tubuh kita dan di sekeliling kita. Dan, harus saya akui, meditasi itu susah banget! Sampai sekarang saya merasa belum bisa melakukan meditasi dengan benar.

Kenapa hidup khusyuk menjadi sangat penting? Buat saya sendiri sih membantu saya mengambil pilihan-pilihan hidup yang benar-benar saya inginkan, bukan karena pengaruh orang lain, sekecil apa pun pilihannya. Bukan berarti saya sudah menjalani pola hidup ini dengan benar; sangat belum! Saya masih sering terdistraksi dengan pilihan orang lain, apalagi kalau habis melihat kegiatan teman-teman di media sosial. Contoh, suatu waktu di bulan Maret/April, saya melihat banyak teman yang pergi ke Jepang untuk menikmati musim semi. Wah, melihat foto-fotonya sih siapa yang jadi enggak pengin pergi juga, yekan? Tapi, kemudian saya berpikir lagi: apakah saya memang pengin ke Jepang atau saya terpengaruh orang lain untuk pergi ke Jepang? Buat apa bepergian kalau enggak ada tujuannya? Mungkin yang saya butuhkan malah ke Lasem untuk jalan-jalan sekalian riset, misalnya (oke, ini saya memang beneran pengin ke Lasem lagi! Hehe), atau mungkin malah saya sebenarnya belum perlu ke mana-mana.

Ketika kita bisa melihat teman dan orang asing melakukan hal-hal yang belum pernah atau belum bisa kita lakukan, dan terlihat menggiurkan di mata, pasti ada keinginan untuk bisa melakukan hal yang sama. Yang perlu ditanyakan adalah: kenapa harus?

Banyak Baca = Enggak Produktif?

Salah satu karya Farid Stevy Asta, “Hal-hal Ini Terjadi” yang dipamerkan di Art Jog tahun 2016.

“Sepertinya kamu harus kurang-kurangin baca buku atau artikel deh. Malah stop dulu kalo perlu,” kata RM.

“Ih, napa gitu?” sanggah saya. Membaca sudah jadi hobi saya dari dulu, jadi rasanya kok enggak rela kalau disuruh lepasin sementara waktu.

“Iya kamu banyak baca, tapi jadinya nunda-nunda hal lain. Mana hasil tulisannya? Kebanyakan baca sana-sini cari referensi jadinya malah enggak mulai-mulai nulis.”

“Ehe…”

Saya enggak bisa mendebatkan komentar terakhir RM, alias suami saya. Jangan salah, maksudnya dia itu bukannya kebanyakan membaca buku bikin orang enggak produktif. Kalau untuk kasus saya, yang setiap mau melakukan sesuatu itu suka kebanyakan mikir yang aneh-aneh terus ujung-ujungnya suka enggak jadi, membaca kadang memang malah menghambat produktivitas.

Misalnya, saya mau menulis tentang suatu topik, kemudian saya mencari referensi di dunia online atau buku-buku tertentu. Tahu dong pepatah yang mengatakan, “The more you know, the more you don’t know“? Efek samping dari saya kebanyakan cari referensi adalah saya melihat kalau banyak orang di luar sana yang sudah lebih ahli dan maha tahu. Apalah artinya tulisan saya? Bakalan cuma jadi butiran garam di air laut.

Akhirnya, saya malah jadi keterusan membaca dan terus jadi enggak pengin menulis, karena buat apa menulis lagi kalau sudah ada orang lain yang bisa memaparkannya dengan lebih baik. Dalam hati kecil, rasa keingintahuan saya untuk mencari tahu lebih dalam tentang topik tersebut (yang artinya rasa tersebut diiringi dengan perilaku mengonsumsi banyak bacaan) akhirnya menjadi alasan saya untuk menunda membuat tulisan versi saya sendiri.

Nanti deh, kalau materinya sudah terkumpul banyak.

Tanggung, ini bukunya lagi seru banget. Bisa jadi bahan buat posting-an Instagram yang berfaedah.

Selalu ada seribu alasan untuk menunda diri sendiri memulai sesuatu atau keluar dari zona nyaman dan pengalaman saya di atas sebenarnya hanya satu contoh receh. Yang paling benar memang enggak boleh banyak mikir dan lakukan saja. Tapi, enggak boleh cuma sekali. Kan menurut banyak penelitian (seperti yang dibilang oleh Henry Manampiring), kemampuan mental itu ibarat otot. Makin dilatih, dia akan makin kuat. Jadi, harus dilakukan berkali-kali dan konsisten seperti orang berlatih maraton atau olah badan di gym.

Duh, padahal saya seumur-umur paling malas kalau disuruh nge-gym.

A Trip to Cirebon Part 2: The Unforgotten Part of the Not So Memorable City

I’ve mentioned in my previous post that three days in Cirebon were enough if you want to explore the city as a tourist. Cirebon still needs a lot of improvement, although it is now easier to go to this port city (thanks to Cipali toll road and the existing train route). Cirebon may not leave a memorable impression as a city, but I’ve had one most memorable moment there.

Before we get into that part, I’d like to recommend some tourism spots that are worth your time.

Sunyaragi Cave

DSC00754
Sunyaragi Cave

Sunyaragi comes from the Sanskrit words “sunya“, which means “silence”, and “ragi“, which means “body”, hence this cave used to be used by Cirebon’s royal family for meditating. Based on what I’ve read, Sunyaragi Cave was built by the great-grandchild of Sunan Gunung Jati, namely Prince Kararangen. Its structure look similar to coral reef and it consists of a lot of caves that serve various purposes, including for the servants to guard and provide supply while the royal families were there (the caves are so small, I can’t imagine how they did that). The architecture is very beautiful and this cave is my favourite part of Cirebon.

DSC00712
Sunyaragi Cave

DSC00744
Sunyaragi Cave

DSC00732
Sunyaragi Cave

Sunyaragi Cave is open from 8.00 AM to 5.30 PM and the entrance fee is IDR 10,000/person. You may want to hire a local guide for IDR 50,000 to hear the history of this place. Just be aware that Cirebon is a port city, hence the weather is extremely hot at noon.

Address:  Jalan By Pass Brigjen Dharsono, Sunyaragi, Kesambi, Kota Cirebon.

Keraton Kasepuhan

DSC00495
Keraton Kasepuhan

There are two most-visited royal palaces in Cirebon: Keraton Kasepuhan and Keraton Kanoman. However, I’ve read somewhere that it is best to just go to Keraton Kasepuhan because it is bigger and more beautiful, and the latter is rather untreated. I went to Keraton Kasepuhan using public transportation (angkot) and becak. Don’t expect the angkot to stop at an angkot stop (as if there’s any!). They will stop anywhere you want and you have to ask for their route first otherwise you may get lost.

Keraton Kasepuhan is one of the biggest and the oldest palaces in Cirebon. The architecture is so beautiful, a fusion of Islamic, Chinese, Javanese, European, and Hindu architectural styles, even though this palace was once the oldest Islamic ancient kingdom in Indonesia. What fascinate me were the details of the doors and the gates, and the thick brick wall that was decorated with gorgeous Chinese-style plates.

DSC00454
How can you not love the details?

DSC00503
Lovely, lovely gate

There are some museums inside this palace, including Pusaka Keraton Kasepuhan, Benda Kuno, and Kereta. Too bad, Pusaka Keraton Kasepuhan Museum was not yet available during my visit, while Benda Kuno and Kereta Museums were under construction at that time.

DSC00478
One of the gorgeous doors

DSC00603
This kind of plate is everywhere around Keraton Kasepuhan

Keraton Kasepuhan is open from 8.00 AM to 6.00 PM and the entrance fee is IDR 10,000/person.

Address: Jalan Kasepuhan No.43, Kesepuhan, Lemahwungkuk, Kesepuhan, Lemahwungkuk.

Kanoman Market

DSC00640
On our way to Kanoman Market

I love exploring traditional markets when I arrive at a new city. They are like a melting pot where you can see people from many backgrounds gather together to find the best food the city has to offer. Kanoman Market is no different. I found a lot of fresh seafood and many other ingredients at the market. Not only that, there are some stalls that sell gourmet gift and even pork meat. Thanks, acculturation! I’ve also heard that recently a paint company decided to paint the market colourful, making it more attractive to visitors. You can read the news here.

Interested in exploring Cirebon backpacking style? Here are some tips:

  • Conventional taxi is available, but most of them don’t use meter, so don’t forget to settle the fare in the first place!
  • Online taxi apps, Gojek and Grab, are available in Cirebon.
  • Don’t rent a car, it’s freaking expensive (around IDR 400,000 for Avanza/Xenia for 1 day, city only – with driver).
  • Cirebon is very small, if you don’t mind sweating, you may want to try local angkot. It’s only around IDR4,500 for one trip no matter how far.
  • You may want to use becak if you go somewhere near the traditional market, because the traffic is so bad. Remember to settle the fare first.

Unexpected, Unforgotten

One day before I and RM had to go back to Jakarta, we really had no clue of what to do.

  • All must-visit-tourism-places-for-the-first-timer: checked.
  • Coffee shops: checked.
  • Food: checked.
  • Mall: nah.

Luckily, at one moment, RM found out from his friends that there were some crystal clear lakes in Kuningan. It wasn’t not too far from the main city but we had to go by car to reach it.

Our initial plan was to rent a car, but after contacting several car rental in Cirebon, we thought the price was way to expensive. So, out of nowhere, RM stopped an angkot right after we had lunch and he asked the driver whether he was available for half-day charter to the lakes. Surprisingly, the driver, Pak Badawi, said yes and asked us to hop on. So we did! It was quite crazy, the whole angkot for ourselves. Yes, it was pretty hot inside because we started in the afternoon and, of course, there was no air conditioner. But, we could play music as loud as possible (we brought portable speaker, thank goodness). The driver was also very nice, he was so proud of his city and told us many great stories about Cirebon (which I couldn’t hear because I sat on the back).

So, our destination was Nilem Lake and Remis Lake. A friend of RM had been there. We saw the photos on her Instagram and it looked promising with its crystal clear water and like-out-of-nowhere location somewhere in the jungle. But… it is no secret that Instagram photos can often be deceiving, right? When we finally arrived at Nilem Lake… what we thought as a lake in the middle of nowhere turned out to be another local attraction. The lake was surprisingly tiny and surrounded by small cottages. The jungle that we saw in the picture? Apparently that was just one side of the whole 360 degrees view.

DSC09442
Remis Lake

DSC09440
Remis Lake

DSC09389
Remis Lake

We didn’t spend too long at Nilem Lake because there was nothing much to do and Remis Lake was located not too far away from the first, so we headed on to the latter right away. To my surprise, I enjoyed Remis Lake much more than Nilem Lake. It was huge although the water was cloudy and people couldn’t swim there. BUT, the good thing was there were duck boats for rent. It costed us IDR 20,000 for 10-15 minutes rent, not bad.

DSC09492
Situ Cicereum

The last (and additional) “lake” we visited was Situ Cicereum, which apparently wasn’t really a lake but a reservoir. The good thing was the water was completely clear and cold, I could see fishes swimming around. The bad thing was, again, it was not really a lake and surrounded by small shops. Again, this experience is a good reminder that pictures can be deceiving.

“Focus on the journey, not the destination. Joy is found not in finishing an activity but in doing it.” – Greg Anderson

DSC09360
Beautiful view on our way to Nilem Lake

DSC09376
Beautiful view on our way to Nilem Lake

I couldn’t say great things about the three lakes, but I’ve found an unforgotten memory during the trip. It was our first time charting an angkot for a trip and I couldn’t ask for a better option (it costed us IDR 250,000 only!). The view on the way to the lakes were gorgeous: paddy fields, mountains, greeneries, or, in other words, things someone who lives in a big city rarely see. Pak Badawi also gave meaningful insights about people of Cirebon:

“People in Cirebon are very tolerant of differences. You can see that the architecture of our buildings (including mosques and keraton) have, among others, Islamic and Chinese influences. We live side by side in harmony. Even in the traditional market (Pasar Kanoman) Chinese people are selling pork next to Muslim stalls,” he said.

DSC09638
The one that made our trip unforgettable!

He acted like our local tour guide and told stories we might never heard of if we were sitting comfortably in a private car.

Oh, Cirebon. You’re so lucky to have him!

On Finding Yourself

ea8cf249ea517ef23c4e42081e4241d8
source: sublimespy

Few weeks ago, a friend of mine told me that she was facing the most difficult phase of her relationship. She and her boyfriend had been together for around three years, but, long story short, apparently things just didn’t go as planned, reality bit, and suddenly all those lovey-dovey feelings were disappeared. She tried so hard to hold on and asked for an advice from me and my husband, RM.

I and RM knew their relationship from the very beginning, so it wasn’t that hard to conclude that she needed some time to herself, which meant she needed to get out of the relationship. All this time, she had been trying to make the relationship work without thinking of what she actually wanted. As a result, she often made an excuse that led to another excuse, and another one, and so on. As much as we wanted them to be together forever (because both were, and still are, our lovely friends), we thought it was best for them to continue their own lives separately.

“Use this moment as an opportunity for you to find yourself, to know what you really want and what you want to do with your life. Don’t look for a rebound or someone else that may distract you from it. Just take time for reflection, because sometimes being honest to ourselves is the hardest thing to do,” RM said to her. OMG…did I just make RM sound like the wisest man in the world?!

But he was right.

BEING HONEST TO YOURSELF IS THE HARDEST.

I don’t know about you, but I’ve been there, done that, and I’m still doing it over and over again. There were times when I tried to like things other people thought were cool, such as movies, music, the latest trends, etc. Or, on the contrary, I tried to become one of those anti-mainstream people who didn’t belong to the mainstream, but I actually didn’t have that anti-mainstream soul in some aspects of life. Thanks to RM, I find Justin Bieber’s songs entertaining because it’s so easy listening. Oh, I also like reading news about the royal newlyweds, Megan Markle and Prince Harry. It’s not a crime, right? Right?!

“The heart wants what it wants – or else it does not care.” – Emily Dickinson.

After all, it is me who decide what to like and what not to like, and I’m still learning not to let other people’s opinions guide my decision.

EXPRESSING YOURSELF IS ANOTHER CHALLENGE.

The next challenge is how to get better at expressing thoughts and emotions. As someone who is lacking of facial expression (I think the level of my facial expression is similar to that of Hila Klein from H3H3 productions) and interest in talking out loud about myself, I sometimes find it hard to tell my honest opinions to the world. It is very comforting to be a person who acts like she is outside of a circle; hence she knows nothing, and, owing to her curiosity, she keeps questioning things until she gets the satisfying answers, but then she keeps it for herself because she feels like she is not eligible to share that information. There are a lot of smarter people out there who should be doing that, right?

Then again… I wonder. Isn’t knowledge sharing supposed to be important in the internet age? Anyone is allowed to share anything. By anyone, I also mean irresponsible people who rarely check and double-check their news and  sources before they hit the tweet/post button. If the internet is dominated by that kind of people because those more responsible people only become passive viewers who occasionally whine but do nothing, things will not get better.

I listened to an episode of Ted Radio Hour by NPR about some TED speakers who were able to step out of their comfort zone, including Tim Ferris, Tanya Menon, Luvvie Ajayi, and Dan Palotta. It’s worth your time. Check it out: Ted Radio Hour by NPR: Comfort Zone.

It’s not easy, but doable. Time won’t wait, so, why don’t we start immediately?

In Between Traveling and Vacation

Setelah puasa melayangkan kaki dari Jakarta selama beberapa bulan (6 bulan tepatnya, dan dinas luar kota nggak dihitung ya!), akhirnya saya berkesempatan untuk pergi sejenak dari kota yang sangat padat ini menuju Pulau Bali. Berbeda dari kegiatan jalan-jalan sebelumnya, di mana biasanya saya pergi hanya bersama suami, atau seenggaknya bersama tambahan 1-2 orang teman saja, kali ini saya pergi bersembilan! Bisa dibayangkan kan betapa sulitnya menyatukan sembilan pemikiran untuk membuat satu keputusan?

Yang biasanya terlintas di benak saya saat akan pergi jalan-jalan (walaupun agenda utama kali ini adalah menghadiri pernikahan teman) adalah jarang berada di hotel alias seharian mengunjungi tempat-tempat baru, menjelajah sisi-sisi wilayah yang belum pernah saya injak, dan mendapatkan pengetahuan baru tentang masyarakat atau budaya setempat. Umumnya selalu seperti itu. Tapi, kali ini ternyata cukup berbeda.

2018-05-14 10-315154131..jpg
Villa Ava 2

2018-05-14 10835454151..jpg
Villa Ava 2

Kalau selama ini saya dan suami memilih untuk menginap di hotel dengan harga terjangkau dan menyimpan bujet lebih besar untuk segudang aktivitas lokal di sebuah tempat, kali ini kami, bersama-sama dengan tujuh teman lainnya, menginap di sebuah villa cukup mewah di daerah Umalas. Sebelum berangkat, premis utamanya memang sudah ditetapkan sebelumnya: ingin bersantai. Jadi, sebagian besar waktu kami dihabiskan di dalam villa untuk mengobrol, berenang, dan minum-minum santai menghabiskan waktu. Ada sesekali waktu kami pergi ke luar villa hanya untuk makan, pergi ke cafe atau bar, dan menikmati pantai. Pernah juga sekali waktu saya dan suami akhirnya menyempatkan diri untuk mampir ke Sunday Market di Samadi Bali di daerah Canggu untuk melihat-lihat ada keriaan apa di sana.

2018-05-17 10-1029657392..jpg
Penjual buah di Samadi Sunday Market

2018-05-17 10-2039051689..jpg
Tomato Tapenade ini enak banget guys!

2018-05-17 10-885041646..jpg
Kucing nyolong ikan. Duh!

Saya sudah hampir lupa dengan gaya berlibur semacam ini hingga suami saya yang awalnya sama canggungnya dengan saya mengatakan, “Mungkin ini yang dimaksud dengan perbedaan antara travelling dan vacation.” Entah siapa yang pertama kali mencetuskan perbedaannya (yang pasti bukan Rangga-nya Ada Apa Dengan Cinta 2 dong ya?), tapi saya setuju. Dari berbagai sumber yang saya baca, dan setelah mencoba berpikir dalam-dalam, meskipun traveling dan vacation sama-sama berarti mengambil “istirahat sejenak” dari rutinitas sehari-hari, yang bermakna dari traveling adalah perjalanan dan pengalaman berbeda yang nggak didapat di tempat kita berasal, sementara makna dari vacation adalah mengambil waktu santai jauh dari realitas hidup di mana kita bisa menenangkan pikiran dan melupakan sebentar keburu-buruan yang terjadi dalam keseharian.

2018-05-17 10-778372551..jpg
Rekomendasi dari teman di dunia kopi, lokasinya di dekat villa dan memang enak!

Nggak ada yang lebih baik dan lebih buruk dari traveling maupun vacation. Saat traveling, hati saya terasa penuh (dalam konteks positif) karena selalu mendapatkan pengalaman baru, entah itu dari hasil berinteraksi dengan masyarakat setempat, mencicipi makanan khas daerah itu, mempelajari budaya lokal di tempat tersebut, mencoba transportasi umum yang terdapat di sana, ataupun mengunjungi tempat wisata, tempat budaya, dan acara menarik yang ada. Kegiatan ini nggak selalu menawarkan kemewahan dan kemudahan, tapi justru itu menjadi tantangan yang menyenangkan. Ketika pulang, tentu saja ada rasa lelah akibat mendapatkan informasi yang sangat banyak, tapi bahagia karena mendapatkan pengetahuan baru. Saat vacation, saya merasa rileks dan tenang karena nggak diburu-buru untuk melakukan satu hal ataupun memperoleh sesuatu. Ketika pulang pun saya nggak merasa lelah, karena ketika vacation itulah saya sebenarnya sedang beristirahat dan mengambil waktu untuk memanjakan diri sendiri.

2018-05-14 102020267783..jpg
Pantai Batu Belig

2018-05-14 102053485564..jpg
Pantai Batu Belig

Karena sudah lama sekali nggak melakukannya, awalnya saya agak kurang sreg dengan liburan bergaya “vacation“. Saya sempat berpikir, untuk apa pergi jauh-jauh kalau hanya ingin bersantai dan nggak mendapatkan hal baru dari tempat tersebut? Tapi, ternyata saya tetap mendapatkan hal baru kok. Merilekskan diri di luar tempat yang sering kita kunjungi bisa membuat pikiran jadi lebih santai, walaupun sepertinya jangan lama-lama ya karena bisa membuat diri jadi semakin malas untuk kembali ke kenyataan hidup.

Jadi, yang berbeda dari traveling dan vacation adalah pengalaman apa yang akan diperoleh sesudahnya. Mau traveling atau vacation itu sebenarnya semua balik ke kebutuhan kita masing-masing. Mana yang lebih kamu perlukan saat ini?

PS: Sekadar info, padanan kata traveling dan vacation dalam Bahasa Indonesia adalah “wisata” dan “berlibur”, tapi sepertinya dalam sebagian besar penggunaannya kedua kata ini masih dipakai berbarengan tanpa ada perbedaan makna.

[REVIEW] Call Me By Your Name – Andre Aciman/Luca Guadagnino

sumber: blogspot.com

Oke! Ini adalah ulasan yang sangat, sangat telat, tapi saya benar-benar merasa harus menuliskannya karena menurut saya film Call Me By Your Name adalah salah satu film terbaik yang pernah saya tonton. Hanya saja, sebelum menonton film ini ada baiknya kamu tanggalkan semua prasangka buruk. Meskipun Call Me By Your Name akan sangat kontroversial apabila diputar secara resmi di Indonesia, karena film ini bercerita seputar percintaan dua orang lelaki dan seperti yang kita semua tahu masih ada orang yang menganggap LGBT sebagai sebuah penyakit yang harus disembuhkan, kisah di dalam film ini benar-benar menyentuh hati. Semua adegannya terasa nggak ada yang sia-sia. Tiap adegan penting untuk adegan selanjutnya, atau nantinya.

Film Call Me By Your Name menceritakan tentang kisah-kasih seorang anak laki-laki remaja berusia 17 tahun, Elio (Timothee Chalamet), yang jatuh cinta dengan seorang mahasiswa S2 berusia 24 tahun, Oliver (Armie Hammer), yang datang untuk berguru kepada ayah Elio Mr Perlman (Michael Stuhlbarg), seorang profesor arkeologi, untuk keperluan tugas akademis sekaligus membantu pekerjaan ayahnya selama liburan musim panas. Jadi, hanya selama liburan musim panas ini keluarga Perlman tinggal di sebuah vila di sebuah kota kecil Crema di Italia, dan di saat itulah mereka menerima murid untuk belajar. Walaupun awalnya Elio nggak menyukai kehadiran Oliver yang mengambil kamarnya selama menginap sehingga dia harus mengungsi ke kamar sebelah, lambat laun Elio merasa nggak bisa nggak memperhatikan Oliver.

sumber: theatlantic.com

Elio sempat hanya mengamati gerak-gerik Oliver dari jauh, sambil tetap menjalankan aksi pendekatan kepada Marzia (Esther Garrel), karena menurutnya perilaku Oliver sebagai orang Amerika cukup kasar dan nggak sopan. Misalnya, Oliver nggak bisa meretakkan bagian atas cangkang telur setengah matang, pasti dia mengetuk dengan kencang dan akibatnya cangkang telur yang disajikan untuknya selalu hancur. Oliver juga selalu mengucapkan “Later!” ketika dia ingin beranjak pergi sendiri setelah makan atau kumpul bersama. Elio juga pernah ditinggalkan begitu saja oleh Oliver di tengah kota setelah dia menemani Oliver mengisi formulir untuk membuka rekening bank lokal, tentu dengan ucapan khasnya, “Later!”. Oliver juga memperlihatkan kedekatan dengan salah satu perempuan lokal yang dia temui, yang juga dikenal Elio karena mereka tinggal di kota kecil, jadi semua saling mengenal satu sama lain. Hal tersebut pastinya membuat Elio semakin sebal.

Tapi, lama-kelamaan permainan tarik ulur ini membuat Elio semakin penasaran. Elio dan Oliver sering berenang bersama, berjalan-jalan mengelilingi kota, saling menceritakan buku atau tulisan yang mereka baca, sampai Elio juga pernah menemani ayahnya dan Oliver untuk melihat temuan purbakala di pinggir pantai. Kedekatannya dengan Marzia nggak bisa menutupi rasa cinta yang tumbuh terhadap Oliver. Suatu hari saat berjalan-jalan mengelilingi kota bersama, Elio sempat mengungkapkan perasaannya terhadap Oliver. Setelahnya, ketika mereka sedang duduk-duduk di padang rumput, Oliver mencondongkan badannya untuk mencium Elio, yang disambut baik oleh Elio pastinya, tapi kemudian dihentikan secara cepat oleh Oliver karena dia nggak ingin hubungan mereka yang masih sebatas teman menjadi rusak.

sumber: thewrap.com

Kejadian tersebut ternyata menciptakan jarak di antara mereka. Oliver terlihat lebih sering pergi ke luar rumah dan kembali larut tengah malam. Hal ini membuat Elio menjadi tertekan, dia merasa Oliver menghindarinya. Karena nggak tahan dengan perlakuan tersebut, suatu malam Elio menyelipkan sebuah kertas berisi pesan untuk jangan menghindarinya di bawah pintu kamar Oliver, yang kemudian dibalas Oliver keesokan paginya dengan sebuah kertas bertuliskan ajakan bagi Elio untuk menemuinya saat tengah malam, dan hari itu Oliver pergi seharian dari pagi. Surat tersebut membuat Elio seharian seperti orang bingung. Tau kan rasanya waktu jaman remaja, kita baru PDKT atau “jadian” terus janjian kencan esok harinya? Ya gitu. Dia nggak sabar menunggu tengah malam tiba. Elio menghabiskan waktu dengan bercinta dengan Marzia, kemudian menemani ayah ibunya menjamu teman saat makan malam. Menjelang tengah malam, Oliver sudah pulang dan Elio pun pamit undur diri dari ayah ibunya untuk tidur. Saat itulah Elio dan Oliver akhirnya berjumpa di balkon kamar, kemudian keduanya masuk ke dalam kamar Oliver dan benar-benar saling jujur dengan dirinya sendiri, Mereka berdua bercinta dengan sangat mesra dan indah. Tentu saja adegan ini nggak ditunjukkan dengan vulgar, tapi ini menjadi salah satu adegan favorit saya. Chemistry keduanya sangat teras, mulai dari malu-malu ingin bersentuhan hingga akhirnya mereka menghabiskan malam bersama, ditambah lagi dengan secuplik bagian pembuka lagu “Mystery of Love” dari Sufjan Stevens yang diputar ketika Elio dan Oliver menuju kamar. Sangat indah!

Adegan keesokan paginya saat mereka berdua terbangun juga menjadi salah satu adegan favorit saya. Di pagi itu, Elio dan Oliver masih tiduran di ranjang, dan Oliver terbangun lebih dulu. Ia mengusap-usapkan tangannya ke lengan dan perut Elio dengan penuh cinta, sementara Elio yang kemudian terbangun memberikan ekspresi aneh dan langsung bangkit duduk. Ekspresi Oliver ketika melihat reaksi Elio di sini menurut saya sangat priceless. Seorang Amerika yang terlihat sangat percaya diri dari awal bisa terlihat begitu rapuh dan bingung hanya karena seorang anak remaja. Elio pun mengajak Oliver berenang dan terlihat menjaga jarak sesudahnya. Oliver yang bingung dengan perilaku Elio mencoba untuk tetap bersikap biasa. Setelah makan pagi bersama keluarga, Oliver pamit untuk pergi ke kota, yang kemudian disusul oleh Elio yang mengungkapkan perasaannya kalau ternyata dia nggak bisa berpisah darinya. Hubungan keduanya pun menjadi mesra kembali.

sumber: observer.com

Beberapa hari sebelum liburan musim panas berakhir, yang artinya Oliver harus kembali ke Amerika, Oliver mengatakan kepada Mr & Mrs Perlman kalau dia harus ke Bergamot untuk mengurus beberapa hal dan langsung balik ke Amerika selepasnya. Orang tua Elio, yang menyadari hubungan spesial mereka berdua, menawarkan Elio untuk menemani Oliver di Bergamot. Akhirnya, Elio dan Oliver menghabiskan hari-hari terakhir bersama di kota tersebut. Adegan Elio melepas kepergian Oliver di kota ini juga sungguh menyayat hati. Saya membayangkan seorang anak remaja yang baru saja menginjak usia dewasa dan jatuh cinta harus melepas kepergian orang yang dicintainya. Sedih kak! Setelah menatap nanar kereta yang diduduki Oliver hingga menghilang dari pandangan mata, Elio pun menghubungi ibu lewat telepon umum dan memintanya untuk menjemput. Sepanjang perjalanan di mobil, Elio nggak bisa menyembunyikan kesedihannya. Dia menangis. Ibunya memahami hal tersebut dan mengusap-usap rambut Elio. Ah!

Sesampainya di Crema, Marzia, yang mengetahui hubungan Elio dan Oliver, mengatakan kalau dia nggak marah terhadap Elio dan tetap ingin menjadi teman baiknya. Sementara itu, ketika di rumah, Elio mendapatkan sebuah ceramah yang sangat mengagumkan dari ayahnya. Intinya, Mr Perlman mengatakan kepada Elio bahwa sebuah perasaan itu harus benar-benar dirasakan. Sedihlah ketika merasa sedih, senanglah ketika merasa senang. Kalimat lengkapnya sebagai berikut:

When you least expect it, Nature has cunning ways of finding our weakest spot. Just remember: I am here. Right now you may not want to feel anything. Perhaps you never wished to feel anything. And perhaps it’s not to me that you’ll want to speak about these things. But feel something you obviously did.

You had a beautiful friendship. Maybe more than a friendship. And I envy you. In my place, most parents would hope the whole thing goes away, to pray that their sons land on their feet. But I am not such a parent. In your place, if there is pain, nurse it. And if there is a flame, don’t snuff it out. Don’t be brutal with it. We rip out so much of ourselves to be cured of things faster, that we go bankrupt by the age of thirty and have less to offer each time we start with someone new. But to make yourself feel nothing so as not to feel anything ― what a waste!

Nggak hanya Elio yang nangis mendengar ucapan ayahnya, saya juga! Aduh, entah sudah berapa kali film ini membuat saya menangis, tapi klimaksnya adalah bagian penutup yang bikin mbrebes mili. Jadi, setelah adegan monolog dari Mr Perlman, cerita dilanjutkan ke beberapa bulan sesudahnya di musim dingin, di mana keluarga Perlman kembali menghabiskan waktu di Crema untuk merayakan Hanukkah (saya belum bilang ya, mereka itu keluarga Yahudi, dan Oliver juga ada keturunan Yahudi). Suatu hari saat Elio pulang ke rumah, telepon rumah berbunyi. Mr & Mrs Perlman saat itu sedang sibuk di ruang kerja untuk memilih calon murid yang akan tinggal di rumah mereka lagi selama liburan musim panas nanti, jadi Elio-lah yang mengangkat telepon itu. Tentunya sudah diduga, telepon itu dari Oliver. Elio cukup terkejut mendengar suara Oliver, dia merasa merindukan suara itu. Yang nggak disangka-sangka, ternyata Oliver menelepon untuk memberi tahu kepada Elio (dan Mr & Mrs Perlman), kalau dia akan menikah di musim panas tahun depan. Oliver akhirnya membeberkan kepada Elio kalau dia sudah menjalin pacaran putus nyambung dengan calon istrinya sejak beberapa waktu lalu (termasuk saat dia sedang tinggal di Crema) dan orang tua Oliver masih berpikiran kolot, jadi nggak akan mengizinkannya untuk menjalin hubungan dengan sesama jenis.

sumber: nytimes.com

Usai menutup telepon, yang Elio lakukan adalah bergegas pergi ke ruang tengah kemudian terduduk di depan perapian. Diiringi dengan alunan lagu “Visions of Gideon” dari Sufjan Stevens, penonton diajak untuk melihat ekspresi kompleks Elio yang menitikkan air mata. Elio, kamu nggak sendirian. Aku juga ikut menangis bersamamu!

Astaga, ternyata panjang sekali ya. Mohon maaf apabila ceritanya jadi cukup detail. Saya bahkan menuliskan sinopsis di atas dengan tetap masih merasa sedih dan haru. Saya sudah menonton film Call Me By Your Name sebanyak 7 kali atau lebih sepertinya, dan nggak pernah merasa bosan. Saya sangat menyarankan kamu untuk menonton beberapa kali dan memperhatikan ekspresi setiap pemainnya, karena, benar deh, setiap adegan itu memiliki makna untuk menjelaskan adegan berikutnya. Nggak heran kalau film ini mendapatkan banyak nominasi Oscar, Golden Globe, dan acara penghargaan lainnya. Naskah film Call Me By Your Name, yang ditulis oleh James Ivory, bahkan sampai memenangkan penghargaan Oscar untuk kategori adaptasi naskah terbaik!

Film yang disutradarai Luca Guadagnino ini memang nggak menjelaskan secara gamblang tentang kompleksnya karakter masing-masing tokoh. Yang dilakukan justru gerakan atau sedikit gestur untuk menggambarkan apa yang sedang dipikirkan oleh tokoh tersebut. Bahkan, semua properti yang digunakan dalam film ini, termasuk buku-buku yang ditampilkan serta gaya berpakaian setiap tokoh, memiliki maksudnya masing-masing. Ini yang menurut saya nggak ada di sebagian besar film Indonesia. Terkadang film Indonesia terlalu menjelaskan secara naratif sehingga penonton nggak diajak untuk berpikir, hanya dipaparkan secara nyata tentang kejadian yang sedang berlangsung. Bahkan, kadangkala sampai perlu dijelaskan oleh tokoh yang bersangkutan. Bukankah lebih baik kalau kita bisa menginterpretasikan sebuah adegan dengan cara yang berbeda-beda?

Film Call Me By Your Name diangkat dari sebuah buku karya Andre Aciman. Saya juga merekomendasikan kamu untuk membaca bukunya setelah menonton filmnya. Atau, kalau kamu suka mendengarkan audiobook, coba deh unduh audiobook-nya di audible.com, karena yang menarasikan ceritanya itu Armie Hammer sendiri! Kalau sebagian besar film yang diadaptasi dari buku itu biasanya hasilnya nggak sebagus buku aslinya, buat saya hal ini nggak berlaku di sini. Baik film dan bukunya, keduanya sama-sama patut diacungi jempol dan justru saling melengkapi satu sama lain. Karena filmnya nggak menjelaskan secara naratif isi otak masing-masing karakter, maka ketika membaca bukunya kamu (seenggaknya) bisa mengetahui dengan jelas isi otak Elio. Buku Call Me By Your Name diceritakan dari sudut pandang Elio, dan di buku ini kamu bisa merasakan betapa galaunya Elio akan Oliver. Pokoknya benar-benar kegalauan anak remaja yang jatuh cinta deh! Seolah isi otak Elio itu nggak bisa berhenti memikirkan tentang Oliver setiap saat, setiap waktu.

Buat yang mau menonton film ini secara legal, kamu bisa mengunduhnya via HOOQ lho! Sebenarnya saya juga nggak menyangka film ini bisa ada di HOOQ. Two thumbs up!

Menjadi Induk Kucing untuk Beberapa Hari

Pada suatu hari di pertengahan tahun 2016, saya, yang seorang dog person, tidak menyangka kalau ternyata bisa juga menjadi cat person. Saya nggak benci kucing. Saya suka melihat gambar-gambar kucing yang lucu dan menggemaskan, tapi nggak pernah terpikir sama sekali untuk memelihara hewan yang konon kabarnya punya pemikiran sendiri dan asik sendiri tanpa melibatkan pemiliknya.

Ternyata saya salah!

Karakter kucing memang berbeda dengan anjing, dan sensasi memelihara kucing juga sangat berbeda. Lebih menantang dan banyak kejutan lucu. Mungkin seperti itu. Tapi soal karakter kucing ini mungkin akan saya ceritakan di tulisan yang berbeda saja, karena di sini saya ingin menceritakan pengalaman menjadi induk dari bayi-bayi kucing yang baru lahir (baru dua hari lahir!) selama beberapa hari karena induk kucingnya sakit.

IMG_20171219_094153.jpg
Miu, si kucing tuxedo

Jadi, sejak sekitar tahun 2016 saya dan suami memelihara seekor kucing tuxedo, tapi dia nggak tinggal di dalam rumah. Namanya Miu. Hampir setiap hari Miu datang ke rumah untuk minta makan dan tidur siang sejenak, terkadang malah suka menginap di kamar sampai keesokan harinya. Namun, sebagian besar harinya dihabiskan dengan jalan-jalan di luar. Pernah saya taruh di dalam rumah, tapi hanya kuat beberapa jam dia pasti sudah mengorek-ngorek pintu rumah dan berisik banget minta keluar. Sebagai kucing betina yang tinggal di luar, Miu nggak luput dari sasaran kucing-kucing jantan di musim kawin. Seingat saya, dari pertama ketemu dia sampai awal tahun 2018 ini, Miu sudah hamil lima kali. Itu juga yang saya ingat, nggak tau deh kalau ada yang kelupaan.

Saya nggak ingat kapan kehamilan pertama Miu, pokoknya suatu hari dia sudah membawa satu anaknya keluar main. Karena waktu itu Miu belum jinak-jinak amat, anaknya juga nggak jinak dan mereka nggak dekat dengan saya sama sekali. Suatu saat, anaknya hilang dari pandangan dan nggak kembali. Mungkin tertabrak, mungkin diadopsi orang, atau mati entah kenapa. Proses melahirkan kehamilan kedua juga nggak saya ketahui. Saya cuma tahu perutnya sudah kempis, tapi anaknya nggak pernah terlihat. Yang ketiga, dia melahirkan di langit-langit di atas kamar saya, jadi saya dengar kalau anaknya bunyi-bunyi. Satu hari, Miu membawa anaknya yang mungkin masih berusia 2-3 mingguan ke saya. Hanya itu satu anak yang tersisa, tapi sayang keesokan harinya anaknya mendadak mati (baru di kemudian hari saya mengetahui ada istilah fading kitten syndrome, kematian bayi kucing secara mendadak). Kehamilan keempat, Miu memperlihatkan dua anaknya ketika mereka mencapai usia sekitar 1-2 bulanan. Saya dan suami sepakat menamakan mereka Zorro dan Tori (Zorro, karena wajahnya seperti pakai topeng tokoh Zorro, dan Tori, karena kuda yang sering bersama Zorro itu Tornado, biar imut disingkat jadi Tori). Akhirnya, Tori lebih sering mengikuti Miu ke rumah dan dipelihara hingga kini sudah berusia mungkin sekitar 5 bulan, sementara Zorro hilang entah ke mana. Huhu…

IMG-20180203-WA0007.jpg
Tori, anak Miu yang sampai sekarang tinggal di rumah

Nah, kehamilan kelima ini yang cukup spektakuler, karena dia sudah berani untuk melahirkan di ruang kerja (studio) saya dan suami! Pada malam mau melahirkan, dia masuk ke studio dan “bersarang” di dalam kotak kardus besar yang isinya penuh dan lumayan tertutup, mungkin sekitar 2-3 jam, sampai saya akhirnya menyadari kalau dia akan segera melahirkan. Seperti yang banyak ditemukan di internet, ciri-ciri utama kucing yang mau melahirkan adalah:

  • “Bersarang” sudah menjadi tanda kalau kucing akan segera melahirkan (dia benar-benar nggak keluar dari dalam sarangnya)
  • Nafas tersengal-sengal, iramanya cepat sekali. Lidahnya keluar sedikit dan seperti ngos-ngosan
  • Dari putingnya juga bisa mulai keluar cairan susu (yang ini saya nggak lihat di Miu)

(Lama setelahnya, saya dan suami membongkar kardus besar tersebut dan menemukan bercak-bercak darah. Yah, ini juga tanda-tanda yang saya nggak lihat waktu itu)

Melihat tanda-tanda aneh itu, saya kemudian menyiapkan kardus lebih kecil dan lebih bersih yang dialasi dengan baju-baju bekas, supaya dia bisa melahirkan di tempat yang lebih proper. Tapi, karena nggak ada perkembangan apapun selama beberapa waktu, akhirnya saya dan suami memutuskan untuk masak saja di dapur. Begitu kami kembali, Miu sudah keluar dari kardus besar dan berada di kardus kecil. Saat saya mengintip, dia sudah melahirkan anak pertama! Cukup shock, karena ini pertama kali saya melihat kucing melahirkan secara langsung dan ternyata bersimbah darah! Sudah gitu, saya melihat seperti ada gumpalan darah besar di lantai, yang kemudian langsung dilahap dan dikunyah oleh Miu. Eww… Ternyata itu plasenta bayi kucing.

DSC00801_1.JPG
Lima bayi kucing yang dilahirkan Miu, 2 tuxedo, 3 calico

Jadi, bayi kucing yang baru keluar itu terbungkus oleh plasenta dan nggak bisa bernafas. Induk kucing harus menjilati bayi itu sampai plasentanya lepas sepenuhnya dan kemudian dimakan untuk menghilangkan jejak (ini sepertinya kebiasaan alami dari kucing-kucing di alam liar yang banyak diincar predator). Long story short, Miu melahirkan lima anak dengan interval anak pertama ke anak kedua itu sekitar 12 jam, kemudian setelah anak kedua lahir, hanya dalam beberapa menit beruntun lahir sampai anak kelima (kebetulan kelahiran anak ketiga sampai kelima saya nggak lihat karena harus ngantor, jadi suami yang laporan).

Cerita belum berakhir dengan bahagia sampai di situ ya.

Satu hari setelah melahirkan, Miu menunjukkan tanda-tanda aneh. Dia hanya duduk diam saja, terlihat lusuh, badannya benar-benar kaku, kalau jalan terpatah-patah (mungkin karena pendarahan belum selesai, jadi masih sakit), nggak mau makan dan minum, dan yang paling bikin cemas adalah dia nggak mau menyusui anaknya. Pernah coba didekatin ke anaknya, tapi dia menggeram dan pergi menjauh. Saya coba mencari-cari dari berbagai sumber apakah ada yang pernah mengalami hal serupa, baik di luar maupun di dalam negeri, tapi tanda-tandanya nggak ada yang benar-benar mirip.

IMG_20180111_185652.jpg
Miu pascamelahirkan, mukanya berantakan

Ada beberapa permasalahan yang umum diderita induk kucing pascamelahirkan, seperti air susu nggak keluar, infeksi kelenjar susu, masih ada janin tertinggal di rahim, pendarahan berlebihan, dan lain sebagainya. Karena trauma dengan kematian kucing yang pernah saya pelihara sebelumnya dan takut terjadi apa-apa dengan Miu (dan jadinya apa-apa dengan anak-anaknya juga), saya dan suami membawa dia ke Dokter Osye di Myvets, Kemang. Kesimpulannya, Miu baik-baik saja, tapi ada sedikit infeksi karena pendarahan di vaginanya agak berbau dan menurut si dokter, Miu juga mengalami baby blues. Si dokter cukup shock ketika tahu Miu melahirkan lima anak.

“Yakin mau dirawat semua? Membesarkannya repot itu,” kata dokter. Yah, mau gimana lagi? Ngelahirinnya di rumah, Dok!

Karena baby blues, nggak mau makan, dan agak demam, terpaksa Miu harus dirawat di klinik untuk beberapa hari supaya bisa mendapatkan vitamin dan dicekokin makan oleh tim MyVets (believe me, I’ve tried but no luck! Susah banget dan Miu menggeram pas dipaksa. Kan takut digigit atau dicakar…). Lalu, mengikuti titah Dokter, terpaksalah saya dan suami harus menjadi “ibu angkat” kelima bayi kucing untuk sementara waktu karena Miu absen. Kata si Dokter (dan dari berbagai sumber yang saya baca), bayi kucing yang baru lahir itu sangat rentan mati karena:

  • Belum bisa mengatur suhu tubuh, jadi gampang kedinginan. Makanya mereka selalu di pelukan ibunya atau kalau tidur selalu berpelukan dengan saudara-saudaranya supaya saling menghangatkan.
  • Buta dan tuli karena matanya dan telinganya masih tertutup, jadi mereka sangat tergantung pada induknya, belum bisa makan dan buang air dengan alami.

Karena itulah, saya harus melakukan hal-hal yang pada umumnya dilakukan oleh induk kucing. Yang pertama adalah memberikan susu setiap 2-3 jam (termasuk di malam hari). Susu yang diberikan juga susu formula khusus untuk anak kucing, karena nggak boleh pakai susu sapi atau susu yang biasa diminum manusia soalnya kandungannya berbeda dan hasilnya mereka malah bisa mencret. Seriusan, memberi susunya benar-benar setiap 2-3 jam karena mereka butuh nutrisi. Macam bayi manusia pokoknya. Saya memberikan susu menggunakan suntikan tanpa jarum yang berukuran 1 ml. Susunya juga harus hangat, karena kalau nggak mereka bisa kedinginan. Yang kedua (dan yang nggak mau dilakukan suami saya, hehe) adalah mengelap bagian dubur bayi kucing dengan kapas/tisu yang sudah dibasuh air hangat untuk memicu dia pipis dan pup. Sebegitu nggak berdayanya mereka, sampai untuk buang air saja harus dibantu.

Membiasakan bayi kucing untuk menyusu dari suntikan juga jadi tantangan, karena mereka benar-benar nggak paham itu apa dan hanya tahu puting induknya. Jadi, awalnya susah banget. Bikin mereka minum 0.2 ml saja sudah perjuangan banget karena mereka meronta-ronta. Sudah gitu, karena badannya kan kecil dan ringkih banget, saya awalnya takut kalau terlalu keras memegang bisa remuk (tapi ternyata nggak sih, badannya cukup kuat kok). Cara menyusuinya pun nggak boleh diangkat terlentang tapi harus tetap menelungkup supaya nggak tersedak. Setelah 2-3 hari barulah mereka paham kalau yang saya lakukan itu adalah memberi susu kepada mereka. Ada jumlah tertentu yang harus diminum oleh bayi kucing tergantung dari usia mereka. Kalau mau tahu lengkapnya, silakan cek di sini: kittenlady.org/bottlefeeding.

Yang paling menyedihkan, ternyata memang fading kitten syndrome itu merupakan hal yang umum terjadi di antara bayi-bayi kucing. Dari lima bayi kucing, satu meninggal saat masih dalam perawatan saya dan suami. Entah kenapa, tiba-tiba saja si bayi kucing yang satu ini terlihat lusuh. Tadinya padahal dia yang paling bawel banget dan paling aktif, tapi kemudian berangsur-angsur kalem, sampai akhirnya menolak diberikan susu, tidur terus, menjadi tenang…lemas…lemah…dan hilang kesadaran.

Setelah tiga hari dirawat, akhirnya dokter menyimpulkan kalau Miu sudah boleh kembali ke rumah. Hari pertama kembali ke rumah, Miu tetap nggak mau berada di dekat anaknya. Dia terus berada di dekat pintu dan menggaruk-garuk pintu. Miu ingin pergi keluar, mungkin ingin mencari udara segar atau meninggalkan anak untuk selamanya. Karena sudah putus asa melihat tingkah Miu, saya dan suami memutuskan untuk mengizinkan Miu keluar dari rumah. Kami berpikir, ya sudah, toh dia sudah mendapatkan amunisi gizi dari klinik. Kalau memang mau pergi silakan, anakmu biar kami yang urus.

IMG_20180128_132750.jpg
Kari, satu-satunya bayi kucing yang tersisa

Untungnya, kepergian Miu hanya berlangsung sebentar saja, karena setelah itu dia kembali lagi ke rumah dan langsung memainkan perannya sebagai ibu! Aneh, tapi senang! The old Miu was here. Kami nggak lagi harus memberikan susu dan membersihkan kotoran anak-anaknya, karena semua peran itu sudah diambil alih kembali oleh Miu. Hingga tulisan ini selesai dibuat, anak Miu yang tersisa tinggal satu (saya dan suami beri dia nama Kari, karena dia kucing calico yang ketiga warnanya bercampur aduk seperti kuah kari). Tiga anak yang lain mati satu per satu saat dalam perawatan Miu. Saya nggak bisa mengawasi Miu dengan saksama karena dia memindahkan anak-anaknya ke kotak kardus besar berisi barang-barang yang sangat tertutup. Sesekali memang saya mencoba mengintip, tapi anak-anaknya berada terlalu jauh di dalam kardus jadi nggak kelihatan. Waktu itu saya dan suami mulai curiga karena suara-suara anaknya berkurang, mulai tercium bau nggak sedap dari dalam kardus, dan Miu lebih sering berada di luar kardus (mungkin karena nggak tahan dengan bau dari anaknya yang mati?). Setelah dibongkar dan anak-anak yang mati kami kubur, Miu kembali sering berada di samping Kari.

Kari saat ini sudah berumur sebulan lebih dan terlihat sehat. Sering berlarian ke sana ke mari dan bermain dengan Tori. Sekarang rumah saya semakin ramai dengan kehadiran tiga kucing! 🙂

A Trip to Cirebon Part 1: Tasting Some of the City’s Most-Loved Foods

Cirebon railway station

I’ve heard people said that Cirebon was one of the must visit destinations in Java Island, especially if you were searching for great local dishes. This small port city is only three hours from Jakarta by train and located in the middle of Jakarta and Yogyakarta. I’ve been to Yogyakarta so many times yet I hadn’t had a chance to visit this city until I and my husband decided to go to Cirebon on our way home to Jakarta from Yogyakarta last June.

I went to Cirebon by train from Yogyakarta for about four and a half hours. I bought two executive seats via KAI Access application with the price around USD 18 each. I’ve read somewhere that so many taxi drivers would offer you a ride once you stepped out of the Cirebon station and that was true. They offered me a ride with a fixed and expensive cost (no meter!) even though the distance from the station to my hotel was actually quite close. So I walked out a little bit out of the Cirebon station, found Bhinneka Taxi, and used them because they charged us based on the meter.

I spent three days in Cirebon and, in my opinion, that was enough because this city still needs a lot of improvement if they want to keep tourists stay longer. The first thing my husband and I searched for when we arrived in Cirebon was no other than its local cuisine. Here’s the summary of our culinary trip:

Food was great, but not that great. I was more exciting to find new local dishes in Yogyakarta rather than in Cirebon. As a first timer, of course I tried some dishes that have been recommended by my friends and most blogs/media.

Nasi Jamblang Ibu Nur

The stingray was delish!

Most blogs I read suggested their readers to try this place, so I tried. Nasi jamblang is actually white rice served on a teakwood leaf that you can combine with various side dishes. It is like a all-you-can-eat buffet, but in here is you-pay-what-you-eat buffet. The restaurant is very big and you have plenty of dishes to choose. I ate stingray fish, sautéed soybean, fritter, and sambal while my husband ate stingray fish, sautéed small squid, and fritter. Frankly speaking, the stingray fish was delicious but the rest was just okay. Unfortunately, my husband didn’t really like it because most of the dishes were spicy (he was sweating a lot!).

Address: Jl. Cangkring 2 No.34, Kejaksan

Nasi Jamblang Mang Dul

Another nasi jamblang

Since nasi jamblang is one of Cirebon’s specialties, I didn’t want to try just one place. As far as I know, Nasi Jamblang Mang Dul is known to be the second famous nasi jamblang in Cirebon, so I went to this place too! The place was smaller compared to Nasi Jamblang Ibu Nur, but to me it felt more local (not too touristy). The price was half cheaper than that of Nasi Jamblang Ibu Nur, unfortunately the side dishes were just so-so.

Address: Jl. DR. Cipto Mangunkusumo No.8, Pekiringan, Kesambi

Empal Gentong & Empal Asem H Apud

The highlight of my culinary trip

Empal gentong is one of Cirebon’s typical foods and I very recommend you to try this one. This dish is a coconut milk meat soup boiled in a huge pot we called gentong. I tried one of the most famous empal gentong restaurants in Cirebon named Empal Gentong & Empal Asem H Apud. Just like its name, I ordered empal gentong and empal asem (sour empal). The meat chunks were so soft like it melted in my mouth. The soups were very tasty and rich in flavor. I could eat a lot in here!

Address: Jl. Raya Ir. H. Djuanda No. 24, Battembat, Tengah Tani, Battembat, Tengah Tani

Panggang Babi Apun

Yummy durian, happy face!

Honestly, I couldn’t find other restaurants in Cirebon that served pork than Panggang Babi Apun. The restaurant was located just outside of Kanoman traditional market. I visited Panggang Babi Apun on the first day I arrived in Cirebon and the food was already sold out (it was around 3 or 4 pm). Luckily, there was a roadside durian stall right in front of Panggang Babi Apun to ease our disappointment. It was actually my husband’s idea since I’m not really fond of this fruit but apparently I quite liked it because the fruit chosen by the seller was quite sweet and very creamy.

The one and only pork dish in town

And wait, I didn’t give up just yet. On the next day I visited Panggang Babi Apun (at around 12.30 pm) and they were still open, yeay! I ordered their roasted pork and crispy skin pork with rice. It tasted delicious and the sauce was quite different than the ones I’ve tried in Jakarta. The owner also mentioned that she delivered the roasted pork to Jakarta and Bandung regularly. Wow, I wonder where…

Address: Jalan Kanoman No. 1, Kanoman, Pekalipan

Petik Merah Coffee Roaster

I never forget to try local coffee shops whenever I visited a place. It is a great way to spend an afternoon or evening after hopping tirelessly from one tourism spot to another. I went to Petik Merah Coffee Roaster and had a short chitchat with one of the baristas there. The coffee was good and the place was quite nice. It was quite difficult to find at the beginning because the place was located inside a cafe named Adipati. However, the barista told me that they were planning to move somewhere not too far in a few months.

Address: Jl. Wahidin No.81, Sukapura, Kejaksan

Baraja Coffee

I found this 24-hour coffee shop after chitchat with the Petik Merah’s barista. He said this coffee shop was one of the pioneers in Cirebon and very popular amongst young people. I was there at around 10 pm (I went there after paying a visit to Petik Merah Coffee Roaster because the location was near) and the space was still quite pack. My husband ordered black coffee with coffee beans from Garut and the barista made the coffee using V60 on our table. It was quite interesting to watch while waiting for him to brew the coffee.

Address: Jl. Tentara Pelajar No.107, Pekiringan, Kejaksan

There were actually two more coffee shops that I wanted to try but too bad they were closed during my visit to Cirebon. Just in case you’re interested, here they are:

  • Coffeelieur (located next to Cirebon railway station)
  • Blind Bottle Coffee Store (Ruko Harjamulia Indah Lt.2 Blok AU 6, Jalan Brigjen Haji Darsono, Tuk, Kedawung, Tuk, Kedawung)

Price wise most foods in Cirebon were quite affordable so you won’t spend so much. However, the variation was less compared to dishes you’ll find in Bali or even Yogyakarta. If you happen to be in Cirebon, just don’t forget to try its empal gentong. I’d like to taste this dish in any other restaurants in Cirebon, just to compare.

Oh, someday!

[REVIEW] A Solemn Pleasure to Imagine, Witness, and Write – Melissa Pritchard

Sebagian orang memperlakukan kegiatan menulis sebagai pekerjaan sehari-hari yang menghasilkan uang, sementara sebagian orang lainnya menganggap menulis adalah kegiatan yang dilakukan di waktu luang. Bagi seorang jurnalis yang juga penulis cerita pendek, novelis, dan penulis esai Melissa Pritchard, menulis adalah sebuah cara untuk berdoa dan berkomunikasi dengan sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri. Di bab “Spirit and Vision” dari buku A Solemn Pleasure, ia menulis:

But for many years, I’ve been moving inexorably toward the concept of literature as a sacred vocation, toward Yeats’ concept of artists as priests, as shamans, as soul transformers. And perhaps if you are, as I am, aspiring to be this kind of writer (and by this I do not eliminate humor, the power of wit and lightheartedness), you might consider yourselves, however briefly, in the category of holy persons, language saints, saints of storytelling.

Ia juga menambahkan:

Consider for a moment your work as analogous to intimate prayer in which you address God, and thereby divineness, in all matter.

What you have chosen is a profound vocation of healing, and your stories and poems are as sacraments, as visible blessings. Be at the heart and soul of your time, not resigned to what is safe or peripheral. Try to free yourself from attachment to results, to awards, publications, praise, to indifference, rejection, and misunderstanding. Immerse yourself in the common ground of the universe so that your true voice – not the egoistic voice that clamors vainly for power (for it will ruin you if you listen to it) – your authentic voice, supported by sacred reality, may be heard.

Membaca bab ini rasanya seperti diingatkan kalau menulis adalah sesuatu yang sakral. Terkadang, kita terlalu terbenam dalam rutinitas, apalagi mereka yang bekerja di bidang editorial atau tulis-menulis, sehingga kegiatan ini seringkali terasa hanya seperti pekerjaan, bukan hal yang dilakukan dengan penuh kesadaran dan hati.

Buku A Solemn Pleasure adalah buku yang menyenangkan untuk dibaca berulang kali. Esai yang ditulis Pritchard sangat beragam, seperti cerita tentang kesehariannya bersama seekor anjing teckel/dachshund di bab “Doxology” (salah satu esai favorit saya karena sebagai pencinta anjing yang tumbuh dengan dachshund, saya sangat bisa memahami apa yang ia tuliskan).

The Dachshund’s affectionate,
He wants to wed with you:
Lie down to sleep,
And he’s in bed with you.
Sit in a chair,
He’s there.
Depart,
You break his heart. (halaman 94, “Doxology”)

Ia juga bercerita panjang tentang caranya berduka ketika ibunya meninggal dunia di bab “A Solemn Pleasure”: dengan mengikuti retret penulis internasional di Edinburgh, meskipun awalnya ia mengikuti retret tersebut untuk menulis, tentu saja. Saya sangat kagum dengan kemampuan Pritchard melakukan observasi terhadap sekitarnya dan menuangkannya ke dalam tulisan. Ceritanya tentang kematian adalah kesedihan yang indah dan menenangkan.

According to Tibetan Buddhist teachings, the spirit has enough energy during the first hours and days after death to give signs to the living, but after that, the spirit moves on, signs fade, then are gone. Gan.

Satu esai lagi yang paling berkesan buat saya di buku ini adalah “Still, God Helps You: Memories of a Sundanese Child Slave” yang mengangkat tentang pengalaman Pritchard bertemu dan membantu William Mawwin, seorang pelajar di Phoenix yang berhasil selamat dari perbudakan di Sudan saat ia diculik ketika masih kecil dulu. Kalau ada hal yang bisa dipelajari dari cerita ini, adalah untuk nggak pernah menyerah dalam hidup.

Mawwin diculik saat ia masih kecil, mengalami penyiksaan mental dan fisik semasa ia menjadi budak dan berpindah-pindah majikan, berupaya melarikan diri berkali-kali hingga akhirnya berhasil mendaratkan kaki di Amerika Serikat dengan selamat meskipun satu lengan dan beberapa jari tangan adalah bayarannya. Tubuhnya adalah saksi betapa keras kehidupan Mawwin sebelum ia sampai di negeri Paman Sam. Dan Pritchard menyampaikan kisahnya dengan sangat luar biasa.

My life, it teaches me to watch, to not get upset or excited too much. When I’m upset, I’m only making it worse. I have to breathe every day, I have to think of the next day. If I get too excited, there is no one to rescue me, I am on my own. I have to think what is good and bad. I have to watch. Take my time. Imitate people when they aren’t watching. I learned that good people can turn to bad people. When someone wants something from you, they treat you nice until they get what they want. That is the reality, but I don’t want to treat people like that. I appreciate all the people who did good things to me. I even appreciate the ones who did bad things to me. I really wish I could sit down with every one of those people, show them my appreciation, show forgiveness. I wish I could do that.

Pritchard menyampaikan apa yang memang seharusnya disampaikan oleh buku ini: A Solemn Pleasure to Imagine, Witness, and Write.