Archive

Movies

2160

sumber: theguardian.com

Saat mendengar judul film The Ones Below, awalnya saya mengira kisahnya akan berhubungan dengan makhluk-makhluk yang tidak terlihat. Tapi, ternyata tidak demikian. The Ones Below merupakan film psychological thriller dengan adegan-adegan yang menurut saya cukup mengganggu tanpa visual yang sebenarnya mengganggu. Sebuah film yang membuat jantung deg-degan tanpa harus menghadirkan adegan yang mengagetkan, dan membuat saya menanti-nanti kapan film ini berakhir dengan bahagia (tapi teryata tidak).

Adegan film ini diawali dengan gambar janin yang dilihat melalui USG untuk membuka kisah selanjutnya yang tentu saja bercerita tentang seorang pasangan yang akan mempunyai anak. Adegan kemudian berpindah ke pasangan suami istri Kate (Clemensy Poesy) dan Justin (Stephen Campbell Moore) yang sedang mengendarai mobil menuju apartemen baru di mana mereka akan menempati ruangan di lantai atas. Latar belakang lagu bernuansa eerie cukup membuat saya tahu bahwa akan ada keganjilan-keganjilan yang mereka temui di apartemen tersebut.

Di apartemen barunya, Kate dan Justin bertetangga dengan pasangan suami istri Theresa (Laura Birn) dan Jon (David Morrissey) yang juga sedang menantikan kelahiran seorang anak. Justin yang sehari-hari bekerja sebagai jurnalis dan Jon yang bekerja sebagai bankir harus meninggalkan Kate dan Theresa di rumah saat jam kerja. Di saat itu juga Kate dan Theresa berkenalan kemudian pergi berenang bersama. Pertemanan mereka semakin dekat hingga suatu saat Kate mengundang Theresa dan Jon untuk makan malam di apartemennya yang selanjutnya berubah menjadi bencana.

(sumber: film.list.co.uk)

sumber: film.list.co.uk

Jon ternyata memiliki karakter yang sangat dingin dan terlihat mudah marah, sementara itu, Theresa, yang saat di meja makan bersama menolak untuk minum wine, diam-diam meminum bergelas-gelas wine saat Jon sedang ngobrol dengan Justin di ruangan lain. Usai makan malam, Theresa yang keluar pintu apartemen terlebih dahulu terjatuh di tangga dan mengakibatkan ia harus kehilangan calon buah hatinya.

Hubungan kedua pasangan suami istri ini lantas memburuk dan jadi saling menyalahkan. Theresa dan Jon memutuskan untuk pergi dari apartemen tersebut, meninggalkan Kate dan Justin. Namun, hal itu tidak berlangsung lama. Tidak lama setelah Kate melahirkan anak laki-laki, mereka kembali bertetangga dan memberikan ucapan selamat dengan tulus. Theresa sering memberikan hadiah untuk sang bayi dan menawarkan untuk mengasuhnya ketika Kate ingin pergi ke luar.

Kate mulai curiga ketika suatu saat alarm bayinya berbunyi dan ia mendengar suara nafas seseorang ketika ia dan Justin sedang berada di apartemen Theresa (Jon belum pulang dari kantor saat itu). Ternyata, seseorang menyalakan keran bak mandi di apartemen Kate hingga menggenang ke seluruh apartemen. Kate juga sempat melihat Theresa menyusui anaknya ketika dititipkan dan menemukan kamar rahasia di apartemen Theresa dan Jon yang berisi perlengkapan bayi dan foto anak laki-lakinya.

Seperti halnya cerita horor maupun thriller pada umumnya, pasangan dari tokoh yang panik pasti tidak memercayai apa yang diceritakan oleh tokoh yang panik tersebut, begitu juga dengan Justin. Ia hanya menganggap Kate sedang stres dan kehilangan akal karena tidak ada bukti yang terlihat secara kasat mata. Untungnya, film ini tidak berlanjut seperti film horor atau thriller yang biasanya itu. Meskipun tidak mempercayai istrinya, Justin menuruti keinginan Kate yang ingin pindah apartemen. Sayangnya, mereka harus menunggu dua hari untuk bisa pindah dan celah tersebut dimanfaatkan oleh Theresa dan Jon untuk merusak kehidupan mereka.

Saya berharap akhir yang happy ending karena sebenarnya saya tidak suka ketika bad guys harus menang, soalnya kan mereka sudah jahat sepanjang film! Tapi ya cerita ini akhirnya akan biasa saja kalau ending-nya bahagia. Akhirnya cukup bikin depresi, karena sebagai tokoh utama saya pasti akan berpikir, “kalau saja…” supaya tidak kejadian. Seperti apa trik Theresa dan Jon untuk menghancurkan kehidupan mereka, sebaiknya langsung ditonton sendiri saja supaya seru. Sangat licik dan tidak terduga.

Lagi-lagi, moral of the story-nya adalah: trust your spouse more than anyone in this world, unless you’re in an unhappy relationship.

I want to write a review about Hugo since the first time I saw the movie, which was about two months ago? Okay, so here we go…

To those of you who haven’t watched Hugo, I totally recommend you to watch it.

Long story short, this movie tells a story about an orphan boy, Hugo Cabret, who lived in the walls of a train station in Paris. He had an ability to fix clocks and other gadgets from his father and his uncle. When his father died, his uncle adopted him and took him to stay together at a train station and worked as the train-station-clocks-guardian (I named it by myself). However, there was one thing that connected him to his beloved dead father, a broken automaton (mechanical man) that couldn’t work without a special key. Hugo had to find the key in order to unlock the secret behind the automaton. He tried so hard to fix the automaton and find the key because he believed that his dead father left him a special message inside the automaton. During his adventures, Hugo met a shopkeeper, George Melies, who worked in the train station and his family. These people brought Hugo to a surprising connection between them, his dead father, and the automaton.

I am really really really in love with this movie. The story, the casts, the scenes, everything! To me, some of British actors lack in the connection between casts. I don’t know why but for me it is because of their peculiar accent. I can’t explain it very well, but their accent sometimes sounds too firm even during a sad scene, so it makes them lack of expression, occasionally. However, I am touched by some of the scenes from this movie, especially the last 30-minute where Hugo finally found the connection behind his dead father, the automaton, and George Melies.

And right after I watched the movie, I just realized that this movie is made based on Hugo Cabret book by Brian Selznick. Well, I was planning to buy the original English book but since my friend, Marcalais Fransisca, is the translator of the book, I bought the Indonesian version instead. 😀

The book itself is not as stunning as the movie. However, you can see Brian Selznick’s illustration throughout the book. He drew with pencil (I guess?) and it’s very beautiful, indeed. 🙂

Gambar dicolong dari sini

Dua minggu lalu kebetulan saya berkesempatan untuk datang ke acara pemutaran perdana film Postcards from the Zoo (Kebun Binatang) di Kineforum. Film ini merupakan film karya sutradara muda Indonesia, Edwin, yang berhasil dibawa ke Festival Film Berlin pada bulan Februari kemarin dan akan dibawa ke Festival Film Cannes bulan Mei mendatang.

Postcards from the Zoo menceritakan seorang perempuan muda bernama Lana (Ladya Cheryl) yang tinggal dan bekerja di Kebun Binatang Ragunan karena sewaktu kecil ia ditinggal oleh orang tuanya di kebun binatang tersebut. Entah ia memang sengaja ditinggal, atau hilang hingga tak bisa ditemukan, itu hanya sutradaranya yang tahu. 🙂

Sejak itu, Lana hidup bersama dengan para penjaga kebun binatang dan saling berdampingan dengan hewan-hewan di kebun binatang Ragunan. Di film ini, kita bisa melihat bagaimana para penjaga kebun binatang (termasuk Lana) berinteraksi dengan binatang-binatang yang ada. Gambar-gambar yang diambil pun sangat indah dan cukup detail, seperti judulnya, kita seperti mendapatkan kiriman banyak gambar mengenai kehidupan di dalam kebun binatang mulai dari jerapah, macan, kuda nil, gajah, dan lainnya. Untuk Lana, jerapah merupakan binatang yang sangat ia sukai. Di Ragunan sendiri hanya ada satu jerapah, padahal, seperti yang juga dibicarakan di film ini, di Afrika binatang ini hidup berkelompok. Dari kecil, seorang Lana mempunyai cita-cita untuk dapat memegang perut jerapah ini. Cita-cita yang sederhana, tapi sulit, soalnya kan badan jerapah tinggi. Nah, kira-kira kesampean ngga ya?

Suatu hari, Lana bertemu dengan seorang cowboy jago sulap (Nicholas Saputra) yang sering datang ke Ragunan hanya untuk keliling naik kuda. Perjumpaannya dengan si cowboy inilah yang membawa Lana mengetahui  kehidupan lain di luar kebun binatang. Lana kemudian sering pergi bersama si cowboy sebagai asisten sulap mulai dari atraksi pinggir jalan hingga di dalam tempat pijat plus plus.  Tapi kebersamaan mereka tidak berlangsung lama. Ada saat di mana si cowboy melakukan sulap membakar diri di dalam sebuah kotak kayu dan ia pun menghilang dari hadapan Lana. Sejak itu Lana seperti merasa ada yang hilang dan ia pun mulai bekerja sebagai tukang pijat di tempat pijat di mana mereka pernah melakukan atraksi sulap. Di sini kita bisa melihat banyak adegan di mana Lana berkali-kali kembali ke Ragunan, namun di keramaian tersebut yang ia rasakan hanyalah sepi.

Di film ini, kita dapat merasakan dengan jelas rasa kesepian Lana karena ditinggalkan oleh orang yang berarti baginya begitu ia terlepas dari tempat yang membesarkannya. Ceritanya memang agak lambat dan dialog yang ada pun tidak banyak, namun bagi penyuka visual dan pecinta binatang pasti akan terhibur dengan gambar-gambar indah seputar kebun binatang. Menurut saya, gambar-gambar yang ada cukup menggambarkan dialognya tanpa perlu diungkapkan. Oh, dan satu lagi, tentu saja kehadiran aktor Nicholas Saputra juga membuat saya betah nonton film ini. *okay, ini sangat personal* 😛

3.9/5

Two weeks ago I’ve got a chance to watch the premiere of Postcards from the Zoo (Kebun Binatang) movie at Kineforum. This movie is created by a young Indonesian director, Edwin, who managed to bring this movie to Berlinale last February and Festival de Cannes next May.

Postcards from the Zoo tells a story about a young woman, Lana (Ladya Cheryl) who lived and worked at Ragunan Zoo, Jakarta, as she was left there by her parents when she was a child. Whether her parents left her, or she was lost in the zoo, only the director knows. 🙂

Ever since, Lana lived together with the zookeepers and she lived side by side with the animals there. In this movie, we can see how the zookeepers (including Lana) interacted with the animals. The scenes are also very beautiful and quite details, just like its title, it is like we’ve received many pictures of the life in the zoo like giraffe, tigers, hippos, elephants, and others. To Lana, Giraffe was special. There is only one giraffe at Ragunan Zoo, whereas, just like the movie told us, in Africa this animal lives in groups. Ever since Lana was a little child, she wished to touch the giraffe’s belly. A simple yet difficult wish, as giraffe is very tall. Can she finally touch the belly?

One day, Lana met a magician-cowboy (Nicholas Saputra) whom came often to Ragunan just to ride a horse. This rendezvous has opened Lana to a life outside the zoo. Lana then started to work as a magician assistant from street attractions to attractions inside an adult massage place. However, it didn’t last for long. One time, when the cowboy did a fire attraction then all of the sudden he disappeared and never came back. Lana then felt like something is missing and she started working as a masseuse at the adult massage place where she and the cowboy ever performed. We can see that there were lots of scenes in which Lana kept coming back to Ragunan Zoo, however she felt an emptiness amongst the crowd.

In this movie, we can feel Lana’s loneliness of being left out by her closest person once she got out from the place that raised her. The pace was a little bit slow and there were not much of dialogues, however, the beautiful scenes around the zoo will entertain animal and visual lovers. In my opinion, the pictures itself drew the untold dialogues. And one more thing, of course Nicholas Saputra is one of the reasons why I like this movie. *okay, this is very personal* 😛

3.9/5