Archive

Movies

sumber: blogspot.com

Oke! Ini adalah ulasan yang sangat, sangat telat, tapi saya benar-benar merasa harus menuliskannya karena menurut saya film Call Me By Your Name adalah salah satu film terbaik yang pernah saya tonton. Hanya saja, sebelum menonton film ini ada baiknya kamu tanggalkan semua prasangka buruk. Meskipun Call Me By Your Name akan sangat kontroversial apabila diputar secara resmi di Indonesia, karena film ini bercerita seputar percintaan dua orang lelaki dan seperti yang kita semua tahu masih ada orang yang menganggap LGBT sebagai sebuah penyakit yang harus disembuhkan, kisah di dalam film ini benar-benar menyentuh hati. Semua adegannya terasa nggak ada yang sia-sia. Tiap adegan penting untuk adegan selanjutnya, atau nantinya.

Film Call Me By Your Name menceritakan tentang kisah-kasih seorang anak laki-laki remaja berusia 17 tahun, Elio (Timothee Chalamet), yang jatuh cinta dengan seorang mahasiswa S2 berusia 24 tahun, Oliver (Armie Hammer), yang datang untuk berguru kepada ayah Elio Mr Perlman (Michael Stuhlbarg), seorang profesor arkeologi, untuk keperluan tugas akademis sekaligus membantu pekerjaan ayahnya selama liburan musim panas. Jadi, hanya selama liburan musim panas ini keluarga Perlman tinggal di sebuah vila di sebuah kota kecil Crema di Italia, dan di saat itulah mereka menerima murid untuk belajar. Walaupun awalnya Elio nggak menyukai kehadiran Oliver yang mengambil kamarnya selama menginap sehingga dia harus mengungsi ke kamar sebelah, lambat laun Elio merasa nggak bisa nggak memperhatikan Oliver.

sumber: theatlantic.com

Elio sempat hanya mengamati gerak-gerik Oliver dari jauh, sambil tetap menjalankan aksi pendekatan kepada Marzia (Esther Garrel), karena menurutnya perilaku Oliver sebagai orang Amerika cukup kasar dan nggak sopan. Misalnya, Oliver nggak bisa meretakkan bagian atas cangkang telur setengah matang, pasti dia mengetuk dengan kencang dan akibatnya cangkang telur yang disajikan untuknya selalu hancur. Oliver juga selalu mengucapkan “Later!” ketika dia ingin beranjak pergi sendiri setelah makan atau kumpul bersama. Elio juga pernah ditinggalkan begitu saja oleh Oliver di tengah kota setelah dia menemani Oliver mengisi formulir untuk membuka rekening bank lokal, tentu dengan ucapan khasnya, “Later!”. Oliver juga memperlihatkan kedekatan dengan salah satu perempuan lokal yang dia temui, yang juga dikenal Elio karena mereka tinggal di kota kecil, jadi semua saling mengenal satu sama lain. Hal tersebut pastinya membuat Elio semakin sebal.

Tapi, lama-kelamaan permainan tarik ulur ini membuat Elio semakin penasaran. Elio dan Oliver sering berenang bersama, berjalan-jalan mengelilingi kota, saling menceritakan buku atau tulisan yang mereka baca, sampai Elio juga pernah menemani ayahnya dan Oliver untuk melihat temuan purbakala di pinggir pantai. Kedekatannya dengan Marzia nggak bisa menutupi rasa cinta yang tumbuh terhadap Oliver. Suatu hari saat berjalan-jalan mengelilingi kota bersama, Elio sempat mengungkapkan perasaannya terhadap Oliver. Setelahnya, ketika mereka sedang duduk-duduk di padang rumput, Oliver mencondongkan badannya untuk mencium Elio, yang disambut baik oleh Elio pastinya, tapi kemudian dihentikan secara cepat oleh Oliver karena dia nggak ingin hubungan mereka yang masih sebatas teman menjadi rusak.

sumber: thewrap.com

Kejadian tersebut ternyata menciptakan jarak di antara mereka. Oliver terlihat lebih sering pergi ke luar rumah dan kembali larut tengah malam. Hal ini membuat Elio menjadi tertekan, dia merasa Oliver menghindarinya. Karena nggak tahan dengan perlakuan tersebut, suatu malam Elio menyelipkan sebuah kertas berisi pesan untuk jangan menghindarinya di bawah pintu kamar Oliver, yang kemudian dibalas Oliver keesokan paginya dengan sebuah kertas bertuliskan ajakan bagi Elio untuk menemuinya saat tengah malam, dan hari itu Oliver pergi seharian dari pagi. Surat tersebut membuat Elio seharian seperti orang bingung. Tau kan rasanya waktu jaman remaja, kita baru PDKT atau “jadian” terus janjian kencan esok harinya? Ya gitu. Dia nggak sabar menunggu tengah malam tiba. Elio menghabiskan waktu dengan bercinta dengan Marzia, kemudian menemani ayah ibunya menjamu teman saat makan malam. Menjelang tengah malam, Oliver sudah pulang dan Elio pun pamit undur diri dari ayah ibunya untuk tidur. Saat itulah Elio dan Oliver akhirnya berjumpa di balkon kamar, kemudian keduanya masuk ke dalam kamar Oliver dan benar-benar saling jujur dengan dirinya sendiri, Mereka berdua bercinta dengan sangat mesra dan indah. Tentu saja adegan ini nggak ditunjukkan dengan vulgar, tapi ini menjadi salah satu adegan favorit saya. Chemistry keduanya sangat teras, mulai dari malu-malu ingin bersentuhan hingga akhirnya mereka menghabiskan malam bersama, ditambah lagi dengan secuplik bagian pembuka lagu “Mystery of Love” dari Sufjan Stevens yang diputar ketika Elio dan Oliver menuju kamar. Sangat indah!

Adegan keesokan paginya saat mereka berdua terbangun juga menjadi salah satu adegan favorit saya. Di pagi itu, Elio dan Oliver masih tiduran di ranjang, dan Oliver terbangun lebih dulu. Ia mengusap-usapkan tangannya ke lengan dan perut Elio dengan penuh cinta, sementara Elio yang kemudian terbangun memberikan ekspresi aneh dan langsung bangkit duduk. Ekspresi Oliver ketika melihat reaksi Elio di sini menurut saya sangat priceless. Seorang Amerika yang terlihat sangat percaya diri dari awal bisa terlihat begitu rapuh dan bingung hanya karena seorang anak remaja. Elio pun mengajak Oliver berenang dan terlihat menjaga jarak sesudahnya. Oliver yang bingung dengan perilaku Elio mencoba untuk tetap bersikap biasa. Setelah makan pagi bersama keluarga, Oliver pamit untuk pergi ke kota, yang kemudian disusul oleh Elio yang mengungkapkan perasaannya kalau ternyata dia nggak bisa berpisah darinya. Hubungan keduanya pun menjadi mesra kembali.

sumber: observer.com

Beberapa hari sebelum liburan musim panas berakhir, yang artinya Oliver harus kembali ke Amerika, Oliver mengatakan kepada Mr & Mrs Perlman kalau dia harus ke Bergamot untuk mengurus beberapa hal dan langsung balik ke Amerika selepasnya. Orang tua Elio, yang menyadari hubungan spesial mereka berdua, menawarkan Elio untuk menemani Oliver di Bergamot. Akhirnya, Elio dan Oliver menghabiskan hari-hari terakhir bersama di kota tersebut. Adegan Elio melepas kepergian Oliver di kota ini juga sungguh menyayat hati. Saya membayangkan seorang anak remaja yang baru saja menginjak usia dewasa dan jatuh cinta harus melepas kepergian orang yang dicintainya. Sedih kak! Setelah menatap nanar kereta yang diduduki Oliver hingga menghilang dari pandangan mata, Elio pun menghubungi ibu lewat telepon umum dan memintanya untuk menjemput. Sepanjang perjalanan di mobil, Elio nggak bisa menyembunyikan kesedihannya. Dia menangis. Ibunya memahami hal tersebut dan mengusap-usap rambut Elio. Ah!

Sesampainya di Crema, Marzia, yang mengetahui hubungan Elio dan Oliver, mengatakan kalau dia nggak marah terhadap Elio dan tetap ingin menjadi teman baiknya. Sementara itu, ketika di rumah, Elio mendapatkan sebuah ceramah yang sangat mengagumkan dari ayahnya. Intinya, Mr Perlman mengatakan kepada Elio bahwa sebuah perasaan itu harus benar-benar dirasakan. Sedihlah ketika merasa sedih, senanglah ketika merasa senang. Kalimat lengkapnya sebagai berikut:

When you least expect it, Nature has cunning ways of finding our weakest spot. Just remember: I am here. Right now you may not want to feel anything. Perhaps you never wished to feel anything. And perhaps it’s not to me that you’ll want to speak about these things. But feel something you obviously did.

You had a beautiful friendship. Maybe more than a friendship. And I envy you. In my place, most parents would hope the whole thing goes away, to pray that their sons land on their feet. But I am not such a parent. In your place, if there is pain, nurse it. And if there is a flame, don’t snuff it out. Don’t be brutal with it. We rip out so much of ourselves to be cured of things faster, that we go bankrupt by the age of thirty and have less to offer each time we start with someone new. But to make yourself feel nothing so as not to feel anything ― what a waste!

Nggak hanya Elio yang nangis mendengar ucapan ayahnya, saya juga! Aduh, entah sudah berapa kali film ini membuat saya menangis, tapi klimaksnya adalah bagian penutup yang bikin mbrebes mili. Jadi, setelah adegan monolog dari Mr Perlman, cerita dilanjutkan ke beberapa bulan sesudahnya di musim dingin, di mana keluarga Perlman kembali menghabiskan waktu di Crema untuk merayakan Hanukkah (saya belum bilang ya, mereka itu keluarga Yahudi, dan Oliver juga ada keturunan Yahudi). Suatu hari saat Elio pulang ke rumah, telepon rumah berbunyi. Mr & Mrs Perlman saat itu sedang sibuk di ruang kerja untuk memilih calon murid yang akan tinggal di rumah mereka lagi selama liburan musim panas nanti, jadi Elio-lah yang mengangkat telepon itu. Tentunya sudah diduga, telepon itu dari Oliver. Elio cukup terkejut mendengar suara Oliver, dia merasa merindukan suara itu. Yang nggak disangka-sangka, ternyata Oliver menelepon untuk memberi tahu kepada Elio (dan Mr & Mrs Perlman), kalau dia akan menikah di musim panas tahun depan. Oliver akhirnya membeberkan kepada Elio kalau dia sudah menjalin pacaran putus nyambung dengan calon istrinya sejak beberapa waktu lalu (termasuk saat dia sedang tinggal di Crema) dan orang tua Oliver masih berpikiran kolot, jadi nggak akan mengizinkannya untuk menjalin hubungan dengan sesama jenis.

sumber: nytimes.com

Usai menutup telepon, yang Elio lakukan adalah bergegas pergi ke ruang tengah kemudian terduduk di depan perapian. Diiringi dengan alunan lagu “Visions of Gideon” dari Sufjan Stevens, penonton diajak untuk melihat ekspresi kompleks Elio yang menitikkan air mata. Elio, kamu nggak sendirian. Aku juga ikut menangis bersamamu!

Astaga, ternyata panjang sekali ya. Mohon maaf apabila ceritanya jadi cukup detail. Saya bahkan menuliskan sinopsis di atas dengan tetap masih merasa sedih dan haru. Saya sudah menonton film Call Me By Your Name sebanyak 7 kali atau lebih sepertinya, dan nggak pernah merasa bosan. Saya sangat menyarankan kamu untuk menonton beberapa kali dan memperhatikan ekspresi setiap pemainnya, karena, benar deh, setiap adegan itu memiliki makna untuk menjelaskan adegan berikutnya. Nggak heran kalau film ini mendapatkan banyak nominasi Oscar, Golden Globe, dan acara penghargaan lainnya. Naskah film Call Me By Your Name, yang ditulis oleh James Ivory, bahkan sampai memenangkan penghargaan Oscar untuk kategori adaptasi naskah terbaik!

Film yang disutradarai Luca Guadagnino ini memang nggak menjelaskan secara gamblang tentang kompleksnya karakter masing-masing tokoh. Yang dilakukan justru gerakan atau sedikit gestur untuk menggambarkan apa yang sedang dipikirkan oleh tokoh tersebut. Bahkan, semua properti yang digunakan dalam film ini, termasuk buku-buku yang ditampilkan serta gaya berpakaian setiap tokoh, memiliki maksudnya masing-masing. Ini yang menurut saya nggak ada di sebagian besar film Indonesia. Terkadang film Indonesia terlalu menjelaskan secara naratif sehingga penonton nggak diajak untuk berpikir, hanya dipaparkan secara nyata tentang kejadian yang sedang berlangsung. Bahkan, kadangkala sampai perlu dijelaskan oleh tokoh yang bersangkutan. Bukankah lebih baik kalau kita bisa menginterpretasikan sebuah adegan dengan cara yang berbeda-beda?

Film Call Me By Your Name diangkat dari sebuah buku karya Andre Aciman. Saya juga merekomendasikan kamu untuk membaca bukunya setelah menonton filmnya. Atau, kalau kamu suka mendengarkan audiobook, coba deh unduh audiobook-nya di audible.com, karena yang menarasikan ceritanya itu Armie Hammer sendiri! Kalau sebagian besar film yang diadaptasi dari buku itu biasanya hasilnya nggak sebagus buku aslinya, buat saya hal ini nggak berlaku di sini. Baik film dan bukunya, keduanya sama-sama patut diacungi jempol dan justru saling melengkapi satu sama lain. Karena filmnya nggak menjelaskan secara naratif isi otak masing-masing karakter, maka ketika membaca bukunya kamu (seenggaknya) bisa mengetahui dengan jelas isi otak Elio. Buku Call Me By Your Name diceritakan dari sudut pandang Elio, dan di buku ini kamu bisa merasakan betapa galaunya Elio akan Oliver. Pokoknya benar-benar kegalauan anak remaja yang jatuh cinta deh! Seolah isi otak Elio itu nggak bisa berhenti memikirkan tentang Oliver setiap saat, setiap waktu.

Buat yang mau menonton film ini secara legal, kamu bisa mengunduhnya via HOOQ lho! Sebenarnya saya juga nggak menyangka film ini bisa ada di HOOQ. Two thumbs up!

Advertisements
2160

sumber: theguardian.com

Saat mendengar judul film The Ones Below, awalnya saya mengira kisahnya akan berhubungan dengan makhluk-makhluk yang tidak terlihat. Tapi, ternyata tidak demikian. The Ones Below merupakan film psychological thriller dengan adegan-adegan yang menurut saya cukup mengganggu tanpa visual yang sebenarnya mengganggu. Sebuah film yang membuat jantung deg-degan tanpa harus menghadirkan adegan yang mengagetkan, dan membuat saya menanti-nanti kapan film ini berakhir dengan bahagia (tapi teryata tidak).

Adegan film ini diawali dengan gambar janin yang dilihat melalui USG untuk membuka kisah selanjutnya yang tentu saja bercerita tentang seorang pasangan yang akan mempunyai anak. Adegan kemudian berpindah ke pasangan suami istri Kate (Clemensy Poesy) dan Justin (Stephen Campbell Moore) yang sedang mengendarai mobil menuju apartemen baru di mana mereka akan menempati ruangan di lantai atas. Latar belakang lagu bernuansa eerie cukup membuat saya tahu bahwa akan ada keganjilan-keganjilan yang mereka temui di apartemen tersebut.

Di apartemen barunya, Kate dan Justin bertetangga dengan pasangan suami istri Theresa (Laura Birn) dan Jon (David Morrissey) yang juga sedang menantikan kelahiran seorang anak. Justin yang sehari-hari bekerja sebagai jurnalis dan Jon yang bekerja sebagai bankir harus meninggalkan Kate dan Theresa di rumah saat jam kerja. Di saat itu juga Kate dan Theresa berkenalan kemudian pergi berenang bersama. Pertemanan mereka semakin dekat hingga suatu saat Kate mengundang Theresa dan Jon untuk makan malam di apartemennya yang selanjutnya berubah menjadi bencana.

(sumber: film.list.co.uk)

sumber: film.list.co.uk

Jon ternyata memiliki karakter yang sangat dingin dan terlihat mudah marah, sementara itu, Theresa, yang saat di meja makan bersama menolak untuk minum wine, diam-diam meminum bergelas-gelas wine saat Jon sedang ngobrol dengan Justin di ruangan lain. Usai makan malam, Theresa yang keluar pintu apartemen terlebih dahulu terjatuh di tangga dan mengakibatkan ia harus kehilangan calon buah hatinya.

Hubungan kedua pasangan suami istri ini lantas memburuk dan jadi saling menyalahkan. Theresa dan Jon memutuskan untuk pergi dari apartemen tersebut, meninggalkan Kate dan Justin. Namun, hal itu tidak berlangsung lama. Tidak lama setelah Kate melahirkan anak laki-laki, mereka kembali bertetangga dan memberikan ucapan selamat dengan tulus. Theresa sering memberikan hadiah untuk sang bayi dan menawarkan untuk mengasuhnya ketika Kate ingin pergi ke luar.

Kate mulai curiga ketika suatu saat alarm bayinya berbunyi dan ia mendengar suara nafas seseorang ketika ia dan Justin sedang berada di apartemen Theresa (Jon belum pulang dari kantor saat itu). Ternyata, seseorang menyalakan keran bak mandi di apartemen Kate hingga menggenang ke seluruh apartemen. Kate juga sempat melihat Theresa menyusui anaknya ketika dititipkan dan menemukan kamar rahasia di apartemen Theresa dan Jon yang berisi perlengkapan bayi dan foto anak laki-lakinya.

Seperti halnya cerita horor maupun thriller pada umumnya, pasangan dari tokoh yang panik pasti tidak memercayai apa yang diceritakan oleh tokoh yang panik tersebut, begitu juga dengan Justin. Ia hanya menganggap Kate sedang stres dan kehilangan akal karena tidak ada bukti yang terlihat secara kasat mata. Untungnya, film ini tidak berlanjut seperti film horor atau thriller yang biasanya itu. Meskipun tidak mempercayai istrinya, Justin menuruti keinginan Kate yang ingin pindah apartemen. Sayangnya, mereka harus menunggu dua hari untuk bisa pindah dan celah tersebut dimanfaatkan oleh Theresa dan Jon untuk merusak kehidupan mereka.

Saya berharap akhir yang happy ending karena sebenarnya saya tidak suka ketika bad guys harus menang, soalnya kan mereka sudah jahat sepanjang film! Tapi ya cerita ini akhirnya akan biasa saja kalau ending-nya bahagia. Akhirnya cukup bikin depresi, karena sebagai tokoh utama saya pasti akan berpikir, “kalau saja…” supaya tidak kejadian. Seperti apa trik Theresa dan Jon untuk menghancurkan kehidupan mereka, sebaiknya langsung ditonton sendiri saja supaya seru. Sangat licik dan tidak terduga.

Lagi-lagi, moral of the story-nya adalah: trust your spouse more than anyone in this world, unless you’re in an unhappy relationship.

I want to write a review about Hugo since the first time I saw the movie, which was about two months ago? Okay, so here we go…

To those of you who haven’t watched Hugo, I totally recommend you to watch it.

Long story short, this movie tells a story about an orphan boy, Hugo Cabret, who lived in the walls of a train station in Paris. He had an ability to fix clocks and other gadgets from his father and his uncle. When his father died, his uncle adopted him and took him to stay together at a train station and worked as the train-station-clocks-guardian (I named it by myself). However, there was one thing that connected him to his beloved dead father, a broken automaton (mechanical man) that couldn’t work without a special key. Hugo had to find the key in order to unlock the secret behind the automaton. He tried so hard to fix the automaton and find the key because he believed that his dead father left him a special message inside the automaton. During his adventures, Hugo met a shopkeeper, George Melies, who worked in the train station and his family. These people brought Hugo to a surprising connection between them, his dead father, and the automaton.

I am really really really in love with this movie. The story, the casts, the scenes, everything! To me, some of British actors lack in the connection between casts. I don’t know why but for me it is because of their peculiar accent. I can’t explain it very well, but their accent sometimes sounds too firm even during a sad scene, so it makes them lack of expression, occasionally. However, I am touched by some of the scenes from this movie, especially the last 30-minute where Hugo finally found the connection behind his dead father, the automaton, and George Melies.

And right after I watched the movie, I just realized that this movie is made based on Hugo Cabret book by Brian Selznick. Well, I was planning to buy the original English book but since my friend, Marcalais Fransisca, is the translator of the book, I bought the Indonesian version instead. 😀

The book itself is not as stunning as the movie. However, you can see Brian Selznick’s illustration throughout the book. He drew with pencil (I guess?) and it’s very beautiful, indeed. 🙂

Gambar dicolong dari sini

Dua minggu lalu kebetulan saya berkesempatan untuk datang ke acara pemutaran perdana film Postcards from the Zoo (Kebun Binatang) di Kineforum. Film ini merupakan film karya sutradara muda Indonesia, Edwin, yang berhasil dibawa ke Festival Film Berlin pada bulan Februari kemarin dan akan dibawa ke Festival Film Cannes bulan Mei mendatang.

Postcards from the Zoo menceritakan seorang perempuan muda bernama Lana (Ladya Cheryl) yang tinggal dan bekerja di Kebun Binatang Ragunan karena sewaktu kecil ia ditinggal oleh orang tuanya di kebun binatang tersebut. Entah ia memang sengaja ditinggal, atau hilang hingga tak bisa ditemukan, itu hanya sutradaranya yang tahu. 🙂

Sejak itu, Lana hidup bersama dengan para penjaga kebun binatang dan saling berdampingan dengan hewan-hewan di kebun binatang Ragunan. Di film ini, kita bisa melihat bagaimana para penjaga kebun binatang (termasuk Lana) berinteraksi dengan binatang-binatang yang ada. Gambar-gambar yang diambil pun sangat indah dan cukup detail, seperti judulnya, kita seperti mendapatkan kiriman banyak gambar mengenai kehidupan di dalam kebun binatang mulai dari jerapah, macan, kuda nil, gajah, dan lainnya. Untuk Lana, jerapah merupakan binatang yang sangat ia sukai. Di Ragunan sendiri hanya ada satu jerapah, padahal, seperti yang juga dibicarakan di film ini, di Afrika binatang ini hidup berkelompok. Dari kecil, seorang Lana mempunyai cita-cita untuk dapat memegang perut jerapah ini. Cita-cita yang sederhana, tapi sulit, soalnya kan badan jerapah tinggi. Nah, kira-kira kesampean ngga ya?

Suatu hari, Lana bertemu dengan seorang cowboy jago sulap (Nicholas Saputra) yang sering datang ke Ragunan hanya untuk keliling naik kuda. Perjumpaannya dengan si cowboy inilah yang membawa Lana mengetahui  kehidupan lain di luar kebun binatang. Lana kemudian sering pergi bersama si cowboy sebagai asisten sulap mulai dari atraksi pinggir jalan hingga di dalam tempat pijat plus plus.  Tapi kebersamaan mereka tidak berlangsung lama. Ada saat di mana si cowboy melakukan sulap membakar diri di dalam sebuah kotak kayu dan ia pun menghilang dari hadapan Lana. Sejak itu Lana seperti merasa ada yang hilang dan ia pun mulai bekerja sebagai tukang pijat di tempat pijat di mana mereka pernah melakukan atraksi sulap. Di sini kita bisa melihat banyak adegan di mana Lana berkali-kali kembali ke Ragunan, namun di keramaian tersebut yang ia rasakan hanyalah sepi.

Di film ini, kita dapat merasakan dengan jelas rasa kesepian Lana karena ditinggalkan oleh orang yang berarti baginya begitu ia terlepas dari tempat yang membesarkannya. Ceritanya memang agak lambat dan dialog yang ada pun tidak banyak, namun bagi penyuka visual dan pecinta binatang pasti akan terhibur dengan gambar-gambar indah seputar kebun binatang. Menurut saya, gambar-gambar yang ada cukup menggambarkan dialognya tanpa perlu diungkapkan. Oh, dan satu lagi, tentu saja kehadiran aktor Nicholas Saputra juga membuat saya betah nonton film ini. *okay, ini sangat personal* 😛

3.9/5

Two weeks ago I’ve got a chance to watch the premiere of Postcards from the Zoo (Kebun Binatang) movie at Kineforum. This movie is created by a young Indonesian director, Edwin, who managed to bring this movie to Berlinale last February and Festival de Cannes next May.

Postcards from the Zoo tells a story about a young woman, Lana (Ladya Cheryl) who lived and worked at Ragunan Zoo, Jakarta, as she was left there by her parents when she was a child. Whether her parents left her, or she was lost in the zoo, only the director knows. 🙂

Ever since, Lana lived together with the zookeepers and she lived side by side with the animals there. In this movie, we can see how the zookeepers (including Lana) interacted with the animals. The scenes are also very beautiful and quite details, just like its title, it is like we’ve received many pictures of the life in the zoo like giraffe, tigers, hippos, elephants, and others. To Lana, Giraffe was special. There is only one giraffe at Ragunan Zoo, whereas, just like the movie told us, in Africa this animal lives in groups. Ever since Lana was a little child, she wished to touch the giraffe’s belly. A simple yet difficult wish, as giraffe is very tall. Can she finally touch the belly?

One day, Lana met a magician-cowboy (Nicholas Saputra) whom came often to Ragunan just to ride a horse. This rendezvous has opened Lana to a life outside the zoo. Lana then started to work as a magician assistant from street attractions to attractions inside an adult massage place. However, it didn’t last for long. One time, when the cowboy did a fire attraction then all of the sudden he disappeared and never came back. Lana then felt like something is missing and she started working as a masseuse at the adult massage place where she and the cowboy ever performed. We can see that there were lots of scenes in which Lana kept coming back to Ragunan Zoo, however she felt an emptiness amongst the crowd.

In this movie, we can feel Lana’s loneliness of being left out by her closest person once she got out from the place that raised her. The pace was a little bit slow and there were not much of dialogues, however, the beautiful scenes around the zoo will entertain animal and visual lovers. In my opinion, the pictures itself drew the untold dialogues. And one more thing, of course Nicholas Saputra is one of the reasons why I like this movie. *okay, this is very personal* 😛

3.9/5