On Finding Yourself

ea8cf249ea517ef23c4e42081e4241d8
source: sublimespy

Few weeks ago, a friend of mine told me that she was facing the most difficult phase of her relationship. She and her boyfriend had been together for around three years, but, long story short, apparently things just didn’t go as planned, reality bit, and suddenly all those lovey-dovey feelings were disappeared. She tried so hard to hold on and asked for an advice from me and my husband, RM.

I and RM knew their relationship from the very beginning, so it wasn’t that hard to conclude that she needed some time to herself, which meant she needed to get out of the relationship. All this time, she had been trying to make the relationship work without thinking of what she actually wanted. As a result, she often made an excuse that led to another excuse, and another one, and so on. As much as we wanted them to be together forever (because both were, and still are, our lovely friends), we thought it was best for them to continue their own lives separately.

“Use this moment as an opportunity for you to find yourself, to know what you really want and what you want to do with your life. Don’t look for a rebound or someone else that may distract you from it. Just take time for reflection, because sometimes being honest to ourselves is the hardest thing to do,” RM said to her. OMG…did I just make RM sound like the wisest man in the world?!

But he was right.

BEING HONEST TO YOURSELF IS THE HARDEST.

I don’t know about you, but I’ve been there, done that, and I’m still doing it over and over again. There were times when I tried to like things other people thought were cool, such as movies, music, the latest trends, etc. Or, on the contrary, I tried to become one of those anti-mainstream people who didn’t belong to the mainstream, but I actually didn’t have that anti-mainstream soul in some aspects of life. Thanks to RM, I find Justin Bieber’s songs entertaining because it’s so easy listening. Oh, I also like reading news about the royal newlyweds, Megan Markle and Prince Harry. It’s not a crime, right? Right?!

“The heart wants what it wants – or else it does not care.” – Emily Dickinson.

After all, it is me who decide what to like and what not to like, and I’m still learning not to let other people’s opinions guide my decision.

EXPRESSING YOURSELF IS ANOTHER CHALLENGE.

The next challenge is how to get better at expressing thoughts and emotions. As someone who is lacking of facial expression (I think the level of my facial expression is similar to that of Hila Klein from H3H3 productions) and interest in talking out loud about myself, I sometimes find it hard to tell my honest opinions to the world. It is very comforting to be a person who acts like she is outside of a circle; hence she knows nothing, and, owing to her curiosity, she keeps questioning things until she gets the satisfying answers, but then she keeps it for herself because she feels like she is not eligible to share that information. There are a lot of smarter people out there who should be doing that, right?

Then again… I wonder. Isn’t knowledge sharing supposed to be important in the internet age? Anyone is allowed to share anything. By anyone, I also mean irresponsible people who rarely check and double-check their news and  sources before they hit the tweet/post button. If the internet is dominated by that kind of people because those more responsible people only become passive viewers who occasionally whine but do nothing, things will not get better.

I listened to an episode of Ted Radio Hour by NPR about some TED speakers who were able to step out of their comfort zone, including Tim Ferris, Tanya Menon, Luvvie Ajayi, and Dan Palotta. It’s worth your time. Check it out: Ted Radio Hour by NPR: Comfort Zone.

It’s not easy, but doable. Time won’t wait, so, why don’t we start immediately?

Advertisements

Menjadi Induk Kucing untuk Beberapa Hari

Pada suatu hari di pertengahan tahun 2016, saya, yang seorang dog person, tidak menyangka kalau ternyata bisa juga menjadi cat person. Saya nggak benci kucing. Saya suka melihat gambar-gambar kucing yang lucu dan menggemaskan, tapi nggak pernah terpikir sama sekali untuk memelihara hewan yang konon kabarnya punya pemikiran sendiri dan asik sendiri tanpa melibatkan pemiliknya.

Ternyata saya salah!

Karakter kucing memang berbeda dengan anjing, dan sensasi memelihara kucing juga sangat berbeda. Lebih menantang dan banyak kejutan lucu. Mungkin seperti itu. Tapi soal karakter kucing ini mungkin akan saya ceritakan di tulisan yang berbeda saja, karena di sini saya ingin menceritakan pengalaman menjadi induk dari bayi-bayi kucing yang baru lahir (baru dua hari lahir!) selama beberapa hari karena induk kucingnya sakit.

IMG_20171219_094153.jpg
Miu, si kucing tuxedo

Jadi, sejak sekitar tahun 2016 saya dan suami memelihara seekor kucing tuxedo, tapi dia nggak tinggal di dalam rumah. Namanya Miu. Hampir setiap hari Miu datang ke rumah untuk minta makan dan tidur siang sejenak, terkadang malah suka menginap di kamar sampai keesokan harinya. Namun, sebagian besar harinya dihabiskan dengan jalan-jalan di luar. Pernah saya taruh di dalam rumah, tapi hanya kuat beberapa jam dia pasti sudah mengorek-ngorek pintu rumah dan berisik banget minta keluar. Sebagai kucing betina yang tinggal di luar, Miu nggak luput dari sasaran kucing-kucing jantan di musim kawin. Seingat saya, dari pertama ketemu dia sampai awal tahun 2018 ini, Miu sudah hamil lima kali. Itu juga yang saya ingat, nggak tau deh kalau ada yang kelupaan.

Saya nggak ingat kapan kehamilan pertama Miu, pokoknya suatu hari dia sudah membawa satu anaknya keluar main. Karena waktu itu Miu belum jinak-jinak amat, anaknya juga nggak jinak dan mereka nggak dekat dengan saya sama sekali. Suatu saat, anaknya hilang dari pandangan dan nggak kembali. Mungkin tertabrak, mungkin diadopsi orang, atau mati entah kenapa. Proses melahirkan kehamilan kedua juga nggak saya ketahui. Saya cuma tahu perutnya sudah kempis, tapi anaknya nggak pernah terlihat. Yang ketiga, dia melahirkan di langit-langit di atas kamar saya, jadi saya dengar kalau anaknya bunyi-bunyi. Satu hari, Miu membawa anaknya yang mungkin masih berusia 2-3 mingguan ke saya. Hanya itu satu anak yang tersisa, tapi sayang keesokan harinya anaknya mendadak mati (baru di kemudian hari saya mengetahui ada istilah fading kitten syndrome, kematian bayi kucing secara mendadak). Kehamilan keempat, Miu memperlihatkan dua anaknya ketika mereka mencapai usia sekitar 1-2 bulanan. Saya dan suami sepakat menamakan mereka Zorro dan Tori (Zorro, karena wajahnya seperti pakai topeng tokoh Zorro, dan Tori, karena kuda yang sering bersama Zorro itu Tornado, biar imut disingkat jadi Tori). Akhirnya, Tori lebih sering mengikuti Miu ke rumah dan dipelihara hingga kini sudah berusia mungkin sekitar 5 bulan, sementara Zorro hilang entah ke mana. Huhu…

IMG-20180203-WA0007.jpg
Tori, anak Miu yang sampai sekarang tinggal di rumah

Nah, kehamilan kelima ini yang cukup spektakuler, karena dia sudah berani untuk melahirkan di ruang kerja (studio) saya dan suami! Pada malam mau melahirkan, dia masuk ke studio dan “bersarang” di dalam kotak kardus besar yang isinya penuh dan lumayan tertutup, mungkin sekitar 2-3 jam, sampai saya akhirnya menyadari kalau dia akan segera melahirkan. Seperti yang banyak ditemukan di internet, ciri-ciri utama kucing yang mau melahirkan adalah:

  • “Bersarang” sudah menjadi tanda kalau kucing akan segera melahirkan (dia benar-benar nggak keluar dari dalam sarangnya)
  • Nafas tersengal-sengal, iramanya cepat sekali. Lidahnya keluar sedikit dan seperti ngos-ngosan
  • Dari putingnya juga bisa mulai keluar cairan susu (yang ini saya nggak lihat di Miu)

(Lama setelahnya, saya dan suami membongkar kardus besar tersebut dan menemukan bercak-bercak darah. Yah, ini juga tanda-tanda yang saya nggak lihat waktu itu)

Melihat tanda-tanda aneh itu, saya kemudian menyiapkan kardus lebih kecil dan lebih bersih yang dialasi dengan baju-baju bekas, supaya dia bisa melahirkan di tempat yang lebih proper. Tapi, karena nggak ada perkembangan apapun selama beberapa waktu, akhirnya saya dan suami memutuskan untuk masak saja di dapur. Begitu kami kembali, Miu sudah keluar dari kardus besar dan berada di kardus kecil. Saat saya mengintip, dia sudah melahirkan anak pertama! Cukup shock, karena ini pertama kali saya melihat kucing melahirkan secara langsung dan ternyata bersimbah darah! Sudah gitu, saya melihat seperti ada gumpalan darah besar di lantai, yang kemudian langsung dilahap dan dikunyah oleh Miu. Eww… Ternyata itu plasenta bayi kucing.

DSC00801_1.JPG
Lima bayi kucing yang dilahirkan Miu, 2 tuxedo, 3 calico

Jadi, bayi kucing yang baru keluar itu terbungkus oleh plasenta dan nggak bisa bernafas. Induk kucing harus menjilati bayi itu sampai plasentanya lepas sepenuhnya dan kemudian dimakan untuk menghilangkan jejak (ini sepertinya kebiasaan alami dari kucing-kucing di alam liar yang banyak diincar predator). Long story short, Miu melahirkan lima anak dengan interval anak pertama ke anak kedua itu sekitar 12 jam, kemudian setelah anak kedua lahir, hanya dalam beberapa menit beruntun lahir sampai anak kelima (kebetulan kelahiran anak ketiga sampai kelima saya nggak lihat karena harus ngantor, jadi suami yang laporan).

Cerita belum berakhir dengan bahagia sampai di situ ya.

Satu hari setelah melahirkan, Miu menunjukkan tanda-tanda aneh. Dia hanya duduk diam saja, terlihat lusuh, badannya benar-benar kaku, kalau jalan terpatah-patah (mungkin karena pendarahan belum selesai, jadi masih sakit), nggak mau makan dan minum, dan yang paling bikin cemas adalah dia nggak mau menyusui anaknya. Pernah coba didekatin ke anaknya, tapi dia menggeram dan pergi menjauh. Saya coba mencari-cari dari berbagai sumber apakah ada yang pernah mengalami hal serupa, baik di luar maupun di dalam negeri, tapi tanda-tandanya nggak ada yang benar-benar mirip.

IMG_20180111_185652.jpg
Miu pascamelahirkan, mukanya berantakan

Ada beberapa permasalahan yang umum diderita induk kucing pascamelahirkan, seperti air susu nggak keluar, infeksi kelenjar susu, masih ada janin tertinggal di rahim, pendarahan berlebihan, dan lain sebagainya. Karena trauma dengan kematian kucing yang pernah saya pelihara sebelumnya dan takut terjadi apa-apa dengan Miu (dan jadinya apa-apa dengan anak-anaknya juga), saya dan suami membawa dia ke Dokter Osye di Myvets, Kemang. Kesimpulannya, Miu baik-baik saja, tapi ada sedikit infeksi karena pendarahan di vaginanya agak berbau dan menurut si dokter, Miu juga mengalami baby blues. Si dokter cukup shock ketika tahu Miu melahirkan lima anak.

“Yakin mau dirawat semua? Membesarkannya repot itu,” kata dokter. Yah, mau gimana lagi? Ngelahirinnya di rumah, Dok!

Karena baby blues, nggak mau makan, dan agak demam, terpaksa Miu harus dirawat di klinik untuk beberapa hari supaya bisa mendapatkan vitamin dan dicekokin makan oleh tim MyVets (believe me, I’ve tried but no luck! Susah banget dan Miu menggeram pas dipaksa. Kan takut digigit atau dicakar…). Lalu, mengikuti titah Dokter, terpaksalah saya dan suami harus menjadi “ibu angkat” kelima bayi kucing untuk sementara waktu karena Miu absen. Kata si Dokter (dan dari berbagai sumber yang saya baca), bayi kucing yang baru lahir itu sangat rentan mati karena:

  • Belum bisa mengatur suhu tubuh, jadi gampang kedinginan. Makanya mereka selalu di pelukan ibunya atau kalau tidur selalu berpelukan dengan saudara-saudaranya supaya saling menghangatkan.
  • Buta dan tuli karena matanya dan telinganya masih tertutup, jadi mereka sangat tergantung pada induknya, belum bisa makan dan buang air dengan alami.

Karena itulah, saya harus melakukan hal-hal yang pada umumnya dilakukan oleh induk kucing. Yang pertama adalah memberikan susu setiap 2-3 jam (termasuk di malam hari). Susu yang diberikan juga susu formula khusus untuk anak kucing, karena nggak boleh pakai susu sapi atau susu yang biasa diminum manusia soalnya kandungannya berbeda dan hasilnya mereka malah bisa mencret. Seriusan, memberi susunya benar-benar setiap 2-3 jam karena mereka butuh nutrisi. Macam bayi manusia pokoknya. Saya memberikan susu menggunakan suntikan tanpa jarum yang berukuran 1 ml. Susunya juga harus hangat, karena kalau nggak mereka bisa kedinginan. Yang kedua (dan yang nggak mau dilakukan suami saya, hehe) adalah mengelap bagian dubur bayi kucing dengan kapas/tisu yang sudah dibasuh air hangat untuk memicu dia pipis dan pup. Sebegitu nggak berdayanya mereka, sampai untuk buang air saja harus dibantu.

Membiasakan bayi kucing untuk menyusu dari suntikan juga jadi tantangan, karena mereka benar-benar nggak paham itu apa dan hanya tahu puting induknya. Jadi, awalnya susah banget. Bikin mereka minum 0.2 ml saja sudah perjuangan banget karena mereka meronta-ronta. Sudah gitu, karena badannya kan kecil dan ringkih banget, saya awalnya takut kalau terlalu keras memegang bisa remuk (tapi ternyata nggak sih, badannya cukup kuat kok). Cara menyusuinya pun nggak boleh diangkat terlentang tapi harus tetap menelungkup supaya nggak tersedak. Setelah 2-3 hari barulah mereka paham kalau yang saya lakukan itu adalah memberi susu kepada mereka. Ada jumlah tertentu yang harus diminum oleh bayi kucing tergantung dari usia mereka. Kalau mau tahu lengkapnya, silakan cek di sini: kittenlady.org/bottlefeeding.

Yang paling menyedihkan, ternyata memang fading kitten syndrome itu merupakan hal yang umum terjadi di antara bayi-bayi kucing. Dari lima bayi kucing, satu meninggal saat masih dalam perawatan saya dan suami. Entah kenapa, tiba-tiba saja si bayi kucing yang satu ini terlihat lusuh. Tadinya padahal dia yang paling bawel banget dan paling aktif, tapi kemudian berangsur-angsur kalem, sampai akhirnya menolak diberikan susu, tidur terus, menjadi tenang…lemas…lemah…dan hilang kesadaran.

Setelah tiga hari dirawat, akhirnya dokter menyimpulkan kalau Miu sudah boleh kembali ke rumah. Hari pertama kembali ke rumah, Miu tetap nggak mau berada di dekat anaknya. Dia terus berada di dekat pintu dan menggaruk-garuk pintu. Miu ingin pergi keluar, mungkin ingin mencari udara segar atau meninggalkan anak untuk selamanya. Karena sudah putus asa melihat tingkah Miu, saya dan suami memutuskan untuk mengizinkan Miu keluar dari rumah. Kami berpikir, ya sudah, toh dia sudah mendapatkan amunisi gizi dari klinik. Kalau memang mau pergi silakan, anakmu biar kami yang urus.

IMG_20180128_132750.jpg
Kari, satu-satunya bayi kucing yang tersisa

Untungnya, kepergian Miu hanya berlangsung sebentar saja, karena setelah itu dia kembali lagi ke rumah dan langsung memainkan perannya sebagai ibu! Aneh, tapi senang! The old Miu was here. Kami nggak lagi harus memberikan susu dan membersihkan kotoran anak-anaknya, karena semua peran itu sudah diambil alih kembali oleh Miu. Hingga tulisan ini selesai dibuat, anak Miu yang tersisa tinggal satu (saya dan suami beri dia nama Kari, karena dia kucing calico yang ketiga warnanya bercampur aduk seperti kuah kari). Tiga anak yang lain mati satu per satu saat dalam perawatan Miu. Saya nggak bisa mengawasi Miu dengan saksama karena dia memindahkan anak-anaknya ke kotak kardus besar berisi barang-barang yang sangat tertutup. Sesekali memang saya mencoba mengintip, tapi anak-anaknya berada terlalu jauh di dalam kardus jadi nggak kelihatan. Waktu itu saya dan suami mulai curiga karena suara-suara anaknya berkurang, mulai tercium bau nggak sedap dari dalam kardus, dan Miu lebih sering berada di luar kardus (mungkin karena nggak tahan dengan bau dari anaknya yang mati?). Setelah dibongkar dan anak-anak yang mati kami kubur, Miu kembali sering berada di samping Kari.

Kari saat ini sudah berumur sebulan lebih dan terlihat sehat. Sering berlarian ke sana ke mari dan bermain dengan Tori. Sekarang rumah saya semakin ramai dengan kehadiran tiga kucing! 🙂

Jari Terpotong Pisau, Harus Ngapain?

Sewaktu mau menulis pengalaman saya ditangani oleh dokter saat jari terpotong pisau, saya sempat berpikir pengalaman saya ini nggak baru karena sepertinya sebagian besar orang sudah banyak mengetahui soal komersialisasi dunia medis. Tapi ketika mengalami di diri sendiri, saya baru menyadari kalau second opinion itu sangat penting, dan kehadiran dokter keluarga yang terpercaya juga sangat dibutuhkan untuk menjadi support system. So I decided to share this…

Saya dan suami memang suka masak ketika berada di rumah. Selain untuk menghindari keborosan karena makan di luar atau pesan Go-Food terus, kegiatan memasak juga menjadi salah satu rutinitas yang kami nikmati berdua.

Suatu malam, karena merasa sudah cukup jago mencacah bahan makanan, saya memainkan pisau (yang baru dibeli kurang dari tiga bulan) dengan lincah. Pisau baru ini memang luar biasa tajam, dan kuku saya sudah pernah patah dibuatnya. Agak kurang belajar dari pengalaman, malam itu ujung jempol saya terpotong pisau. Bukan cuma coak, ujung jempol saya benar-benar terpotong sampai copot!

Panik? Iya banget. Potongannya sih kecil tapi melihat darah segar mengalir tuh rasanya nyessss…

Hal pertama yang saya lakukan adalah mencuci jempol di air mengalir sambil lukanya ditekan, soalnya kalau dilepas sakitnya luar biasa banget. Suami yang ikutan panik karena saya panik melakukan pertolongan pertama dengan membungkus jempol menggunakan pembalut (hahaha!), sambil kita barengan pergi ke klinik K24 di Bangka Raya untuk konsultasi dengan dokter langganan, Dokter Budi A Witjaksono.

Sampai di klinik K24, saya nggak turun dari mobil. Suami yang turun dan bertanya sebentar ke dokter, apa yang harus dilakukan kalau ada ujung jari kepotong pisau. Dokter menyarankan untuk dibalut kencang di bagian luka sampai tertekan. Akhirnya suami membeli peralatan dari K24 dan membalut tangan saya di mobil. Setelahnya, saya terus menekan ujung jempol yang sudah diperban sambil menaruh tangan yang luka dengan posisi di atas jantung.

Lima jam kemudian waktu menunjukkan pukul tengah malam. Saya ingin mengganti perban sebelum tidur, supaya fresh. Cukup perjuangan juga membuka perbannya. Karena jempol saya masih sakit banget, jadi perban yang melekat ketat harus digunting pelan-pelan supaya jempol nggak ketarik sama sekali. Ketika sampai harus membuka perban di ujung jempol, saya pun merasakan kesakitan yang luar biasa karena sepertinya luka yang agak mengering menempel ke perban, jadi perban susah dilepas.

Untuk mengurangi rasa sakit, suami menuang air panas ke jempol sambil saya pelan-pelan menarik perban dari ujung jempol yang luka. Air panas di sini sebenarnya untuk mengalihkan rasa sakit saya. Dengan penuh perjuangan akhirnya perban berhasil dilepas! Tapi, kepanikan nggak berhenti sampai situ karena ternyata pas dicek darah masih menetes dari luka tersebut. Karena takut saya kehabisan darah (nggak tau sih sebenernya bisa sampai kehabisan darah apa gimana, tapi ya panik aja gitu ngeliat darahnya menetes terus kalau lukanya nggak ditekan), akhirnya kami memutuskan ke UGD RS Medistra.

Di UGD RS Medistra, dokter yang melihat luka saya bilang pembuluh darah vena saya ikut kepotong, makanya darahnya menetes terus dan susah berhenti karena lukanya cukup dalam, jadi nggak ada waktu untuk darah membeku. Beliau bilang saya nggak perlu panik, karena yang kepotong bukan pembuluh darah arteri yang alirannya ke jantung (kalau pembuluh ini yang kepotong darahnya akan muncrat seperti di flim-film gitu). Karena saya nggak membawa kulit yang terpotong (ternyata bisa ditempel lagi! Tapi telat sih, udah lima jam berlalu juga dari kulitnya copot), dokternya memberi saran tiga hal:

  1. Dikasih sesuatu obat (saya lupa namanya) untuk mengecilkan pembuluh darah, dengan harapan darahnya bisa membeku
  2. Disimpul, jadi ujung luka sebelah kiri dengan ujung luka sebelah kanan dijahit
  3. Dibebet tekan, ini sebenarnya teknik pembalutan luka tapi super ketat supaya luka menutup sendiri nantinya

Karena belum mau disimpul, akhirnya dokter mencoba opsi pertama dulu, yaitu dikasih obat untuk mengecilkan pembuluh darah. Ditunggu selama lima menit ternyata darahnya masih menetes. Akhirnya dokter kembali memberikan pernyataan dan saran berikut:

  1. Kalau disimpul, nanti lukanya bisa menjadi hitam karena nggak ada peredaran udara (kurang lebih seperti ini ya, saya lupa pernyataan tepatnya).
  2. Kalau dibebet tekan sebenarnya bisa. Tapi penyembuhannya lama, dan kalau kesenggol dikit gampang berdarah lagi. Waktu itu saya sempat menanyakan kira-kira memang butuh berapa hari darah untuk menutup dan beliau nggak memberikan jawaban jelas.
  3. Saran terakhir dia bilang untuk melakukan skin graft, sebuah teknik operasi bedah plastik yang mengambil kulit dari bagian badan yang lain untuk ditempel ke yang luka. Dia bilang dengan skin graft maka luka akan menutup sempurna. Udah gitu dia bilang beberapa waktu sebelum saya sampai di UGD ada satu pasien juga yang baru melakukan skin graft karena jarinya juga kepotong pisau.

Perlakuan skin graft nggak bisa dilakukan oleh dokter UGD, jadi harus memanggil dokter bedah plastik. Anehnya, saat saya bertanya berapa biaya yang diperlukan untuk melakukan skin graft, si dokter UGD nggak bisa memberikan jawaban. Dia bilang saya harus konfirmasi pasti dulu kalau bersedia untuk skin graft baru dia bisa tanyakan ke dokter bedah plastiknya. Lah, bukannya harusnya segala jenis biaya operasi harganya sudah ada di bagian administrasi?

penampakan jempol yang diberikan perlakuan bebet tekan

Karena merasa ada yang aneh dengan pernyataan itu dan saya ingin cek asuransi dulu apakah bisa di-cover atau nggak, akhirnya saya menerima perlakuan dibebet tekan dulu. Keesokan paginya, saat mengecek asuransi ternyata asuransi saya dinyatakan nonaktif (pas dikroscek lagi beberapa hari kemudian sebenarnya aktif, tapi waktu itu sistemnya lagi error makanya terlihat nonaktif; it was actually a blessing in disguise). Akhirnya saya memutuskan untuk berkonsultasi lagi ke dokter langganan saya, Dokter Budi.

Setelah diobservasi oleh Dokter Budi dan beliau mendengarkan cerita saya, terungkaplah hal-hal berikut:

  1. Luka saya sebenarnya nggak perlu sampai skin graft. Perlakuan ini lebih cocok untuk orang yang kena luka bakar. Dan skin graft bukanlah cara untuk menghentikan pendarahan. Jadi dibebet tekan saja sudah cukup, diamkan selama 3-4 hari dan jangan kena air.
  2. Ada praktik bisnis kesehatan di berbagai rumah sakit, di mana dokter UGD yang berhasil menginapkan pasien atau membuat pasien melakukan treatment tertentu akan mendapatkan persenan dari rumah sakit ataupun dari dokter spesialis yang bersangkutan.
the ‘zombie’ thumbnail!

Empat hari kemudian saya kembali ke Dokter Budi untuk membuka perban. Meskipun jempol saya terlihat seperti habis digerogotin tikus, tapi pendarahannya sudah berhenti. Tinggal menunggu waktu untuk regenerasi lagi dengan sempurna. Sekarang sudah hampir tiga minggu berlalu dan luka saya sudah menutup sempurna. No surgery needed!

Kalau waktu itu saya gegabah untuk melakukan skin graft, duit jutaan rupiah sudah melayang di hal yang sebenarnya nggak terlalu diperlukan. Jadi, berhati-hati ya kalau melakukan pengobatan. Ada baiknya memang selalu mencari second opinion ketika sedang membutuhkan perawatan apapun.

How to Stay Sane in the Midst of Traffic Chaos

stay-sane-in-the-midst-of-city-chaos

People say that life is all about balance, but hey Jakartans, how do you manage to stay sane living in the midst of city’s traffic chaos?

Throughout 2016 I didn’t experience the Jakarta’s crazy traffic during rush hours. I found peace in waking up and going to my working table next to my bedroom. This year, I’ve been trying something different by working part time for a digital agency located around Kuningan area, the area that I usually avoid most of the time. That means I have to go to Kuningan three times a week during rush hours and make peace with traffic.

It wasn’t easy at the beginning. Driving a car was out of the options because I didn’t want to get stuck in the traffic and release my anger to other people. I would be one of those people who kept angry but didn’t give a solution to make the city a better place for living. So I decided to commute to work by using on-demand transportation providers. I used car in the morning and motorbike in the evening, because the night traffic congestion was worse.

Then again, I found a problem.

Being a passenger didn’t mean stress couldn’t hit you and spending 1-2 hours or more on the street sitting while doing nothing was quite stressful, especially those in motorbike, because you had to deal with pollution and fluctuating weather too. Not to mention the long-suffering commuters who had to face late running train services. No wonder people do unpleasant things and become more ignorant of other people.

I know that we can’t change the traffic and our behavior in a blink on an eye but I believe we can feel better if we surround ourselves with good things during bad times, and that, my friends, will keep us sane.

Instead of opening our social media accounts and grumbling about the traffic, why don’t we fill our smartphone with great audio files? Podcast or audiobook, you decide. I am sure there are times when we feel bored of listening those same songs over and over again on the radio.

These are some of my favorite podcasts to listen to:

Art for your ear – The Jealous Curator

This podcast consists of conversations between The Jealous Curator and her artist/creative friends. She asks a lot of great questions and it feels like listening to two great friends talking about their passions. How awesome is that?

The Penguin Podcast

Notable Penguin authors appeared on this podcast: Malcolm Gladwell, Jennifer Saunders, and more. Listen to these authors talking about given themes. It’s wonderful.

Ted Radio Hour 

Just like its videos, Ted Radio Hour provides us very educational stories about interesting Ted speakers.

On Being

This podcast takes up the big questions of meaning through interviews with creatives, scientists, theologians, and teachers. You may already know some of them: Paulo Coelho, Sarah Kay, and more.

 

Otherwise, if you are a reader like me, you may want to start collecting audiobooks. It is a lovely treat to listen to an author read his or her own work, you know?

Do you have any other suggestions to cope with the busy traffic? I would love to hear one!

When a School Takes Kindergarten Graduation too Seriously

kindergarten graduation at a school in jakarta

Di depan pintu hall terbesar sebuah sekolah, anak perempuan dan laki-laki terlihat berkerumun dan mengenakan pakaian toga berwarna biru dengan tali topi toga berada di sebelah kiri topi. Menghadap ke panggung, para orang tua dan saudara-saudara dari mereka yang mengenakan toga terlihat duduk rapi di kursi-kursi yang sudah disediakan. Beberapa menit kemudian, seorang guru terlihat berada di atas panggung dan memanggil satu per satu nama anak berpakaian toga tersebut. Mendengar namanya dipanggil, anak yang tadinya berdiri di depan pintu mulai melangkah ke dalam hall sambil membawa setangkai bunga mawar dan didampingi oleh ibunda. Ia dan ibunya berjalan bersama-sama ke depan panggung, kemudian berhenti untuk berdiri berhadapan-hadapan. Sang ibu kemudian berlutut agar anak tercinta bisa mencium pipinya dan memberikan bunga mawar. Ibunda kemudian melepas anaknya pergi ke atas panggung dan ia pun duduk di kursi terdepan yang telah disediakan.

Wait… berlutut?

Iya, berlutut. Soalnya sang ibu ini sedang merayakan kelulusan anaknya dari taman kanak-kanak menuju sekolah dasar. Such a big step for one little kiddo, don’t you think?

Sebenarnya bukan acara kelulusannya yang mengganggu saya, tapi konsep yang dibuat seolah anak-anak ini baru saja menyelesaikan pendidikan terakhirnya untuk memasuki kehidupan nyata (baca: kehidupan kerja).

Setelah seluruh anak yang menyambut kelulusan ini berada di atas panggung, ada satu orang perwakilan dari mereka yang memberikan speech yang isi dan gaya bahasanya sangat, sangat dewasa. Speech yang menurut saya tidak mungkin diramu oleh anak berusia 5-6 tahun. Setelah itu, ada beberapa perwakilan dari sekolah dan orang tua murid juga memberikan speech yang isinya kurang lebih ucapan selamat karena mereka akan menempuh kehidupan pendidikan selanjutnya. Selama speech dari para perwakilan tersebut, anak-anak kecil yang ada di panggung terlihat asyik sendiri dan saya yakin mereka tidak paham apa yang sebenarnya terjadi. Helloooo, they are just kids!

Kindergarten graduation is supposed to be childish and fun, unlike those university graduation. I felt like attending a graduation ceremony in a university with a bunch of clueless little kids as the graduates. What do you want to say to the kids after the ceremony?

“Congratulations, you’re an adult now!” … Nah.

Congratulations! What do you want to do after this?” … Continue to the first grade at the same school with the same friends for many years to come, obviously.

I’m so proud of you. What do you want to eat?” … Yep, maybe.

A Rare Conversation: Sapardi Djoko Damono x Joko Pinurbo

A Rare Conversation: Sapardi Djoko Damono x Joko Pinurbo
A Rare Conversation: Sapardi Djoko Damono x Joko Pinurbo

Mengenal seseorang dari karya-karya yang ia hasilkan memang menyenangkan. Tapi, lebih menyenangkan lagi ketika kita bisa mengenal sosok personal di balik karya-karya yang ia buat.

Saya baru tahu, ternyata Sapardi Djoko Damono adalah “eyang mal”. Beliau sering berjalan-jalan di Pondok Indah Mall karena dokter menganjurkannya untuk banyak jalan. Malas terkena cuaca panas dan debu, tentu saja jalan di mal jadi pilihan tepat, mengingat Sapardi selalu tampil necis dengan jas dan topi seniman.

Saya juga baru tahu kalau Joko Pinurbo (Jokpin) sangat, sangat, sangat mengagumi buku puisi pertama Sapardi yang berjudul Dukamu Abadi. Ia bahkan mempunyai dua edisi: satu dalam bentuk yang menyerupai stensilan, satu dalam bentuk buku puisi biasa. Buku puisi itu juga yang membawa Jokpin serius untuk terjun sebagai penyair. Tidak terhitung berapa kali ia mengungkapkan kekagumannya akan buku puisi Dukamu Abadi.

Di atas panggung Asean Literary Festival 2016, Sapardi dengan gaya bicara yang nyeleneh ternyata bisa tampil sangat harmonis di atas panggung ketika dihadapkan dengan Jokpin yang cenderung blak-blakan. Dipandu oleh Najwa Shihab sebagai moderator, keduanya pun saling melemparkan guyonan ala Jawa Tengah saat menanggapi banyak pertanyaan yang diajukan Najwa.

Saya yakin sebagian besar masyarakat pasti sudah pernah membaca karya legendaris Sapardi, Hujan Bulan Juni dan Aku Ingin. Puisi yang sering sekali dijadikan kutipan dalam undangan pernikahan maupun digunakan untuk merayu orang ini ternyata dibuat hanya dalam waktu kurang dari 30 menit saja. Begitupun, penyair yang sangat rendah hati ini menganggap puisi-puisinya dikenal banyak orang karena telah dinyanyikan dengan sangat indah oleh duo vokal AriReda.

Ah, apapun alasannya, publik sangat mencintaimu, Sapardi. Meskipun masih ada juga yang salah mengira Kahlil Gibran sebagai penulis puisi Aku Ingin. Dikiranya orang Indonesia tidak bisa membuat puisi semesra ini.

Sebenarnya saya masih ingin mengetahui bagaimana proses Sapardi dalam merangkai kata-kata, dan mengapa menurutnya puisi yang dibuat dalam waktu singkat tanpa banyak revisi itulah yang ia anggap berhasil. Tapi namanya juga percakapan, topik pembicaraan harus terus bergulir, apalagi ketika sang moderator juga memimpin obrolan seperti ia membawakan talkshow-nya yang disiarkan di Metro TV, terkadang terlalu ingin cepat sampai ke hal yang ia ingin publik dengar.

Jokpin, yang menerbitkan buku puisi pertamanya di umur 30-an, berhasil menciptakan positioning yang sangat baik untuk karya-karyanya. Ia sempat menghabiskan waktu membaca puisi-puisi para penyair lain dan mencari celah, tema apa yang belum pernah mereka garap. Dari situ terciptalah puisi tentang celana, kamar mandi, jemuran, dan seterusnya.

Padahal, menurut saya, kalaupun Jokpin membahas topik yang sudah pernah dibahas oleh para penyair lain ,hasilnya akan tetaplah Jokpin: penataan kalimat dengan gaya bahasa sederhana yang ringan dibaca namun menyimpan makna-makna yang masih dianggap tabu bagi sebagian orang.

Kalau kumpulan puisi Sapardi itu ibarat menonton film-film Eropa yang artistik, cantik, dan penuh makna, puisi-puisi Jokpin bisa diibaratkan sebagai film dengan genre dark comedy. Dari luar terkesan slapstick, tapi sebenarnya ada sindiran-sindiran tertentu yang bisa jadi tidak bisa ditangkap oleh semua orang.

Beberapa dari kita pasti juga sudah pernah mendengar kalau Jokpin yang pencinta kopi ini sedang asyik-asyiknya menggarap puisi bertema Bahasa Indonesia. Salah satu puisinya berjudul Kamus Kecil sudah banyak beredar di media massa dan dunia maya, mengingatkan kita akan betapa menariknya Bahasa Indonesia, terlebih ketika mendengar langsung sang penyair membawakan puisinya.

Karya-karya mereka yang sangat indah mungkin membuat kita bertanya-tanya, bagaimana cara mereka menemukan inspirasi? Tentu saja kamu pasti sudah bisa menebak jawaban Sapardi. “Inspirasi kok dicari,” ujarnya. Bagi Sapardi, inspirasi bisa datang dari mana saja dalam kehidupan sehari-hari. Yang terpenting adalah jangan terhanyut dalam emosi ketika kita sedang berkarya. Baik Sapardi maupun Jokpin setuju, seseorang sebaiknya menulis ketika ia sudah bisa membuat jarak dengan emosi yang ingin ditumpahkan. “Kalau mau marah-marah, demo saja, jangan menulis,” tambah Sapardi yang mengaku ia sebenarnya bukan penyair cinta.

Terlepas dari karya apapun yang dihasilkan, kita tentunya tidak bisa memaksakan orang untuk memiliki interpretasi yang sama dengan apa yang kita pikirkan saat membuat karya tersebut. Buku Dukamu Abadi, contohnya. Jokpin mengatakan ia sangat terenyuh dengan puisi-puisi di dalam buku Dukamu Abadi karena ia melihat Sapardi seolah sedang menceritakan kejadian pasca 1965 dengan sangat halus (buku ini pertama kali diterbitkan tahun 1969). Padahal, Sapardi sendiri mengaku buku tersebut ia buat ketika ia sedang merasa kematian begitu dekat dengan dirinya. Tidak ada hubungannya dengan kejadian 1965.

Tapi, bukankah itu hal yang luar biasa? Bagaimana sebuah buku bisa menggugah banyak orang dengan interpretasi mereka masing-masing. Lagipula, mereka berdua tidak merasa masalah ketika orang lain menginterpretasikan karyanya dengan cara mereka sendiri. “Syair itu soal bunyi. Seperti apa interpretasinya, itu urusan lain,” kata Sapardi.

Berbeda dengan novel atau cerpen, setiap untaian kata yang terangkai di dalam sebuah puisi pasti memiliki bunyi yang indah. Puisi itu bagaimana kita bermain dengan kata-kata. Dan tugas seorang penyair adalah untuk menyelami bahasa.

Terima kasih Sapardi Djoko Damono, Joko Pinurbo dan Najwa Shihab, atas (kurang lebih) 90 menit percakapan yang menyenangkan saat Asean Literary Festival 2016. Meskipun sempat mengira akan melihat percakapan maut Sapardi dan Jokpin yang dibiarkan mengalir bebas tanpa arahan dari moderator yang beberapa kali terlihat ingin menjurus ke ranah politik, saya tidak kecewa. Rasanya seperti sedang duduk di bangku teras, memejamkan mata sembari menghadap ke taman kecil di depan rumah dan mendengarkan kalian bersenda gurau dengan guyonan yang menorehkan senyum hingga gelak tawa.

Lesson Learned: Some Things We Take for Granted


Berkali-kali ke Singapura, saya selalu menyimpan kekaguman pada negara ini. Negara mungil ini sadar kalau pada dasarnya mereka “miskin”, makanya mereka mencoba untuk memperkaya diri agar terlihat menarik di mata orang luar. And they are good at it, I mean, at attracting people to come and visit their country.

Okelah, mereka nggak sempurna. Sudah bukan rahasia lagi kalau negara mereka memang memberlakukan hukum yang cukup membuat semua penduduknya harus menuruti peraturan. Bikin nggak enak sedikit, kena denda. Melanggar aturan sedikit, ada hukuman. Mata-mata di mana-mana, dan mungkin warganya juga sudah terprogram untuk mengikuti apa yang pemerintah arahkan.

Because we only have the people,” ujar salah seorang warga Singapura yang kebetulan waktu itu saya ajak ngobrol bareng. Topik obrolannya bukan tentang politik, sebenarnya, tapi entah gimana jadi sedikit nyerempet ke situ. Dan waktu sedikit saja ngomongin tentang negara, spontan volume suara langsung mengecil.

Sepertinya Singapura sadar kalau mereka nggak punya sumber daya lainnya selain manusia. Jadi, satu-satunya cara untuk membuat negara ini maju adalah dengan meredam emosi-emosi yang bisa muncul akibat ras, suku, agama, dan lainnya melalui peraturan super ketat. Meskipun, tentu saja, ketegangan antar suku bukan sama sekali bisa menghilang begitu saja. Sebagai gantinya, warga mendapatkan kenyamanan dari berbagai sisi. Mereka yang kurang mampu diberikan bantuan dana agar bisa hidup cukup layak. Sementara itu, pemerintah sering banget memberikan kucuran dana untuk perseorangan maupun kelompok, selama apa yang mereka buat nggak menyinggung SARA, mengusung sejarah lokal, dan seksi di mata wisatawan. Kedengaran cukup kulit, ya? Iya sih. Tapi sepertinya itu memang trik mereka untuk mendatangkan orang banyak dan menyenangkan turis.

Di bidang seni, misalnya. Walaupun rasanya nggak banyak seniman Singapura yang namanya mendunia, mereka bisa mengadakan art fair kelas dunia, seperti Art Stage Singapore (yang ternyata kuratornya ada yang berasal dari Jogja) dan Singapore Contemporary Art Fair bulan Januari lalu. Di bulan April dan September ini mereka bahkan akan mengadakan Affordable Art Fair karena konon penjualannya laris manis.

Karya Yayoi Kusama di Art Stage Singapore
Karya Ee Shaun di Singapore Contemporary Art Fair

Belum lagi National Gallery Singapore yang baru beberapa bulan dibuka. Di galeri yang megah dan mewah ini ada banyak banget karya seniman Indonesia yang menjadi koleksi National Gallery Singapore, salah satunya lukisan terbesar karya maestro Raden Saleh. Senang sih, karena karya lokal mendapatkan apresiasi internasional di tempat yang sangat bagus. Tapi, bukannya harusnya justru bisa kita melihat karya maestro lokal di negeri sendiri ya? Well, that’s just my two cents. Anyway, tiket masuk ke National Gallery Singapore ini SGD20 per orang untuk turis, dan galerinya luas banget. Jadi mendingan datang dari pagi supaya bisa lihat semua karya dan menikmati arsitekturnya dengan santai.

National Gallery Singapore
Interior National Gallery Singapore
Lukisan terbesar Raden Saleh, Kebakaran Hutan

Taman juga menjadi salah satu hal yang saya suka dari negara ini. Di samping menjadi tempat yang enak banget untuk piknik dan berolahraga, taman juga menjadi tempat yang pas buat para pencinta anjing. Beberapa waktu lalu, saya dan suami khusus mampir ke Botanical Garden karena ingin melihat anjing yang dibawa jalan-jalan. Kami mendatangi beberapa pemilik anjing untuk sekadar bermain dengan anjingnya. Kalau saja ada istilah “pedogfil”, rasanya kami salah satunya. 😀

Can you say no to those eyes? I can’t!

Banyaknya turis yang bisa dengan mudah lalu lalang di jalanan kota juga salah satu faktor yang membuat industri pariwisata di Singapura sangat baik. Saya sempat mengunjungi sebuah sinema alternatif bernama The Projector yang menampilkan film-film yang mungkin nggak diputar di sinema pada umumnya. Sebut saja What We Do in the Shadow, The Danish Girl, Taxi Tehran, dan lain sebagainya. Melalui crowdfunding, The Projector berhasil membangkitkan kembali dan mempercantik lokasi sinema lawas di kawasan Beach Road. Kalau di sinema umum harga tiket film sekitar SGD8, The Projector menaruh harga SGD13. Jumlah yang nggak murah, sebenarnya. Tapi, saya melihat ada cukup banyak warga lokal dan turis yang tertarik dengan tempat ini.

Tampak depan lift menuju The Projector
Interior di Dalam The Projector

Sebenarnya, apa yang dimiliki Singapura sangat jauh lebih sedikit dari apa yang kita miliki. Indonesia memiliki keragaman budaya, kekayaan alam, dinamika menarik, dan masih banyak lagi. Tapi, mungkin memang dibutuhkan lebih dari memiliki secara cuma-cuma untuk seseorang bisa menghargai apa yang dipunya.

Mengutip acceptance speech mas Leonardo Dicaprio untuk Oscar 2016, “Let us not take this planet for granted.” 

Yup, we shall not take what we have for granted.

On Volunteering: Ekspektasi vs Realita

657ac6ba4dfbabf6059e5e9eb0dd5c80-2

Vol-un-teer: freely offer to do something

Mungkin ini hanya perasaan saya saja, mungkin. Tapi, entah kenapa saya merasa sebagian anak-anak muda yang saat ini mendaftar untuk kegiatan volunteer memiliki semangat yang sedikit berbeda dibandingkan dulu ketika saya dan teman-teman ber-volunteer.

Pertama kalinya saya mendaftar menjadi volunteer itu di tahun 2009 untuk acara Ubud Writers & Readers Festival (UWRF). Saya benar-benar lupa darimana saya tahu kalau saat itu UWRF membuka lowongan untuk para volunteer, tapi yang jelas saat itu saya mendaftar karena tiga hal: saya memiliki ketertarikan terhadap buku, ingin berkenalan dengan orang-orang baru, dan ingin pergi ke Bali (well, who doesn’t?).

Mirip seperti mencari lowongan pekerjaan, proses aplikasi menjadi volunteer tidak sesederhana itu. Saya diminta untuk mengisi formulir aplikasi dan menunggu konfirmasi email dari panitia yang memutuskan apakah saya diterima atau tidak. Seingat saya, di formulir tersebut bahkan atasan saya di kantor harus menuliskan pernyataan kenapa saya layak untuk diterima sebagai volunteer. It seems so much for a volunteer, eh? But I completed all the requirements anyway.

Sebagai volunteer, saya menyadari bahwa acara ini tidak akan membiayai pengeluaran apapun untuk mencapai tempat acara. Yang saya tahu, mereka menyediakan akomodasi, transportasi, dan makan hanya saat para volunteer bekerja.

Yang baru saya sadari saat menjadi volunteer adalah saya tidak bisa menikmati setiap sesi yang diadakan ketika bertugas karena saya sedang bertugas! Di UWRF, ada begitu banyak sesi yang diadakan dalam satu hari dengan nama-nama panelis yang begitu menggugah lidah, eh selera. Karena itulah, saya juga berharap bisa jaga kandang sambil menikmati setiap sesi yang saya suka. Itu harapan… Realitanya sudah pasti lain.

Sebagai volunteer, saya bisa memilih posisi apa yang saya inginkan, tapi saya tidak bisa memilih mau ditempatkan di sesi apa. Ketika sedang bekerja pun saya tidak bisa memperhatikan jalannya acara dengan konsentrasi penuh karena saat bertugas pasti ada saja distraksi-distraksi kecil.

Gagalnya ekspektasi tersebut bukan berarti menyulutkan niat saat bertugas, karena sebenarnya saya mendapatkan hal yang lebih besar dari itu: pengalaman baru dan bertemu dengan orang-orang baru yang sampai hari ini masih berhubungan baik. Lebih tepatnya, saya merasa menemukan rumah baru berisi orang-orang yang nyaman untuk tinggal bersama.

Menjadi volunteer bukanlah hal yang remeh dan bukan berarti hanya mencari kesempatan untuk bisa menikmati sebuah acara yang lagi happening secara gratis. Jangan ambil kesempatan untuk menjadi volunteer jika hanya itu yang ada di dalam pikiran, because there is so much more than that. Sesuai dengan namanya, menjadi volunteer berarti kita secara sukarela membantu keberlangsungan sebuah acara. Dan sebagai timbal baliknya, kita pasti akan menemukan sesuatu yang tidak bisa kita temukan di tempat lain: pengetahuan baru, keluarga baru.

The Meeting and The Parting

Processed with VSCOcam with a7 preset

In the middle of the journey of our life, we will meet and lose people whom we call friends, enemies, families, relatives, colleagues, and others. Friends become enemies, enemies become friends, acquaintances become best friends, we never know. Some people come to our life to show us the real meaning of togetherness. And that feels great, somehow, knowing that they will be at your side through the good times and the bad times.

However, some other people come to our life to teach us the art of losing someone. When a person walks away from your life, it doesn’t always mean that you do them wrong. Perhaps their part in your life is over and they have to meet other people to give the same lesson they give to you. The good thing is, you can move on and don’t have to think about that person too long. You don’t have to hope what you think about them is wrong and they could come back to your side again. No. Things are not going that way.

Everyone has their own problems, and maybe their perfect way to deal with those is by escaping to another place. Maybe.

Lambat, Santai, Cepat, atau Terburu-buru?

The-Science-Behind-Habitually-Late-People

Saya agak bingung, sebenarnya. Kenapa kita, orang Indonesia, selalu dibilang sering ketinggalan dibandingkan negara-negara lain?

Padahal, ketika ada launching produk smartphone terbaru, pasti kita selalu berusaha menjadi yang terdepan: membeli pre-order lewat website manapun yang menerima pre-order, titip teman yang kebetulan tinggal di negara yang pertama kali mengeluarkan smartphone tersebut, atau rela mengantri berjam-jam di toko hanya untuk jadi salah satu dari yang pertama memiliki produk tersebut.

Juga, ketika ada acara besar yang akan digelar di ibukota, sudah pasti kita harus jadi yang pertama memiliki tiketnya dong? Suka ataupun tidak dengan acaranya, jangan sampai kita tidak nonton, nanti tidak punya bahan obrolan dengan teman-teman lainnya.

Apalagi kalau ada pembukaan sebuah tempat yang konon kabarnya hits banget. Waduh, tidak boleh tidak mampir setidaknya dalam waktu satu bulan sejak tempat itu dibuka. Kan malu kalau nanti orang lain bisa saling bertukar pendapat soal tempat ini sementara kita pernah menginjakkan kaki saja belum. Mau ngantri sepanjang apapun rasanya tidak jadi  masalah.

Entah kenapa, berdesak-desakan tapi jadi yang pertama tanpa tahu lebih dulu sebenarnya apa yang membuat kita ingin melakukan hal tersebut rasanya lebih seru dibandingkan harus sabar menunggu dan mencerna informasi yang ada.

Sikap yang teramat sangat responsif. Ada baiknya, tapi tidak banyak juga jeleknya. Apalagi kalau sikap responsif ini diterapkan dalam dunia maya, di mana realita dan kebohongan memiliki porsi yang hampir sama besar. Salah-salah, malah jadi saling menyalahkan orang lain.

Jadi, sebenarnya kita itu cepat atau lambat sih?