Archive

Reading

Sebagian orang memperlakukan kegiatan menulis sebagai pekerjaan sehari-hari yang menghasilkan uang, sementara sebagian orang lainnya menganggap menulis adalah kegiatan yang dilakukan di waktu luang. Bagi seorang jurnalis yang juga penulis cerita pendek, novelis, dan penulis esai Melissa Pritchard, menulis adalah sebuah cara untuk berdoa dan berkomunikasi dengan sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri. Di bab “Spirit and Vision” dari buku A Solemn Pleasure, ia menulis:

But for many years, I’ve been moving inexorably toward the concept of literature as a sacred vocation, toward Yeats’ concept of artists as priests, as shamans, as soul transformers. And perhaps if you are, as I am, aspiring to be this kind of writer (and by this I do not eliminate humor, the power of wit and lightheartedness), you might consider yourselves, however briefly, in the category of holy persons, language saints, saints of storytelling.

Ia juga menambahkan:

Consider for a moment your work as analogous to intimate prayer in which you address God, and thereby divineness, in all matter.

What you have chosen is a profound vocation of healing, and your stories and poems are as sacraments, as visible blessings. Be at the heart and soul of your time, not resigned to what is safe or peripheral. Try to free yourself from attachment to results, to awards, publications, praise, to indifference, rejection, and misunderstanding. Immerse yourself in the common ground of the universe so that your true voice – not the egoistic voice that clamors vainly for power (for it will ruin you if you listen to it) – your authentic voice, supported by sacred reality, may be heard.

Membaca bab ini rasanya seperti diingatkan kalau menulis adalah sesuatu yang sakral. Terkadang, kita terlalu terbenam dalam rutinitas, apalagi mereka yang bekerja di bidang editorial atau tulis-menulis, sehingga kegiatan ini seringkali terasa hanya seperti pekerjaan, bukan hal yang dilakukan dengan penuh kesadaran dan hati.

Buku A Solemn Pleasure adalah buku yang menyenangkan untuk dibaca berulang kali. Esai yang ditulis Pritchard sangat beragam, seperti cerita tentang kesehariannya bersama seekor anjing teckel/dachshund di bab “Doxology” (salah satu esai favorit saya karena sebagai pencinta anjing yang tumbuh dengan dachshund, saya sangat bisa memahami apa yang ia tuliskan).

The Dachshund’s affectionate,
He wants to wed with you:
Lie down to sleep,
And he’s in bed with you.
Sit in a chair,
He’s there.
Depart,
You break his heart. (halaman 94, “Doxology”)

Ia juga bercerita panjang tentang caranya berduka ketika ibunya meninggal dunia di bab “A Solemn Pleasure”: dengan mengikuti retret penulis internasional di Edinburgh, meskipun awalnya ia mengikuti retret tersebut untuk menulis, tentu saja. Saya sangat kagum dengan kemampuan Pritchard melakukan observasi terhadap sekitarnya dan menuangkannya ke dalam tulisan. Ceritanya tentang kematian adalah kesedihan yang indah dan menenangkan.

According to Tibetan Buddhist teachings, the spirit has enough energy during the first hours and days after death to give signs to the living, but after that, the spirit moves on, signs fade, then are gone. Gan.

Satu esai lagi yang paling berkesan buat saya di buku ini adalah “Still, God Helps You: Memories of a Sundanese Child Slave” yang mengangkat tentang pengalaman Pritchard bertemu dan membantu William Mawwin, seorang pelajar di Phoenix yang berhasil selamat dari perbudakan di Sudan saat ia diculik ketika masih kecil dulu. Kalau ada hal yang bisa dipelajari dari cerita ini, adalah untuk nggak pernah menyerah dalam hidup.

Mawwin diculik saat ia masih kecil, mengalami penyiksaan mental dan fisik semasa ia menjadi budak dan berpindah-pindah majikan, berupaya melarikan diri berkali-kali hingga akhirnya berhasil mendaratkan kaki di Amerika Serikat dengan selamat meskipun satu lengan dan beberapa jari tangan adalah bayarannya. Tubuhnya adalah saksi betapa keras kehidupan Mawwin sebelum ia sampai di negeri Paman Sam. Dan Pritchard menyampaikan kisahnya dengan sangat luar biasa.

My life, it teaches me to watch, to not get upset or excited too much. When I’m upset, I’m only making it worse. I have to breathe every day, I have to think of the next day. If I get too excited, there is no one to rescue me, I am on my own. I have to think what is good and bad. I have to watch. Take my time. Imitate people when they aren’t watching. I learned that good people can turn to bad people. When someone wants something from you, they treat you nice until they get what they want. That is the reality, but I don’t want to treat people like that. I appreciate all the people who did good things to me. I even appreciate the ones who did bad things to me. I really wish I could sit down with every one of those people, show them my appreciation, show forgiveness. I wish I could do that.

Pritchard menyampaikan apa yang memang seharusnya disampaikan oleh buku ini: A Solemn Pleasure to Imagine, Witness, and Write.

Advertisements

sumber: amazon.com

Buat saya, Neil Gaiman adalah salah satu penulis yang karya-karyanya bisa membawa saya melarikan diri sejenak ke dunia lain tanpa benar-benar beranjak dari bumi yang saya pijak, dan American Gods (Dewa-dewa Amerika) adalah buku yang layak dibaca baik oleh penggemar Gaiman maupun pembaca yang baru mengenal namanya.

Buku American Gods tebal banget, dan (lagi-lagi) saya tidak menyadari betapa tebalnya buku ini karena saya membaca e-book-nya tanpa mencari tahu terlebih dahulu tentang buku ini. Tapi, tidak seperti waktu membaca 1Q84, membaca American Gods tidak membuat saya kelelahan dan saya bisa melahapnya dengan cukup cepat (for a slow reader!).

American Gods berkisah tentang Shadow Moon, seorang tahanan yang, setelah menjalani hukumannya di penjara dengan sabar selama tiga tahun, akhirnya bisa bebas dan kembali ke kehidupan normalnya bersama istri tercinta, Laura Moon. Sayangnya, beberapa hari sebelum Shadow bebas ia mendapatkan kabar kalau Laura dan sahabat Shadow meninggal dalam kecelakaan mobil. Merasa kehilangan arah karena awalnya ia berencana untuk bekerja di tempat sahabatnya yang juga meninggal dan kini ia tidak mempunyai uang sepeser pun, Shadow dengan berat hati menerima pekerjaan sebagai supir dan bodyguard seorang pria misterius bernama Mr Wednesday yang ia temui di pesawat saat perjalanan pulang untuk datang ke pemakaman istrinya.

Perjalanannya bersama Mr Wednesday membawa Shadow pada perjumpaan-perjumpaan dengan tokoh-tokoh yang ternyata berkaitan dengan takdir Shadow sendiri. Ia menemukan misteri masa lalu yang sebelumnya tidak ia ketahui, dan mendapati dirinya berada di tengah peperangan antara dewa-dewa lama dan dewa-dewa baru. Dewa-dewa lama adalah mereka yang dipuja-puja oleh para pendatang yang kini menduduki tanah Amerika, mereka yang dulu berkuasa karena disembah sedemikian rupa melalui beragam persembahan dalam bentuk doa-doa, kurban, darah, seks, dan lain sebagainya, namun kini popularitasnya menurun dan kemampuannya melemah karena persembahan itu tidak lagi diberikan untuk dewa-dewa lama, melainkan dewa-dewa baru dalam bentuk teknologi modern seperti televisi, smartphone, komputer, dan masih banyak lagi.

Ada banyak twist di dalam American Gods dan ending-nya juga buat saya tidak terduga. Gaiman menceritakan kisah di buku ini dengan plot maju, dan menyelipkan flashback tentang pemujaan dewa-dewa lampau di bab-bab tertentu, yang tentu saja mengungkapkan seberapa besar kuasa para dewa ini sebelum akhirnya diambil alih oleh dewa-dewa baru.

Tapi, apakah benar dewa-dewa lama memang bisa tergantikan oleh dewa-dewa baru? Lalu apa kaitannya Shadow sebagai tokoh sentral di antara peperangan para dewa ini? Saya sangat terkagum-kagum dengan referensi Gaiman dalam membuat cerita ini dan kepiawaiannya memaparkan cerita yang begitu rumit dan penokohan yang sangat banyak namun tetap bisa dinikmati dan mengalir hingga ke akhir cerita yang sempurna. Rasanya tidak ada tokoh yang sia-sia dalam cerita ini, semua mempunyai peranannya masing-masing.

Saya juga senang saat mengetahui buku ini diadaptasi ke dalam serial TV. Mudah-mudahan bisa divisualisasikan seindah bukunya!

 Kesimpulan: wajib dibaca dan dikoleksi!


Separuh jalan membaca buku Steve Jobs yang ditulis oleh Walter Isaacson, saya sempat bertanya kepada suami,

“Steve Jobs itu mungkin semacam Tuhannya teknologi ya?”

“Bukanlah, dia itu nabi teknologi,” kata suami mantap.

Iya, sih. Mungkin istilah nabi kedengarannya lebih tepat daripada Tuhan. Saya memang agak lebay, tapi distorsi realita yang ia berikan kepada orang-orang yang bekerja dengannya luar biasa banget. Steve bisa membuat orang-orang tersebut berhasil melakukan hal-hal yang melampaui batas, membuat yang kelihatannya tidak mungkin menjadi mungkin.

Walter mengisahkan perjalanan kehidupan Steve Jobs secara kronologis, dimulai dari ketika Steve diangkat anak karena ia merupakan anak di luar nikah dan pernikahan pasangan tersebut (saat mengandung Steve) nggak disetujui oleh ayah sang perempuan yang kala itu sedang sakit kritis. Meskipun demikian, Steve tidak pernah menganggap mereka orang tua kandung tapi hanyalah “pendonor sperma dan telur”. Ia bahagia dengan orang tua yang mengasuhnya dari bayi hingga dewasa. 

Kehidupan Steve semasa kecil juga yang membuat ia menjadi seorang perfeksionis. Ayahnya mengajarkan Steve untuk memperhatikan setiap detail, bahkan yang nggak kelihatan dari mata pengunjung. Tidak heran, setiap produk Apple (bagi saya) terlihat begitu sempurna, meskipun saya tidak pernah sampai iseng membuka hingga ke bagian dalamnya. 

Selain mengisahkan tentang jatuh bangun Steve membangun Apple, mulai dari mendirikan perusahaan di garasi rumahnya hingga ia dipecat dari perusahaannya sendiri lalu masuk membantu berkembangnya Pixar Studio sampai kemudian ia diminta untuk kembali lagi ke Apple, buku ini juga mengisahkan perjalanan spiritual Steve ke India, kisah percintaannya sampai menemukan pasangan hidup Laurene Powell, juga pola makan Frutarian yang membuatnya kesulitan saat ia divonis menderita kanker.

Cerita-cerita yang diangkat di sini tidak melulu menggambarkan betapa karismatiknya Steve sebagai seorang pemimpin. Ia bukan inventor dan keahlian teknisnya nggak bisa dibandingkan dengan Wozniak, tapi ide-ide kreatif yang ia miliki membuatnya bisa menciptakan sebuah produk yang mengubah dunia. Tidak bisa dipungkiri lagi, kemampuan public speaking dan negosiasi yang dipunyai Steve melebihi rata-rata, dan itulah yang membuat ia bisa meminta orang pintar untuk mengerjakan apa yang ia inginkan. Namun, di sisi lain Steve juga manusia biasa yang punya keterbatasan dalam berinteraksi sosial. Ia bukan orang yang suka melapisi omongannya dengan kata-kata manis. Ada banyak orang yang senang bekerja dengannya, tapi tidak sedikit juga orang yang sakit hati dengan caci makinya.

Bagi saya, Walter menggambarkan Steve sebagai seorang manusia jenius yang tidak sempurna. Tapi, di balik itu semua sebenarnya ia cuma ingin yang terbaik dari apapun yang ia kerjakan. Setiap bab yang dituliskan oleh Walter bisa membawa saya seolah berada di adegan tersebut dan menyaksikan langsung dari kursi terdepan. Ada banyak banget kutipan berharga yang bisa diambil dari cerita Steve, dan tidak jarang juga bermunculan kisah yang membuat haru. 

Selesai membaca buku ini, saya sempat melihat-lihat review orang-orang lain dan mengetahui bahwa ternyata para petinggi Apple tidak menyukai buku ini karena dianggap nggak menggambarkan kepribadian Steve yang sebenarnya. Selain itu, mereka juga kecewa karena ada beberapa kesalahan seputar fakta teknologi di dalam bukunya. Tapi, sebagai pengguna produk Apple yang bukan pemerhati teknologi, saya tidak memperhatikan sama sekali kesalahan fakta teknologi yang ada dan merasa senang membaca bukunya karena tidak banyak muncul istilah teknologi yang njelimet. Saya juga ragu kalau Walter tidak menggambarkan Steve apa adanya, karena bagaimanapun ia adalah penulis yang resmi diminta oleh Steve untuk menuliskan tentang kehidupannya.

Ekspektasi saya saat membaca buku ini memang ingin melihat sisi “manusia” seorang Steve Jobs yang banyak didewakan orang, dan saya mendapatkannya di buku ini. 


Jujur, kalau tahu dari awal jumlah halaman buku 1Q84 karya Haruki Murakami mencapai seribu lembar, mungkin saya akan berpikir lima kali sebelum mulai membaca. Tapi apa boleh buat, e-book 1Q84 sudah terpampang cantik di iBooks, dan saya pikir tidak ada salahnya menjadikan salah satu buku Murakami teman perjalanan panjang saya saat berlibur ke Asia Tenggara (liburan terjadi di bulan Januari – Februari, dan saya baru bisa menyelesaikan 1Q84 bulan April! I’m a slow reader, tho’).

Novel 1Q84 (ternyata) terdiri dari tiga buku yang mengisahkan petualangan seorang perempuan bernama Aomame yang “terdampar” di sebuah dunia alternatif pada tahun 1984. Dunia alternatif tersebut ia namakan 1Q84, di mana banyak keganjilan ia temukan, terutama kehadiran dua bulan di langit malam hari. Aomame, yang memiliki pekerjaan sebagai pembunuh bayaran, mendapatkan misi serius untuk membunuh seorang pemimpin sebuah sekte agama yang dianggap sangat berbahaya. Di luar profesinya, Aomame sebenarnya hanya perempuan biasa yang bisa merasakan jatuh cinta. Selama tiga puluh tahun ia hidup, Aomame tidak pernah berpacaran dan hanya mencintai satu orang laki-laki yang berasal dari masa kecilnya, Tengo Kawana yang kini berprofesi sebagai seorang guru matematika dan ghost writer. Buku ini mengisahkan perjuangan Aomame mencari Tengo (dan sebaliknya) di tengah misinya membunuh pemimpin sekte agama.

Premisnya sangat menarik. Waktu membaca beberapa halaman pertama saya merasa langsung bisa masuk ke dalam cerita dan membayangkan adegan demi adegan yang tertera di dalam buku. Sayang, sebagai novel, Murakami bercerita dengan sangat detail dan terkesan mengulang-ulang, sampai saya sering sekali skimming paragraf-paragraf yang terlalu deskriptif dan menurut saya tidak berpengaruh ke cerita selanjutnya apabila tidak dibaca. Terkadang, saya merasa karakter-karakter yang ada di dalam cerita terkesan memiliki kepribadian yang mirip karena kecenderungan mereka untuk mendeskripsikan setiap detail pergerakannya. 

Saya juga merasa kisah cinta Aomame dan Tengo agak kurang meyakinkan di kehidupan nyata (well, it took place in an alternate world). Entah kenapa, rasa cinta Aomame ke Tengo terkesan dipaksakan, begitu juga Tengo. Di awal tidak pernah disebutkan Tengo merasakan percikan chemistry terhadap Aomame waktu kecil. Aomame dan Tengo adalah teman masa SD yang sebenarnya tidak pernah bertegur sapa, kecuali suatu waktu Aomame pernah menggenggam tangan Tengo yang ternyata memori tersebut membekas di ingatan mereka berdua. Tapi, ketika cerita berjalan saya tidak merasakan rasa cinta Tengo kepada Aomame. Sepertinya rasa cinta itu dipaksakan di tengah jalannya cerita, karena di awal Tengo lebih banyak bercerita soal kekagumannya akan Fuka-eri, seorang perempuan muda misterius berusia 17 tahun yang novelnya dituliskan oleh Tengo sebagai ghost writer dan langsung menjadi best seller.


Buku 1Q84 dituliskan lewat sudut pandang Aomame dan Tengo yang diceritakan secara bergantian per chapter. Di buku ketiga, mendadak ada sudut pandang baru yang masuk dan memakan kurang lebih dua chapter (kalau saya tidak salah), and it was so boring I even skipped it, not skimmed it. 

Ada banyak pertanyaan tidak terjawab bahkan sampai 1Q84 selesai. Ending yang cukup sederhana untuk kisah yang rumit juga membuat saya kurang puas (saya sampai mikir, lah, gitu doang nih?). Tapi, seperti yang saya baca dari sebuah sumber, mungkin memang itu tujuan Murakami. Ia ingin membuat sebuah cerita cinta sederhana dengan serumit mungkin. 

Overall, turbulensi membaca 1Q84 mungkin begini: penuh goncangan di awal – datar di tengah – lumayan bergoncang menuju akhir – mendarat dengan sangat tenang. Tapi serius deh, kalau kamu seperti saya yang harus membaca buku sampai kelar dulu baru bisa pindah ke buku lain, lebih baik cari waktu lowong panjang untuk membaca 1Q84.

Kutipan favorit:

Reality was utterly coolheaded and utterly lonely.

You can have tons of talent, but it won’t necessarily keep you fed. If you have sharp instincts, though, you’ll never go hungry.

What did it mean for a person to be free? she would often ask herself. Even if you managed to escape from one cage, weren’t you just in another, larger one?

But things never go the way you want them to, and this was no exception. The world seemed to have a better sense of how you wanted things not to go.

That’s what the world is, after all: an endless battle of contrasting memories.

I want to write a review about Hugo since the first time I saw the movie, which was about two months ago? Okay, so here we go…

To those of you who haven’t watched Hugo, I totally recommend you to watch it.

Long story short, this movie tells a story about an orphan boy, Hugo Cabret, who lived in the walls of a train station in Paris. He had an ability to fix clocks and other gadgets from his father and his uncle. When his father died, his uncle adopted him and took him to stay together at a train station and worked as the train-station-clocks-guardian (I named it by myself). However, there was one thing that connected him to his beloved dead father, a broken automaton (mechanical man) that couldn’t work without a special key. Hugo had to find the key in order to unlock the secret behind the automaton. He tried so hard to fix the automaton and find the key because he believed that his dead father left him a special message inside the automaton. During his adventures, Hugo met a shopkeeper, George Melies, who worked in the train station and his family. These people brought Hugo to a surprising connection between them, his dead father, and the automaton.

I am really really really in love with this movie. The story, the casts, the scenes, everything! To me, some of British actors lack in the connection between casts. I don’t know why but for me it is because of their peculiar accent. I can’t explain it very well, but their accent sometimes sounds too firm even during a sad scene, so it makes them lack of expression, occasionally. However, I am touched by some of the scenes from this movie, especially the last 30-minute where Hugo finally found the connection behind his dead father, the automaton, and George Melies.

And right after I watched the movie, I just realized that this movie is made based on Hugo Cabret book by Brian Selznick. Well, I was planning to buy the original English book but since my friend, Marcalais Fransisca, is the translator of the book, I bought the Indonesian version instead. 😀

The book itself is not as stunning as the movie. However, you can see Brian Selznick’s illustration throughout the book. He drew with pencil (I guess?) and it’s very beautiful, indeed. 🙂