Archive

Thoughts

stay-sane-in-the-midst-of-city-chaos

People say that life is all about balance, but hey Jakartans, how do you manage to stay sane living in the midst of city’s traffic chaos?

Throughout 2016 I didn’t experience the Jakarta’s crazy traffic during rush hours. I found peace in waking up and going to my working table next to my bedroom. This year, I’ve been trying something different by working part time for a digital agency located around Kuningan area, the area that I usually avoid most of the time. That means I have to go to Kuningan three times a week during rush hours and make peace with traffic.

It wasn’t easy at the beginning. Driving a car was out of the options because I didn’t want to get stuck in the traffic and release my anger to other people. I would be one of those people who kept angry but didn’t give a solution to make the city a better place for living. So I decided to commute to work by using on-demand transportation providers. I used car in the morning and motorbike in the evening, because the night traffic congestion was worse.

Then again, I found a problem.

Being a passenger didn’t mean stress couldn’t hit you and spending 1-2 hours or more on the street sitting while doing nothing was quite stressful, especially those in motorbike, because you had to deal with pollution and fluctuating weather too. Not to mention the long-suffering commuters who had to face late running train services. No wonder people do unpleasant things and become more ignorant of other people.

I know that we can’t change the traffic and our behavior in a blink on an eye but I believe we can feel better if we surround ourselves with good things during bad times, and that, my friends, will keep us sane.

Instead of opening our social media accounts and grumbling about the traffic, why don’t we fill our smartphone with great audio files? Podcast or audiobook, you decide. I am sure there are times when we feel bored of listening those same songs over and over again on the radio.

These are some of my favorite podcasts to listen to:

Art for your ear – The Jealous Curator

This podcast consists of conversations between The Jealous Curator and her artist/creative friends. She asks a lot of great questions and it feels like listening to two great friends talking about their passions. How awesome is that?

The Penguin Podcast

Notable Penguin authors appeared on this podcast: Malcolm Gladwell, Jennifer Saunders, and more. Listen to these authors talking about given themes. It’s wonderful.

Ted Radio Hour 

Just like its videos, Ted Radio Hour provides us very educational stories about interesting Ted speakers.

On Being

This podcast takes up the big questions of meaning through interviews with creatives, scientists, theologians, and teachers. You may already know some of them: Paulo Coelho, Sarah Kay, and more.

 

Otherwise, if you are a reader like me, you may want to start collecting audiobooks. It is a lovely treat to listen to an author read his or her own work, you know?

Do you have any other suggestions to cope with the busy traffic? I would love to hear one!

kindergarten graduation at a school in jakarta

Di depan pintu hall terbesar sebuah sekolah, anak perempuan dan laki-laki terlihat berkerumun dan mengenakan pakaian toga berwarna biru dengan tali topi toga berada di sebelah kiri topi. Menghadap ke panggung, para orang tua dan saudara-saudara dari mereka yang mengenakan toga terlihat duduk rapi di kursi-kursi yang sudah disediakan. Beberapa menit kemudian, seorang guru terlihat berada di atas panggung dan memanggil satu per satu nama anak berpakaian toga tersebut. Mendengar namanya dipanggil, anak yang tadinya berdiri di depan pintu mulai melangkah ke dalam hall sambil membawa setangkai bunga mawar dan didampingi oleh ibunda. Ia dan ibunya berjalan bersama-sama ke depan panggung, kemudian berhenti untuk berdiri berhadapan-hadapan. Sang ibu kemudian berlutut agar anak tercinta bisa mencium pipinya dan memberikan bunga mawar. Ibunda kemudian melepas anaknya pergi ke atas panggung dan ia pun duduk di kursi terdepan yang telah disediakan.

Wait… berlutut?

Iya, berlutut. Soalnya sang ibu ini sedang merayakan kelulusan anaknya dari taman kanak-kanak menuju sekolah dasar. Such a big step for one little kiddo, don’t you think?

Sebenarnya bukan acara kelulusannya yang mengganggu saya, tapi konsep yang dibuat seolah anak-anak ini baru saja menyelesaikan pendidikan terakhirnya untuk memasuki kehidupan nyata (baca: kehidupan kerja).

Setelah seluruh anak yang menyambut kelulusan ini berada di atas panggung, ada satu orang perwakilan dari mereka yang memberikan speech yang isi dan gaya bahasanya sangat, sangat dewasa. Speech yang menurut saya tidak mungkin diramu oleh anak berusia 5-6 tahun. Setelah itu, ada beberapa perwakilan dari sekolah dan orang tua murid juga memberikan speech yang isinya kurang lebih ucapan selamat karena mereka akan menempuh kehidupan pendidikan selanjutnya. Selama speech dari para perwakilan tersebut, anak-anak kecil yang ada di panggung terlihat asyik sendiri dan saya yakin mereka tidak paham apa yang sebenarnya terjadi. Helloooo, they are just kids!

Kindergarten graduation is supposed to be childish and fun, unlike those university graduation. I felt like attending a graduation ceremony in a university with a bunch of clueless little kids as the graduates. What do you want to say to the kids after the ceremony?

“Congratulations, you’re an adult now!” … Nah.

Congratulations! What do you want to do after this?” … Continue to the first grade at the same school with the same friends for many years to come, obviously.

I’m so proud of you. What do you want to eat?” … Yep, maybe.

A Rare Conversation: Sapardi Djoko Damono x Joko Pinurbo

A Rare Conversation: Sapardi Djoko Damono x Joko Pinurbo

Mengenal seseorang dari karya-karya yang ia hasilkan memang menyenangkan. Tapi, lebih menyenangkan lagi ketika kita bisa mengenal sosok personal di balik karya-karya yang ia buat.

Saya baru tahu, ternyata Sapardi Djoko Damono adalah “eyang mal”. Beliau sering berjalan-jalan di Pondok Indah Mall karena dokter menganjurkannya untuk banyak jalan. Malas terkena cuaca panas dan debu, tentu saja jalan di mal jadi pilihan tepat, mengingat Sapardi selalu tampil necis dengan jas dan topi seniman.

Saya juga baru tahu kalau Joko Pinurbo (Jokpin) sangat, sangat, sangat mengagumi buku puisi pertama Sapardi yang berjudul Dukamu Abadi. Ia bahkan mempunyai dua edisi: satu dalam bentuk yang menyerupai stensilan, satu dalam bentuk buku puisi biasa. Buku puisi itu juga yang membawa Jokpin serius untuk terjun sebagai penyair. Tidak terhitung berapa kali ia mengungkapkan kekagumannya akan buku puisi Dukamu Abadi.

Di atas panggung Asean Literary Festival 2016, Sapardi dengan gaya bicara yang nyeleneh ternyata bisa tampil sangat harmonis di atas panggung ketika dihadapkan dengan Jokpin yang cenderung blak-blakan. Dipandu oleh Najwa Shihab sebagai moderator, keduanya pun saling melemparkan guyonan ala Jawa Tengah saat menanggapi banyak pertanyaan yang diajukan Najwa.

Saya yakin sebagian besar masyarakat pasti sudah pernah membaca karya legendaris Sapardi, Hujan Bulan Juni dan Aku Ingin. Puisi yang sering sekali dijadikan kutipan dalam undangan pernikahan maupun digunakan untuk merayu orang ini ternyata dibuat hanya dalam waktu kurang dari 30 menit saja. Begitupun, penyair yang sangat rendah hati ini menganggap puisi-puisinya dikenal banyak orang karena telah dinyanyikan dengan sangat indah oleh duo vokal AriReda.

Ah, apapun alasannya, publik sangat mencintaimu, Sapardi. Meskipun masih ada juga yang salah mengira Kahlil Gibran sebagai penulis puisi Aku Ingin. Dikiranya orang Indonesia tidak bisa membuat puisi semesra ini.

Sebenarnya saya masih ingin mengetahui bagaimana proses Sapardi dalam merangkai kata-kata, dan mengapa menurutnya puisi yang dibuat dalam waktu singkat tanpa banyak revisi itulah yang ia anggap berhasil. Tapi namanya juga percakapan, topik pembicaraan harus terus bergulir, apalagi ketika sang moderator juga memimpin obrolan seperti ia membawakan talkshow-nya yang disiarkan di Metro TV, terkadang terlalu ingin cepat sampai ke hal yang ia ingin publik dengar.

Jokpin, yang menerbitkan buku puisi pertamanya di umur 30-an, berhasil menciptakan positioning yang sangat baik untuk karya-karyanya. Ia sempat menghabiskan waktu membaca puisi-puisi para penyair lain dan mencari celah, tema apa yang belum pernah mereka garap. Dari situ terciptalah puisi tentang celana, kamar mandi, jemuran, dan seterusnya.

Padahal, menurut saya, kalaupun Jokpin membahas topik yang sudah pernah dibahas oleh para penyair lain ,hasilnya akan tetaplah Jokpin: penataan kalimat dengan gaya bahasa sederhana yang ringan dibaca namun menyimpan makna-makna yang masih dianggap tabu bagi sebagian orang.

Kalau kumpulan puisi Sapardi itu ibarat menonton film-film Eropa yang artistik, cantik, dan penuh makna, puisi-puisi Jokpin bisa diibaratkan sebagai film dengan genre dark comedy. Dari luar terkesan slapstick, tapi sebenarnya ada sindiran-sindiran tertentu yang bisa jadi tidak bisa ditangkap oleh semua orang.

Beberapa dari kita pasti juga sudah pernah mendengar kalau Jokpin yang pencinta kopi ini sedang asyik-asyiknya menggarap puisi bertema Bahasa Indonesia. Salah satu puisinya berjudul Kamus Kecil sudah banyak beredar di media massa dan dunia maya, mengingatkan kita akan betapa menariknya Bahasa Indonesia, terlebih ketika mendengar langsung sang penyair membawakan puisinya.

Karya-karya mereka yang sangat indah mungkin membuat kita bertanya-tanya, bagaimana cara mereka menemukan inspirasi? Tentu saja kamu pasti sudah bisa menebak jawaban Sapardi. “Inspirasi kok dicari,” ujarnya. Bagi Sapardi, inspirasi bisa datang dari mana saja dalam kehidupan sehari-hari. Yang terpenting adalah jangan terhanyut dalam emosi ketika kita sedang berkarya. Baik Sapardi maupun Jokpin setuju, seseorang sebaiknya menulis ketika ia sudah bisa membuat jarak dengan emosi yang ingin ditumpahkan. “Kalau mau marah-marah, demo saja, jangan menulis,” tambah Sapardi yang mengaku ia sebenarnya bukan penyair cinta.

Terlepas dari karya apapun yang dihasilkan, kita tentunya tidak bisa memaksakan orang untuk memiliki interpretasi yang sama dengan apa yang kita pikirkan saat membuat karya tersebut. Buku Dukamu Abadi, contohnya. Jokpin mengatakan ia sangat terenyuh dengan puisi-puisi di dalam buku Dukamu Abadi karena ia melihat Sapardi seolah sedang menceritakan kejadian pasca 1965 dengan sangat halus (buku ini pertama kali diterbitkan tahun 1969). Padahal, Sapardi sendiri mengaku buku tersebut ia buat ketika ia sedang merasa kematian begitu dekat dengan dirinya. Tidak ada hubungannya dengan kejadian 1965.

Tapi, bukankah itu hal yang luar biasa? Bagaimana sebuah buku bisa menggugah banyak orang dengan interpretasi mereka masing-masing. Lagipula, mereka berdua tidak merasa masalah ketika orang lain menginterpretasikan karyanya dengan cara mereka sendiri. “Syair itu soal bunyi. Seperti apa interpretasinya, itu urusan lain,” kata Sapardi.

Berbeda dengan novel atau cerpen, setiap untaian kata yang terangkai di dalam sebuah puisi pasti memiliki bunyi yang indah. Puisi itu bagaimana kita bermain dengan kata-kata. Dan tugas seorang penyair adalah untuk menyelami bahasa.

Terima kasih Sapardi Djoko Damono, Joko Pinurbo dan Najwa Shihab, atas (kurang lebih) 90 menit percakapan yang menyenangkan saat Asean Literary Festival 2016. Meskipun sempat mengira akan melihat percakapan maut Sapardi dan Jokpin yang dibiarkan mengalir bebas tanpa arahan dari moderator yang beberapa kali terlihat ingin menjurus ke ranah politik, saya tidak kecewa. Rasanya seperti sedang duduk di bangku teras, memejamkan mata sembari menghadap ke taman kecil di depan rumah dan mendengarkan kalian bersenda gurau dengan guyonan yang menorehkan senyum hingga gelak tawa.


Berkali-kali ke Singapura, saya selalu menyimpan kekaguman pada negara ini. Negara mungil ini sadar kalau pada dasarnya mereka “miskin”, makanya mereka mencoba untuk memperkaya diri agar terlihat menarik di mata orang luar. And they are good at it, I mean, at attracting people to come and visit their country.

Okelah, mereka nggak sempurna. Sudah bukan rahasia lagi kalau negara mereka memang memberlakukan hukum yang cukup membuat semua penduduknya harus menuruti peraturan. Bikin nggak enak sedikit, kena denda. Melanggar aturan sedikit, ada hukuman. Mata-mata di mana-mana, dan mungkin warganya juga sudah terprogram untuk mengikuti apa yang pemerintah arahkan.

Because we only have the people,” ujar salah seorang warga Singapura yang kebetulan waktu itu saya ajak ngobrol bareng. Topik obrolannya bukan tentang politik, sebenarnya, tapi entah gimana jadi sedikit nyerempet ke situ. Dan waktu sedikit saja ngomongin tentang negara, spontan volume suara langsung mengecil.

Sepertinya Singapura sadar kalau mereka nggak punya sumber daya lainnya selain manusia. Jadi, satu-satunya cara untuk membuat negara ini maju adalah dengan meredam emosi-emosi yang bisa muncul akibat ras, suku, agama, dan lainnya melalui peraturan super ketat. Meskipun, tentu saja, ketegangan antar suku bukan sama sekali bisa menghilang begitu saja. Sebagai gantinya, warga mendapatkan kenyamanan dari berbagai sisi. Mereka yang kurang mampu diberikan bantuan dana agar bisa hidup cukup layak. Sementara itu, pemerintah sering banget memberikan kucuran dana untuk perseorangan maupun kelompok, selama apa yang mereka buat nggak menyinggung SARA, mengusung sejarah lokal, dan seksi di mata wisatawan. Kedengaran cukup kulit, ya? Iya sih. Tapi sepertinya itu memang trik mereka untuk mendatangkan orang banyak dan menyenangkan turis.

Di bidang seni, misalnya. Walaupun rasanya nggak banyak seniman Singapura yang namanya mendunia, mereka bisa mengadakan art fair kelas dunia, seperti Art Stage Singapore (yang ternyata kuratornya ada yang berasal dari Jogja) dan Singapore Contemporary Art Fair bulan Januari lalu. Di bulan April dan September ini mereka bahkan akan mengadakan Affordable Art Fair karena konon penjualannya laris manis.

Karya Yayoi Kusama di Art Stage Singapore

Karya Ee Shaun di Singapore Contemporary Art Fair

Belum lagi National Gallery Singapore yang baru beberapa bulan dibuka. Di galeri yang megah dan mewah ini ada banyak banget karya seniman Indonesia yang menjadi koleksi National Gallery Singapore, salah satunya lukisan terbesar karya maestro Raden Saleh. Senang sih, karena karya lokal mendapatkan apresiasi internasional di tempat yang sangat bagus. Tapi, bukannya harusnya justru bisa kita melihat karya maestro lokal di negeri sendiri ya? Well, that’s just my two cents. Anyway, tiket masuk ke National Gallery Singapore ini SGD20 per orang untuk turis, dan galerinya luas banget. Jadi mendingan datang dari pagi supaya bisa lihat semua karya dan menikmati arsitekturnya dengan santai.

National Gallery Singapore

Interior National Gallery Singapore

Lukisan terbesar Raden Saleh, Kebakaran Hutan

Taman juga menjadi salah satu hal yang saya suka dari negara ini. Di samping menjadi tempat yang enak banget untuk piknik dan berolahraga, taman juga menjadi tempat yang pas buat para pencinta anjing. Beberapa waktu lalu, saya dan suami khusus mampir ke Botanical Garden karena ingin melihat anjing yang dibawa jalan-jalan. Kami mendatangi beberapa pemilik anjing untuk sekadar bermain dengan anjingnya. Kalau saja ada istilah “pedogfil”, rasanya kami salah satunya. 😀

Can you say no to those eyes? I can’t!

Banyaknya turis yang bisa dengan mudah lalu lalang di jalanan kota juga salah satu faktor yang membuat industri pariwisata di Singapura sangat baik. Saya sempat mengunjungi sebuah sinema alternatif bernama The Projector yang menampilkan film-film yang mungkin nggak diputar di sinema pada umumnya. Sebut saja What We Do in the Shadow, The Danish Girl, Taxi Tehran, dan lain sebagainya. Melalui crowdfunding, The Projector berhasil membangkitkan kembali dan mempercantik lokasi sinema lawas di kawasan Beach Road. Kalau di sinema umum harga tiket film sekitar SGD8, The Projector menaruh harga SGD13. Jumlah yang nggak murah, sebenarnya. Tapi, saya melihat ada cukup banyak warga lokal dan turis yang tertarik dengan tempat ini.

Tampak depan lift menuju The Projector

Interior di Dalam The Projector

Sebenarnya, apa yang dimiliki Singapura sangat jauh lebih sedikit dari apa yang kita miliki. Indonesia memiliki keragaman budaya, kekayaan alam, dinamika menarik, dan masih banyak lagi. Tapi, mungkin memang dibutuhkan lebih dari memiliki secara cuma-cuma untuk seseorang bisa menghargai apa yang dipunya.

Mengutip acceptance speech mas Leonardo Dicaprio untuk Oscar 2016, “Let us not take this planet for granted.” 

Yup, we shall not take what we have for granted.

657ac6ba4dfbabf6059e5e9eb0dd5c80-2

Vol-un-teer: freely offer to do something

Mungkin ini hanya perasaan saya saja, mungkin. Tapi, entah kenapa saya merasa sebagian anak-anak muda yang saat ini mendaftar untuk kegiatan volunteer memiliki semangat yang sedikit berbeda dibandingkan dulu ketika saya dan teman-teman ber-volunteer.

Pertama kalinya saya mendaftar menjadi volunteer itu di tahun 2009 untuk acara Ubud Writers & Readers Festival (UWRF). Saya benar-benar lupa darimana saya tahu kalau saat itu UWRF membuka lowongan untuk para volunteer, tapi yang jelas saat itu saya mendaftar karena tiga hal: saya memiliki ketertarikan terhadap buku, ingin berkenalan dengan orang-orang baru, dan ingin pergi ke Bali (well, who doesn’t?).

Mirip seperti mencari lowongan pekerjaan, proses aplikasi menjadi volunteer tidak sesederhana itu. Saya diminta untuk mengisi formulir aplikasi dan menunggu konfirmasi email dari panitia yang memutuskan apakah saya diterima atau tidak. Seingat saya, di formulir tersebut bahkan atasan saya di kantor harus menuliskan pernyataan kenapa saya layak untuk diterima sebagai volunteer. It seems so much for a volunteer, eh? But I completed all the requirements anyway.

Sebagai volunteer, saya menyadari bahwa acara ini tidak akan membiayai pengeluaran apapun untuk mencapai tempat acara. Yang saya tahu, mereka menyediakan akomodasi, transportasi, dan makan hanya saat para volunteer bekerja.

Yang baru saya sadari saat menjadi volunteer adalah saya tidak bisa menikmati setiap sesi yang diadakan ketika bertugas karena saya sedang bertugas! Di UWRF, ada begitu banyak sesi yang diadakan dalam satu hari dengan nama-nama panelis yang begitu menggugah lidah, eh selera. Karena itulah, saya juga berharap bisa jaga kandang sambil menikmati setiap sesi yang saya suka. Itu harapan… Realitanya sudah pasti lain.

Sebagai volunteer, saya bisa memilih posisi apa yang saya inginkan, tapi saya tidak bisa memilih mau ditempatkan di sesi apa. Ketika sedang bekerja pun saya tidak bisa memperhatikan jalannya acara dengan konsentrasi penuh karena saat bertugas pasti ada saja distraksi-distraksi kecil.

Gagalnya ekspektasi tersebut bukan berarti menyulutkan niat saat bertugas, karena sebenarnya saya mendapatkan hal yang lebih besar dari itu: pengalaman baru dan bertemu dengan orang-orang baru yang sampai hari ini masih berhubungan baik. Lebih tepatnya, saya merasa menemukan rumah baru berisi orang-orang yang nyaman untuk tinggal bersama.

Menjadi volunteer bukanlah hal yang remeh dan bukan berarti hanya mencari kesempatan untuk bisa menikmati sebuah acara yang lagi happening secara gratis. Jangan ambil kesempatan untuk menjadi volunteer jika hanya itu yang ada di dalam pikiran, because there is so much more than that. Sesuai dengan namanya, menjadi volunteer berarti kita secara sukarela membantu keberlangsungan sebuah acara. Dan sebagai timbal baliknya, kita pasti akan menemukan sesuatu yang tidak bisa kita temukan di tempat lain: pengetahuan baru, keluarga baru.

Processed with VSCOcam with a7 preset

In the middle of the journey of our life, we will meet and lose people whom we call friends, enemies, families, relatives, colleagues, and others. Friends become enemies, enemies become friends, acquaintances become best friends, we never know. Some people come to our life to show us the real meaning of togetherness. And that feels great, somehow, knowing that they will be at your side through the good times and the bad times.

However, some other people come to our life to teach us the art of losing someone. When a person walks away from your life, it doesn’t always mean that you do them wrong. Perhaps their part in your life is over and they have to meet other people to give the same lesson they give to you. The good thing is, you can move on and don’t have to think about that person too long. You don’t have to hope what you think about them is wrong and they could come back to your side again. No. Things are not going that way.

Everyone has their own problems, and maybe their perfect way to deal with those is by escaping to another place. Maybe.

The-Science-Behind-Habitually-Late-People

Saya agak bingung, sebenarnya. Kenapa kita, orang Indonesia, selalu dibilang sering ketinggalan dibandingkan negara-negara lain?

Padahal, ketika ada launching produk smartphone terbaru, pasti kita selalu berusaha menjadi yang terdepan: membeli pre-order lewat website manapun yang menerima pre-order, titip teman yang kebetulan tinggal di negara yang pertama kali mengeluarkan smartphone tersebut, atau rela mengantri berjam-jam di toko hanya untuk jadi salah satu dari yang pertama memiliki produk tersebut.

Juga, ketika ada acara besar yang akan digelar di ibukota, sudah pasti kita harus jadi yang pertama memiliki tiketnya dong? Suka ataupun tidak dengan acaranya, jangan sampai kita tidak nonton, nanti tidak punya bahan obrolan dengan teman-teman lainnya.

Apalagi kalau ada pembukaan sebuah tempat yang konon kabarnya hits banget. Waduh, tidak boleh tidak mampir setidaknya dalam waktu satu bulan sejak tempat itu dibuka. Kan malu kalau nanti orang lain bisa saling bertukar pendapat soal tempat ini sementara kita pernah menginjakkan kaki saja belum. Mau ngantri sepanjang apapun rasanya tidak jadi  masalah.

Entah kenapa, berdesak-desakan tapi jadi yang pertama tanpa tahu lebih dulu sebenarnya apa yang membuat kita ingin melakukan hal tersebut rasanya lebih seru dibandingkan harus sabar menunggu dan mencerna informasi yang ada.

Sikap yang teramat sangat responsif. Ada baiknya, tapi tidak banyak juga jeleknya. Apalagi kalau sikap responsif ini diterapkan dalam dunia maya, di mana realita dan kebohongan memiliki porsi yang hampir sama besar. Salah-salah, malah jadi saling menyalahkan orang lain.

Jadi, sebenarnya kita itu cepat atau lambat sih?