Separuh jalan membaca buku Steve Jobs yang ditulis oleh Walter Isaacson, saya sempat bertanya kepada suami,

“Steve Jobs itu mungkin semacam Tuhannya teknologi ya?”

“Bukanlah, dia itu nabi teknologi,” kata suami mantap.

Iya, sih. Mungkin istilah nabi kedengarannya lebih tepat daripada Tuhan. Saya memang agak lebay, tapi distorsi realita yang ia berikan kepada orang-orang yang bekerja dengannya luar biasa banget. Steve bisa membuat orang-orang tersebut berhasil melakukan hal-hal yang melampaui batas, membuat yang kelihatannya tidak mungkin menjadi mungkin.

Walter mengisahkan perjalanan kehidupan Steve Jobs secara kronologis, dimulai dari ketika Steve diangkat anak karena ia merupakan anak di luar nikah dan pernikahan pasangan tersebut (saat mengandung Steve) nggak disetujui oleh ayah sang perempuan yang kala itu sedang sakit kritis. Meskipun demikian, Steve tidak pernah menganggap mereka orang tua kandung tapi hanyalah “pendonor sperma dan telur”. Ia bahagia dengan orang tua yang mengasuhnya dari bayi hingga dewasa. 

Kehidupan Steve semasa kecil juga yang membuat ia menjadi seorang perfeksionis. Ayahnya mengajarkan Steve untuk memperhatikan setiap detail, bahkan yang nggak kelihatan dari mata pengunjung. Tidak heran, setiap produk Apple (bagi saya) terlihat begitu sempurna, meskipun saya tidak pernah sampai iseng membuka hingga ke bagian dalamnya. 

Selain mengisahkan tentang jatuh bangun Steve membangun Apple, mulai dari mendirikan perusahaan di garasi rumahnya hingga ia dipecat dari perusahaannya sendiri lalu masuk membantu berkembangnya Pixar Studio sampai kemudian ia diminta untuk kembali lagi ke Apple, buku ini juga mengisahkan perjalanan spiritual Steve ke India, kisah percintaannya sampai menemukan pasangan hidup Laurene Powell, juga pola makan Frutarian yang membuatnya kesulitan saat ia divonis menderita kanker.

Cerita-cerita yang diangkat di sini tidak melulu menggambarkan betapa karismatiknya Steve sebagai seorang pemimpin. Ia bukan inventor dan keahlian teknisnya nggak bisa dibandingkan dengan Wozniak, tapi ide-ide kreatif yang ia miliki membuatnya bisa menciptakan sebuah produk yang mengubah dunia. Tidak bisa dipungkiri lagi, kemampuan public speaking dan negosiasi yang dipunyai Steve melebihi rata-rata, dan itulah yang membuat ia bisa meminta orang pintar untuk mengerjakan apa yang ia inginkan. Namun, di sisi lain Steve juga manusia biasa yang punya keterbatasan dalam berinteraksi sosial. Ia bukan orang yang suka melapisi omongannya dengan kata-kata manis. Ada banyak orang yang senang bekerja dengannya, tapi tidak sedikit juga orang yang sakit hati dengan caci makinya.

Bagi saya, Walter menggambarkan Steve sebagai seorang manusia jenius yang tidak sempurna. Tapi, di balik itu semua sebenarnya ia cuma ingin yang terbaik dari apapun yang ia kerjakan. Setiap bab yang dituliskan oleh Walter bisa membawa saya seolah berada di adegan tersebut dan menyaksikan langsung dari kursi terdepan. Ada banyak banget kutipan berharga yang bisa diambil dari cerita Steve, dan tidak jarang juga bermunculan kisah yang membuat haru. 

Selesai membaca buku ini, saya sempat melihat-lihat review orang-orang lain dan mengetahui bahwa ternyata para petinggi Apple tidak menyukai buku ini karena dianggap nggak menggambarkan kepribadian Steve yang sebenarnya. Selain itu, mereka juga kecewa karena ada beberapa kesalahan seputar fakta teknologi di dalam bukunya. Tapi, sebagai pengguna produk Apple yang bukan pemerhati teknologi, saya tidak memperhatikan sama sekali kesalahan fakta teknologi yang ada dan merasa senang membaca bukunya karena tidak banyak muncul istilah teknologi yang njelimet. Saya juga ragu kalau Walter tidak menggambarkan Steve apa adanya, karena bagaimanapun ia adalah penulis yang resmi diminta oleh Steve untuk menuliskan tentang kehidupannya.

Ekspektasi saya saat membaca buku ini memang ingin melihat sisi “manusia” seorang Steve Jobs yang banyak didewakan orang, dan saya mendapatkannya di buku ini. 

Advertisements

illustration: irene saputra

I used to hate silence and being alone.

It was the only time when I couldn’t stop my brain from thinking of the negative version of me, or, the version of me that I didn’t like. It was the only time when I started judging myself.

Ever since I was a child, I couldn’t remember when my parents were home. They were either busy working from early morning to late at night or out of town once in a while. I spent most of my time alone, thinking perhaps I was born by accident; hence they were not ready to have me. Sometimes my grandma came to accompany me. I once thought he was my mother, but she taught me to call her “nana” and referred to my mother as “mom”. She was the closest family member I had until she died when I was seven years old. I didn’t know she died back then. I thought she bored of me because I couldn’t tell her any interesting stories, so she decided to left me.

When I grew up as a teenager, I found that being in a group made me feel safe and comfortable. I didn’t need to talk so much because there were always one of two people in the group who dominated the conversation. Maybe I was quite lucky to have this pretty face that made people wanted to make friends with me even though I was boring. At least it was written in one article I read: life is so much beautiful for those with pretty faces. Yet pretty faces were everywhere. When they found another one who was apparently more talkative, I was out of the options.

So I was alone with myself, again.

There were times when I wanted to change my life. I thought being involved in a one-on-one conversation would make me feel more comfortable in saying something on my mind. Apparently not. I ended up being the listener who never had a chance to open up because the one who talked with me was having a lot of things to talk about that I actually did not want to hear. When they found other people who wanted to listen with more sincere face than me, I was out for sure.

And then there was only me.

Again, I thought I could be more open and talkative when I was in a totally new environment. So I moved from my hometown right after I graduated from college to a town where none of my friends were there. I wanted to start fresh and create a new image to new people I would meet. But life did not work that way. Apparently it was hard to start from zero and people I met already had long time friends since they were very young. I made acquaintances, but they were never friends.

Don’t get me wrong. I had few dates, but they broke up with me with the same reason: at that time they were the only person who was so closed to me but they barely knew anything about me. Mostly because I did not tell anything about me to them.

I did not why but I was scared, you know. I found it hard to tell about myself to other people. I thought nobody should not know my story. I had nothing to be proud of and actually it was something I wanted to forget but I could not. Being with someone else made me forget everything about the version of me that I did not like. For a moment, I finally could think of anything but self-pitying myself.

However, the more people wanted to know more about me, the more I became defensive and closed my door. Perhaps they were tired of knocking and not being able to get in, and, perhaps… I was afraid they would leave me like Nana. And they did.

Well, all that happened before I met you. I never thought I could be more open than this. I have told you everything about my life and it is quite nice to know that you will always by my side and never complain about me. I feel like I’m seeing myself in you. I finally found someone who wants to stay with me forever without asking too much of me.

No more loneliness.

Mirror, mirror on my hand. Best friend forever, OK?

2160

sumber: theguardian.com

Saat mendengar judul film The Ones Below, awalnya saya mengira kisahnya akan berhubungan dengan makhluk-makhluk yang tidak terlihat. Tapi, ternyata tidak demikian. The Ones Below merupakan film psychological thriller dengan adegan-adegan yang menurut saya cukup mengganggu tanpa visual yang sebenarnya mengganggu. Sebuah film yang membuat jantung deg-degan tanpa harus menghadirkan adegan yang mengagetkan, dan membuat saya menanti-nanti kapan film ini berakhir dengan bahagia (tapi teryata tidak).

Adegan film ini diawali dengan gambar janin yang dilihat melalui USG untuk membuka kisah selanjutnya yang tentu saja bercerita tentang seorang pasangan yang akan mempunyai anak. Adegan kemudian berpindah ke pasangan suami istri Kate (Clemensy Poesy) dan Justin (Stephen Campbell Moore) yang sedang mengendarai mobil menuju apartemen baru di mana mereka akan menempati ruangan di lantai atas. Latar belakang lagu bernuansa eerie cukup membuat saya tahu bahwa akan ada keganjilan-keganjilan yang mereka temui di apartemen tersebut.

Di apartemen barunya, Kate dan Justin bertetangga dengan pasangan suami istri Theresa (Laura Birn) dan Jon (David Morrissey) yang juga sedang menantikan kelahiran seorang anak. Justin yang sehari-hari bekerja sebagai jurnalis dan Jon yang bekerja sebagai bankir harus meninggalkan Kate dan Theresa di rumah saat jam kerja. Di saat itu juga Kate dan Theresa berkenalan kemudian pergi berenang bersama. Pertemanan mereka semakin dekat hingga suatu saat Kate mengundang Theresa dan Jon untuk makan malam di apartemennya yang selanjutnya berubah menjadi bencana.

(sumber: film.list.co.uk)

sumber: film.list.co.uk

Jon ternyata memiliki karakter yang sangat dingin dan terlihat mudah marah, sementara itu, Theresa, yang saat di meja makan bersama menolak untuk minum wine, diam-diam meminum bergelas-gelas wine saat Jon sedang ngobrol dengan Justin di ruangan lain. Usai makan malam, Theresa yang keluar pintu apartemen terlebih dahulu terjatuh di tangga dan mengakibatkan ia harus kehilangan calon buah hatinya.

Hubungan kedua pasangan suami istri ini lantas memburuk dan jadi saling menyalahkan. Theresa dan Jon memutuskan untuk pergi dari apartemen tersebut, meninggalkan Kate dan Justin. Namun, hal itu tidak berlangsung lama. Tidak lama setelah Kate melahirkan anak laki-laki, mereka kembali bertetangga dan memberikan ucapan selamat dengan tulus. Theresa sering memberikan hadiah untuk sang bayi dan menawarkan untuk mengasuhnya ketika Kate ingin pergi ke luar.

Kate mulai curiga ketika suatu saat alarm bayinya berbunyi dan ia mendengar suara nafas seseorang ketika ia dan Justin sedang berada di apartemen Theresa (Jon belum pulang dari kantor saat itu). Ternyata, seseorang menyalakan keran bak mandi di apartemen Kate hingga menggenang ke seluruh apartemen. Kate juga sempat melihat Theresa menyusui anaknya ketika dititipkan dan menemukan kamar rahasia di apartemen Theresa dan Jon yang berisi perlengkapan bayi dan foto anak laki-lakinya.

Seperti halnya cerita horor maupun thriller pada umumnya, pasangan dari tokoh yang panik pasti tidak memercayai apa yang diceritakan oleh tokoh yang panik tersebut, begitu juga dengan Justin. Ia hanya menganggap Kate sedang stres dan kehilangan akal karena tidak ada bukti yang terlihat secara kasat mata. Untungnya, film ini tidak berlanjut seperti film horor atau thriller yang biasanya itu. Meskipun tidak mempercayai istrinya, Justin menuruti keinginan Kate yang ingin pindah apartemen. Sayangnya, mereka harus menunggu dua hari untuk bisa pindah dan celah tersebut dimanfaatkan oleh Theresa dan Jon untuk merusak kehidupan mereka.

Saya berharap akhir yang happy ending karena sebenarnya saya tidak suka ketika bad guys harus menang, soalnya kan mereka sudah jahat sepanjang film! Tapi ya cerita ini akhirnya akan biasa saja kalau ending-nya bahagia. Akhirnya cukup bikin depresi, karena sebagai tokoh utama saya pasti akan berpikir, “kalau saja…” supaya tidak kejadian. Seperti apa trik Theresa dan Jon untuk menghancurkan kehidupan mereka, sebaiknya langsung ditonton sendiri saja supaya seru. Sangat licik dan tidak terduga.

Lagi-lagi, moral of the story-nya adalah: trust your spouse more than anyone in this world, unless you’re in an unhappy relationship.

night terror

Sesaat sebelum menyuruhku kabur, mama sempat berbisik padaku. Pesan yang akan selalu kuingat hanya satu: bahwa dunia ini kejam dan semua orang membenci kita!

“Nak, hati-hati kalau jalan-jalan. Jangan pernah pergi sendirian. Di luar sana banyak bahaya. Siang mungkin terang, tapi ia berbahaya. Bahkan bayangan pun tidak mampu bersembunyi.

Orang-orang itu jahat. Sekali kamu bertemu pandang, mereka akan langsung seperti orang gila. Ada yang memicingkan mata kemudian melipat bibir dan mulai mengeluarkan sumpah serapah karena menganggap kita tidak layak hidup. Ada yang langsung lari terbirit-birit karena tidak ingin mengalami kontak langsung. Beberapa ada yang cukup berani berhadapan langsung karena ingin kita mati. Biasanya mereka akan mengambil benda keras terdekat yang dapat mereka angkat untuk dihantam ke kita.

Pernah juga ada yang berpura-pura baik. Mereka mencoba menyapa kita dan membawakan makanan enak yang ternyata sudah diracun. Mungkin kamu tidak ingat karena waktu itu usiamu masih satu tahun, tapi adik mama tertipu dan akhirnya mati.

Lebih baik kamu jalan-jalan di malam hari. Meskipun gelap tapi lebih sepi. Ingat, jangan sampai terlihat siapa pun atau kamu akan bernasib seperti mama. Sekarang, pergi! Cepat!”

Itulah ucapan terakhir mama. Aku melihat tiga orang mulai datang menghampiri kami sambil membawa peralatan menyeramkan. Tidak ada yang bisa kulakukan selain menyelamatkan diri sendiri.

Hari itu, genap seminggu kami sekeluarga tidak makan. Aku dan mama pergi diam-diam di malam hari, berniat untuk membawakan makanan untuk adik-adik. kami menyusup ke dalam sebuah rumah dan melihat ada makanan mewah di atas meja. Tidak ada siapapun di sekeliling kami, dan hidangan itu terlihat seperti baru akan disantap oleh para penghuni rumah, jadi kemungkinan kecil untuk diracun. Tanpa pikir panjang, mama pun naik ke atas meja. Di sana, perangkap tidak terlihat sudah dipasang. Kaki mama terkena lem.

Ya, lem tikus.

 

Picture is taken from here.

kindergarten graduation at a school in jakarta

Di depan pintu hall terbesar sebuah sekolah, anak perempuan dan laki-laki terlihat berkerumun dan mengenakan pakaian toga berwarna biru dengan tali topi toga berada di sebelah kiri topi. Menghadap ke panggung, para orang tua dan saudara-saudara dari mereka yang mengenakan toga terlihat duduk rapi di kursi-kursi yang sudah disediakan. Beberapa menit kemudian, seorang guru terlihat berada di atas panggung dan memanggil satu per satu nama anak berpakaian toga tersebut. Mendengar namanya dipanggil, anak yang tadinya berdiri di depan pintu mulai melangkah ke dalam hall sambil membawa setangkai bunga mawar dan didampingi oleh ibunda. Ia dan ibunya berjalan bersama-sama ke depan panggung, kemudian berhenti untuk berdiri berhadapan-hadapan. Sang ibu kemudian berlutut agar anak tercinta bisa mencium pipinya dan memberikan bunga mawar. Ibunda kemudian melepas anaknya pergi ke atas panggung dan ia pun duduk di kursi terdepan yang telah disediakan.

Wait… berlutut?

Iya, berlutut. Soalnya sang ibu ini sedang merayakan kelulusan anaknya dari taman kanak-kanak menuju sekolah dasar. Such a big step for one little kiddo, don’t you think?

Sebenarnya bukan acara kelulusannya yang mengganggu saya, tapi konsep yang dibuat seolah anak-anak ini baru saja menyelesaikan pendidikan terakhirnya untuk memasuki kehidupan nyata (baca: kehidupan kerja).

Setelah seluruh anak yang menyambut kelulusan ini berada di atas panggung, ada satu orang perwakilan dari mereka yang memberikan speech yang isi dan gaya bahasanya sangat, sangat dewasa. Speech yang menurut saya tidak mungkin diramu oleh anak berusia 5-6 tahun. Setelah itu, ada beberapa perwakilan dari sekolah dan orang tua murid juga memberikan speech yang isinya kurang lebih ucapan selamat karena mereka akan menempuh kehidupan pendidikan selanjutnya. Selama speech dari para perwakilan tersebut, anak-anak kecil yang ada di panggung terlihat asyik sendiri dan saya yakin mereka tidak paham apa yang sebenarnya terjadi. Helloooo, they are just kids!

Kindergarten graduation is supposed to be childish and fun, unlike those university graduation. I felt like attending a graduation ceremony in a university with a bunch of clueless little kids as the graduates. What do you want to say to the kids after the ceremony?

“Congratulations, you’re an adult now!” … Nah.

Congratulations! What do you want to do after this?” … Continue to the first grade at the same school with the same friends for many years to come, obviously.

I’m so proud of you. What do you want to eat?” … Yep, maybe.


Jujur, kalau tahu dari awal jumlah halaman buku 1Q84 karya Haruki Murakami mencapai seribu lembar, mungkin saya akan berpikir lima kali sebelum mulai membaca. Tapi apa boleh buat, e-book 1Q84 sudah terpampang cantik di iBooks, dan saya pikir tidak ada salahnya menjadikan salah satu buku Murakami teman perjalanan panjang saya saat berlibur ke Asia Tenggara (liburan terjadi di bulan Januari – Februari, dan saya baru bisa menyelesaikan 1Q84 bulan April! I’m a slow reader, tho’).

Novel 1Q84 (ternyata) terdiri dari tiga buku yang mengisahkan petualangan seorang perempuan bernama Aomame yang “terdampar” di sebuah dunia alternatif pada tahun 1984. Dunia alternatif tersebut ia namakan 1Q84, di mana banyak keganjilan ia temukan, terutama kehadiran dua bulan di langit malam hari. Aomame, yang memiliki pekerjaan sebagai pembunuh bayaran, mendapatkan misi serius untuk membunuh seorang pemimpin sebuah sekte agama yang dianggap sangat berbahaya. Di luar profesinya, Aomame sebenarnya hanya perempuan biasa yang bisa merasakan jatuh cinta. Selama tiga puluh tahun ia hidup, Aomame tidak pernah berpacaran dan hanya mencintai satu orang laki-laki yang berasal dari masa kecilnya, Tengo Kawana yang kini berprofesi sebagai seorang guru matematika dan ghost writer. Buku ini mengisahkan perjuangan Aomame mencari Tengo (dan sebaliknya) di tengah misinya membunuh pemimpin sekte agama.

Premisnya sangat menarik. Waktu membaca beberapa halaman pertama saya merasa langsung bisa masuk ke dalam cerita dan membayangkan adegan demi adegan yang tertera di dalam buku. Sayang, sebagai novel, Murakami bercerita dengan sangat detail dan terkesan mengulang-ulang, sampai saya sering sekali skimming paragraf-paragraf yang terlalu deskriptif dan menurut saya tidak berpengaruh ke cerita selanjutnya apabila tidak dibaca. Terkadang, saya merasa karakter-karakter yang ada di dalam cerita terkesan memiliki kepribadian yang mirip karena kecenderungan mereka untuk mendeskripsikan setiap detail pergerakannya. 

Saya juga merasa kisah cinta Aomame dan Tengo agak kurang meyakinkan di kehidupan nyata (well, it took place in an alternate world). Entah kenapa, rasa cinta Aomame ke Tengo terkesan dipaksakan, begitu juga Tengo. Di awal tidak pernah disebutkan Tengo merasakan percikan chemistry terhadap Aomame waktu kecil. Aomame dan Tengo adalah teman masa SD yang sebenarnya tidak pernah bertegur sapa, kecuali suatu waktu Aomame pernah menggenggam tangan Tengo yang ternyata memori tersebut membekas di ingatan mereka berdua. Tapi, ketika cerita berjalan saya tidak merasakan rasa cinta Tengo kepada Aomame. Sepertinya rasa cinta itu dipaksakan di tengah jalannya cerita, karena di awal Tengo lebih banyak bercerita soal kekagumannya akan Fuka-eri, seorang perempuan muda misterius berusia 17 tahun yang novelnya dituliskan oleh Tengo sebagai ghost writer dan langsung menjadi best seller.


Buku 1Q84 dituliskan lewat sudut pandang Aomame dan Tengo yang diceritakan secara bergantian per chapter. Di buku ketiga, mendadak ada sudut pandang baru yang masuk dan memakan kurang lebih dua chapter (kalau saya tidak salah), and it was so boring I even skipped it, not skimmed it. 

Ada banyak pertanyaan tidak terjawab bahkan sampai 1Q84 selesai. Ending yang cukup sederhana untuk kisah yang rumit juga membuat saya kurang puas (saya sampai mikir, lah, gitu doang nih?). Tapi, seperti yang saya baca dari sebuah sumber, mungkin memang itu tujuan Murakami. Ia ingin membuat sebuah cerita cinta sederhana dengan serumit mungkin. 

Overall, turbulensi membaca 1Q84 mungkin begini: penuh goncangan di awal – datar di tengah – lumayan bergoncang menuju akhir – mendarat dengan sangat tenang. Tapi serius deh, kalau kamu seperti saya yang harus membaca buku sampai kelar dulu baru bisa pindah ke buku lain, lebih baik cari waktu lowong panjang untuk membaca 1Q84.

Kutipan favorit:

Reality was utterly coolheaded and utterly lonely.

You can have tons of talent, but it won’t necessarily keep you fed. If you have sharp instincts, though, you’ll never go hungry.

What did it mean for a person to be free? she would often ask herself. Even if you managed to escape from one cage, weren’t you just in another, larger one?

But things never go the way you want them to, and this was no exception. The world seemed to have a better sense of how you wanted things not to go.

That’s what the world is, after all: an endless battle of contrasting memories.

A Rare Conversation: Sapardi Djoko Damono x Joko Pinurbo

A Rare Conversation: Sapardi Djoko Damono x Joko Pinurbo

Mengenal seseorang dari karya-karya yang ia hasilkan memang menyenangkan. Tapi, lebih menyenangkan lagi ketika kita bisa mengenal sosok personal di balik karya-karya yang ia buat.

Saya baru tahu, ternyata Sapardi Djoko Damono adalah “eyang mal”. Beliau sering berjalan-jalan di Pondok Indah Mall karena dokter menganjurkannya untuk banyak jalan. Malas terkena cuaca panas dan debu, tentu saja jalan di mal jadi pilihan tepat, mengingat Sapardi selalu tampil necis dengan jas dan topi seniman.

Saya juga baru tahu kalau Joko Pinurbo (Jokpin) sangat, sangat, sangat mengagumi buku puisi pertama Sapardi yang berjudul Dukamu Abadi. Ia bahkan mempunyai dua edisi: satu dalam bentuk yang menyerupai stensilan, satu dalam bentuk buku puisi biasa. Buku puisi itu juga yang membawa Jokpin serius untuk terjun sebagai penyair. Tidak terhitung berapa kali ia mengungkapkan kekagumannya akan buku puisi Dukamu Abadi.

Di atas panggung Asean Literary Festival 2016, Sapardi dengan gaya bicara yang nyeleneh ternyata bisa tampil sangat harmonis di atas panggung ketika dihadapkan dengan Jokpin yang cenderung blak-blakan. Dipandu oleh Najwa Shihab sebagai moderator, keduanya pun saling melemparkan guyonan ala Jawa Tengah saat menanggapi banyak pertanyaan yang diajukan Najwa.

Saya yakin sebagian besar masyarakat pasti sudah pernah membaca karya legendaris Sapardi, Hujan Bulan Juni dan Aku Ingin. Puisi yang sering sekali dijadikan kutipan dalam undangan pernikahan maupun digunakan untuk merayu orang ini ternyata dibuat hanya dalam waktu kurang dari 30 menit saja. Begitupun, penyair yang sangat rendah hati ini menganggap puisi-puisinya dikenal banyak orang karena telah dinyanyikan dengan sangat indah oleh duo vokal AriReda.

Ah, apapun alasannya, publik sangat mencintaimu, Sapardi. Meskipun masih ada juga yang salah mengira Kahlil Gibran sebagai penulis puisi Aku Ingin. Dikiranya orang Indonesia tidak bisa membuat puisi semesra ini.

Sebenarnya saya masih ingin mengetahui bagaimana proses Sapardi dalam merangkai kata-kata, dan mengapa menurutnya puisi yang dibuat dalam waktu singkat tanpa banyak revisi itulah yang ia anggap berhasil. Tapi namanya juga percakapan, topik pembicaraan harus terus bergulir, apalagi ketika sang moderator juga memimpin obrolan seperti ia membawakan talkshow-nya yang disiarkan di Metro TV, terkadang terlalu ingin cepat sampai ke hal yang ia ingin publik dengar.

Jokpin, yang menerbitkan buku puisi pertamanya di umur 30-an, berhasil menciptakan positioning yang sangat baik untuk karya-karyanya. Ia sempat menghabiskan waktu membaca puisi-puisi para penyair lain dan mencari celah, tema apa yang belum pernah mereka garap. Dari situ terciptalah puisi tentang celana, kamar mandi, jemuran, dan seterusnya.

Padahal, menurut saya, kalaupun Jokpin membahas topik yang sudah pernah dibahas oleh para penyair lain ,hasilnya akan tetaplah Jokpin: penataan kalimat dengan gaya bahasa sederhana yang ringan dibaca namun menyimpan makna-makna yang masih dianggap tabu bagi sebagian orang.

Kalau kumpulan puisi Sapardi itu ibarat menonton film-film Eropa yang artistik, cantik, dan penuh makna, puisi-puisi Jokpin bisa diibaratkan sebagai film dengan genre dark comedy. Dari luar terkesan slapstick, tapi sebenarnya ada sindiran-sindiran tertentu yang bisa jadi tidak bisa ditangkap oleh semua orang.

Beberapa dari kita pasti juga sudah pernah mendengar kalau Jokpin yang pencinta kopi ini sedang asyik-asyiknya menggarap puisi bertema Bahasa Indonesia. Salah satu puisinya berjudul Kamus Kecil sudah banyak beredar di media massa dan dunia maya, mengingatkan kita akan betapa menariknya Bahasa Indonesia, terlebih ketika mendengar langsung sang penyair membawakan puisinya.

Karya-karya mereka yang sangat indah mungkin membuat kita bertanya-tanya, bagaimana cara mereka menemukan inspirasi? Tentu saja kamu pasti sudah bisa menebak jawaban Sapardi. “Inspirasi kok dicari,” ujarnya. Bagi Sapardi, inspirasi bisa datang dari mana saja dalam kehidupan sehari-hari. Yang terpenting adalah jangan terhanyut dalam emosi ketika kita sedang berkarya. Baik Sapardi maupun Jokpin setuju, seseorang sebaiknya menulis ketika ia sudah bisa membuat jarak dengan emosi yang ingin ditumpahkan. “Kalau mau marah-marah, demo saja, jangan menulis,” tambah Sapardi yang mengaku ia sebenarnya bukan penyair cinta.

Terlepas dari karya apapun yang dihasilkan, kita tentunya tidak bisa memaksakan orang untuk memiliki interpretasi yang sama dengan apa yang kita pikirkan saat membuat karya tersebut. Buku Dukamu Abadi, contohnya. Jokpin mengatakan ia sangat terenyuh dengan puisi-puisi di dalam buku Dukamu Abadi karena ia melihat Sapardi seolah sedang menceritakan kejadian pasca 1965 dengan sangat halus (buku ini pertama kali diterbitkan tahun 1969). Padahal, Sapardi sendiri mengaku buku tersebut ia buat ketika ia sedang merasa kematian begitu dekat dengan dirinya. Tidak ada hubungannya dengan kejadian 1965.

Tapi, bukankah itu hal yang luar biasa? Bagaimana sebuah buku bisa menggugah banyak orang dengan interpretasi mereka masing-masing. Lagipula, mereka berdua tidak merasa masalah ketika orang lain menginterpretasikan karyanya dengan cara mereka sendiri. “Syair itu soal bunyi. Seperti apa interpretasinya, itu urusan lain,” kata Sapardi.

Berbeda dengan novel atau cerpen, setiap untaian kata yang terangkai di dalam sebuah puisi pasti memiliki bunyi yang indah. Puisi itu bagaimana kita bermain dengan kata-kata. Dan tugas seorang penyair adalah untuk menyelami bahasa.

Terima kasih Sapardi Djoko Damono, Joko Pinurbo dan Najwa Shihab, atas (kurang lebih) 90 menit percakapan yang menyenangkan saat Asean Literary Festival 2016. Meskipun sempat mengira akan melihat percakapan maut Sapardi dan Jokpin yang dibiarkan mengalir bebas tanpa arahan dari moderator yang beberapa kali terlihat ingin menjurus ke ranah politik, saya tidak kecewa. Rasanya seperti sedang duduk di bangku teras, memejamkan mata sembari menghadap ke taman kecil di depan rumah dan mendengarkan kalian bersenda gurau dengan guyonan yang menorehkan senyum hingga gelak tawa.