kindergarten graduation at a school in jakarta

Di depan pintu hall terbesar sebuah sekolah, anak perempuan dan laki-laki terlihat berkerumun dan mengenakan pakaian toga berwarna biru dengan tali topi toga berada di sebelah kiri topi. Menghadap ke panggung, para orang tua dan saudara-saudara dari mereka yang mengenakan toga terlihat duduk rapi di kursi-kursi yang sudah disediakan. Beberapa menit kemudian, seorang guru terlihat berada di atas panggung dan memanggil satu per satu nama anak berpakaian toga tersebut. Mendengar namanya dipanggil, anak yang tadinya berdiri di depan pintu mulai melangkah ke dalam hall sambil membawa setangkai bunga mawar dan didampingi oleh ibunda. Ia dan ibunya berjalan bersama-sama ke depan panggung, kemudian berhenti untuk berdiri berhadapan-hadapan. Sang ibu kemudian berlutut agar anak tercinta bisa mencium pipinya dan memberikan bunga mawar. Ibunda kemudian melepas anaknya pergi ke atas panggung dan ia pun duduk di kursi terdepan yang telah disediakan.

Wait… berlutut?

Iya, berlutut. Soalnya sang ibu ini sedang merayakan kelulusan anaknya dari taman kanak-kanak menuju sekolah dasar. Such a big step for one little kiddo, don’t you think?

Sebenarnya bukan acara kelulusannya yang mengganggu saya, tapi konsep yang dibuat seolah anak-anak ini baru saja menyelesaikan pendidikan terakhirnya untuk memasuki kehidupan nyata (baca: kehidupan kerja).

Setelah seluruh anak yang menyambut kelulusan ini berada di atas panggung, ada satu orang perwakilan dari mereka yang memberikan speech yang isi dan gaya bahasanya sangat, sangat dewasa. Speech yang menurut saya tidak mungkin diramu oleh anak berusia 5-6 tahun. Setelah itu, ada beberapa perwakilan dari sekolah dan orang tua murid juga memberikan speech yang isinya kurang lebih ucapan selamat karena mereka akan menempuh kehidupan pendidikan selanjutnya. Selama speech dari para perwakilan tersebut, anak-anak kecil yang ada di panggung terlihat asyik sendiri dan saya yakin mereka tidak paham apa yang sebenarnya terjadi. Helloooo, they are just kids!

Kindergarten graduation is supposed to be childish and fun, unlike those university graduation. I felt like attending a graduation ceremony in a university with a bunch of clueless little kids as the graduates. What do you want to say to the kids after the ceremony?

“Congratulations, you’re an adult now!” … Nah.

Congratulations! What do you want to do after this?” … Continue to the first grade at the same school with the same friends for many years to come, obviously.

I’m so proud of you. What do you want to eat?” … Yep, maybe.


Jujur, kalau tahu dari awal jumlah halaman buku 1Q84 karya Haruki Murakami mencapai seribu lembar, mungkin saya akan berpikir lima kali sebelum mulai membaca. Tapi apa boleh buat, e-book 1Q84 sudah terpampang cantik di iBooks, dan saya pikir tidak ada salahnya menjadikan salah satu buku Murakami teman perjalanan panjang saya saat berlibur ke Asia Tenggara (liburan terjadi di bulan Januari – Februari, dan saya baru bisa menyelesaikan 1Q84 bulan April! I’m a slow reader, tho’).

Novel 1Q84 (ternyata) terdiri dari tiga buku yang mengisahkan petualangan seorang perempuan bernama Aomame yang “terdampar” di sebuah dunia alternatif pada tahun 1984. Dunia alternatif tersebut ia namakan 1Q84, di mana banyak keganjilan ia temukan, terutama kehadiran dua bulan di langit malam hari. Aomame, yang memiliki pekerjaan sebagai pembunuh bayaran, mendapatkan misi serius untuk membunuh seorang pemimpin sebuah sekte agama yang dianggap sangat berbahaya. Di luar profesinya, Aomame sebenarnya hanya perempuan biasa yang bisa merasakan jatuh cinta. Selama tiga puluh tahun ia hidup, Aomame tidak pernah berpacaran dan hanya mencintai satu orang laki-laki yang berasal dari masa kecilnya, Tengo Kawana yang kini berprofesi sebagai seorang guru matematika dan ghost writer. Buku ini mengisahkan perjuangan Aomame mencari Tengo (dan sebaliknya) di tengah misinya membunuh pemimpin sekte agama.

Premisnya sangat menarik. Waktu membaca beberapa halaman pertama saya merasa langsung bisa masuk ke dalam cerita dan membayangkan adegan demi adegan yang tertera di dalam buku. Sayang, sebagai novel, Murakami bercerita dengan sangat detail dan terkesan mengulang-ulang, sampai saya sering sekali skimming paragraf-paragraf yang terlalu deskriptif dan menurut saya tidak berpengaruh ke cerita selanjutnya apabila tidak dibaca. Terkadang, saya merasa karakter-karakter yang ada di dalam cerita terkesan memiliki kepribadian yang mirip karena kecenderungan mereka untuk mendeskripsikan setiap detail pergerakannya. 

Saya juga merasa kisah cinta Aomame dan Tengo agak kurang meyakinkan di kehidupan nyata (well, it took place in an alternate world). Entah kenapa, rasa cinta Aomame ke Tengo terkesan dipaksakan, begitu juga Tengo. Di awal tidak pernah disebutkan Tengo merasakan percikan chemistry terhadap Aomame waktu kecil. Aomame dan Tengo adalah teman masa SD yang sebenarnya tidak pernah bertegur sapa, kecuali suatu waktu Aomame pernah menggenggam tangan Tengo yang ternyata memori tersebut membekas di ingatan mereka berdua. Tapi, ketika cerita berjalan saya tidak merasakan rasa cinta Tengo kepada Aomame. Sepertinya rasa cinta itu dipaksakan di tengah jalannya cerita, karena di awal Tengo lebih banyak bercerita soal kekagumannya akan Fuka-eri, seorang perempuan muda misterius berusia 17 tahun yang novelnya dituliskan oleh Tengo sebagai ghost writer dan langsung menjadi best seller.


Buku 1Q84 dituliskan lewat sudut pandang Aomame dan Tengo yang diceritakan secara bergantian per chapter. Di buku ketiga, mendadak ada sudut pandang baru yang masuk dan memakan kurang lebih dua chapter (kalau saya tidak salah), and it was so boring I even skipped it, not skimmed it. 

Ada banyak pertanyaan tidak terjawab bahkan sampai 1Q84 selesai. Ending yang cukup sederhana untuk kisah yang rumit juga membuat saya kurang puas (saya sampai mikir, lah, gitu doang nih?). Tapi, seperti yang saya baca dari sebuah sumber, mungkin memang itu tujuan Murakami. Ia ingin membuat sebuah cerita cinta sederhana dengan serumit mungkin. 

Overall, turbulensi membaca 1Q84 mungkin begini: penuh goncangan di awal – datar di tengah – lumayan bergoncang menuju akhir – mendarat dengan sangat tenang. Tapi serius deh, kalau kamu seperti saya yang harus membaca buku sampai kelar dulu baru bisa pindah ke buku lain, lebih baik cari waktu lowong panjang untuk membaca 1Q84.

Kutipan favorit:

Reality was utterly coolheaded and utterly lonely.

You can have tons of talent, but it won’t necessarily keep you fed. If you have sharp instincts, though, you’ll never go hungry.

What did it mean for a person to be free? she would often ask herself. Even if you managed to escape from one cage, weren’t you just in another, larger one?

But things never go the way you want them to, and this was no exception. The world seemed to have a better sense of how you wanted things not to go.

That’s what the world is, after all: an endless battle of contrasting memories.

A Rare Conversation: Sapardi Djoko Damono x Joko Pinurbo

A Rare Conversation: Sapardi Djoko Damono x Joko Pinurbo

Mengenal seseorang dari karya-karya yang ia hasilkan memang menyenangkan. Tapi, lebih menyenangkan lagi ketika kita bisa mengenal sosok personal di balik karya-karya yang ia buat.

Saya baru tahu, ternyata Sapardi Djoko Damono adalah “eyang mal”. Beliau sering berjalan-jalan di Pondok Indah Mall karena dokter menganjurkannya untuk banyak jalan. Malas terkena cuaca panas dan debu, tentu saja jalan di mal jadi pilihan tepat, mengingat Sapardi selalu tampil necis dengan jas dan topi seniman.

Saya juga baru tahu kalau Joko Pinurbo (Jokpin) sangat, sangat, sangat mengagumi buku puisi pertama Sapardi yang berjudul Dukamu Abadi. Ia bahkan mempunyai dua edisi: satu dalam bentuk yang menyerupai stensilan, satu dalam bentuk buku puisi biasa. Buku puisi itu juga yang membawa Jokpin serius untuk terjun sebagai penyair. Tidak terhitung berapa kali ia mengungkapkan kekagumannya akan buku puisi Dukamu Abadi.

Di atas panggung Asean Literary Festival 2016, Sapardi dengan gaya bicara yang nyeleneh ternyata bisa tampil sangat harmonis di atas panggung ketika dihadapkan dengan Jokpin yang cenderung blak-blakan. Dipandu oleh Najwa Shihab sebagai moderator, keduanya pun saling melemparkan guyonan ala Jawa Tengah saat menanggapi banyak pertanyaan yang diajukan Najwa.

Saya yakin sebagian besar masyarakat pasti sudah pernah membaca karya legendaris Sapardi, Hujan Bulan Juni dan Aku Ingin. Puisi yang sering sekali dijadikan kutipan dalam undangan pernikahan maupun digunakan untuk merayu orang ini ternyata dibuat hanya dalam waktu kurang dari 30 menit saja. Begitupun, penyair yang sangat rendah hati ini menganggap puisi-puisinya dikenal banyak orang karena telah dinyanyikan dengan sangat indah oleh duo vokal AriReda.

Ah, apapun alasannya, publik sangat mencintaimu, Sapardi. Meskipun masih ada juga yang salah mengira Kahlil Gibran sebagai penulis puisi Aku Ingin. Dikiranya orang Indonesia tidak bisa membuat puisi semesra ini.

Sebenarnya saya masih ingin mengetahui bagaimana proses Sapardi dalam merangkai kata-kata, dan mengapa menurutnya puisi yang dibuat dalam waktu singkat tanpa banyak revisi itulah yang ia anggap berhasil. Tapi namanya juga percakapan, topik pembicaraan harus terus bergulir, apalagi ketika sang moderator juga memimpin obrolan seperti ia membawakan talkshow-nya yang disiarkan di Metro TV, terkadang terlalu ingin cepat sampai ke hal yang ia ingin publik dengar.

Jokpin, yang menerbitkan buku puisi pertamanya di umur 30-an, berhasil menciptakan positioning yang sangat baik untuk karya-karyanya. Ia sempat menghabiskan waktu membaca puisi-puisi para penyair lain dan mencari celah, tema apa yang belum pernah mereka garap. Dari situ terciptalah puisi tentang celana, kamar mandi, jemuran, dan seterusnya.

Padahal, menurut saya, kalaupun Jokpin membahas topik yang sudah pernah dibahas oleh para penyair lain ,hasilnya akan tetaplah Jokpin: penataan kalimat dengan gaya bahasa sederhana yang ringan dibaca namun menyimpan makna-makna yang masih dianggap tabu bagi sebagian orang.

Kalau kumpulan puisi Sapardi itu ibarat menonton film-film Eropa yang artistik, cantik, dan penuh makna, puisi-puisi Jokpin bisa diibaratkan sebagai film dengan genre dark comedy. Dari luar terkesan slapstick, tapi sebenarnya ada sindiran-sindiran tertentu yang bisa jadi tidak bisa ditangkap oleh semua orang.

Beberapa dari kita pasti juga sudah pernah mendengar kalau Jokpin yang pencinta kopi ini sedang asyik-asyiknya menggarap puisi bertema Bahasa Indonesia. Salah satu puisinya berjudul Kamus Kecil sudah banyak beredar di media massa dan dunia maya, mengingatkan kita akan betapa menariknya Bahasa Indonesia, terlebih ketika mendengar langsung sang penyair membawakan puisinya.

Karya-karya mereka yang sangat indah mungkin membuat kita bertanya-tanya, bagaimana cara mereka menemukan inspirasi? Tentu saja kamu pasti sudah bisa menebak jawaban Sapardi. “Inspirasi kok dicari,” ujarnya. Bagi Sapardi, inspirasi bisa datang dari mana saja dalam kehidupan sehari-hari. Yang terpenting adalah jangan terhanyut dalam emosi ketika kita sedang berkarya. Baik Sapardi maupun Jokpin setuju, seseorang sebaiknya menulis ketika ia sudah bisa membuat jarak dengan emosi yang ingin ditumpahkan. “Kalau mau marah-marah, demo saja, jangan menulis,” tambah Sapardi yang mengaku ia sebenarnya bukan penyair cinta.

Terlepas dari karya apapun yang dihasilkan, kita tentunya tidak bisa memaksakan orang untuk memiliki interpretasi yang sama dengan apa yang kita pikirkan saat membuat karya tersebut. Buku Dukamu Abadi, contohnya. Jokpin mengatakan ia sangat terenyuh dengan puisi-puisi di dalam buku Dukamu Abadi karena ia melihat Sapardi seolah sedang menceritakan kejadian pasca 1965 dengan sangat halus (buku ini pertama kali diterbitkan tahun 1969). Padahal, Sapardi sendiri mengaku buku tersebut ia buat ketika ia sedang merasa kematian begitu dekat dengan dirinya. Tidak ada hubungannya dengan kejadian 1965.

Tapi, bukankah itu hal yang luar biasa? Bagaimana sebuah buku bisa menggugah banyak orang dengan interpretasi mereka masing-masing. Lagipula, mereka berdua tidak merasa masalah ketika orang lain menginterpretasikan karyanya dengan cara mereka sendiri. “Syair itu soal bunyi. Seperti apa interpretasinya, itu urusan lain,” kata Sapardi.

Berbeda dengan novel atau cerpen, setiap untaian kata yang terangkai di dalam sebuah puisi pasti memiliki bunyi yang indah. Puisi itu bagaimana kita bermain dengan kata-kata. Dan tugas seorang penyair adalah untuk menyelami bahasa.

Terima kasih Sapardi Djoko Damono, Joko Pinurbo dan Najwa Shihab, atas (kurang lebih) 90 menit percakapan yang menyenangkan saat Asean Literary Festival 2016. Meskipun sempat mengira akan melihat percakapan maut Sapardi dan Jokpin yang dibiarkan mengalir bebas tanpa arahan dari moderator yang beberapa kali terlihat ingin menjurus ke ranah politik, saya tidak kecewa. Rasanya seperti sedang duduk di bangku teras, memejamkan mata sembari menghadap ke taman kecil di depan rumah dan mendengarkan kalian bersenda gurau dengan guyonan yang menorehkan senyum hingga gelak tawa.

Sebagai anak perempuan yang mempunyai bapak berbintang Virgo, dari kecil saya sudah dibiasakan untuk selalu tepat waktu di segala kesempatan (meskipun istilah fashionably late tetap berlaku untuk saat-saat tertentu, karena saya bukan Virgo). Makanya, saya cukup kaget waktu telat ketinggalan kereta saat mau beralih dari Singapura menuju Kuala Lumpur. Pertama kali dalam hidup.

Jadi, gimana caranya untuk pergi dari Singapura ke Kuala Lumpur menggunakan kereta? Pertama-tama yang harus diketahui, rute keberangkatan dari Singapura ke Kuala lumpur adalah sebagai berikut:

Woodlands Train Checkpoint (Singapura) – JB Sentral (Malaysia) – Kuala Lumpur (Malaysia)

Woodlands Train Checkpoint (Singapura) – JB Sentral (Malaysia)

Ada dua cara untuk menuju JB Sentral dari Woodlands Train Checkpoint:

  1. Shuttle Tebrau: kereta transit baru yang hanya butuh waktu 5 menit perjalanan saja
  2. Shuttle Bus: butuh waktu sekitar 15-20 menit
Screen Shot 2016-03-07 at 9.18.54 PM.png

KTMB online ticket website

Karena tanggal keberangkatan menuju Kuala Lumpur sudah pasti, saya membeli tiket Shuttle Tebrau di situs resmi Keretapi Tanah Melayu Berhad (KTMB) yang ada di sini. KTMB ini milik Malaysia, dan beroperasi mulai dari Woodlands Train Checkpoint ke seluruh wilayah di Malaysia. Tinggal daftar, lalu cari jadwal keberangkatan dan bayar tiket menggunakan kartu kredit. Waktu itu saya beli dengan harga MYR16/orang + biaya kartu kredit MYR4 per transaksi.

Dari Singapura sebenarnya ada beberapa stasiun MRT yang bisa dilalui kalau mau pergi ke Woodlands Train Checkpoint, tapi waktu itu saya memilih stasiun MRT Woodlands. Jadi, dari tempat menginap di wilayah downtown saya berangkat menuju Stasiun MRT Woodlands. Sampai di stasiun MRT Woodlands, saya turun satu lantai menuju terminal bus untuk pergi ke Woodlands Train Checkpoint.

Ada cukup banyak bus yang bisa dipilih untuk ke Woodlands Train Checkpoint: 911, 912, 913, 856, 903. Saya lupa tarifnya berapa karena menggunakan kartu Transitlink. Oh iya, jangan lupa perjalanannya cukup memakan waktu. Saya hitung kurang lebih sekitar 15 menit karena bus berhenti di beberapa bus stop.

Sesampainya di Woodlands Train Checkpoint, saya naik ke lantai dua menuju pintu masuk ke Shuttle Tebrau. Tapiiiiiiii, karena telat (akibat nggak memperhitungkan perjalanan naik bus ke Woodlands Train Checkpoint yang cukup lama), akhirnya saya ketinggalan kereta. Untuk mengejar kereta dari JB Sentral ke Kuala Lumpur yang hanya berselang 40 menit dari sejak Shuttle Tebrau berangkat, akhirnya saya naik shuttle bus.

Untuk menuju shuttle bus, masuk ke dalam gedung Woodlands Train Checkpoint lalu naik ke lantai dua. Pertama-tama kita akan diarahkan ke pintu menuju Shuttle Tebrau. Di depan pintu menuju Shuttle Tebrau ada lorong ke kanan, ambil jalan tersebut ikuti saja nanti akan langsung diarahkan menuju shuttle bus. Harga busnya saya lupa karena (lagi-lagi) memakai kartu Transitlink.

Screen Shot 2016-03-09 at 6.34.44 PM.png

Shuttle bus menuju JB Sentral

JB Sentral (Malaysia) – Larkin (Malaysia)

Usaha untuk mengejar kereta menuju Kuala Lumpur ternyata gagal karena saya telat 5 menit untuk sampai di pintu masuk menuju kereta! By the way, sebelumnya saya juga sudah memesan tiket kereta dari JB Sentral ke Kuala Lumpur terlebih dahulu di situs KTMB yang saya sebutkan di atas. Kalau lancar naik kereta, dari JB Sentral kita akan langsung diarahkan menuju KL Sentral.

Karena malas harus menunggu sekitar 8 jam untuk kereta selanjutnya, akhirnya saya memutuskan untuk naik bus dari JB Sentral. Ternyata, nggak ada bus yang berangkat langsung dari JB Sentral menuju Kuala Lumpur. Jadi, saya harus naik bus lagi dulu dari JB Sentral menuju Larkin. Caranya bisa tanya-tanya petugas di sana, mereka memberikan informasi yang cukup jelas. Biaya untuk naik busnya MYR1,7/orang. Perjalanan dari JB Sentral menuju Larkin tidak terlalu lama, kalau nggak salah sekitar 15-20 menit juga.

Larkin (Malaysia) – Terminal Bersepadu Selatan Kuala Lumpur (Malaysia)

Screen Shot 2016-03-09 at 6.35.27 PM.png

Bersiap naik bus di Larkin

Begitu turun bus di Larkin, saya disambut oleh orang-orang yang menawarkan jasa bus. Karena nggak tahu sebaiknya naik bus yang mana, saya memercayakannya kepada salah satu orang di sana dan mendapatkan harga tiket bus MYR40/orang. Durasi perjalanan dari Larkin menuju Kuala Lumpur sekitar 4 jam.

Bus dari Larkin menuju Kuala Lumpur nggak berhenti di KL Sentral seperti halnya kereta, melainkan di Terminal Bersepadu Selatan, yang lokasinya agak ke selatan Kuala Lumpur. Tapi sebenarnya sama saja kok, tinggal lihat map kereta Kuala Lumpur dari terminal mau pergi ke daerah mana.

Screen Shot 2016-03-09 at 6.36.14 PM.png

Terminal Bersepadu Selatan di Kuala Lumpur

Walaupun agak penuh drama akibat ketinggalan kereta, saya dan suami bisa tiba sesuai jadwal di Kuala Lumpur. Yeay!


Berkali-kali ke Singapura, saya selalu menyimpan kekaguman pada negara ini. Negara mungil ini sadar kalau pada dasarnya mereka “miskin”, makanya mereka mencoba untuk memperkaya diri agar terlihat menarik di mata orang luar. And they are good at it, I mean, at attracting people to come and visit their country.

Okelah, mereka nggak sempurna. Sudah bukan rahasia lagi kalau negara mereka memang memberlakukan hukum yang cukup membuat semua penduduknya harus menuruti peraturan. Bikin nggak enak sedikit, kena denda. Melanggar aturan sedikit, ada hukuman. Mata-mata di mana-mana, dan mungkin warganya juga sudah terprogram untuk mengikuti apa yang pemerintah arahkan.

Because we only have the people,” ujar salah seorang warga Singapura yang kebetulan waktu itu saya ajak ngobrol bareng. Topik obrolannya bukan tentang politik, sebenarnya, tapi entah gimana jadi sedikit nyerempet ke situ. Dan waktu sedikit saja ngomongin tentang negara, spontan volume suara langsung mengecil.

Sepertinya Singapura sadar kalau mereka nggak punya sumber daya lainnya selain manusia. Jadi, satu-satunya cara untuk membuat negara ini maju adalah dengan meredam emosi-emosi yang bisa muncul akibat ras, suku, agama, dan lainnya melalui peraturan super ketat. Meskipun, tentu saja, ketegangan antar suku bukan sama sekali bisa menghilang begitu saja. Sebagai gantinya, warga mendapatkan kenyamanan dari berbagai sisi. Mereka yang kurang mampu diberikan bantuan dana agar bisa hidup cukup layak. Sementara itu, pemerintah sering banget memberikan kucuran dana untuk perseorangan maupun kelompok, selama apa yang mereka buat nggak menyinggung SARA, mengusung sejarah lokal, dan seksi di mata wisatawan. Kedengaran cukup kulit, ya? Iya sih. Tapi sepertinya itu memang trik mereka untuk mendatangkan orang banyak dan menyenangkan turis.

Di bidang seni, misalnya. Walaupun rasanya nggak banyak seniman Singapura yang namanya mendunia, mereka bisa mengadakan art fair kelas dunia, seperti Art Stage Singapore (yang ternyata kuratornya ada yang berasal dari Jogja) dan Singapore Contemporary Art Fair bulan Januari lalu. Di bulan April dan September ini mereka bahkan akan mengadakan Affordable Art Fair karena konon penjualannya laris manis.

Karya Yayoi Kusama di Art Stage Singapore

Karya Ee Shaun di Singapore Contemporary Art Fair

Belum lagi National Gallery Singapore yang baru beberapa bulan dibuka. Di galeri yang megah dan mewah ini ada banyak banget karya seniman Indonesia yang menjadi koleksi National Gallery Singapore, salah satunya lukisan terbesar karya maestro Raden Saleh. Senang sih, karena karya lokal mendapatkan apresiasi internasional di tempat yang sangat bagus. Tapi, bukannya harusnya justru bisa kita melihat karya maestro lokal di negeri sendiri ya? Well, that’s just my two cents. Anyway, tiket masuk ke National Gallery Singapore ini SGD20 per orang untuk turis, dan galerinya luas banget. Jadi mendingan datang dari pagi supaya bisa lihat semua karya dan menikmati arsitekturnya dengan santai.

National Gallery Singapore

Interior National Gallery Singapore

Lukisan terbesar Raden Saleh, Kebakaran Hutan

Taman juga menjadi salah satu hal yang saya suka dari negara ini. Di samping menjadi tempat yang enak banget untuk piknik dan berolahraga, taman juga menjadi tempat yang pas buat para pencinta anjing. Beberapa waktu lalu, saya dan suami khusus mampir ke Botanical Garden karena ingin melihat anjing yang dibawa jalan-jalan. Kami mendatangi beberapa pemilik anjing untuk sekadar bermain dengan anjingnya. Kalau saja ada istilah “pedogfil”, rasanya kami salah satunya. 😀

Can you say no to those eyes? I can’t!

Banyaknya turis yang bisa dengan mudah lalu lalang di jalanan kota juga salah satu faktor yang membuat industri pariwisata di Singapura sangat baik. Saya sempat mengunjungi sebuah sinema alternatif bernama The Projector yang menampilkan film-film yang mungkin nggak diputar di sinema pada umumnya. Sebut saja What We Do in the Shadow, The Danish Girl, Taxi Tehran, dan lain sebagainya. Melalui crowdfunding, The Projector berhasil membangkitkan kembali dan mempercantik lokasi sinema lawas di kawasan Beach Road. Kalau di sinema umum harga tiket film sekitar SGD8, The Projector menaruh harga SGD13. Jumlah yang nggak murah, sebenarnya. Tapi, saya melihat ada cukup banyak warga lokal dan turis yang tertarik dengan tempat ini.

Tampak depan lift menuju The Projector

Interior di Dalam The Projector

Sebenarnya, apa yang dimiliki Singapura sangat jauh lebih sedikit dari apa yang kita miliki. Indonesia memiliki keragaman budaya, kekayaan alam, dinamika menarik, dan masih banyak lagi. Tapi, mungkin memang dibutuhkan lebih dari memiliki secara cuma-cuma untuk seseorang bisa menghargai apa yang dipunya.

Mengutip acceptance speech mas Leonardo Dicaprio untuk Oscar 2016, “Let us not take this planet for granted.” 

Yup, we shall not take what we have for granted.

  

Of all Southeast Asia countries, I guess everyone would agree when I said that Singapore had the best public transportation system. You can go anywhere safely and easily using MRT, LRT, and buses, then voila! Almost each area is reachable within walking distance. 

Whether you are a first timer or frequent visitor, the only one key to not get lost in Singapore is internet connectivity. If you have connected to the internet and still get lost, I don’t know what to recommend. 😸

There are three apps that I rely on when I visit this country:

Gothere.sg

  

You can find direction to any places in Singapore, and the app will tell you how to go there using MRT, bus, taxi, or car. Just follow the steps, it is very easy to use. I can assure you that the app is really accurate. If you can’t find the name of the venue, just type in the street name. 

  
However, recently I can no long  use the lite version and it suggests me to buy the full version. I don’t bother since I’m not staying in Singapore. But if you are planning to stay for quite a long time, the full version should be okay. It costs only IDR59,000 (about US$4) and maybe it comes with more features.

Mytransport

  
I actually prefer using Gothere.sg as it is more straightforward, but Mytransport is also great because it is very complete and informative. You can search any bus stops and find out which buses stop at which terminals (including the estimation time of arrival, and it is very accurate, by the way). You can also estimate the MRT fare and travel time.

The app comes with an internal map. So when you get on a bus, just search for the bus number and check on the map then you can see each stop as the bus moves. Cool, right? If you prefer to use buses than MRT/LRT, this app is really recommended.

Google Map

  

Well, this map is not only handy in Singapore but also other countries, for sure. You can search for any directions to anywhere in the country, but I find Google Map is sometimes not that accurate (especially when I was in Bangkok, the buses there were quite unpredictable!). 

  

Setelah setahun lebih berdiam di Jakarta demi mencari sesuap nasi dan seonggok berlian (well, sempat sih ke Jogja tapi cuma untuk perjalanan singkat demi melihat ART|JOG), akhirnya saya berkesempatan untuk sedikit pergi keluar Indonesia selama kurang lebih sebulan terhitung dari akhir Januari sampai akhir Februari! Exciting? Much!

Beberapa destinasi perjalanan kali ini sebenarnya bukan tempat tujuan baru, bahkan negara yang dikunjungi lebih sedikit dari yang pernah saya kunjungi di tahun 2009. 

Enam tahun lalu, saya bersama beberapa teman memulai backpacking trip selama kurang lebih dua minggu dari Jakarta – Singapura – Kuala Lumpur – Phuket – Bangkok – Siem Reap – Phnom Penh – Sihanoukville – Ho Chi Minh – Jakarta. 

Kali ini, rute backpacking trip saya sebagai berikut: Jakarta – Singapura – Kuala Lumpur – Penang – Bangkok – Chiang Mai – Bangkok – Ipoh – Singapura – Jakarta. 

Walaupun rutenya mirip, ada banyak sekali perbedaan yang saya rasakan. Pertama, tentunya di perjalanan kali ini saya pergi bersama #foreverpacar alias suami. Kedua, rencana perjalanan yang semula ingin mengunjungi Kamboja dan Vietnam batal karena kami harus pulang lebih cepat (rencana awalnya trip ini mau berlangsung selama dua bulan!), jadi kami menggantinya dengan mengunjungi Ipoh sebentar sambil jalan balik ke Singapura lalu ke Jakarta. Ketiga, ini pertama kalinya saya (dengan bantuan suami tentunya) membuat itinerary perjalanan (walaupun di tengah jalan masih tetap berubah-ubah) dan benar-benar menghitung bujet untuk pengeluaran apapun. Nasib punya suami Aries yang kelakuannya campuran Virgo, walaupun nggak terencana tetap harus terencana. Biasanya saya selalu terima jadi itinerary alias pasrah. Keempat, trip ini sebenarnya bukan hanya sekadar liburan, tapi juga riset seni-senian demi masa depan kerjaan (halah). We met a lot of great people along the way! Kelima, kami sebisa mungkin mencoba memanfaatkan transportasi publik yang ada supaya benar-benar merasakan kota dan negaranya. Kecuali terpaksa, seperti waktu di Ipoh, kami harus menggunakan Uber karena transportasi umum di sana benar-benar kacau.  

  

  
Meskipun judulnya riset berbalut liburan, layaknya turis kami tetap mengunjungi beberapa tempat wisata kok. Some were great, some were meh. But all-in-all, it was awesome! 

Buat yang lagi mikir-mikir mau jalan-jalan ke negara-negara di Asia Tenggara, semoga tulisan-tulisan saya bisa membantu nantinya. I’ll share my experiences, including how to use local public transportation, where to stay, places to visit (my posts will definitely not cover all areas but use it as your additional information), local culture, and others!

Tips:

  1. Membuat itinerary itu penting banget. Seenggak-terencananya sebuah perjalanan, akan lebih baik kalau kita bisa menentukan lebih dahulu mau pergi ke mana di tanggal berapa, menginap di mana dan berencana untuk mengunjungi apa saja. Jadi, sebenarnya yang paling baik adalah tentukan jenis perjalanannya. Apakah trip ini akan menjadi trip budaya, wisata, kuliner, seni, atau lainnya supaya kita bisa menentukan prioritas tempat yang dikunjungi berdasarkan bujet yang ada.
  2. Kalau akan mengarungi berkali-kali perjalanan darat dalam waktu lama, jangan lupa membawa buku atau buku catatan. I found e-book easier so I didn’t have to put more weight in my bag.
  3. Minum vitamin setiap hari! Ini penting banget. Waktu tahun 2009 saya sempat sakit demam dan flu karena perjalanan nggak menentu di bus dan kereta yang memakan waktu berjam-jam. Perjalanan kali ini saya bebas dari sakit flu dan demam karena selalu minum vitamin C setiap pagi, dan kadang-kadang juga minum Antangin. Kalau sudah merasa sedikit nggak enak badan, jangan ragu untuk minum obat supaya sakitnya nggak semakin panjang. Jangan lupa juga untuk membawa Counterpain (atau sejenisnya), karena yang pasti akan banyak jalan kaki.
  4. Ada orang yang lebih menyukai AirBnB daripada Agoda karena (harus diakui) AirBnB menyediakan lebih banyak penginapan dengan interior lucu-lucu. Tapi, kalau lagi last minute alias kepepet saya lebih mengandalkan Agoda karena nggak perlu menunggu lama untuk mendapatkan konfirmasi pemesanan. 
  5. Pelajari dengan baik jalur transportasi umum sebuah kota, lalu cari tempat tinggal yang nggak jauh dari jalur tersebut supaya memudahkan kita saat tiba di kota tujuan. Jadi nggak perlu lama-lama di jalan untuk sampai ke tempat menginap.