First Road Trip Ever: Jakarta – Bali

Earlier this September I and my husband decided to go on a road trip from our home in Jakarta to Bali because we were going to hold two events in the Island of Gods. It meant we had to stay quite long (about 3 weeks) and bring a lot of things. It turned out that one single car saved us a lot of money but costed us quite an energy. But it definitely was worth the journey.

Routes

I took the northern route (Pantura) from Jakarta to Bali and the southern route from Bali to Jakarta. I fully relied on Google Maps to guide us through from city to city until I finally arrived in Bali. These were the cities I passed (and visited some of them) during the journey:

Jakarta – Bali

Screen Shot 2016-10-06 at 11.58.26 AM.png

Jakarta (enter the Jakarta inner ring road) – Bekasi – Cikampek – Tol Cikopo-Palimanan (known as Cipali) – Tol Kanci-Pejagan – Tol Pejagan-Pemalang – (exit the toll road) Tegal – Pemalang – Pekalongan – Batang – Kendal – Semarang – Demak – Kudus – Pati – Rembang – Lasem – Tuban – Badad – Lamongan – Gresik – Surabaya – Sidoarjo – Bangil – Pasuruan – Probolinggo – Situbondo – Ketapang Port – Gilimanuk Port – Bali

On the way to Bali, some unexpected things happened and delayed the journey. I departed from Jakarta on August 30 at 12.30 pm and planned to stay for a night in Semarang (hotel – booked!). However, when I arrived in Batang area the traffic was so bad due to a fallen tree on the road and it was already around 10 pm so I had to stay for a night at a sketchy hotel around there.

IMG_5071.jpg
Cipali toll road

I then continued the journey at around 7-8 am in the next morning to Surabaya and stayed in the city for a night as planned. My journey from Surabaya to Ketapang port was quite a challenge too. There was a celebration of the Independence Day of Indonesia in Probolinggo and Situbondo where people marched on the main streets while singing, dancing, and wearing costumes (seriously, I thought it was Jember Fashion Show since what they wore were similar) and it caused a very bad traffic jam because no police officers managed the traffic. I expected to arrive in Ketapang Port at around 4 pm but the reality was I arrived at 7 pm.

IMG_5126.jpg
A view in Tuban

However, in Situbondo I passed through the access road of Baluran National Park and the view was so amazing! Trees were everywhere on the left and right sides of the road and soft warm rays of sunshine beaming through them while monkeys were sitting and walking everywhere. Simply mesmerising.
Back to the Ketapang Port, the trip from Ketapang Port to Gilimanuk Port was around 45 minutes and I didn’t know that it took about 4-5 hours from Gilimanuk Port to the city (Denpasar). The road from Gilimanuk to the city was total dark at night and there were too many trucks (and hubby was very exhausted as well) so I had to call it a night and stay at the nearest hotel I found (after maybe 2 hours of driving). Luckily, the hotel was okay this time. The next morning, it took around 2 hours of driving to get into the city.

Bali – Jakarta

Screen Shot 2016-10-06 at 12.01.18 PM.png

Bali – Gilimanuk Port – Ketapang Port – Banyuwangi – Genteng – Jember – Probolinggo – Bromo Tengger Semeru National Park – Pasuruan – Purworedjo – Lawang – Malang – Batu – Malang – Blitar – Tulungagung – Trenggalek – Ponorogo – Wonogiri – Klaten – Yogyakarta – Wates – Kebumen – Kebasen – Banjar – Ciamis – Tjiawi – Nagreg – Cicalengka – Tol Padaleunyi – Bandung – Tol Cipularang – Bekasi – Jakarta

IMG_5577.jpg
Entering the Gilimanuk Port

I checked out from the hotel at 12 pm and went straight to Gilimanuk port. Apparently the view on the way to Gilimanuk was breathtaking in the afternoon. I don’t know why but Bali is filled with beautiful trees along the road. Approaching Gilimanuk Port, you will find scenic sea views on the left side.

IMG_5586.jpg
Somewhere around Banyuwangi

When I arrived in Ketapang Port, I went further south to Banyuwangi and stayed there for a night. I actually was quite curious about Banyuwangi because people said its beaches were worth the visit. However, the beaches were quite far from the main road and I couldn’t stay for long in this city because I had a plan in Malang. So I continued the journey to Malang via Bromo Tengger Semeru National Park and headed to Malang and Batu for a few days and ended the trip as the written route above.

How was it?

  • Both the northern and southern routes have positive and negative sides. The northern route is more developed in terms of the road since there are a lot of big factories there. The road is huge and great but you have to race with trucks and buses along the way. It takes a lot of confidence to be able to cut off huge trucks and buses. The views are okay, either you see houses, factories, paddy fields, or sea. Meanwhile, the southern route is more laid-back. The road is narrower and sometimes a little bit rocky compared to the northern route but less trucks and buses. The views are more beautiful because you will pass through mountains, reservoirs, forests, paddy fields, and cities.
  • If you are not in a hurry, going for a road trip is worth the try. You can visit a lot of places on the way to your destination. Spare some times to explore each interesting city bit by bit.
  • Driving on your own means less communication with local people. I found myself knowing much better about the local culture when I travel using public transportation because I can interact with them anytime I want.

Preparation

Aside from preparing your car and money for a long trip (of course that should be the number one on your to-do-list), these are things that you need to prepare based on my experience:

  • Playlist. I downloaded hundreds of songs from Spotify to accompany the journey. But it also was interesting enough to hear local radio stations when I entered the cities.
  • Fully charged power bank or USB charging station. You’re gonna need it to keep your GPS (read: smartphone) on.
  • Drinks to keep you dehydrated all the time. There are a lot of mini markets on the road.
  • Sunglasses.
  • Vitamin and medicine. A tiring long trip makes us more vulnerable to cold and fever.
  • Always have breakfast before you start the journey. Big or small, doesn’t matter.
  • Be amazed with your surroundings, because there are so many beautiful things to see and find out.
  • Try the local food and visit some cultural places whenever you have time. Make an effort to google some interesting places along the way.
Advertisements

[Review] Steve Jobs – Walter Isaacson


Separuh jalan membaca buku Steve Jobs yang ditulis oleh Walter Isaacson, saya sempat bertanya kepada suami,

“Steve Jobs itu mungkin semacam Tuhannya teknologi ya?”

“Bukanlah, dia itu nabi teknologi,” kata suami mantap.

Iya, sih. Mungkin istilah nabi kedengarannya lebih tepat daripada Tuhan. Saya memang agak lebay, tapi distorsi realita yang ia berikan kepada orang-orang yang bekerja dengannya luar biasa banget. Steve bisa membuat orang-orang tersebut berhasil melakukan hal-hal yang melampaui batas, membuat yang kelihatannya tidak mungkin menjadi mungkin.

Walter mengisahkan perjalanan kehidupan Steve Jobs secara kronologis, dimulai dari ketika Steve diangkat anak karena ia merupakan anak di luar nikah dan pernikahan pasangan tersebut (saat mengandung Steve) nggak disetujui oleh ayah sang perempuan yang kala itu sedang sakit kritis. Meskipun demikian, Steve tidak pernah menganggap mereka orang tua kandung tapi hanyalah “pendonor sperma dan telur”. Ia bahagia dengan orang tua yang mengasuhnya dari bayi hingga dewasa. 

Kehidupan Steve semasa kecil juga yang membuat ia menjadi seorang perfeksionis. Ayahnya mengajarkan Steve untuk memperhatikan setiap detail, bahkan yang nggak kelihatan dari mata pengunjung. Tidak heran, setiap produk Apple (bagi saya) terlihat begitu sempurna, meskipun saya tidak pernah sampai iseng membuka hingga ke bagian dalamnya. 

Selain mengisahkan tentang jatuh bangun Steve membangun Apple, mulai dari mendirikan perusahaan di garasi rumahnya hingga ia dipecat dari perusahaannya sendiri lalu masuk membantu berkembangnya Pixar Studio sampai kemudian ia diminta untuk kembali lagi ke Apple, buku ini juga mengisahkan perjalanan spiritual Steve ke India, kisah percintaannya sampai menemukan pasangan hidup Laurene Powell, juga pola makan Frutarian yang membuatnya kesulitan saat ia divonis menderita kanker.

Cerita-cerita yang diangkat di sini tidak melulu menggambarkan betapa karismatiknya Steve sebagai seorang pemimpin. Ia bukan inventor dan keahlian teknisnya nggak bisa dibandingkan dengan Wozniak, tapi ide-ide kreatif yang ia miliki membuatnya bisa menciptakan sebuah produk yang mengubah dunia. Tidak bisa dipungkiri lagi, kemampuan public speaking dan negosiasi yang dipunyai Steve melebihi rata-rata, dan itulah yang membuat ia bisa meminta orang pintar untuk mengerjakan apa yang ia inginkan. Namun, di sisi lain Steve juga manusia biasa yang punya keterbatasan dalam berinteraksi sosial. Ia bukan orang yang suka melapisi omongannya dengan kata-kata manis. Ada banyak orang yang senang bekerja dengannya, tapi tidak sedikit juga orang yang sakit hati dengan caci makinya.

Bagi saya, Walter menggambarkan Steve sebagai seorang manusia jenius yang tidak sempurna. Tapi, di balik itu semua sebenarnya ia cuma ingin yang terbaik dari apapun yang ia kerjakan. Setiap bab yang dituliskan oleh Walter bisa membawa saya seolah berada di adegan tersebut dan menyaksikan langsung dari kursi terdepan. Ada banyak banget kutipan berharga yang bisa diambil dari cerita Steve, dan tidak jarang juga bermunculan kisah yang membuat haru. 

Selesai membaca buku ini, saya sempat melihat-lihat review orang-orang lain dan mengetahui bahwa ternyata para petinggi Apple tidak menyukai buku ini karena dianggap nggak menggambarkan kepribadian Steve yang sebenarnya. Selain itu, mereka juga kecewa karena ada beberapa kesalahan seputar fakta teknologi di dalam bukunya. Tapi, sebagai pengguna produk Apple yang bukan pemerhati teknologi, saya tidak memperhatikan sama sekali kesalahan fakta teknologi yang ada dan merasa senang membaca bukunya karena tidak banyak muncul istilah teknologi yang njelimet. Saya juga ragu kalau Walter tidak menggambarkan Steve apa adanya, karena bagaimanapun ia adalah penulis yang resmi diminta oleh Steve untuk menuliskan tentang kehidupannya.

Ekspektasi saya saat membaca buku ini memang ingin melihat sisi “manusia” seorang Steve Jobs yang banyak didewakan orang, dan saya mendapatkannya di buku ini. 

Silence

illustration: irene saputra

I used to hate silence and being alone.

It was the only time when I couldn’t stop my brain from thinking of the negative version of me, or, the version of me that I didn’t like. It was the only time when I started judging myself.

Ever since I was a child, I couldn’t remember when my parents were home. They were either busy working from early morning to late at night or out of town once in a while. I spent most of my time alone, thinking perhaps I was born by accident; hence they were not ready to have me. Sometimes my grandma came to accompany me. I once thought he was my mother, but she taught me to call her “nana” and referred to my mother as “mom”. She was the closest family member I had until she died when I was seven years old. I didn’t know she died back then. I thought she bored of me because I couldn’t tell her any interesting stories, so she decided to left me.

When I grew up as a teenager, I found that being in a group made me feel safe and comfortable. I didn’t need to talk so much because there were always one of two people in the group who dominated the conversation. Maybe I was quite lucky to have this pretty face that made people wanted to make friends with me even though I was boring. At least it was written in one article I read: life is so much beautiful for those with pretty faces. Yet pretty faces were everywhere. When they found another one who was apparently more talkative, I was out of the options.

So I was alone with myself, again.

There were times when I wanted to change my life. I thought being involved in a one-on-one conversation would make me feel more comfortable in saying something on my mind. Apparently not. I ended up being the listener who never had a chance to open up because the one who talked with me was having a lot of things to talk about that I actually did not want to hear. When they found other people who wanted to listen with more sincere face than me, I was out for sure.

And then there was only me.

Again, I thought I could be more open and talkative when I was in a totally new environment. So I moved from my hometown right after I graduated from college to a town where none of my friends were there. I wanted to start fresh and create a new image to new people I would meet. But life did not work that way. Apparently it was hard to start from zero and people I met already had long time friends since they were very young. I made acquaintances, but they were never friends.

Don’t get me wrong. I had few dates, but they broke up with me with the same reason: at that time they were the only person who was so closed to me but they barely knew anything about me. Mostly because I did not tell anything about me to them.

I did not why but I was scared, you know. I found it hard to tell about myself to other people. I thought nobody should not know my story. I had nothing to be proud of and actually it was something I wanted to forget but I could not. Being with someone else made me forget everything about the version of me that I did not like. For a moment, I finally could think of anything but self-pitying myself.

However, the more people wanted to know more about me, the more I became defensive and closed my door. Perhaps they were tired of knocking and not being able to get in, and, perhaps… I was afraid they would leave me like Nana. And they did.

Well, all that happened before I met you. I never thought I could be more open than this. I have told you everything about my life and it is quite nice to know that you will always by my side and never complain about me. I feel like I’m seeing myself in you. I finally found someone who wants to stay with me forever without asking too much of me.

No more loneliness.

Mirror, mirror on my hand. Best friend forever, OK?

[Review] The Ones Below

2160
sumber: theguardian.com

Saat mendengar judul film The Ones Below, awalnya saya mengira kisahnya akan berhubungan dengan makhluk-makhluk yang tidak terlihat. Tapi, ternyata tidak demikian. The Ones Below merupakan film psychological thriller dengan adegan-adegan yang menurut saya cukup mengganggu tanpa visual yang sebenarnya mengganggu. Sebuah film yang membuat jantung deg-degan tanpa harus menghadirkan adegan yang mengagetkan, dan membuat saya menanti-nanti kapan film ini berakhir dengan bahagia (tapi teryata tidak).

Adegan film ini diawali dengan gambar janin yang dilihat melalui USG untuk membuka kisah selanjutnya yang tentu saja bercerita tentang seorang pasangan yang akan mempunyai anak. Adegan kemudian berpindah ke pasangan suami istri Kate (Clemensy Poesy) dan Justin (Stephen Campbell Moore) yang sedang mengendarai mobil menuju apartemen baru di mana mereka akan menempati ruangan di lantai atas. Latar belakang lagu bernuansa eerie cukup membuat saya tahu bahwa akan ada keganjilan-keganjilan yang mereka temui di apartemen tersebut.

Di apartemen barunya, Kate dan Justin bertetangga dengan pasangan suami istri Theresa (Laura Birn) dan Jon (David Morrissey) yang juga sedang menantikan kelahiran seorang anak. Justin yang sehari-hari bekerja sebagai jurnalis dan Jon yang bekerja sebagai bankir harus meninggalkan Kate dan Theresa di rumah saat jam kerja. Di saat itu juga Kate dan Theresa berkenalan kemudian pergi berenang bersama. Pertemanan mereka semakin dekat hingga suatu saat Kate mengundang Theresa dan Jon untuk makan malam di apartemennya yang selanjutnya berubah menjadi bencana.

(sumber: film.list.co.uk)
sumber: film.list.co.uk

Jon ternyata memiliki karakter yang sangat dingin dan terlihat mudah marah, sementara itu, Theresa, yang saat di meja makan bersama menolak untuk minum wine, diam-diam meminum bergelas-gelas wine saat Jon sedang ngobrol dengan Justin di ruangan lain. Usai makan malam, Theresa yang keluar pintu apartemen terlebih dahulu terjatuh di tangga dan mengakibatkan ia harus kehilangan calon buah hatinya.

Hubungan kedua pasangan suami istri ini lantas memburuk dan jadi saling menyalahkan. Theresa dan Jon memutuskan untuk pergi dari apartemen tersebut, meninggalkan Kate dan Justin. Namun, hal itu tidak berlangsung lama. Tidak lama setelah Kate melahirkan anak laki-laki, mereka kembali bertetangga dan memberikan ucapan selamat dengan tulus. Theresa sering memberikan hadiah untuk sang bayi dan menawarkan untuk mengasuhnya ketika Kate ingin pergi ke luar.

Kate mulai curiga ketika suatu saat alarm bayinya berbunyi dan ia mendengar suara nafas seseorang ketika ia dan Justin sedang berada di apartemen Theresa (Jon belum pulang dari kantor saat itu). Ternyata, seseorang menyalakan keran bak mandi di apartemen Kate hingga menggenang ke seluruh apartemen. Kate juga sempat melihat Theresa menyusui anaknya ketika dititipkan dan menemukan kamar rahasia di apartemen Theresa dan Jon yang berisi perlengkapan bayi dan foto anak laki-lakinya.

Seperti halnya cerita horor maupun thriller pada umumnya, pasangan dari tokoh yang panik pasti tidak memercayai apa yang diceritakan oleh tokoh yang panik tersebut, begitu juga dengan Justin. Ia hanya menganggap Kate sedang stres dan kehilangan akal karena tidak ada bukti yang terlihat secara kasat mata. Untungnya, film ini tidak berlanjut seperti film horor atau thriller yang biasanya itu. Meskipun tidak mempercayai istrinya, Justin menuruti keinginan Kate yang ingin pindah apartemen. Sayangnya, mereka harus menunggu dua hari untuk bisa pindah dan celah tersebut dimanfaatkan oleh Theresa dan Jon untuk merusak kehidupan mereka.

Saya berharap akhir yang happy ending karena sebenarnya saya tidak suka ketika bad guys harus menang, soalnya kan mereka sudah jahat sepanjang film! Tapi ya cerita ini akhirnya akan biasa saja kalau ending-nya bahagia. Akhirnya cukup bikin depresi, karena sebagai tokoh utama saya pasti akan berpikir, “kalau saja…” supaya tidak kejadian. Seperti apa trik Theresa dan Jon untuk menghancurkan kehidupan mereka, sebaiknya langsung ditonton sendiri saja supaya seru. Sangat licik dan tidak terduga.

Lagi-lagi, moral of the story-nya adalah: trust your spouse more than anyone in this world, unless you’re in an unhappy relationship.

Life is a Crime

night terror

Sesaat sebelum menyuruhku kabur, mama sempat berbisik padaku. Pesan yang akan selalu kuingat hanya satu: bahwa dunia ini kejam dan semua orang membenci kita!

“Nak, hati-hati kalau jalan-jalan. Jangan pernah pergi sendirian. Di luar sana banyak bahaya. Siang mungkin terang, tapi ia berbahaya. Bahkan bayangan pun tidak mampu bersembunyi.

Orang-orang itu jahat. Sekali kamu bertemu pandang, mereka akan langsung seperti orang gila. Ada yang memicingkan mata kemudian melipat bibir dan mulai mengeluarkan sumpah serapah karena menganggap kita tidak layak hidup. Ada yang langsung lari terbirit-birit karena tidak ingin mengalami kontak langsung. Beberapa ada yang cukup berani berhadapan langsung karena ingin kita mati. Biasanya mereka akan mengambil benda keras terdekat yang dapat mereka angkat untuk dihantam ke kita.

Pernah juga ada yang berpura-pura baik. Mereka mencoba menyapa kita dan membawakan makanan enak yang ternyata sudah diracun. Mungkin kamu tidak ingat karena waktu itu usiamu masih satu tahun, tapi adik mama tertipu dan akhirnya mati.

Lebih baik kamu jalan-jalan di malam hari. Meskipun gelap tapi lebih sepi. Ingat, jangan sampai terlihat siapa pun atau kamu akan bernasib seperti mama. Sekarang, pergi! Cepat!”

Itulah ucapan terakhir mama. Aku melihat tiga orang mulai datang menghampiri kami sambil membawa peralatan menyeramkan. Tidak ada yang bisa kulakukan selain menyelamatkan diri sendiri.

Hari itu, genap seminggu kami sekeluarga tidak makan. Aku dan mama pergi diam-diam di malam hari, berniat untuk membawakan makanan untuk adik-adik. kami menyusup ke dalam sebuah rumah dan melihat ada makanan mewah di atas meja. Tidak ada siapapun di sekeliling kami, dan hidangan itu terlihat seperti baru akan disantap oleh para penghuni rumah, jadi kemungkinan kecil untuk diracun. Tanpa pikir panjang, mama pun naik ke atas meja. Di sana, perangkap tidak terlihat sudah dipasang. Kaki mama terkena lem.

Ya, lem tikus.

 

Picture is taken from here.

When a School Takes Kindergarten Graduation too Seriously

kindergarten graduation at a school in jakarta

Di depan pintu hall terbesar sebuah sekolah, anak perempuan dan laki-laki terlihat berkerumun dan mengenakan pakaian toga berwarna biru dengan tali topi toga berada di sebelah kiri topi. Menghadap ke panggung, para orang tua dan saudara-saudara dari mereka yang mengenakan toga terlihat duduk rapi di kursi-kursi yang sudah disediakan. Beberapa menit kemudian, seorang guru terlihat berada di atas panggung dan memanggil satu per satu nama anak berpakaian toga tersebut. Mendengar namanya dipanggil, anak yang tadinya berdiri di depan pintu mulai melangkah ke dalam hall sambil membawa setangkai bunga mawar dan didampingi oleh ibunda. Ia dan ibunya berjalan bersama-sama ke depan panggung, kemudian berhenti untuk berdiri berhadapan-hadapan. Sang ibu kemudian berlutut agar anak tercinta bisa mencium pipinya dan memberikan bunga mawar. Ibunda kemudian melepas anaknya pergi ke atas panggung dan ia pun duduk di kursi terdepan yang telah disediakan.

Wait… berlutut?

Iya, berlutut. Soalnya sang ibu ini sedang merayakan kelulusan anaknya dari taman kanak-kanak menuju sekolah dasar. Such a big step for one little kiddo, don’t you think?

Sebenarnya bukan acara kelulusannya yang mengganggu saya, tapi konsep yang dibuat seolah anak-anak ini baru saja menyelesaikan pendidikan terakhirnya untuk memasuki kehidupan nyata (baca: kehidupan kerja).

Setelah seluruh anak yang menyambut kelulusan ini berada di atas panggung, ada satu orang perwakilan dari mereka yang memberikan speech yang isi dan gaya bahasanya sangat, sangat dewasa. Speech yang menurut saya tidak mungkin diramu oleh anak berusia 5-6 tahun. Setelah itu, ada beberapa perwakilan dari sekolah dan orang tua murid juga memberikan speech yang isinya kurang lebih ucapan selamat karena mereka akan menempuh kehidupan pendidikan selanjutnya. Selama speech dari para perwakilan tersebut, anak-anak kecil yang ada di panggung terlihat asyik sendiri dan saya yakin mereka tidak paham apa yang sebenarnya terjadi. Helloooo, they are just kids!

Kindergarten graduation is supposed to be childish and fun, unlike those university graduation. I felt like attending a graduation ceremony in a university with a bunch of clueless little kids as the graduates. What do you want to say to the kids after the ceremony?

“Congratulations, you’re an adult now!” … Nah.

Congratulations! What do you want to do after this?” … Continue to the first grade at the same school with the same friends for many years to come, obviously.

I’m so proud of you. What do you want to eat?” … Yep, maybe.

[REVIEW] 1Q84, Kisah Cinta Sederhana yang sangat Rumit


Jujur, kalau tahu dari awal jumlah halaman buku 1Q84 karya Haruki Murakami mencapai seribu lembar, mungkin saya akan berpikir lima kali sebelum mulai membaca. Tapi apa boleh buat, e-book 1Q84 sudah terpampang cantik di iBooks, dan saya pikir tidak ada salahnya menjadikan salah satu buku Murakami teman perjalanan panjang saya saat berlibur ke Asia Tenggara (liburan terjadi di bulan Januari – Februari, dan saya baru bisa menyelesaikan 1Q84 bulan April! I’m a slow reader, tho’).

Novel 1Q84 (ternyata) terdiri dari tiga buku yang mengisahkan petualangan seorang perempuan bernama Aomame yang “terdampar” di sebuah dunia alternatif pada tahun 1984. Dunia alternatif tersebut ia namakan 1Q84, di mana banyak keganjilan ia temukan, terutama kehadiran dua bulan di langit malam hari. Aomame, yang memiliki pekerjaan sebagai pembunuh bayaran, mendapatkan misi serius untuk membunuh seorang pemimpin sebuah sekte agama yang dianggap sangat berbahaya. Di luar profesinya, Aomame sebenarnya hanya perempuan biasa yang bisa merasakan jatuh cinta. Selama tiga puluh tahun ia hidup, Aomame tidak pernah berpacaran dan hanya mencintai satu orang laki-laki yang berasal dari masa kecilnya, Tengo Kawana yang kini berprofesi sebagai seorang guru matematika dan ghost writer. Buku ini mengisahkan perjuangan Aomame mencari Tengo (dan sebaliknya) di tengah misinya membunuh pemimpin sekte agama.

Premisnya sangat menarik. Waktu membaca beberapa halaman pertama saya merasa langsung bisa masuk ke dalam cerita dan membayangkan adegan demi adegan yang tertera di dalam buku. Sayang, sebagai novel, Murakami bercerita dengan sangat detail dan terkesan mengulang-ulang, sampai saya sering sekali skimming paragraf-paragraf yang terlalu deskriptif dan menurut saya tidak berpengaruh ke cerita selanjutnya apabila tidak dibaca. Terkadang, saya merasa karakter-karakter yang ada di dalam cerita terkesan memiliki kepribadian yang mirip karena kecenderungan mereka untuk mendeskripsikan setiap detail pergerakannya.

Saya juga merasa kisah cinta Aomame dan Tengo agak kurang meyakinkan di kehidupan nyata (well, it took place in an alternate world). Entah kenapa, rasa cinta Aomame ke Tengo terkesan dipaksakan, begitu juga Tengo. Di awal tidak pernah disebutkan Tengo merasakan percikan chemistry terhadap Aomame waktu kecil. Aomame dan Tengo adalah teman masa SD yang sebenarnya tidak pernah bertegur sapa, kecuali suatu waktu Aomame pernah menggenggam tangan Tengo yang ternyata memori tersebut membekas di ingatan mereka berdua. Tapi, ketika cerita berjalan saya tidak merasakan rasa cinta Tengo kepada Aomame. Sepertinya rasa cinta itu dipaksakan di tengah jalannya cerita, karena di awal Tengo lebih banyak bercerita soal kekagumannya akan Fuka-eri, seorang perempuan muda misterius berusia 17 tahun yang novelnya dituliskan oleh Tengo sebagai ghost writer dan langsung menjadi best seller.


Buku 1Q84 dituliskan lewat sudut pandang Aomame dan Tengo yang diceritakan secara bergantian per chapter. Di buku ketiga, mendadak ada sudut pandang baru yang masuk dan memakan kurang lebih dua chapter (kalau saya tidak salah), and it was so boring I even skipped it, not skimmed it. 

Ada banyak pertanyaan tidak terjawab bahkan sampai 1Q84 selesai. Ending yang cukup sederhana untuk kisah yang rumit juga membuat saya kurang puas (saya sampai mikir, lah, gitu doang nih?). Tapi, seperti yang saya baca dari sebuah sumber, mungkin memang itu tujuan Murakami. Ia ingin membuat sebuah cerita cinta sederhana dengan serumit mungkin.

Overall, turbulensi membaca 1Q84 mungkin begini: penuh goncangan di awal – datar di tengah – lumayan bergoncang menuju akhir – mendarat dengan sangat tenang. Tapi serius deh, kalau kamu seperti saya yang harus membaca buku sampai kelar dulu baru bisa pindah ke buku lain, lebih baik cari waktu lowong panjang untuk membaca 1Q84.

Kutipan favorit:

Reality was utterly coolheaded and utterly lonely.

You can have tons of talent, but it won’t necessarily keep you fed. If you have sharp instincts, though, you’ll never go hungry.

What did it mean for a person to be free? she would often ask herself. Even if you managed to escape from one cage, weren’t you just in another, larger one?

But things never go the way you want them to, and this was no exception. The world seemed to have a better sense of how you wanted things not to go.

That’s what the world is, after all: an endless battle of contrasting memories.

A Rare Conversation: Sapardi Djoko Damono x Joko Pinurbo

A Rare Conversation: Sapardi Djoko Damono x Joko Pinurbo
A Rare Conversation: Sapardi Djoko Damono x Joko Pinurbo

Mengenal seseorang dari karya-karya yang ia hasilkan memang menyenangkan. Tapi, lebih menyenangkan lagi ketika kita bisa mengenal sosok personal di balik karya-karya yang ia buat.

Saya baru tahu, ternyata Sapardi Djoko Damono adalah “eyang mal”. Beliau sering berjalan-jalan di Pondok Indah Mall karena dokter menganjurkannya untuk banyak jalan. Malas terkena cuaca panas dan debu, tentu saja jalan di mal jadi pilihan tepat, mengingat Sapardi selalu tampil necis dengan jas dan topi seniman.

Saya juga baru tahu kalau Joko Pinurbo (Jokpin) sangat, sangat, sangat mengagumi buku puisi pertama Sapardi yang berjudul Dukamu Abadi. Ia bahkan mempunyai dua edisi: satu dalam bentuk yang menyerupai stensilan, satu dalam bentuk buku puisi biasa. Buku puisi itu juga yang membawa Jokpin serius untuk terjun sebagai penyair. Tidak terhitung berapa kali ia mengungkapkan kekagumannya akan buku puisi Dukamu Abadi.

Di atas panggung Asean Literary Festival 2016, Sapardi dengan gaya bicara yang nyeleneh ternyata bisa tampil sangat harmonis di atas panggung ketika dihadapkan dengan Jokpin yang cenderung blak-blakan. Dipandu oleh Najwa Shihab sebagai moderator, keduanya pun saling melemparkan guyonan ala Jawa Tengah saat menanggapi banyak pertanyaan yang diajukan Najwa.

Saya yakin sebagian besar masyarakat pasti sudah pernah membaca karya legendaris Sapardi, Hujan Bulan Juni dan Aku Ingin. Puisi yang sering sekali dijadikan kutipan dalam undangan pernikahan maupun digunakan untuk merayu orang ini ternyata dibuat hanya dalam waktu kurang dari 30 menit saja. Begitupun, penyair yang sangat rendah hati ini menganggap puisi-puisinya dikenal banyak orang karena telah dinyanyikan dengan sangat indah oleh duo vokal AriReda.

Ah, apapun alasannya, publik sangat mencintaimu, Sapardi. Meskipun masih ada juga yang salah mengira Kahlil Gibran sebagai penulis puisi Aku Ingin. Dikiranya orang Indonesia tidak bisa membuat puisi semesra ini.

Sebenarnya saya masih ingin mengetahui bagaimana proses Sapardi dalam merangkai kata-kata, dan mengapa menurutnya puisi yang dibuat dalam waktu singkat tanpa banyak revisi itulah yang ia anggap berhasil. Tapi namanya juga percakapan, topik pembicaraan harus terus bergulir, apalagi ketika sang moderator juga memimpin obrolan seperti ia membawakan talkshow-nya yang disiarkan di Metro TV, terkadang terlalu ingin cepat sampai ke hal yang ia ingin publik dengar.

Jokpin, yang menerbitkan buku puisi pertamanya di umur 30-an, berhasil menciptakan positioning yang sangat baik untuk karya-karyanya. Ia sempat menghabiskan waktu membaca puisi-puisi para penyair lain dan mencari celah, tema apa yang belum pernah mereka garap. Dari situ terciptalah puisi tentang celana, kamar mandi, jemuran, dan seterusnya.

Padahal, menurut saya, kalaupun Jokpin membahas topik yang sudah pernah dibahas oleh para penyair lain ,hasilnya akan tetaplah Jokpin: penataan kalimat dengan gaya bahasa sederhana yang ringan dibaca namun menyimpan makna-makna yang masih dianggap tabu bagi sebagian orang.

Kalau kumpulan puisi Sapardi itu ibarat menonton film-film Eropa yang artistik, cantik, dan penuh makna, puisi-puisi Jokpin bisa diibaratkan sebagai film dengan genre dark comedy. Dari luar terkesan slapstick, tapi sebenarnya ada sindiran-sindiran tertentu yang bisa jadi tidak bisa ditangkap oleh semua orang.

Beberapa dari kita pasti juga sudah pernah mendengar kalau Jokpin yang pencinta kopi ini sedang asyik-asyiknya menggarap puisi bertema Bahasa Indonesia. Salah satu puisinya berjudul Kamus Kecil sudah banyak beredar di media massa dan dunia maya, mengingatkan kita akan betapa menariknya Bahasa Indonesia, terlebih ketika mendengar langsung sang penyair membawakan puisinya.

Karya-karya mereka yang sangat indah mungkin membuat kita bertanya-tanya, bagaimana cara mereka menemukan inspirasi? Tentu saja kamu pasti sudah bisa menebak jawaban Sapardi. “Inspirasi kok dicari,” ujarnya. Bagi Sapardi, inspirasi bisa datang dari mana saja dalam kehidupan sehari-hari. Yang terpenting adalah jangan terhanyut dalam emosi ketika kita sedang berkarya. Baik Sapardi maupun Jokpin setuju, seseorang sebaiknya menulis ketika ia sudah bisa membuat jarak dengan emosi yang ingin ditumpahkan. “Kalau mau marah-marah, demo saja, jangan menulis,” tambah Sapardi yang mengaku ia sebenarnya bukan penyair cinta.

Terlepas dari karya apapun yang dihasilkan, kita tentunya tidak bisa memaksakan orang untuk memiliki interpretasi yang sama dengan apa yang kita pikirkan saat membuat karya tersebut. Buku Dukamu Abadi, contohnya. Jokpin mengatakan ia sangat terenyuh dengan puisi-puisi di dalam buku Dukamu Abadi karena ia melihat Sapardi seolah sedang menceritakan kejadian pasca 1965 dengan sangat halus (buku ini pertama kali diterbitkan tahun 1969). Padahal, Sapardi sendiri mengaku buku tersebut ia buat ketika ia sedang merasa kematian begitu dekat dengan dirinya. Tidak ada hubungannya dengan kejadian 1965.

Tapi, bukankah itu hal yang luar biasa? Bagaimana sebuah buku bisa menggugah banyak orang dengan interpretasi mereka masing-masing. Lagipula, mereka berdua tidak merasa masalah ketika orang lain menginterpretasikan karyanya dengan cara mereka sendiri. “Syair itu soal bunyi. Seperti apa interpretasinya, itu urusan lain,” kata Sapardi.

Berbeda dengan novel atau cerpen, setiap untaian kata yang terangkai di dalam sebuah puisi pasti memiliki bunyi yang indah. Puisi itu bagaimana kita bermain dengan kata-kata. Dan tugas seorang penyair adalah untuk menyelami bahasa.

Terima kasih Sapardi Djoko Damono, Joko Pinurbo dan Najwa Shihab, atas (kurang lebih) 90 menit percakapan yang menyenangkan saat Asean Literary Festival 2016. Meskipun sempat mengira akan melihat percakapan maut Sapardi dan Jokpin yang dibiarkan mengalir bebas tanpa arahan dari moderator yang beberapa kali terlihat ingin menjurus ke ranah politik, saya tidak kecewa. Rasanya seperti sedang duduk di bangku teras, memejamkan mata sembari menghadap ke taman kecil di depan rumah dan mendengarkan kalian bersenda gurau dengan guyonan yang menorehkan senyum hingga gelak tawa.

Singapore to Kuala Lumpur by Train or Bus

Sebagai anak perempuan yang mempunyai bapak berbintang Virgo, dari kecil saya sudah dibiasakan untuk selalu tepat waktu di segala kesempatan (meskipun istilah fashionably late tetap berlaku untuk saat-saat tertentu, karena saya bukan Virgo). Makanya, saya cukup kaget waktu telat ketinggalan kereta saat mau beralih dari Singapura menuju Kuala Lumpur. Pertama kali dalam hidup.

Jadi, gimana caranya untuk pergi dari Singapura ke Kuala Lumpur menggunakan kereta? Pertama-tama yang harus diketahui, rute keberangkatan dari Singapura ke Kuala lumpur adalah sebagai berikut:

Woodlands Train Checkpoint (Singapura) – JB Sentral (Malaysia) – Kuala Lumpur (Malaysia)

Woodlands Train Checkpoint (Singapura) – JB Sentral (Malaysia)

Ada dua cara untuk menuju JB Sentral dari Woodlands Train Checkpoint:

  1. Shuttle Tebrau: kereta transit baru yang hanya butuh waktu 5 menit perjalanan saja
  2. Shuttle Bus: butuh waktu sekitar 15-20 menit
Screen Shot 2016-03-07 at 9.18.54 PM.png
KTMB online ticket website

Karena tanggal keberangkatan menuju Kuala Lumpur sudah pasti, saya membeli tiket Shuttle Tebrau di situs resmi Keretapi Tanah Melayu Berhad (KTMB) yang ada di sini. KTMB ini milik Malaysia, dan beroperasi mulai dari Woodlands Train Checkpoint ke seluruh wilayah di Malaysia. Tinggal daftar, lalu cari jadwal keberangkatan dan bayar tiket menggunakan kartu kredit. Waktu itu saya beli dengan harga MYR16/orang + biaya kartu kredit MYR4 per transaksi.

Dari Singapura sebenarnya ada beberapa stasiun MRT yang bisa dilalui kalau mau pergi ke Woodlands Train Checkpoint, tapi waktu itu saya memilih stasiun MRT Woodlands. Jadi, dari tempat menginap di wilayah downtown saya berangkat menuju Stasiun MRT Woodlands. Sampai di stasiun MRT Woodlands, saya turun satu lantai menuju terminal bus untuk pergi ke Woodlands Train Checkpoint.

Ada cukup banyak bus yang bisa dipilih untuk ke Woodlands Train Checkpoint: 911, 912, 913, 856, 903. Saya lupa tarifnya berapa karena menggunakan kartu Transitlink. Oh iya, jangan lupa perjalanannya cukup memakan waktu. Saya hitung kurang lebih sekitar 15 menit karena bus berhenti di beberapa bus stop.

Sesampainya di Woodlands Train Checkpoint, saya naik ke lantai dua menuju pintu masuk ke Shuttle Tebrau. Tapiiiiiiii, karena telat (akibat nggak memperhitungkan perjalanan naik bus ke Woodlands Train Checkpoint yang cukup lama), akhirnya saya ketinggalan kereta. Untuk mengejar kereta dari JB Sentral ke Kuala Lumpur yang hanya berselang 40 menit dari sejak Shuttle Tebrau berangkat, akhirnya saya naik shuttle bus.

Untuk menuju shuttle bus, masuk ke dalam gedung Woodlands Train Checkpoint lalu naik ke lantai dua. Pertama-tama kita akan diarahkan ke pintu menuju Shuttle Tebrau. Di depan pintu menuju Shuttle Tebrau ada lorong ke kanan, ambil jalan tersebut ikuti saja nanti akan langsung diarahkan menuju shuttle bus. Harga busnya saya lupa karena (lagi-lagi) memakai kartu Transitlink.

Screen Shot 2016-03-09 at 6.34.44 PM.png
Shuttle bus menuju JB Sentral

JB Sentral (Malaysia) – Larkin (Malaysia)

Usaha untuk mengejar kereta menuju Kuala Lumpur ternyata gagal karena saya telat 5 menit untuk sampai di pintu masuk menuju kereta! By the way, sebelumnya saya juga sudah memesan tiket kereta dari JB Sentral ke Kuala Lumpur terlebih dahulu di situs KTMB yang saya sebutkan di atas. Kalau lancar naik kereta, dari JB Sentral kita akan langsung diarahkan menuju KL Sentral.

Karena malas harus menunggu sekitar 8 jam untuk kereta selanjutnya, akhirnya saya memutuskan untuk naik bus dari JB Sentral. Ternyata, nggak ada bus yang berangkat langsung dari JB Sentral menuju Kuala Lumpur. Jadi, saya harus naik bus lagi dulu dari JB Sentral menuju Larkin. Caranya bisa tanya-tanya petugas di sana, mereka memberikan informasi yang cukup jelas. Biaya untuk naik busnya MYR1,7/orang. Perjalanan dari JB Sentral menuju Larkin tidak terlalu lama, kalau nggak salah sekitar 15-20 menit juga.

Larkin (Malaysia) – Terminal Bersepadu Selatan Kuala Lumpur (Malaysia)

Screen Shot 2016-03-09 at 6.35.27 PM.png
Bersiap naik bus di Larkin

Begitu turun bus di Larkin, saya disambut oleh orang-orang yang menawarkan jasa bus. Karena nggak tahu sebaiknya naik bus yang mana, saya memercayakannya kepada salah satu orang di sana dan mendapatkan harga tiket bus MYR40/orang. Durasi perjalanan dari Larkin menuju Kuala Lumpur sekitar 4 jam.

Bus dari Larkin menuju Kuala Lumpur nggak berhenti di KL Sentral seperti halnya kereta, melainkan di Terminal Bersepadu Selatan, yang lokasinya agak ke selatan Kuala Lumpur. Tapi sebenarnya sama saja kok, tinggal lihat map kereta Kuala Lumpur dari terminal mau pergi ke daerah mana.

Screen Shot 2016-03-09 at 6.36.14 PM.png
Terminal Bersepadu Selatan di Kuala Lumpur

Walaupun agak penuh drama akibat ketinggalan kereta, saya dan suami bisa tiba sesuai jadwal di Kuala Lumpur. Yeay!

Lesson Learned: Some Things We Take for Granted


Berkali-kali ke Singapura, saya selalu menyimpan kekaguman pada negara ini. Negara mungil ini sadar kalau pada dasarnya mereka “miskin”, makanya mereka mencoba untuk memperkaya diri agar terlihat menarik di mata orang luar. And they are good at it, I mean, at attracting people to come and visit their country.

Okelah, mereka nggak sempurna. Sudah bukan rahasia lagi kalau negara mereka memang memberlakukan hukum yang cukup membuat semua penduduknya harus menuruti peraturan. Bikin nggak enak sedikit, kena denda. Melanggar aturan sedikit, ada hukuman. Mata-mata di mana-mana, dan mungkin warganya juga sudah terprogram untuk mengikuti apa yang pemerintah arahkan.

Because we only have the people,” ujar salah seorang warga Singapura yang kebetulan waktu itu saya ajak ngobrol bareng. Topik obrolannya bukan tentang politik, sebenarnya, tapi entah gimana jadi sedikit nyerempet ke situ. Dan waktu sedikit saja ngomongin tentang negara, spontan volume suara langsung mengecil.

Sepertinya Singapura sadar kalau mereka nggak punya sumber daya lainnya selain manusia. Jadi, satu-satunya cara untuk membuat negara ini maju adalah dengan meredam emosi-emosi yang bisa muncul akibat ras, suku, agama, dan lainnya melalui peraturan super ketat. Meskipun, tentu saja, ketegangan antar suku bukan sama sekali bisa menghilang begitu saja. Sebagai gantinya, warga mendapatkan kenyamanan dari berbagai sisi. Mereka yang kurang mampu diberikan bantuan dana agar bisa hidup cukup layak. Sementara itu, pemerintah sering banget memberikan kucuran dana untuk perseorangan maupun kelompok, selama apa yang mereka buat nggak menyinggung SARA, mengusung sejarah lokal, dan seksi di mata wisatawan. Kedengaran cukup kulit, ya? Iya sih. Tapi sepertinya itu memang trik mereka untuk mendatangkan orang banyak dan menyenangkan turis.

Di bidang seni, misalnya. Walaupun rasanya nggak banyak seniman Singapura yang namanya mendunia, mereka bisa mengadakan art fair kelas dunia, seperti Art Stage Singapore (yang ternyata kuratornya ada yang berasal dari Jogja) dan Singapore Contemporary Art Fair bulan Januari lalu. Di bulan April dan September ini mereka bahkan akan mengadakan Affordable Art Fair karena konon penjualannya laris manis.

Karya Yayoi Kusama di Art Stage Singapore
Karya Ee Shaun di Singapore Contemporary Art Fair

Belum lagi National Gallery Singapore yang baru beberapa bulan dibuka. Di galeri yang megah dan mewah ini ada banyak banget karya seniman Indonesia yang menjadi koleksi National Gallery Singapore, salah satunya lukisan terbesar karya maestro Raden Saleh. Senang sih, karena karya lokal mendapatkan apresiasi internasional di tempat yang sangat bagus. Tapi, bukannya harusnya justru bisa kita melihat karya maestro lokal di negeri sendiri ya? Well, that’s just my two cents. Anyway, tiket masuk ke National Gallery Singapore ini SGD20 per orang untuk turis, dan galerinya luas banget. Jadi mendingan datang dari pagi supaya bisa lihat semua karya dan menikmati arsitekturnya dengan santai.

National Gallery Singapore
Interior National Gallery Singapore
Lukisan terbesar Raden Saleh, Kebakaran Hutan

Taman juga menjadi salah satu hal yang saya suka dari negara ini. Di samping menjadi tempat yang enak banget untuk piknik dan berolahraga, taman juga menjadi tempat yang pas buat para pencinta anjing. Beberapa waktu lalu, saya dan suami khusus mampir ke Botanical Garden karena ingin melihat anjing yang dibawa jalan-jalan. Kami mendatangi beberapa pemilik anjing untuk sekadar bermain dengan anjingnya. Kalau saja ada istilah “pedogfil”, rasanya kami salah satunya. 😀

Can you say no to those eyes? I can’t!

Banyaknya turis yang bisa dengan mudah lalu lalang di jalanan kota juga salah satu faktor yang membuat industri pariwisata di Singapura sangat baik. Saya sempat mengunjungi sebuah sinema alternatif bernama The Projector yang menampilkan film-film yang mungkin nggak diputar di sinema pada umumnya. Sebut saja What We Do in the Shadow, The Danish Girl, Taxi Tehran, dan lain sebagainya. Melalui crowdfunding, The Projector berhasil membangkitkan kembali dan mempercantik lokasi sinema lawas di kawasan Beach Road. Kalau di sinema umum harga tiket film sekitar SGD8, The Projector menaruh harga SGD13. Jumlah yang nggak murah, sebenarnya. Tapi, saya melihat ada cukup banyak warga lokal dan turis yang tertarik dengan tempat ini.

Tampak depan lift menuju The Projector
Interior di Dalam The Projector

Sebenarnya, apa yang dimiliki Singapura sangat jauh lebih sedikit dari apa yang kita miliki. Indonesia memiliki keragaman budaya, kekayaan alam, dinamika menarik, dan masih banyak lagi. Tapi, mungkin memang dibutuhkan lebih dari memiliki secara cuma-cuma untuk seseorang bisa menghargai apa yang dipunya.

Mengutip acceptance speech mas Leonardo Dicaprio untuk Oscar 2016, “Let us not take this planet for granted.” 

Yup, we shall not take what we have for granted.